Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 156


__ADS_3

Nia tidak ingin berlama lama di kamar milik suaminya. Setelah mengganti pakaian. Nia kembali ke kamar Sisil. Nia tidak mengatakan apapun kepada Danny tentang keberadaan kopernya di kamar Danny. Sisil masih bangun. Nia tidak ingin Sisil mendengar mereka berdebat nantinya tentang koper itu.


Sedangkan Danny bersikap biasa. Dia sama sekali tidak merasa bersalah karena membantu koper Nia ke kamarnya tanpa pemberitahuan sebelumnya.


Beberapa menit kemudian. Sisil dan Naya tertidur. Bagi pasangan pengantin baru lainnya. Situasi itu adalah situasi yang menguntungkan tapi tidak bagi Nia dan Danny. Suami istri itu terlihat memainkan ponsel masing masing. Lebih tepatnya, mereka memegang ponsel tapi pikiran mereka tidak ke ponsel tersebut. Danny sebenarnya ingin mengajak Nia berkeliling rumah itu untuk memperkenalkan Nia ke pekerja. Tapi melihat Nia serius bermain ponsel. Danny menunggu kesempatan itu tiba.


Sedangkan Nia, wanita itu memikirkan bagaimana dirinya bersikap menghadapi Danny jika pria itu menginginkan mereka tidur bersama di kamar pria itu. Sebenarnya Nia ingin memindahkan pakaian miliknya ke kamar Sisil. Tapi Nia menjaga perasaan Danny. Dia tidak ingin pria itu tersinggung. Tindakan hati hati Nia semakin memperlihatkan jika dirinya mulai menjaga perasaan pria itu.


"Masih sibuk?" tanya Danny. Nia menoleh kepada Danny yang duduk di tepi ranjang sedangkan dirinya duduk di kasur busa. Di sampingnya. Naya tidur dengan pose yang sangat lucu. Ternyata Danny memperhatikan pose putrinya itu. Dia turun dari ranjang kemudian duduk dekat Naya. Danny terlihat tersenyum melihat putrinya itu dan menurunkan kepalanya hendak mencium pipi Naya.


Tapi dengan secepat kilat. Nia menahan wajah Danny sehingga pria itu tidak jadi mencium Naya. Danny menatap Nia yang juga menatap dirinya. Sepasang suami istri itu saling bertatapan tapi Nia langsung memalingkan wajahnya karena tidak tahan bertatapan dengan suaminya.


"Jangan dicium dulu, nanti dia bangun," kata Nia setelah melepaskan tangannya dari wajah Danny. Nia tidak ingin Naya terganggu karena itu bisa mempengaruhi pertumbuhannya. Danny tersenyum. Telapak tangan Nia yang sangat halus menggetarkan hatinya. Jujur, dia menginginkan lebih dari itu. Tapi hubungan mereka yang kurang baik membuat Danny harus bersabar.


Nia kembali berpura pura melihat layar ponsel. Sorot Mata Danny bukan sorot mata biasa tapi untuk saat ini jangankan melayani pria itu sebagai suaminya. Berduaan seperti ini saja, Nia merasa canggung dan bayang bayang masa lalu itu masih jelas terekam di otaknya.


"Baiklah. Nia. Aku berharap kamu bersedia ikut aku sebentar."


"Kemana kak?.


"Tidak kemana Mana. Di sekitar rumah ini saja."


Nia tidak menjawab. Entah apa yang di pikiran wanita itu sehingga terlihat ragu untuk mengikuti Danny yang sudah berdiri.


"Aku tidak melakukan apapun kepada kamu tanpa seijin kamu Nia. Aku hanya ingin memperkenalkan kamu ke para pekerja di rumah ini," kata Danny. Nia mendongak menatap Danny.


"Bagaimana dengan mereka?" tanya Nia.


"Nanti pengasuh Sisil akan ke sini."


