
"Evan, apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan nak?" tanya Rendra lembut. Dia sengaja mengalihkan pembicaraan supaya mama Anita tidak mempunyai kesempatan untuk menolak perceraian itu. Selain itu, Rendra juga penasaran akan kedatangan Evan hari. Sudah hampir enam bulan, Evan tidak pernah datang ke rumah ini. Kedatangannya yang tiba tiba tentu saja menimbulkan tanda tanya di hati Rendra.
"Sebenarnya maksud kedatangan aku ke rumah ini. Ingin membicarakan tentang kafe pelangi milik Anggita pa," jawab Evan jujur. Awalnya dia ingin mempercayakan kafe itu ke mama Anita karena memang mama Anita sudah berkali kali untuk meminta kafe tersebut kepada Evan. Tapi melihat sendiri bagaimana status rumah tangga kedua orang tuanya. Evan menjadi ragu untuk mempercayakan kafe itu kepada mama Anita.
Mama Anita menegakkan kepalanya mendengar perkataan Evan. Mama Anita sangat ambisius untuk menjadi pimpinan di kafe pelangi. Saat ini, dia juga masih menginginkan keinginannya itu. Mendengar kafe pelangi, mama Anita lupa akan status rumah tangganya.
"Jadi kamu setuju. Mama yang mengelola kafe pelangi?" tanya mama Anita dengan Mata yang berbinar.
Evan menundukkan kepalanya. Merasa tidak enak hati karena terlanjur sudah jujur. Melihat kebahagiaan yang terpancar di mata mama Anita, Evan tidak tega untuk mengatakan hal yang sejujurnya.
"Awalnya aku berpikir untuk mempercayakan kepada ma...."
"Tidak bisa. Jika kamu tidak sanggup mengelola kafe itu. Biar papa yang mengelolanya. Jika suatu saat Anggita muncul. Papa akan mengembalikan kafe itu kepadanya. Bagaimanapun kafe itu masih milik Anggita."
Rendra memotong perkataan Evan. Sebenarnya Evan juga bermaksud seperti itu. Kafe itu masih milik Anggita karena Evan tidak berniat sama sekali untuk memiliki kafe itu. Tapi untuk mengelola, Evan tidak sanggup. Bukan tidak sanggup dari segi otak tapi Evan tidak sanggup karena harus mengingat semua perlakuan jahatnya. Berada di kafe pelangi. Evan selalu terbayang wajah mantan istrinya.
"Tega kamu pa. Kamu bukan seperti dirimu lagi. Aku sepertinya tidak mengenal kamu lagi," kata mama Anita dengan sakit hati bercampur marah.
"Sama Anita. Kita sudah bersama puluhan tahun. Dan baru aku tahu bahwa kamu ternyata hanya menunjukkan topeng kamu."
Rendra menatap Anita dengan sinis. Beberapa bulan ini, dia sudah memikirkan tentang perceraian ini. Awalnya dia ragu, tapi setelah mengetahui tindakan mama Anita yang meminta uang ke manager keuangan di perusahaan tanpa sengetahuan Rendra membuat Rendra sangat yakin untuk menceraikan mama Anita. Dan yang membuat Rendra marah, mama Anita meminta uang itu mengatas namakan dirinya.
"Evan, pembicaraan sampai disini nak. Mulai bulan depan. Aku pastikan untuk mengelola kafe pelangi."
"Oke pa. Mama, aku pamit."
Evan beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah Rendra. Sedangkan mama Anita hanya bisa menatap dua punggung yang meninggalkan dirinya dalam kesedihan dan sakit hati yang dalam.
Setelah mendengar mesin Mobil bergerak menjauhi halaman rumah. Mama Anita melampiaskan kemarahannya dengan membanting vas bunga yang ada di atas meja. Anita menangis meratapi penderitaan yang sudah di depan Mata. Dia pernah berpikir jika hidupnya akan tetap bahagia hingga akhir hayat kini hidupnya lebih tragis dibandingkan Anggita. Anggita masih memiliki Masa depan yang panjang sedangkan Anita mempunyai Masa depan yang suram.
Inilah karma. Karma tidak pernah salah alamat. Cepat atau lambat manusia akan memanen apa yang sudah ditanam di Masa lalu. Mempunyai kekurangan harusnya manusia mendekatkan diri kepada penciptanya dengan cara menghargai sesama manusia. Itu tidak berlaku bagi mama Anita. Dia merasa sempurna hingga semena mena terhadap Anggita. Tidak bisa memberikan keturunan kepada Rendra tidak membuat dirinya mengabdi kepada suami dengan mencintai Rendra secara tulus. Dan juga kelakuannya kepada Anggita sangat jelas adalah kedengkian yang mengantarkan diri ke perceraian ini.
