
Keluarga Danny mengurus penguburan itu setelah puas menangis dan menatap wajah sang bayi. Danny tidak henti hentinya menangis melepaskan bayi laki laki itu ke liang lahat. Sangat berat tapi harus. Tidak ada lagi gunanya sebuah penyesalan. Karena penyesalan itu tidak akan bisa membuat sang bayi laki laki bisa kembali bersama mereka.
Kini kesedihannya dan rasa kehilangan itu bukan hanya milik Nia. Rendra juga tidak dapat menyembunyikan rasa sedih itu. Sebagai pihak yang membawa Nia ke dalam keluarganya. Rendra merasa menyesal atas semua yang terjadi atas Nia. Apalagi dirinya masih mengingat dengan jelas alasan Nia membatalkan pernikahan itu dengan dirinya. Kesalahan Nia memang fatal. Tapi dibalik itu semua Ada alasan kuat mengapa Nia melakukan itu.
Tidak ada lagi gunanya saling menyalahkan, tidak ada gunanya berdebat. Setelah penguburan itu. Semua anggota keluarga berkumpul di rumah Gunawan. Di wajah setiap orang masih jelas terlihat kesedihan. Sedangkan Danny. Sejak tiba di rumah. Pria itu langsung masuk ke kamar dan mengurung diri.
Evan menangkap gelagat itu dan menghampiri Danny ke kamarnya.
"Rasanya sakit bro," kata Danny setelah Evan masuk ke dalam kamar Danny. Danny bahkan memukul dadanya sendiri.
Evan belum menjawab. Pria itu ikut duduk di sisi ranjang. Bayi laki laki itu adalah keponakannya bukan anak kandungnya. Tapi rasa sedih mungkin sama dengan rasa sedih yang dialami oleh Danny.
"Entah mengapa kehidupan kita seperti ini. Harta berlimpah tapi untuk bahagia harus melalui jalan yang terjal. Dan paling bodohnya kamu mengikuti jejak kelamku. Aku pikir kamu bisa belajar dari pengalaman pahit ku. Ternyata kamu justru mengalami pengalaman hidup yang lebih pahit daripada aku," kata Evan. Dua Kakak beradik itu duduk bersebelahan dan sama sama menatap ke arah luar kamar lewat jendela yang terbuka.
"Seandainya kakek masih hidup. Mungkin kamu tidak mengalami pengalaman pahit ini," kata Evan lagi. Mengingat sang kakek yang sudah bersama dengan bayi laki laki itu membuat dua pria itu semakin sedih. Dibandingkan dengan nenek Rieta. Kakek Martin lebih bisa menilai segala sesuatu itu dari berbagai sudut. Bukan seperti nenek Rieta yang menilai Nia dari perbuatan penjebakan itu saja.
Danny merasakan hidupnya lebih memprihatinkan dari siapapun. Pernah melabuhkan cinta kepada Clara tapi wanita itu mengkhianati dirinya. Dia cintai oleh wanita seperti Nia, Danny tidak berusaha untuk membalas. Dan Ketika dirinya kembali mencintai seseorang yaitu Salsa. Cintanya tidak berbalas. Salsa pergi setelah menolak dirinya mentah mentah.
"Menurut kamu. Apa yang harus aku lakukan," tanya Danny akhirnya. Sampai saat ini dirinya belum bisa berpikir jernih untuk melakukan hal apapun.
"Yang berkaitan dengan Nia?" tanya Evan balik. Danny menganggukkan kepalanya. Tadi dirinya sempat berpikir akan pergi ke klinik tempat Nia melahirkan. Dia sangat yakin jika wanita itu masih di tempat itu untuk mendapatkan perawatan medis. Tapi perlakuannya yang tidak bertanggung jawab membuat pria itu tidak berani menampakan wajahnya di hadapan Nia.
"Menurut kamu?" tanya Evan balik. Danny menarik nafasnya kasar kemudian mengacak rambutnya.
"Aku malu kak. Aku malu," jawab Danny.