Nia beranjak dari duduknya. Dia mengikuti langkah Danny. Mereka berjalan bukan seperti pasangan suami istri lainnya. Danny berjalan di depan dengan jarak sekitar dua meter dari Nia.


"Bi, tolong panggilkan pekerja yang lain. Dan berkumpul di ruang tamu. Dan tolong suruh pengasuh Sisil ke kamar atas," kata Danny kepada salah satu pekerja yang sedang membersihkan lemari hias di ruang makan. Bibi itu menganggukkan kepalanya dan menatap Nia penuh tanda tanya. Kedatangan Nia yang sudah malam dan tadi pagi tidak ikut sarapan bersama membuat para pekerja belum bertemu dengan Nia kecuali pengasuh Sisil.


"Duduk disini. Mereka tidak akan percaya kamu istriku jika kita duduk berjauhan seperti ini," kata Danny. Nia duduk di sofa tunggal sedangkan Danny duduk di sofa panjang yang muat tiga orang. Nia menurut. Wanita berpindah tempat ke sofa yang ditempati oleh Danny tapi masih dengan jarak yang lumayan jauh. Tidak ingin mereka duduk seperti orang yang bermusuhan. Danny menggeser duduknya hingga tubuh mereka hampir tidak berjarak. Nia menatap pria itu protes tapi Danny tidak memperdulikan.


"Geser kak," kata Nia sambil menggerakkan tubuhnya supaya Danny bergeser. Tapi justru gerakan tubuh Nia itulah membuat jiwa jahil dalam diri Danny meronta untuk dipraktekkan ke Nia. Danny tidak bergeser malah semakin menghimpit tubuh istrinya sehingga Nia merasa terjepit.


"Kak Danny. Geser kak," ulang Nia. Pria itu tersenyum tanpa berniat menggeser duduknya.


"Diamlah Nia. Duduk yang tenang. Gerakan kamu itu membuat celana ku semakin sempit."


Nia akhirnya tenang dan membulatkan matanya. Tanpa sadar, wanita itu memperhatikan celana pendek karet yang digunakan oleh Danny. Danny menyadari hal itu dan menahan diri untuk tidak tertawa.


"Jangan lihat lihat. Nanti dia terpesona kepada mu," kata Danny membuat Nia semakin malu. Wajah Nia memerah karena menahan malu. Ketika Danny mengatakan itu. Tatapan mata Nia tertuju ke celana bagian depan milik pria itu.


"Ish menyebalkan."


"Apanya yang menyebalkan. Kamu sudah merasakan keunggulannya. Tidak mungkin dia menyebalkan kalau hanya sekali goyang bisa menghasilkan putri yang cantik seperti Naya."


Danny semakin terpancing untuk mengerjai istrinya. Sedangkan Nia semakin malu. Perkataan Danny mengingatkan dirinya akan malam panas yang pernah mereka lewati bersama. Dan yang membuat Nia semakin malu. Malam panas itu atas kehendaknya sendiri. Dalam hati, Nia berharap. Danny tidak mengungkit penyebab malam panas itu.


Nia memilih diam daripada menjawab perkataan suaminya. Perkataan Danny mengingatkan Nia bahwa memang perbuatan lah yang membuat dirinya berada di tahap ini. Dan Nia semakin lega. Danny sama sekali tidak menyinggung mengapa mereka sampai melakukan malam panas itu.

__ADS_1


Nia sudah sadar Danny mengerjai dirinya. Wanita itu memilih duduk tenang walau terjepit daripada Danny terus berbicara yang membuat dirinya akan semakin malu.


Tapi ternyata sifat jahil Danny tidak berhenti di sampai di situ saja. Pria itu kini merangkul bahu Nia dari belakang tubuhnya. Tangannya bergerak mengelus lengan miliknya. Danny juga mendekatkan wajahnya ke telinga Nia sehingga wanita itu bisa merasakan setiap hembusan nafas suaminya. Sebagai wanita normal. Ada rasa aneh menerima elusan itu di lengannya.


