
Nia menatap Alex. Pria itu membalas tatapan itu. Nia tidak sanggup bertatapan lama dengan pria sahabatnya itu. Untuk yang kesekian kalinya. Di sela sela canda mereka. Alex menyelipkan perasaan hatinya.
"Sekarang bukan masalah serius atau bercanda Alex. Kita bersahabat. Ini jauh lebih nyaman dibandingkan kita harus menjalani hubungan yang nantinya bisa menghancurkan persahabatan ini," kata Nia. Dia sadar akan status dirinya yang mempunyai seorang anak tanpa status yang jelas. Dibilang janda tidak. Dibilang seorang gadis juga tidak.
Nia tidak sanggup membayangkan kehilangan seorang sahabat setelah banyak masalah yang sudah dia hadapinya selama ini. Alex adalah sahabat yang banyak membantu, mendukung di masa dirinya mengalami kesulitan dibandingkan dengan sahabatnya Anggita. Hampir tujuh bulan mengandung dan enam bulan menghadapi masalah kehamilannya tanpa suami. Bisa dikatakan Anggita hanya sesekali memberikan perhatian kepada dirinya. Sedangkan Alex, begitu mengetahui masalah yang menimpa Nia. Pria itu datang dan menawarkan bantuan. Bantuan yang membuat Nia mampu bertahan selama ini.
Bukan Nia tidak ingin membuka hati kepada pria lain. Nia juga ingin bahagia dalam sebuah keluarga kecil yang harmonis. Tapi Nia sadar dunia percintaan lebih rumit dibandingkan dengan dunia persahabatan. Nia sangat khawatir dirinya hanya cocok sebagai sahabat untuk Alex begitu juga dengan sebaliknya. Itulah sebabnya, Nia tidak ingin mencoba menjalani hubungan di luar hubungan persahabatan yang sudah lama terbina diantara mereka.
"Nia, sejatinya tidak ada persahabatan yang murni antara pria dan wanita. Satu diantarnya akan terbawa perasaan. Begitu juga dengan persahabatan kita. Aku sadar dalam persahabatan ini muncul benih cinta di hatiku untuk kamu. Mungkin tidak untuk kamu sampai saat ini. Tapi biarkan aku menunggu sampai tiba saatnya kamu ada rasa cinta kepada ku. Jika waktu itu tiba. Kita tidak perlu menjalani proses pacaran lagi. Tapi langsung ke pelaminan," kata Alex serius di awal kalimat tapi di akhir kalimat pria itu seperti bercanda. Bahkan pria itu terkekeh setelah mengucapkan kata kata itu.
"Eh dasar nenas. Asam," kata Nia sambil memukul lengan Alex. Pria itu tertawa tapi kemudian menatap Nia dengan tatapan penuh cinta. Nia harus memalingkan wajahnya karena grogi dengan tatapan itu. Ditatap penuh cinta oleh Alex ternyata mampu membuat hatinya bergetar.
"Baiklah, aku pulang. Kamu harus istirahat supaya cepat benar benar pulih," kata Alex. Mereka sudah lebih dari satu jam berbincang di ruang tamu tanpa sofa itu. Alex tidak ingin Nia terganggu istirahat hanya karena kedatangan dirinya. Alex menginginkan sahabatnya itu pulih secepatnya.
"Sudah pulang Sana. Kedatangan kamu hanya menganggu saja. Baru saja setengah jam sudah langsung pulang. Tahu gitu tadi tidak aku kasih alamat rumah ini."
Alex tertawa mendengar perkataan Nia. Bisa dikatakan saat ini adalah waktu tersingkat bagi mereka untuk berbincang bersama. Biasanya mereka menghabiskan lebih dari dua jam hanya untuk bercerita. Ada ada saja topic pembicaraan yang membuat mereka lupa waktu. Tapi kali ini, Alex memilih cepat pulang karena jarak rumah Nia dengan rumahnya memakan dua jam perjalanan.
"Siapa suruh kamu pindah ke pelosok seperti ini," kata Alex. Butuh dua jam dirinya harus melakukan perjalanan supaya tiba di tempat ini. Tapi Alex sangat senang dengan perkataan Nia yang seakan meminta dirinya untuk tetap tinggal sebentar lagi di rumah itu. Apalagi dengan gerakan tubuh dia yang seperti merajuk. Sungguh, Alex menyukai Nia.
"Yang pasti ada alasan kuat untuk itu," jawab Nia. Alex menganggukkan kepalanya pertanda jika dirinya tidak akan bertanya lebih jauh lagi.