"Kita kesana sekarang. Aku akan menemani kamu. Kamu harus perlu minta maaf kepada wanita itu," kata Evan sambil beranjak dari duduknya. Tanpa banyak pertanyaan atau berdebat. Danny mengikuti langkah Evan.
Apa yang hendak dilakukan oleh Danny dan Evan ternyata Gunawan, tante Tiara dan nenek Rieta juga hendak melakukannya. Anggita tanpa ditanya tentu saja ingin bertemu dengan sahabatnya itu. Sedangkan Rendra dan Anna juga mama Feli memilih tidak ikut. Mereka berencana akan mengunjungi Nia lain waktu saja.
Satu jam kemudian, Danny dan yang lainnya tiba di klinik itu. Mereka tidak sulit menemukan Nia karena wanita itu masih berada di klinik tersebut. Pihak klinik tidak menutupi identitas Nia dan bahkan mereka menunjukkan ruangan yang menjadi ruangan Nia.
"Nia," panggil Anggita sambil berjalan cepat mendekati sahabatnya. Nia sudah dipindahkan dari ruang bersalin. Nia yang sedang melamun langsung menoleh dan terkejut melihat banyak
orang berjalan masuk ke ruangannya. Hanya Nia yang ada di ruangan itu. Nia akhirnya bersikap biasa setelah beberapa detik. Dia merasa lega karena bayinya yang perempuannya sudah dirujuk ke rumah sakit. Lahir prematur membuat bayi perempuan itu harus mendapatkan penanganan medis. Jessi yang menemani bayi perempuannya sedangkan adiknya yang satu lagi sedang mengurus berkas berkas. Untuk biaya sang bayi perempuan selama perawatan. Tiga bersaudara itu memutuskan menggadaikan rumah mereka ke bank. Jessi mempunyai teman di bank tersebut sehingga permohonan pinjaman mereka bisa diproses sekarang juga.
Nia menatap rombongan keluarga kakek Martin itu sebentar kemudian memalingkan wajahnya. Masih ada rasa sakit yang masih tersimpan di hatinya mengingat bagaimana Gunawan dan Nenek Rieta memperlakukan dirinya. Tapi yang paling sakit, ketika melihat Danny masuk ke ruangan itu yang paling terakhir. Ternyata rencananya tidak sempurna. Nia merasa bodoh karena memberikan surat keterangan lahir itu. Karen dengan Surat itu, keluarga Danny mengetahui klinik tempat dia melahirkan dan bahkan sudah di atap yang sama dengan dirinya. Hanya saja, dirinya bersyukur. Bayi perempuan sudah tidak ada di klinik lagi. Dia sudah meminta sang bidan untuk menyembunyikan identitas bayi perempuannya.
Nia membalas pelukan Anggita sahabatnya. Dia bisa merasakan kesedihan sahabatnya itu. Anggita menangis tapi tidak dengan dirinya. Terbiasa dinilai negative oleh Gunawan dan Nenek Rieta. Nia menahan tangisnya karena tidak ingin dianggap sebagai tangisan untuk menarik simpati apalagi menarik belas kasihan.
"Yang tabah ya," kata Anggita sambil menggenggam tangan Nia. Nia menganggukkan kepalanya setuju. Evan ikut memberikan kata kata penghiburan kepada Nia. Sedangkan yang lainnya masih larut kesedihan melihat wajah Nia yang sembab.
"Nia, nenek minta maaf. Kami tidak mengharapkan ini terjadi kepada kamu dan bayi itu. Kami ikut bersedih seperti kamu yang sedih karena kepergian bayi itu. Mungkin rasa sedih kamu sama besarnya dengan rasa sedih kami. Kami ikut merasakan kehilangan seperti kamu yang kehilangan," kata Nenek Rieta. Nia mendengarkan baik baik perkataan wanita tua itu.
__ADS_1
Nia tidak menjawab. Bagi Nia. Dirinya lah yang merasa kehilangan. Jika sang Nenek memikirkan janin itu. Mungkin nenek Rieta akan menjaga setiap kata kata yang keluar dari mulutnya di masa lalu.
