Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Membawa Cahaya Pergi


__ADS_3

Berusaha keras meluluhkan hati Anggita sepertinya tidak membuahkan hasil. Evan harus menelan kekecewaan. Walau Anggita tidak menunjukkan hubungan dirinya dengan dokter Angga secara terang terangan di hadapan Evan. Tapi Evan bisa mengetahui jika hubungan Anggita dan dokter Angga tidak hanya sekedar sahabat. Evan menebak jika hubungan mereka kini sudah sepasang kekasih.


Evan berusaha meredam kekecewaan itu. Dia berusaha maksimal tapi ternyata hati Anggita sudah benar benar tertutup kepadanya. Kedatangannya yang setiap minggu untuk mengunjungi perempuan perempuan kesayangannya selalu bertemu dengan dokter Angga tidak berarti sama sekali untuk Anggita.


Evan berusaha mengalah dan tidak bersikap egois. Seperti perkataan Danny. Anggita berhak bahagia. Rasa cintanya yang teramat tulus kepada Anggita membuat Evan ihklas dan juga tidak akan menjadi penghalang kebahagiaan mantan istrinya itu.


Evan akhirnya selalu memposisikan dirinya sebagai ayah yang baik untuk Cahaya. Evan juga sudah memberikan nafkah anak itu sejak Cahaya lahir hingga sampai saat ini berumur enam bulan. Anggita tidak bisa menolak karena hal itu adalah hak Cahaya dan kewajiban Evan. Evan benar benar ingin memberikan hal yang terbaik untuk putrinya itu.


Selalu mengalah dan selalu berbuat yang terbaik untuk Anggita dan Cahaya ternyata tidak cukup bagi Anggita untuk mempertimbangkan Evan lagi di hidupnya. Evan sudah menyerah. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk membujuk Anggita kembali kepadanya. Seandainya Anggita adalah sosok wanita yang matre. Evan rela jika semua hartanya pindah nama ke nama Anggita.


Tapi Anggita tidak seperti itu. Evan sudah benar benar tidak memiliki harapan lagi. Seperti sore ini, untuk pertama kalinya. Anggita menunjukkan kepada Evan jika hubungannya dengan dokter Angga sudah sangat dekat. Hal itu terlihat dari nuansa pakaian yang dikenakan oleh Anggita dan Angga untuk menghadiri pesta pernikahan rekan kerja dari dokter Angga.


" Maaf Mas, aku dan dokter Angga akan keluar sebentar. Tidak apa apa kan?" tanya Anggita. Anggita sudah berdiri di hadapan Evan sedangkan dokter Angga sudah menunggu di dekat mobil.


"Tidak apa apa. Pergilah. Nanti Cahaya aku titip ke ibu ya. Sepertinya aku tidak bisa menunggu kamu pulang," jawab Evan. Penampilan mantan istrinya terlalu sempurna di matanya Hari ini. Anggita yang memakai dress pas badan lengan panjang di atas lutut. Rambutnya ditata rapi menunjukkan lehernya yang jenjang. Evan enggan menatap Anggita karena dia sadar jika Anggita berdandan cantik bukan untuk dirinya melainkan pada dokter Angga yang memenangkan persaingan merebut hati Anggita. Evan fokus menatap putrinya supaya tidak tergoda melihat kecantikan mantan istrinya.


"Iya mas. Terima kasih," jawab Anggita. Dia mendekat ke Evan untuk pamit kepada Cahaya.


"Baik baik sama ayah di rumah," kata Anggita sambil mengelus pipi bulat putrinya. Tanpa mengatakan itu, sebenarnya Anggita tahu bahwa bersama Evan. Cahaya pasti akan baik baik saja. Evan bukan hanya mencurahkan kasih sayangnya kepada Cahaya lewat materi dan perhatian. Evan juga sudah belajar menjadi orang yang serba bisa untuk putrinya itu. Cahaya juga sudah sangat kenal dengan Evan. Terkadang jika Evan hendak pulang dari rumah itu, Cahaya menangis. Ikatan batin ayah dan putrinya itu tidak diragukan lagi. Cahaya terkadang bisa merasakan apa yang dirasakan oleh ayahnya. Bulan lalu, Evan absen tidak datang karena demam selama dua Hari. Dan selama dua hari itu juga, Cahaya rewel tanpa sebab.


Akhirnya karena jarak yang sangat dekat. Evan tidak tahan untuk tidak menghirup aroma tubuh mantan istrinya.


"Anggita, bolehkah aku menanyakan sesuatu?" tanya Evan. Anggita sudah mengambil jarak dari Evan dan Cahaya.


"Bertanya apa mas." Evan menarik nafas panjang sebelum mengutarakan pertanyaannya.