"Tempat ini memang pinggiran kota dan jalan lintas menuju kota kota yang lain. Apa kamu tidak punya rencana untuk membuka usaha selain usaha grosir itu?" tanya Alex. Dirinya sebagai sahabat ingin melihat Nia berkembang dan tidak menggantungkan kehidupan dari toko grosir itu yang belum tentu bisa menghidupi mereka berempat.
Nia menarik nafas panjang. Banyak rencana yang tersusun di otaknya demi masa depan dirinya dan putri juga adik adiknya. Tapi rencana itu masih sebatas rencana karena dirinya tidak mempunyai modal. Untuk menjual rumah peninggalan orang tua mereka tidak mungkin sebab hanya itu peninggalan orang tua mereka untuk mereka bertiga. Mungkin karena dalam diri Nia tidak ada jiwa bisnis sehingga wanita itu tidak berani mengambil resiko gagal.
"Selain tidak punya uang, tidak tahu usaha apa yang cocok di tempat ini dan juga aku takut gagal," jawab Nia jujur. Alex tersenyum mendengar jawaban jujur dari wanita itu. Inilh salah satu yang disukai dalam diri Nia. Nia selalu jujur apa adanya dan tingkat keperduliannya kepada sahabat sangat tinggi.
"Sini, mendekat sedikit kemari. Aku akan memberikan pelajaran tentang bisnis kepada kamu," kata Alex. Alex pun akhirnya memberikan penjelasan panjang lebar kepada Nia tentang bisnis. Dia mencontohkan dirinya yang mengawali bisnis mulai dari nol hingga mempunyai butik ternama di kota itu dan bahkan sudah mempunyai beberapa cabang di kota yang lain. Bahkan dua bulan terakhir ini. Alex merintis bisnis baru dengan membuka toko perlengkapan bayi.
"Jika usaha kita disertai dengan niat tulus, doa dan semangat. Percaya lah rejeki itu akan datang kepada kita. Jika kamu ingin hidup berubah maka harus berani mengambil jalan yang beresiko. Untuk melamar kerja. Lihat kualifikasi kamu. Apa kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang bisa mendobrak kehidupan kamu?" kata Alex. Bukan bermaksud merendahkan kualifikasi Nia. Tapi Alex ingin membakar semangat wanita itu supaya keluarga dari zona yang membuat hidupnya biasa biasa.
Nia mendengarkan seksama penjelasan sahabatnya itu. Alex memang tidak pelit apalagi pelit ilmu. Mungkin karena kemurahan hati pria itu lah membuat dirinya bisa sukses hanya dalam kurang lebih enpat tahun membuka usaha dan bisa dikatakan sudah lumayan sukses untuk Alex yang masih berumur dua puluh tujuh.
"Menurut kamu. Apa yang harus aku lakukan lex?" tanya Nia. Alex menjentikkan jarinya karena dirinya sangat menyukai pertanyaan Nia.
"Keluar dari zona dimana saat ini kamu berpijak. Sekarang saatnya kamu melangkah mengalahkan ketakutan kamu sendiri."
__ADS_1
"Pikirkan usaha apa yang akan kamu jalankan. Tentang modal, kamu jangan takut. Aku akan meminjamkan modal awal kepada kamu."
"Aku tidak ingin berhutang budi yang banyak kepada lex."
"Aku bukan memberikan cuma cuma. Ingat, meminjamkan. Apa salah seorang sahabat membantu sahabatnya sendiri?" tanya Alex. Dirinya mendorong Nia untuk membuka usaha selain usaha grosir itu. Karena Alex bisa melihat peluang usaha grosir itu untuk maju sangat kecil. Usaha grosir milik Nia dan adiknya bukan satu satunya usaha grosir di tempat itu.
"Aku akan pikirkan," kata Nia. Alex beranjak dari duduknya.
"Aku tunggu keputusan kamu secepatnya. Jangan kelamaan berpikir karena jika perut kelamaan diisi akan menimbulkan penyakit."
Sungguh Alex tidak ingin melihat sahabat itu hidup serba kekurangan seperti saat ini. Mungkin karena faktor cinta yang sudah lama bersemayam di hatinya membuat Alex sangat perduli kepada Nia.
"Lex, tunggu," kata Nia setelah Alex hampir mendengar pintu. Alex berhenti.
"Apa yang membuat kamu begitu sangat perduli kepada ku?" tanya Nia. Wanita itu akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan itu. Bukan tidak tahu mengapa Alex sangat perduli kepadanya. Tapi Nia ingin mendengar alasan keperdulian itu dengan serius dari mulut Alex.
"Aku sangat perduli kepada kamu. Karena aku merasa jika kamu dan hidupmu adalah bagian dari hidupku. Nia, aku sudah mencintai kamu sejak lama. Status mu saat ini tidak mengurangi kadar cinta di hatiku kepada kamu," kata Alex serius. Nia merasakan hatinya bergetar hebat mendengar pernyataan cinta dari Alex. Nia langsung memandang penjuru rumah. Berharap hanya dirinya yang mendengar pernyataan cinta Alex itu.