Tante Tiara masih berdiam. Rasa kecewa kepada Gunawan dan Nenek Rieta membuat Tante Tiara membiarkan dua orang itu yang terlebih dahulu berbicara dengan Nia.
Suasana ruangan itu terasa sepi. Gunawan sengaja berdehem untuk mencairkan suasana. Dari tadi sejak menginjakkan kaki di ruangan itu. Dia merasa malu pada Nia. Dia merasa malu dengan kata kata yang diucapkannya. Jika mengetahui situasinya seperti ini. Gunawan tidak akan mengucapkan kata kata penghinaan itu.
"Nia, maafkan aku. Aku tidak dapat mengatakan apa apa dengan kejadian ini," kata pria itu. Lagi lagi Nia tidak menjawab. Dia hanya menatap Gunawan sebentar kemudian mengalihkan pandangannya.
"Tentang semua biaya, kamu tidak perlu khawatir. Danny akan bertanggung jawab untuk itu," kata pria itu lagi.
'Terima kasih tuan. Kak Danny tidak perlu repot repot. Biaya aku selama di rumah sakit ini sudah dibayar," jawab Nia cepat. Dia tidak akan menerima apapun dari keluarga Danny. Saat ini memang dirinya tidak mempunyai uang yang banyak. Tapi wanita yang menemani dirinya ke klinik ini bersedia memberikan pinjaman sementara kepada dirinya menunggu pinjaman dari pihak bank keluar.
"Jangan seperti itu Nia. Ini adalah tanggung jawab Danny. Kamu sudah mengalami banyak hal termasuk kehilangan bayi laki laki itu. Biarkan Danny meringankan beban kamu," kata Nenek Rieta lembut. Wanita itu berubah menjadi sosok nenek yang baik seperti perlakuannya kepada Anggita.
"Jangan buat aku berutang budi kepada keluarga kalian nyonya. Dan jangan khawatir. Aku bisa mengatasi masalahku sendiri. Tentay kehilangan bayi itu. Itu luar dari jangkauan ku."
Nia bersikeras menolak kebaikan nenek Rieta dan Gunawan. Andaikan mereka sejak awal bisa berkata tenang seperti ini meskipun menolak dirinya mungkin Nia bersedia menerima semua materi yang diberikan tante Tiara secara diam diam dan juga uang yang dikirimkan Danny ke rekeningnya. Tapi Sikap Gunawan dan Nenek Rieta yang menilai dirinya sangat rendah membuat Nia menolak semua pemberian itu.
Uang memang penting. Tapi uang bukan segalanya. Nia juga sadar andaikan dirinya mempunyai banyak uang. Kelahiran prematur itu bisa saja dicegah. Nia tidak lagi berandai andai. Untuk mengobati hatinya. Nia menganggap ini sebagai takdir dan takdir anak anaknya.
Nenek Rieta terdiam. Tidak Ada lagi penilaian negatif yang keluar dari mulutnya. Wanita itu menginginkan setelah ini, Nia tidak dendam kepada keluarganya.
"Nia, aku harap kamu memaafkan kami," kata Nenek Rieta lagi. Kami yang dia maksud adalah keluarga besarnya. Wanita itu sadar Nia belum menjawab permintaan maaf dari dirinya dan Gunawan.
"Tidak perlu minta maaf nyonya. Ini adalah kesalahan dan kebodohanku. Aku menerima ini sebagai takdir. Aku sudah berdamai dengan takdir dan tidak menyalahkan siapapun atas kejadian ini," jawab Nia akhirnya. Nenek Rieta tidak puas dengan jawaban itu. Dia meraih tangan Nia dan menggenggamnya.
Setelah mengucapkan hal itu. Nenek Rieta meraba tasnya. Ternyata nenek tua itu sudah menyiapkan amplop besar yang hendak diberikan kepada Nia.
"Tolong terima ini Nia," kata nenek Rieta. Kalau dirinya yang mengatakan Nia sebagai orang licik yang menghalalkan segala cara untuk masuk ke dalam keluarganya. Kini wanita itu yang memohon kepada Nia untuk menerima pemberiannya.