Dia pernah berpikir jika Anggita akan sengsara jika berpisah dari Evan. Kini justru dirinya yang sudah berada di pintu kesengsaraan. Rendra menceraikan dirinya hanya memberikan kompensasi seratus juta. Tidak sebanding dengan harta pribadi Rendra yang lumayan banyak.
Mama Anita kini merasakan kepalanya berdenyut hebat karena memikirkan uang setatus juta itu. Selama ini dirinya tidak pernah menabung. Dia terlena dengan kemewahan sehingga tidak pernah berpikir untuk berhemat. Dirinya juga gila hormat. Demi mendapatkan pengakuan dan pujian dari teman teman sosialitanya, mama Anita rela mentraktir teman temannya dengan biaya tidak biasa.
Kepalanya semakin berdenyut kala membayangkan Rendra akan menikah lagi dan berbahagia. Sedangkan dirinya, siapakah laki laki yang bersedia menikahi dirinya yang sudah hampir peot. Jika karena tidak Skincare bisa dipastikan jika di wajahnya sudah Ada keriput keriput halus.
Seperti mama Anita yang galau. Seorang wanita juga duduk gelisah di kafe pelangi. Satu gelas jus sudah berpindah ke perutnya tetapi yang ditunggu hampir satu jam tidak juga muncul di hadapannya.
"Mbak," panggil wanita itu kepada pelayan yang baru saja meletakkan pesananan di meja tepat di depan wanita itu duduk.
"Iya mbak," jawab pelayan itu sopan.
__ADS_1
"Tolong tunjukkan dimana ruangan pimpinan kafe ini."
"Untuk keperluan apa mbak. Pengunjung tidak sembarangan untuk masuk ke ruangan staf apalagi ke ruangan pimpinan. Maaf mbak, sepertinya saya tidak bisa membantu anda," jawab pelayan itu masih sopan bahkan membungkuknya badannya sebelum berbalik.
"Tunggu pelayan." Pelayan berhenti dan membalikkan tubuhnya untuk melihat wanita itu.
"Apa kamu mengetahui siapa pimpinan kafe ini?" tanya wanita itu tajam sambil menunjuk lantai.
"Pemilik kafe ini mbak Anggita."
"Kamu salah pelayan. Pemilik kafe ini adalah calon suami Saya yaitu Evan. Dan mungkin sebentar lagi pimpinan di kafe ini adalah diriku. Jika itu terjadi maka aku akan menampar mulut kamu itu karena sudah berani menolak permintaan aku."
Pelayan malang itu hanya bisa berdoa dalam hati supaya perkataan Adelia tidak menjadi kenyataan. Yang dia tahu jika kafe ini adalah milik Anggita.
"Maaf mbak. Saya masih Ada kerjaan yang lain."
Pelayan itu berniat untuk menghindar dari Adelia ternyata niatnya itu membuat dirinya dalam bahaya.
"Berhenti pelayan sialan," kata Adelia marah karena tersinggung. Pelayan itu berhenti tapi wajahnya sudah memerah karena panggilan dari Adelia. Para pengunjung yang duduk dekat mereka menatap kasihan kepada pelayan itu. Tapi mereka tidak bisa berbuat banyak karena mereka tidak mengetahui letak permasalahan seperti apa.
"Maaf mbak. Tanpa kamu memanggil aku dengan sebutan itu. Aku juga tahu diriku siapa. Tapi pelayan sialan yang baru kamu panggil lebih terhormat dari wanita seperti kamu. Penampilan wah tapi akhlak minim."
Karena sudah malu karena perkataan Adelia akhirnya pelayan itu juga menpermalukan Adelia. Caranya yang elegan membuat pengunjung merasa takjub dengan pembawaan pelayan itu yang tenang. Anggita memang sudah mengajarkan kepada anggotanya untuk bisa mengelola emosi jika Ada pengunjung yang mengundang darah tinggi.
Adelia ingin maju untuk menyakiti wanita itu tapi suara yang tepat di belakang menghentikan langkah Anggita. Bahkan tangannya sudah dicekal. Pria itu adalah Evan yang baru datang ke kafe ini setelah dari rumah Rendra.
Evan membawa Adelia ke ruangan milik Anggita sebelumnya. Jelas terlihat jika Evan kecewa dengan sifat Adelia.