"Kak, tolong kondisi kan tangan kamu. Kita ini di ruang tamu," kata Nia pelan. Derap langkah para pekerja sudah terdengar mendekati ruang tamu itu. Nia khawatir, para pekerja melihat mereka dan menganggap mereka tidak sopan. Apalagi posisi wajah Danny sangat dekat ke wajahnya. Nia mendorong wajah suaminya itu menjauh dari wajahnya. Danny tertawa. Lagi lagi dirinya menginginkan Nia tidak terlalu canggung seperti ini. Danny sengaja melakukan itu supaya hubungan mereka tidak terlalu kaku.


"Maksud kamu, kalau di ruang tamu tidak bisa seperti ini. Lalu dimana yang bisa?. Di kamar?" tanya Danny dengan senyum yang dikulum di bibirnya. Nia merasa kesal karena Danny berhasil nenjebak dirinya dengan kata kata.


"Itu artinya. Kita bisa melakukan lebih dari ini di kamar," bisik Danny. Lagi lagi Nia membulatkan matanya. Kemudian pria itu menggeser duduknya sedikit karena para pekerja sudah berdiri di hadapannya.


Demi apapun Nia merasa sangat malu. Wanita itu khawatir para pekerja mendengar bisikan Danny di telinganya. Bisikan Danny jelas bermaksud untuk melakukan hubungan suami istri pada umumnya. Nia tidak menyangka Danny bisa mengatakan seperti itu di saat hubungan mereka masih kurang baik. Sikap Danny saat ini sangat jauh berbeda dengan sikap pria itu saat meminta maaf dan menawarkan pertanggungjawaban atas dirinya dan Naya.


"Duduk semua," perintah Danny kepada para pekerja itu. Tapi satupun tidak ada yang duduk. Para pekerja itu kompak mengatakan mereka berdiri saja.


"Aku mengumpulkan kalian di sini untuk memperkenalkan istri ku. Dia adalah Nia. Nyonya muda di rumah ini. Mulai saat ini. Istri ku yang akan memberikan tugas kepada kalian. Mama dan papa sudah berangkat ke luar negeri untuk waktu yang belum bisa ditentukan."


Para pekerja terlihat terkejut tapi tidak berani bertanya. Hal yang wajar jika para pekerja itu terkejut. Mereka mengetahui selama ini tidak ada perencanaan pernikahan di rumah ini. Tapi Hari ini Danny memperkenalkan seorang istri baru kepada mereka.


Merasa dirinya diperkenalkan kepada para pekerja itu. Nia beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan para pekerja itu. Para pekerja itu menerima uluran tangan Nia dan menyebutkan nama masing masing sedangkan Danny tertegun menatap Nia. Cara Nia berjabat tangan dengan wanita itu menunjukkan bagaimana Nia bersikap rendah hati.


"Jadi, kalian harus melayani Istriku dengan baik seperti kalian melayani mama dan papa dan juga aku sendiri. Jika kalian tidak melayani Istriku dengan baik atau tidak menghargainya. Berarti kalian tidak menghargai aku," kata Danny setelah Nia duduk kembali di sofa. Para pekerja itu menganggukkan kepala pertanda mengerti apa yang diinginkan oleh Danny.


Nia menatap suaminya itu. Hatinya menghangat mendengar Danny selalu menyebut dirinya sebagai istri. Walau kenyataannya seperti itu tapi mengingat masa lalu. Nia tidak menyangka diperlakukan seperti itu.


Nia beranjak dari duduknya dengan cepat setelah para pekerja itu berlalu dari ruang tamu itu. Wanita itu khawatir, Danny mewujudkan perkataannya tadi. Sungguh dirinya belum siap melayani Danny saat ini. Masuk ke kamar Sisil dengan segera adalah cara selamat dari pria itu. Baru saja, Nia duduk di kamar Sisil. Danny sudah berada di depan pintu.