"Apakah tidak ada harapan lagi untuk aku?" tanya Evan pelan. Evan sengaja bertanya supaya Anggita mengetahui bahwa sampai detik ini dirinya masih berharap. Anggita spontan mundur membuat jarak dirinya dari Evan dan Cahaya semakin jauh.


"Maaf mas. Aku dan Dokter Angga saling mencintai. Dalam tahun ini, kami sudah berencana untuk menikah. Aku harap kamu bisa menerima keputusan ini."


Evan menundukkan kepalanya. Perkataan Anggita seperti pisau yang menghunjam jantungnya. Dia sudah menduga jika mantan istrinya mencintai pria lain. Tapi ketika mendengar sendiri bagaimana mereka saling mencintai langsung dari mulut Anggita membuat Evan merasakan hatinya berdenyut nyeri.


"Aku pamit mas."


Evan tidak memperdulikan lagi perkataan Anggita. Dia hanya memegang dadanya karena sakit hatinya masih jelas terasa.


"Pantas saja tidak ada harapan bagi aku. Ternyata begini sakitnya," kata Evan dalam hati. Semua perkataannya di masa lalu terngiang di pikirannya. Penolakan Anggita Hari ini bisa dimaklumi Evan karena sudah merasakan bagaimana sakitnya diperlakukan seperti ini. Bukan hal yang salah yang dilakukan oleh Anggita saat ini. Mereka tidak ada hubungan lagi. Tapi ketika Anggita mengatakan mereka saling mencintai. Evan merasakan hatinya sangat hancur.


Evan memandangi wajah Cahaya yang terlihat fokus dengan mainan teeter yang ada di tangannya. Evan menciumi wajah bayi itu. Jika Anggita tidak bisa lagi menjadi miliknya setidaknya dari pernikahan mereka dulu, Evan mendapatkan anugerah yang sangat berharga yaitu Cahaya.


Evan berusaha ihklas walau sebenarnya hatinya sangat tidak rela. Evan menjadi penasaran tentang profil Dokter Angga. Pria yang mengalahkan dirinya merebut hati Anggita. Evan membuka ponselnya dan langsung bermain di media sosial dan mencari nama dokter Angga. Evan tidak menemukan kesulitan menemukan akun sang Dokter. Banyak nama dokter Angga berjejer di pencarian itu.

__ADS_1


Evan terkejut. Ternyata dokter Angga banyak memposting foto foto Cahaya di media sosialnya. Evan memperhatikan postingan itu secara detail. Evan tidak menyukai hal itu. Dia tidak melarang jika Anggita dan dokter Angga melangkah lebih jauh lagi. Tapi jika berkaitan dengan Cahaya, Evan tidak akan memberikan ijin untuk memposting foto putrinya dengan sesuka hati.


Evan menganggap dokter Angga terlalu lancang dan tidak menghargai dirinya sebagai ayah dari Cahaya. Dokter Angga memang kekasih Anggita. Tapi menurut Evan, cara dokter Angga memposting foto foto putrinya di media sosial bukanlah sikap yang bijaksana.


Evan meletakkan ponselnya di atas meja. Dia berpikir sebentar tindakan apa yang harus dia lakukan. Tapi karena rasa kesal, tidak bisa membuat Evan berpikir jernih.


Evan langsung menghubungi Anggita. Dia tidak sabaran untuk mengajukan protes kepada mantan istrinya. Dia tidak perduli jika mantan istrinya itu baru saja keluar dari rumah. Dan benar saja, wanita itu tiba di rumah setelah berselang setengah jam keluar tadi. Melihat kedatangan mantan istrinya itu Evan memberikan Cahaya kepada mama Feli.


"Ada apa mas?" tanya Anggita, dari wajahnya terlihat kesal. Anggita mendaratkan tubuhnya di sofa dengan sedikit kasar.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kamu. Suruh kekasih kamu pergi terlebih dahulu. Karena pembicaraan ini bisa lebih dari satu jam."


Anggita mengerutkan keningnya. Sikap Evan kembali ke sikap pertama kalinya mereka bertemu. Tidak ingin berdebat akhirnya Anggita keluar dari rumah dan menyuruh dokter Angga untuk kembali ke pesta pernikahan itu.


Evan melayangkan pandangannya ke luar rumah. Di depan mobil dokter Angga. Evan melihat Anggita dan Dokter Angga sedang berdebat. Tapi hanya sebentar. Kemudian dokter Angga masuk ke dalam mobil dan memundurkan mobilnya. Evan memperbaiki cara duduknya ketika melihat Anggita sudah hampir mendekati pintu.