Alex menatap wajah Nia dengan lekat. Apa yang dikatakannya bukan lah bualan semata. Sejak adik perempuannya memperkenalkan Nia kepada dirinya. Alex sudah merasakan hal aneh jika berhadapan dengan Nia. Alex sengaja menawarkan persahabatan untuk mendekati Nia dan ingin mengetahui Nia sifat Nia yang sesungguhnya. Satu hal yang dilihatnya dari Nia. Nia sangat perduli kepada adik perempuannya.
Perasaan itu bertumbuh terus di hati Alex. Sikap cuek dan terkesan minder yang ditunjukkan Nia membuat Alex menyimpan rasa cinta itu untuk sementara waktu menunggu saatnya tiba. Alex memfokuskan dirinya di dunia butik dan membuat sumber keuangannya jelas terlebih dahulu daripada memikirkan cinta. Hingga akhirnya, Alex berhasil membuka butik pertama di Kota ini. Dia masih menyimpan rasa cinta itu terhadap Nia.
Tidak ingin melihat sahabat sekaligus wanita yang dicintainya itu terpuruk. Alex akhirnya Memperkerjakan Nia di butiknya. Alex bukan hanya member pekerjaan tapi juga memberikan ilmu kepada Nia. Alex berusaha memberikan Yang terbaik bagi sahabatnya itu. Dan bahkan Alex berencana akan menemani Nia dalam persalinan. Rencana itu tinggal rencana karena Nia melahirkan prematur.
"Sejak kapan kamu mencintai aku lex. Jangan jangan perasaan kamu hanya karena kasihan kepada aku," tanya Nia. Dia ingin menyelidiki perasaan Alex yang sesungguhnya. Nia takut, Alex hanya memanfaatkan statusnya saja saat ini. Dan ketakutan Nia lebih jauh lagi. Nia takut jika Alex hanya merayu dirinya dengan kata kata cinta demi mendapatkan tubuhnya. Dirinya bukan lagi seorang gadis perawan. Nia takut jika Alex ingin menjalin hubungan serious dengan dirinya hanya sebagai kedok demi bisa berhubungan bebas.
"Sudah lama. Bisa dikatakan love at the first sight," jawab Alex tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Nia.
"Ada Ada saja kamu lex. Gak mungkin. Gak mungkin aku tidak merasakan sedikit pun rasa cinta itu jika benar yang kamu katakan," kata Nia sambil tertawa pelan. Dia semakin yakin dengan pemikirannya sendiri. Pernyataan cinta Alex hanya rayuan belaka demi keuntungan pria itu.
"Terserah kamu percaya atau tidak. Tapi itu yang terjadi dan aku mengatakan yang sejujurnya."
"Lex, coba jawab pertanyaan ku dengan jujur. Aku adalah wanita mempunyai bayi perempuan. Bagaimana tanggapan kamu untuk itu."
"Nia, aku bisa menangkap alasan pertanyaan kamu ini. Kamu menanyakan itu karena kamu meragukan aku kan. Seandainya kita bersama bahkan menikah. Kamu ragu aku bisa menerima bayi kamu sebagai anak ku sendiri. Tapi satu hal yang harus kamu tahu. Banyak di luar sana yang para orang tua bisa menyayangi anak adoosinya dengan tulus seperti. anak biologis sendiri tanpa mengetahui latar belakang orang tua kandungnya. Apalagi aku yang sudah mengenal kamu, bayi dari sahabatku. Bayi dari wanita yang aku cintai," kata Alex serius.
Nia menatap Alex. Ada rasa malu dalam hatinya karena ketahuan meragukan pria itu. Tapi entah mengapa keraguan yang sempat hinggap di hatinya kini lenyap dengan kata kata Alex yang terdengar meyakinkan.
__ADS_1
Mereka berdua masih berdiri berhadapan di dekar pintu itu dengan pemikiran masing masing. Jika Alex berharap, saat ini dirinya menginginkan ada hubungan istimewa diantara mereka berdua setelah kejujuran yang dia sampaikan dengan serius. Alex benar benar tidak perduli dengan status Nia. Alex hanya menginginkan Nia membalas perasaan miliknya dan mereka bisa menjalani hari hari penuh kebahagiaan.
Sedangkan Nia masih kurang yakin untuk membuka hati kepada pria lain. Wanita itu seakan takut menjalani hubungan serius. Dirinya memang tidak ragu dengan Alex. Tapi Nia merasa malu dan minder dengan Alex dan keluarga pria itu.
"Kamu masih mengharapkan tanggung jawab pria itu?"