"Nia, sini sebentar sayang," panggil Danny. Lagi lagi Nia tertegun. Ada pengasuh Sisil di kamar itu sehingga Nia tidak bisa protes akan panggilan sayang dari suaminya. Nia juga tidak bisa menolak panggilan suaminya itu. Dengan wajah malas. Nia beranjak dari duduknya.


"Ada apa kak?"


"Titip anak anak kita. Kalau ada yang penting. Kamu bisa menghubungi aku," kata Danny. Nia hanya menganggukkan kepalanya.


Danny mengelus kepala Nia. Nia hendak menepis tangan Danny tapi ketika mata mereka saling bertatapan. Danny mengedipkan sebelah matanya kepada Nia. Nia terlihat memajukan bibirnya karena mungkin tidak senang melihat kedipan mata Danny yang terkesan seperti pria mata keranjang.


Danny kembali tertawa dan melangkah menjauh dari hadapan Nia. Pria itu merasa puas mengerjai Nia. Dia tidak perduli dengan Nia yang sedang menatap dirinya dengan kesal. Bahkan, Danny berjalan menuruni tangga sambil bersiul.


Pria itu langsung menuju mobilnya. Dia berencana bertemu dengan Alex hari ini. Mereka berjanji bertemu di jam makan siang karena Danny ingin mentraktir pria itu sebagai ucapan terima kasih terhadap Alex.


"Mengapa kita bertemu di tempat ini?" tanya Danny kepada Alex setelah mendaratkan tubuhnya di Mereka seharusnya tidak di tempat ini bertemu. Tapi Alex mengubah tempat pertemuan itu setengah jam yang lalu. Untung saja, Danny masih di jalan ketika Alex mengabari dirinya bertemu di tempat ini. Kini mereka berada di gedung mall lebih tepatnya di restoran ayam goreng cepat saji.


"Aku juga menunggu seseorang selain dirimu. Kamu tidak suka disini. Kita bisa berpindah tempat yang penting di dalam gedung ini."


Danny menganggukkan kepalanya setuju. Dia paling anti memesan makanan hingga antri di depan kasir itu. Danny lebih suka dilayani daripada memesan makanan sendiri.


Akhirnya dua pria itu menemukan restoran yang sistemnya dilayani. Mereka kini sudah duduk dan sudah memesan makanan untuk mereka berdua. Danny sengaja makan dengan cepat karena tidak sabar ingin membicarakan tentang keputusan Alex meninggalkan Nia. Danny sadar itu bukan urusannya. Tapi sebagai pihak yang akhirnya terlibat dalam kegagalan pernikahan Alex dan Nia. Danny merasa perlu mengetahui alasan Alex membatalkan pernikahan itu.


"Mengapa kamu melakukan ini Alex," tanya Danny. Alex juga sudah selesai makan.


"Kamu tidak senang?"


Danny bingung menjawab pertanyaan Alex. Jika karena ego nya sendiri. Mungkin Danny akan menjawab senang. Tapi melihat mata Nia yang membengkak tadi pagi. Danny bisa merasa jika wanita itu sangat terluka atas pembatalan sepihak dari Alex.


"Aku tidak perlu menjawab pertanyaan kamu. Tapi asal kamu tahu. Keputusan kamu itu sangat melukai hati Nia."

__ADS_1


Alex terlihat menghela nafas berat. Membayangkan Nia menangis karena sakit hati akibat perbuatannya. Alex juga merasakan kesedihan yang luar biasa.


"Lebih baik dirinya menangis di awal pernikahan kalian. Yang penting setelah ini. Kamu akan selalu membuat dirinya bahagia," kata Alex. Pria itu terlihat sangat sedih.


"Tapi setidaknya kamu memberikan alasan yang tepat supaya Nia bisa menerima."