"Bicaralah mas." Anggita ikut ikutan berkata ketus. Dia duduk berhadapan dengan Evan tapi tatapannya ke arah lain. Jelas terlihat jika Anggita kesal. Tapi Evan tidak perduli.


"Ini tentang Cahaya. Aku ingin Cahaya mempunyai privasi yang tidak diumbar di media sosial seperti ini," kata Evan sambil menyodorkan ponsel miliknya ke Anggita. Anggita meraih ponsel itu kemudian memperhatikan foto foto itu. Anggita juga terlihat mengerutkan keningnya karena dia juga baru mengetahui jika dokter Angga ternyata memposting foto foto putrinya. Tapi kemudian Anggita berpikir jika apa yang dilakukan oleh dokter Angga adalah bentuk rasa sayangnya kepada Cahaya. Selama ini, Anggita dapat melihat jika dokter Angga menyayangi putrinya dengan tulus.


"Aku akan minta Dokter Angga menghapus itu semua." Anggita berkata tenang dan santai.


"Cahaya sudah berumur enam bulan. Dia juga sudah stop asi. Aku berencana membawa dia bersamaku." Evan berkata tegas.


"Apa maksud kamu mas?.


Anggita terkejut dan menatap Evan dengan tajam. Anggita merasakan amarah yang luar biasa mendengar Evan membawa Cahaya. Anggita tidak menyangka perkataan itu keluar dari mulut Evan mengingat bagaimana mereka tadi berbicara baik baik sebelum Anggita keluar.


"Kejarlah kebahagiaan kamu. Maaf, karena aku hanya memberikan penderitaan kepada kamu selama pernikahan kita. Cahaya adalah kebahagiaan kita bersama. Biarkan Cahaya bersama aku. Kamu bisa datang kapanpun yang kamu mau untuk bertemu Cahaya."


Evan berkata seakan akan dirinya tidak butuh ijin dari Anggita.


"Mas, jangan egois kamu. Beginikah cara kamu untuk membuat aku kembali kepadamu?.


"Tidak. Ini tidak ada kaitannya dengan Kita. Jika kamu memilih Dokter Angga, aku ihklas karena itu adalah hak kamu. Aku hanya ingin Cahaya di bawah pengawasan aku. Dia akan aman dan nyaman bersama aku."


"Apa kamu Kira?. Bersama aku dia tidak aman dan tidak nyaman?.


Anggita marah. Wajahnya terlihat memerah karena tidak terima dengan semua perkataan Evan. Anggita merasa jika dirinya berkorban sendiri untuk mempertahankan Cahaya semasa kandungan. Kini dengan seenaknya Evan ingin membawa Cahaya dari dirinya.


"Sejak kamu membiarkan dokter Angga memandikan Cahaya. Aku merasa jika putriku tidak dalam keadaan aman. Dan bukan hanya sekali dokter itu melakukan hal itu. Bahkan kamu sudah sehat total dan bisa bergerak bebas kamu mengijinkan dia memandikan putriku. Apa kamu merasa bijaksana membiarkan hal seperti itu?.

__ADS_1


"Itu adalah hal sepele. Bukan alasan kuat untuk menjauhkan aku dari Cahaya. Lagipula, selama ini,dokter Angga ada selalu buat kami. Dia sudah menganggap Cahaya seperti putri kandungnya sendiri."


"Bagi kamu hal sepele tapi tidak dengan aku. Cahaya adalah hanya putri kandung dari Evan Dinata. Selagi aku masih hidup, hanya akulah ayah kandungnya. Walaupun kalian menikah nanti," kata Evan tegas. Dia tidak main main dengan perkataannya. Dia sudah mendapatkan informasi dari mama Feli jika dokter Angga tidak hanya sekali memandikan Cahaya. Dia masih bisa berterima karena menurut pengakuan mama Feli. Mantan ibu mertuanya selalu ada bersama Cahaya ketika Dokter itu memandikan Cahaya. Tapi ketika melihat foto foto putrinya banyak diposting oleh sang dokter. Evan tidak terima. Mungkin bagi orang lain itu Hal biasa tapi tidak bagi Evan. Sungguh, dia tidak menyukai hal itu.


"Bagaimanapun kamu, tidak bisa membawa Cahaya pergi. Aku yang melahirkan dia. Aku yang lebih berhak atas Cahaya. Jangan seenaknya saja kamu membawa dia pergi."


Anggita tetap menolak keinginan Evan.


"Kita sama sama berhak Anggita. Kamu harus ingat itu. Tapi ketika Cahaya tidak aman bersama kamu. Aku juga berhak membawa putriku pergi. Jika kamu merasa lebih berhak, karena menjalani kehamilan sendirian tanpa suami. Itu karena aku percaya dengan kebohongan kamu. Andaikan aku tahu kamu tidak keguguran kala itu. Aku pastikan akan ikut menjaga dia sejak kandungan. Dan mungkin saat ini kita masih suami istri Dan sedang berbahagia."