"Tidak. Tidak sama sekali," jawab Nia cepat. Nia tidak mau dianggap masih mengharapkan tanggung jawab Danny.
"Jadi apa alasan kamu untuk tidak membuka hati kepada ku.. Kamu bukan wanita yang baru saja diceraikan pria lain sehingga harus menunggu waktu untuk menerima aku."
"Aku masih takut. Entah takut apa. Aku tidak bisa menggambarkan ketakutanku sendiri," jawab Nia.
"Percaya padaku Nia. Aku benar benar mencintai kamu. Jika kamu belum bisa membalas perasaan aku saat ini. Kita tetap bersahabat. Dan aku berjanji. Jika kamu sudah merasakan cinta yang sama dengan apa yang aku rasakan. Maka saat itu Kita tidak perlu lagi berpacaran. Aku akan membawa kamu ke ikatan suci," kata Alex seperti yang sudah dia katakan sebelumnya dengan cara bercanda. Tapi kali ini, Alex terlihat sangat serius.
Apa yang dikatakan oleh Alex baru saja. Membuat pikiran Nia terganggu. Jika benar seperti yang dikatakan oleh Alex. Itu artinya sebelum menikah, Nia hanya bisa memahami Alex sebagai sahabat. Jika boleh jujur, Nia ingi mengenal calon suaminya kelak dari proses berpacaran terlebih dahulu. Karena bagi Nia, bersahabat dan berpacaran itu adalah hubungan yang sangat jauh berbeda. Jika seperti yang dikatakan oleh Alex. Nia tidak akan pernah memahami Alex sebagai pacar yang tentunya sangat berguna untuk kelangsungan hubungan suami istri nantinya. Walau Nia adalah wanita yang mempunyai anak di luar nikah. Nia berharap catatan Masa lalunya tidak berpengaruh ke hubungan dirinya dengan suaminya kelak. Nia menginginkan pernikahan seumur hidup.
Nia memberanikan menatap Alex. Jika benar yang dikatakan oleh Alex. Itu artinya jika dirinya dicintai oleh Alex selama ini tapi dirinya mencintai pria lain bahkan sampai menjatuhkan harga dirinya.
"Kalau begitu aku pulang. Pergilah istirahat ke kamar kamu," kata Alex karena Nia masih betah diam. Alex mendorong pelan tubuh wanita yang sangat dicintainya. Entah bagaimana sekarang detak jantung Nia hanya karena dirinya di doreng pelan oleh Nia. Perasaan aneh itu semakin aneh. Nia semakin menginginkan Alex lebih lama di rumah itu.
"Tunggu lex," kata Nia setelah Alex sudah dekat Mobil milik pria itu. Nia tidak menyadari pria itu menjauh dari hadapannya karena dirinya merasa terhipnotis dengan sentuhan Alex yang mendorong tubuhnya pelan.
"Ada apa Nia. Tidak rela diriku pulang?"
Kini Alex kembali ke sifat semula. Bukan seperti ketika menyatakan cinta tadi yang sangat serius. Kini pria itu berubah menjadi sosok sahabat bagi Nia.
"Aku akan menerima kamu sebagai seseorang yang special. Tapi ada syaratnya," kata Nia serius. Menatap Alex sebentar kemudian menundukkan kepalanya. Nia ingin benar benar melihat keserakahan Alex kepada dirinya.
"Syaratnya apa. Jangan syarat yang berat donk," kata Alex sambil tersenyum. Hatinya sangat senang hanya mendengar perkataan Nia yang mengajukan syarat kepada dirinya.
"Aku akan mencoba menjalani hubungan yang serius dengan kamu. Dan syaratnya adalah tidak ada sentuhan fisik yang berlebihan. Tidak ada hubungan bebas," kata Nia serius.
Jaman sekarang banyak pasangan berpacaran sudah melakukan hubungan yang dalam seperti suami istri. Nia tidak menginginkan hal itu. Nia berjanji dalam hati tidak akan menjatuhkan harga dirinya di hadapan laki laki lagi. Cukup hanya kepada Danny dirinya melakukan itu.
"Baiklah, aku sangat senang dengan persyaratan itu," jawab Alex. Pria itu mengulurkan tangannya kepada Nia sebagai tanda jika mulai saat ini hubungan mereka tidak lagi sekedar sahabat.
Nia menerima uluran tangan itu dengan tersenyum malu. Mereka berjabat tangan. Dan kini mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih.
__ADS_1
"Terima kasih Nia," kata Alex pelan kemudian tersenyum.
Nia tidak menjawab. Status baru hubungan mereka membuat Nia sedikit gugup. Bahkan hingga Alex naik ke mobil. Nia merasakan hatinya berdebar sangat kencang.