"Alasannya ya karena tidak berjodoh. Tapi jika kamu bertanya mengapa tidak berjodoh. Karena aku memikirkan kedua putri kamu. Aku tidak bisa membayangkan kesedihan anak kecil karena mengetahui wanita yang dia harapkan menjadi mama sambungnya ternyata menikah dengan orang lain. Aku juga tidak dapat membayangkan seorang anak kecil yang harus terpisah dari ayah kandungnya. Aku melepaskan Nia karena aku ingin yang terbaik bagi dia. Aku juga menyadari jika kami berbeda tujuan. Dia bersedia menikah dengan aku hanya untuk melupakan masa lalunya. Sedangkan aku menikah ingin bahagia bersama dengan wanita yang aku sayangi, yang aku cintai. Jika aku menikah dengan dirinya. Lalu Nia tidak bisa melupakan masa lalunya. Apakah kami bisa bahagia?. Semenjak kalian akan tetap berkonsultasi demi Naya."


Alex mencurahkan isi hatinya kepada Danny. Alex ingin bahagia. Tapi pria itu merasa jika dirinya menggantungkan kebahagiaan kepada Nia. Hubungan mereka tidak akan langgeng nantinya. Sepanjang hidupnya. Nia akan berurusan dengan Danny. Sebagai laki laki. Alex menyadari jika dirinya adalah laki laki yang mudah cemburu terhadap pasangannya. Alex juga bisa melihat jika Nia belum bisa melupakan Danny.


"Terima kasih Alex. Terima kasih karena memikirkan kedua putriku."


"Tidak perlu berterima kasih Danny. Yang aku mau. Jadi lah sumber bahagia bagi sahabat ku Nia," jawab Alex sungguh sungguh.


"Itu pasti. Kamu tenang saja. Semoga kamu mendapatkan jodoh yang terbaik nantinya," kata Danny tulus. Danny meninggalkan Alex di gedung itu dengan perasaan lega. Setidaknya dia sudah berterima kasih kepada pria itu.


Tiga hari kemudian. Danny dan Nia kedatangan pengasuh yang dipesan oleh Danny beberapa hari yang lalu. Walau pengasuh itu dari yayasan yang bisa dipercaya. Danny dan Nia tetap melakukan tanya jawab dengan pengasuh tersebut.


"Bagaimana menurut kamu?" bisik Danny di telinga Nia. Mereka sudah melakukan wawancara dengan pengasuh itu. Supaya bebas berbicara dengan Danny. Nia meminta pengasuh Sisil untuk membawa pengasuh baru itu ke lantai atas.


"Menurut kakak bagaimana?" tanya Nia balik. Selama tiga Hari ini sepasang suami istri itu sudah mulai berkomunikasi dengan baik tapi masih tidur pisah ranjang.


"Aku sih oke oke saja. Pengasuh itu terlihat baik dan sopan," jawab Danny tenang.


"Sopan kak?. Sopan dari Mana?. Kalau memang sopan harusnya dia langsung pakai baju suster kak," jawab Nia kesal. Pengasuh itu datang dengan baju pas badan dengan rok pendek jeans. Nia tidak suka Danny mengatakan wanita itu sopan.


"Tapi nanti Kalau sudah aktif bekerja kan pakai baju dinas. Tentang rok yang dia pakai. Di sini lah kamu harus membuat peraturan.. Kamu kan nyonya muda di rumah ini. Selagi kamu membuat peraturan yang masuk akal aku pasti mendukung."


"Apa tidak bisa diganti?" tanya Nia lagi. Di Hari pertama. Dirinya sudah tidak menyukai calon pengasuh baru itu. Ketika tanya jawab tadi berlangsung. Nia dapat melihat wanita itu memandang Danny dengan penuh damba. Dan ketika wanita itu hendak berlalu dari tempat itu tadi. Nia juga melihat jika wanita itu tersenyum kepada Danny tapi tidak tersenyum kepada dirinya.