Amplop tebal itu kini terletak di telapak tangan Nia. Tapi Nia tidak sama sekali berniat menggenggam amplop tersebut. Setelah nenek Rieta berdiri. Nia meletakkan amplop tebal itu di sisi tempat tidur.
"Nia sebagai permintaan maafku. Aku merestui kamu dengan Danny," kata Gunawan. Nenek Rieta yang masih berdiri hendak pergi menganggukkan kepalanya setuju. Nia tidak senang sama sekali. Wanita itu masih menunjukkan wajah biasa saja.
Apa yang terjadi di dalam kehidupan ini memang tidak bisa ditebak. Jika dulu, nenek Rieta dan Gunawan yang menolak Nia dan melarang Danny bertanggung jawab atas kehamilan itu. Kini Gunawan yang mengusulkan bahkan merestui Nia dan Danny. Nenek Rieta juga setuju.
"Kita keluar, biarkan Danny dan Nia berbicara terlebih dahulu," kata Gunawan lagi. Semua melangkah menjauhi tempat tidur kecuali Danny dan Anggita. Anggita belum keluar karena Nia menahan tangannya.
"Tolong kembalikan kepada nyonya Rieta," kata Nia sambil meraba sisi tempat tidur kemudian meletakkan amplop tebal itu ke telapak tangan Anggita. Nia mengganggukan kepalanya yang melihat Anggita ragu untuk mengembalikan amplop tersebut. Melihat itu akhirnya, Anggita menggenggam amplop tebal itu. Anggita berlalu dari ruangan itu setelah memberikan semangat kepada Nia untuk segera pulih.
Kini hanya Danny dan Nia yang ada di ruangan itu. Nia terlihat mengalihkan pandangannya sedangkan Danny sudah berdiri sangat dekat dengan tempat tidur Nia.
"Maafkan aku Nia. Ini adalah kesalahanku," kata Danny dengan suara serak. Dia sadar seandainya dirinya bertindak nekad menikahi Nia. Kejadiannya tidak seperti ini. Terlepas dari penjebakan Nia. Danny sadar jika dirinya yang tidak bisa bertindak jantan menghadapi kehamilan Nia.
__ADS_1
Nia tidak menjawab. Nia menggigit bibirnya supaya tidak mengeluarkan air Mata.
"Seperti perkataan papa. Aku akan menikahi kamu secepatnya," kata Danny lagi. Nia belum juga menjawab. Baginya restu Gunawan dan Nenek Rieta serta pertanggungjawaban Danny sudah terlambat. Dirinya menginginkan pertanggungjawaban itu supaya terhindar dari rasa malu. Kini setelah salah satu dari bayinya pergi. Danny dan keluarganya menawarkan kebaikan. Kebaikan yang sudah terlambat karena Nia sudah merasakan bagaimana sakit hati karena dicaci maki. Sakit hati karena menjadi bahan gosip dari para tetangganya. Yang membuat Nia tidak bisa melupakan perbuatan Danny ketika pria itu meminta dirinya meyakinkan Salsa dengan menceritakan kebodohannya sendiri. Bisa dikatakan sejak saat itu. Nia seperti manusia yang dipermalukan di depan umum..
"Tidak perlu kak. Tidak ada lagi yang butuh pertanggungjawaban kamu. Aku serius," jawab Nia.
"Tapi aku juga serius Nia," kata Danny. Ternyata kelahiran dan kepergian bayi laki laki mereka membuka mata hati Gunawan, Nenek Rieta dan juga Danny.
"Tapi aku juga serius kak. Aku sudah berhasil melewati Masa masa sulit itu walau harus merelakan bayi itu pergi. Jangan buat dirimu seperti orang yang bertanggung jawab atas kepergian bayi laki laki itu. Itu bukan kesalahan siapapun termasuk kamu. Itu murni takdir ku dan takdir bayi itu. Apa Salsa tidak menerima cintamu walaupun aku sudah menceritakan kebodohanku sendiri kepada wanita itu. Sejak saat itu aku menunggu kartu undangan pernikahan kalian," kata Nia sangat serius dan menyindir Danny.