Evan membela diri atas semua perkataan Anggita. Evan bangkit dan memanggil mama Feli.


"Ibu, mohon ijin dari ibu. Aku berencana membawa Cahaya ikut denganku," kata Evan sambil meraih Cahaya dari tangan mama Feli. Wanita tua tidak terkejut. Dari dalam kamar dia sudah mendengar pembicaraan dua orang itu. Mama Feli justru sudah memasukkan perlengkapan Cahaya ke dalam tas bayi dengan beberapa pakaian.


"Tidak, tidak. Jangan bawa putriku pergi." Anggita berteriak dan menarik paksa Cahaya dari tangan Evan. Tapi karena Evan memegang Cahaya dengan kuat. Anggita tidak berhasil mengambil anak itu.


"Apakah aku harus memberitahukan alasan mengapa aku membawa Cahaya Hari ini?" kata Evan tajam. Dia mengelus punggung putrinya itu supaya Cahaya aman dalam dekapannya.


"Ini adalah siasat kamu supaya aku kembali kepadamu."


"Anggita, asal kamu tahu. Aku sejujurnya masih berharap kamu bersedia kembali kepadaku. Tapi jika kamu sudah memilih dia. Aku bisa apa. Ini murni karena aku ingin menjaga putriku sendiri."


Anggita tentu saja tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Evan. Tadi pria itu hanya diam saja ketika dia mengatakan tentang hubungannya dengan dokter Angga. Tapi, kini Anggita bisa melihat jika Evan sengaja melakukan hal ini Karena dirinya tidak bisa jauh dari putrinya. Anggita menduga jika Evan sengaja memanfaatkan kelemahannya.


Evan berjalan melewati Anggita yang masih terdiam di tempatnya berdiri.


"Nak Evan. Biarkan aku ikut bersama kalian," kata mama Feli berjalan tergesa gesa menuju mobil.


"Apa ibu yakin. Lalu Anggita bersama siapa disini?" tanya Evan. Bagaimana pun, dia berat hati meninggalkan wanita itu sendirian di kota ini.


Mendengar perkataan Evan. Mama Feli terlihat ragu. Mama Feli dan Evan terkejut melihat Anggita yang sudah menarik tangan Cahaya tapi dengan cepat Evan memeluk tubuh putrinya.


"Anggita jangan membuat Kita jadi perhatian. Kamu jangan takut. Aku tidak berniat sedikitpun untuk menjauhkan kamu dari Cahaya. Tapi yang aku lakukan ini demi Cahaya. Jika kamu tidak percaya. Ibu Feli bisa ikut denganku." Evan akhirnya berbicara lembut. Dia tidak ingin menjadi perhatian pelanggan kafe bintang yang bisa melihat mereka dari dalam Kafe.


"Tolong mas. Jangan bawa dia." Anggita sudah menangis. Membayangkan jauh dari putrinya tentu hal yang sulit bagi dia.


Evan menatap Anggita. Ada rasa tidak rela melihat wanita itu menangis. Dia ingin menawarkan supaya Anggita ikut juga ke Kota tapi Evan tidak berani. Dia takut Anggita semakin beranggapan jika tingkahnya ini adalah usaha untuk menjauhkan Anggita dengan Dokter Angga.


"Sekarang kamu yang memilih. Cahaya aku bawa ke rumah nenek Rieta atau ke rumah papa Gunawan. Apa yang kamu takutkan?. Adelia sudah di penjara. Sedangkan mama Anita tidak lagi istri papa. Dia tidak akan berani ke rumah nenek atau papa Gunawan." Evan berusaha meyakinkan Anggita bahwa niat membawa Cahaya pergi bukan niat jahat. Dari awal terbersit membawa Cahaya pergi. Evan tidak berencana membawa pulang ke rumahnya. Karena Evan mengetahui jika Anggita mempunyai hubungan baik dengan keluarganya dan pasti tidak segan untuk datang ke rumah nenek atau papa Gunawan.


"Setelah tiba di Kota. Aku pastikan langsung menghubungi kamu. Kali ini, tolong percaya kepadaku. Ini demi Cahaya. Bukan karena keegoisanku," kata Evan lagi. Melihat Anggita masih menangis, dia berusaha meyakinkan wanita itu. Melihat tidak Ada tanggapan. Evan masuk ke dalam mobil diikuti oleh mama Feli yang duduk di bangku belakang.

__ADS_1


__ADS_2