"Kenapa harus diganti. Ya sudah kita coba saja dulu yang ini. Kalau tidak cocok nanti. Kita cari yang lain. Dia stok terakhir yang dimiliki pihak yayasan," kata Danny sambil menunjukkan ponselnya yang berisi chat antara Danny dan pemilik yayasan.


"Apa tidak ada yayasan selain yayasan itu?.


Nia masih saja mengajukan protes. Wanita itu semakin tidak senang ketika Danny masih saja bersikeras untuk memperkerjakan wanita itu.


"Ada. Banyak. Tapi aku hanya mempunyai kontak yayasan itu. Kontak yayasan lain tidak punya. Tapi jika kamu mempunyai kontak yayasan yang lain. Silahkan!.


Dengan berat hati. Akhirnya Nia harus bisa menerima wanita itu sebagai pengasuh. Tapi Danny bersikap bijak. Dia tidak memperkerjakan wanita itu sebagai pengasuh Naya melainkan pengasuh Sisil. Sedangkan pengasuh Sisil menjadi pengasuh Naya. Hal itu dilakukan karena Sisil cerewet dan tidak akan diam saja jika pengasuh baru itu tidak bekerja dengan benar. Sedangkan pengasuh Sisil sebelumnya. Sudah tidak diragukan lagi pengalamannya. Nia bisa merasa lega atas keputusan suaminya tentang pengasuh itu. Besok dirinya sudah kembali bekerja.


Besok paginya. Nia dan Danny sudah siap untuk bekerja. Nia harus mengelola toko kecil miliknya sedangkan Danny harus menggantikan Gunawan mengelola perusahaan milik Papanya itu. Sebelum mereka sarapan di meja makan. Nia sudah memperhatikan keperluan Sisil ke sekolah. Nia benar benar memposisikan dirinya sebagai seorang mama terhadap Sisil meskipun dirinya belum menjadi istri yang baik bagi Danny. Nia juga memastikan Naya minum susu terlebih dahulu.


Setelah selesai sarapan. Sepasang suami istri itu beranjak dari duduknya. Mereka berdua mengantarkan Sisil hingga ke mobil yang khusus mengantar jemput Sisil ke sekolah. Pengasuh itu juga melakukan hal yang sama karena dirinya yang membawa tas dan keperluan lainnya milik Sisil. Tapi pengasuh itu tidak ikut mengantarkan Sisil ke sekolah.


"Tante, bisa gak tante nanti ikut menjemput Sisil. Teman teman Sisil dijemput mamanya loh tante," kata Sisil. Anak itu sudah duduk di dalam mobil. Sisil membuka kaca mobil hanya untuk mengatakan hal itu.


Nia terlihat berpikir. Sisil pulang jam sebelas. Dan jarak toko kecilnya dengan sekolah Sisil sangat jauh. Jika dirinya ke toko hari ini dan nantinya akan menjemput Sisil. Nia akan lebih banyak menghabiskan waktunya di jalan.


"Kalau papa yang jemput. Bagaimana?" tanya Danny. Pria itu berpikir yang sama dengan Nia.


"Mau tapi tante juga ikut ya."


"Gak bisa sayang. Tempat kerja tante sangat jauh dari sini," kata Danny lagi.

__ADS_1


"Bagaimana kalau saya saja nanti yang ikut menjemput Sisil pak?" kata pengasuh baru itu membuat Nia semakin tidak senang. Dia masih memikirkan permintaan Sisil tapi Danny sudah mendahului dirinya menjawab. Ditambah dengan pengasuh sialan itu yang menawarkan diri untuk ikut menjemput Sisil. Nia merapatkan giginya melihat sendiri sikap lancang pengasuh itu. Tapi walau dirinya marah dalam hati. Nia ingin mendengar jawaban suaminya itu.


Nia menunggu jawaban itu dengan pura pura bersikap biasa. Dia akan menilai Danny dari jawabannya nanti. Apakah pria itu layak dipertahankan atau tidak.


__ADS_2