"Dia yang memulai gara gara," kata Adelia setelah mereka duduk di sofa di ruangan itu. Evan tentu saja tidak percaya. Dia mendengar bagaimana Adelia menghina pelayan itu. Tapi karena kesal, Evan tidak menjawab perkataan Adelia. Evan sudah terlanjur malu terhadap para pegawai di kafe itu.
"Masuklah Nia," kata Evan setelah mendengar suara ketukan dari luar. Dia memang sudah sengaja untuk datang ke kafe ini untuk memeriksa langsung kelangsungan kafe itu bukan untuk bertemu Adelia. Adelia menunggu kedatangan Evan di kafe itu karena sudah mengetahui sebelumnya bahwa Evan ke kafe ini hari ini.
"Apa Anggita belum pernah menghubungi kamu?" tanya Evan setelah Nia duduk di hadapannya. Evan tidak sadar jika pertanyaan nya membuat Adelia marah dan menatap Evan tajam dari samping. Nia tersenyum melihat kemarahan Adelia.
"Belum Pak. Bapak tenang saja. Saya sangat yakin cepat atau lambat Anggita akan datang ke Kota ini," kata Nia sambil tersenyum. Dia sengaja membuat hati Adelia panas.
"Semoga saja. Aku tidak sabar menunggu kedatangannya," jawab Evan semakin membuat hati Adelia merasa panas. Setelah Evan dan Anggita bercerai, Evan tidak lagi menjanjikan apapun kepadanya seperti janji janji manis sebelum Evan menyandang gelar duda dan tidak juga mengusir Adelia dari rumahnya.
"Kamu kemari untuk membahas Anggita atau membahas kafe ini?" tanya Adelia kesal. Ingin rasanya dia mengusir Nia dari ruangan itu. Hanya mendengar nama Anggita saja, darahnya serasa mendidih. Hal yang sewajar sebenarnya jika Adelia dalam hal ini adalah istri sah dari Evan. Tapi sayangnya, dia hanya Masa lalu yang entah kapan dinikahi.
"Oya Nia. Mulai bulan depan. Saya tidak lagi mengurus kafe ini. Sebagai gantinya papa yang akan memantau kerja kalian."
"Baik Pak. Saya juga sudah membuat laporan tentang keuangan Kafe ini. Saya harap bapak bersedia memeriksanya sebelum berganti pimpinan."
__ADS_1
Kafe milik Anggita memang masih tergolong kecil. Sistem management di dalam kafe itu belum lengkap. Nia sebagai tangan kanan Anggita selama ini merangkap menjadi manager serba bisa. Pemasaran, Keuangan, produksi bahkan perekrutan karyawan baru semuanya Nia yang bertanggung jawab.
"Mana laporannya?" tanya Evan. Nia memberikan berkas yang sedari tadi dia pegang ke Evan.
"Sayang, aku tinggal sebentar ya," kata Adelia sambil bergelayut manja di lengan Evan. Evan menganggukkan kepalanya dan kemudian terlihat Adelia mencium pipi Evan dengan manja.
Adelia bangkit dari duduknya. Dia berjalan mengelilingi sofa. Dia berjalan bukan ke pintu keluar melainkan menuju kursi kerja milik Anggita selama ini. Wanita itu kini duduk di kursi itu dengan menyandarkan tubuhnya dengan kaki yang saling menimpa. Caranya duduk seakan akan dirinya lah pemilik kafe itu.
"Evan, melihat banyaknya pengunjung di kafe ini. Sebaiknya kamu menempatkan seseorang yang bisa setiap hari mengawasi kafe ini. Aku rasa om Rendra pasti tidak bisa memantau kafe ini secara maksimal."
Adelia berbicara untuk mengusulkan dirinya sendiri untuk mengawasi kafe ini. Walau kafe ini masih kecil tapi tidak bisa disepelekan. Evan bisa mengakui itu melihat laporan keuangan beberapa bulan ini yang surplus. Angkanya juga lumayan banyak. Evan juga mengagumi kinerja Nia yang sempurna. Dia tidak mengetahui jika ketelitian dan kepintaran Nia mengelola kafe itu beberapa bulan ini berkat kesabaran Anggita mengajari Nia yang hanya lulusan sekolah menengah umum.
"Apa mbak Ada calon. Atau seseorang yang ingin mbak rekomendasikan?" tanya Nia untuk memancing keserakahan wanita itu terlihat.
"Ada," jawab Adelia cepat.