Danny terlihat menundukkan kepalanya. Dia berpikir jika menikahi Nia akan membuat kesedihan wanita itu berkurang. Melihat keseriusan Nia, Danny bisa melihat bahwa Nia memang benar benar tidak ingin dinikahi oleh dirinya. Tapi hatinya juga merasa bersalah mengingat bagaimana dirinya meminta Nia datang ke kafe hanya untuk meyakinkan Salsa jika kehamilan Nia bukan unsur kesengajaan atau karena rayuan maut.
"Apa kejadian itu ada hubungannya dengan kelahiran prematur ini?" tanya Danny. Nia mengungkit kejadian itu, itu artinya Nia sangat sedih karena itu. Apalagi dengan mata kepala sendiri. Danny melihat kehujanan dan kedinginan.
"Anggap saja begitu."
"Maafkan aku Nia," kata Danny setelah beberapa menit termenung karena merasa bersalah. Dirinya bukan tidak hanya menjaga tapi membahayakan darah dagingnya sendiri.
"Jika tidak ada lagi yang dibicarakan. Aku ingin beristirahat kak," kata Nia lagi. Perkataannya itu mengusir halus pria itu.
"Baiklah. Lekas pulih," kata Danny menatap Nia sebentar kemudian berbalik. Nia tidak menatap pria itu sama sekali. Bahkan ketika dirinya mendengar suara pintu ruangan yang ditutup. Nia masih setia memandang dinding ruangan itu.
Di luar ruangan. Danny melihat Gunawan sedang berdiri di meja administrasi pembayaran. Mereka mengecek apakah benar yang dikatakan oleh Nia jika seluruh biaya persalinan itu sudah dibayarkan.
"Terima kasih," kata Gunawan setelah mengetahui jika pembayaran atas pasien bernama Nia sudah beres.
Di dalam mobil. Anggita memberikan amplop yang dikembalikan oleh Nia kepada Nenek Rieta.
"Mengapa dikembalikan?" tanya Nenek itu heran bercampur sedih.
"Mungkin karena Nia tidak membutuhkannya nek," jawab Anggita seadanya saja. Nenek Rieta menerima uang itu kembali. Hatinya sangat sakit mendapatkan penolakan atas kebaikannya. Selama ini dirinya berusaha berbuat yang baik kepada orang orang yang kurang mampu. Semua dengan senang hati menerima kebaikannya begitu juga dengan dirinya yang merasa senang karena merasa berguna kepada orang lain.
Tapi saat ini, Nenek Rieta mendapatkan pelajaran baru. Ternyata dirinya juga merasakan sakit yang amat dalam ketika mendapatkan penolakan. Dia paham sekarang bagaimana sakitnya Nia ketika perkataannya menolak wanita itu.
"Tidak ada yang lebih berharga dari harga diri nek. Kita tidak bisa membeli harga diri orang lain sebanyak apapun uang yang kita punya. Hal yang wajar bagi Nia menolak kebaikan kalian. Nia hanya ingin menjaga harga dirinya setelah hal menyakitkan yang kalian berikan," kata Evan.
Perkataan Evan semakin menyadarkan Gunawan, nenek Rieta dan Danny akan kesalahan di masa lalu.
"Tapi nenek tidak bermaksud seperti itu. Nenek hanya ingin membantu Nia. Nenek tulus."
"Itu sekarang. Dulu?. Jangan paksa Nia melupakan perbuatan kalian secepat mungkin," kata Evan lagi.
"Bagaimana pembicaraan kamu dengan Nia tadi?" tanya Nenek Rieta kepada Danny yang duduk di bangku belakang.
__ADS_1
"Nia tidak bersedia nek," jawab Danny pelan.
"Aku pun jika berada di posisi Nia. Tidak akan bersedia menikah dengan kamu. Aku rasa Nia mengambil keputusan yang tepat," kata Tante Tiara ikut bergabung dengan pembicaraan Danny dan Nenek Rieta.