"Bagaimana Pak, Saya juga sebenarnya kewalahan untuk memegang tanggung jawab ini semua. Kafe ini butuh sosok seperti Anggita yang pintar dan ramah kepada pengunjung."
Nia sengaja mengatakan itu karena sudah mengetahui kelakuan Adelia tadi bersama satu pelayan. Dan tentu saja perkataan Nia adalah tamparan untuk Adelia. Nia tidak akan membiarkan wanita itu untuk menggantikan Anggita di kafe ini.
"Kamu sama saja seperti pelayan tadi. Sama sama pelayan tidak tahu diri," kata Adelia marah. Dia turun dari kursi kebesaran Anggita dan kembali duduk di sebelah Evan. Dia menyandarkan kepalanya ke lengan Evan. Dia mengerti apa arti dari perkataan Nia yang jelas menunjukkan jika dirinya tidak memenuhi kualifikasi dari persyaratan yang Nia usulkan.
"Selagi Evan masih memeriksa laporan ini. Kamu duduk di Sana." kata Adelia marah sambil menunjuk kursi yang Ada di depan meja kerja. Karena perkataan Nia, Adelia membenci sahabat Anggita itu. Adelia juga membenci cara berpakaian Nia yang pas badan. Adelia takut, Evan jatuh hati kepada Nia yang masih tergolong kategori cantik walau Anggita tetap lebih cantik.
Adelia tersenyum melihat Nia beranjak dari duduknya. Adelia menyuruh Nia ke kursi itu . menunjukkan jika dirinya adalah orang yang lebih berkuasa bagi Evan.
Adelia merasa puas karena bisa menyuruh Nia pindah dari tempat itu. Senyum masih terus mengembangkan karena Evan tidak keberatan dengan perkataannya. Pria itu masih serius membaca angka angka di kertas itu.
Adelia meraba tasnya setelah mendengar ponselnya berbunyi. Dia membuka ponselnya dengan penasaran. Tangannya bergerak mencari aplikasi whats app.
Wajah Adelia memerah karena baru saja membuka video yang baru masuk ke nomornya dari nomor baru tanpa foto profil.
Melihat wajah Adelia yang ketakutan Nia tersenyum puas sambil menundukkan kepalanya. Dia baru saja mengirimkan video kejadian di tangga antara Anggita dan Adelia. Di video itu jelas terlihat jika Adelia yang ingin mendorong Anggita.
Beberapa detik kemudian, Adelia menerima pesan dari nomor yang sama. " Karma Otw, sebentar lagi kamu akan membusuk di penjara setelah calon suami kamu mengetahui sifat jahat kamu."
Adelia panik dan ingin menghapus pesan itu tapi tangannya berhenti untuk menekan ikon hapus karena video yang sama dari nomor berbeda kini masuk ke ponselnya. Dia sangat ketakutan. Jangan sampai Evan melihat video itu. Bisa mampus dirinya hari ini juga. Selain bisa masuk penjaga bisa dipastikan dia akan kehilangan cintanya juga.
"Mbak Kamu kenapa?" tanya Nia sok polos padahal dirinya sengaja mengalihkan perhatian Evan dari laporan itu.
Adelia semakin ketakutan hingga ponselnya terjatuh dari tangannya. Ponsel itu kini berada dekat kaki Evan.
Cara Nia untuk memancing Evan mengetahui apa yang terjadi pada Adelia sangat tepat. Kini pria itu membungkukkan bahannya untuk mengambil ponsel itu. Adelia juga bergerak untuk mengambil ponsel itu tapi tangan Evan lebih cepat mengambil ponsel itu.
__ADS_1
"Aku melihat mbak ketakutan setelah melihat ponsel. Apa Ada sesuatu yang membuat mbak ketakutan?. Tanpa merasa berdosa Nia kembali bertanya. Dia sangat berharap Evan membuka ponsel Adelia dan melihat video itu.
Adelia ingin sekali menyumbal mulut Nia dengan kain yang paling Kotor. Tapi situasinya sangat berbahaya saat ini. Dia ingin mengambil ponselnya dari tangan Evan tapi pria itu terlihat ingin tahu apa yang ada di dalam ponsel itu. Walau dirinya fokus melihat laporan itu tapi ekor matanya bisa melihat pergerakan Adelia di sampingnya termasuk wajah ketakutan wanita itu setelah melihat video itu. Evan juga bisa mendengar audio dari ponsel tersebut. Sedangkan Nia tersenyum melihat ketakutan di wajah Adelia.