Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 142


__ADS_3

Nia duduk menunggu Alex yang harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum menemani dirinya ke pemakaman. Tidak ada yang harus dipersiapkan oleh Nia untuk mengunjungi pusara putra laki lakinya. Nia memilih duduk santai di sofa di ruangan itu sambil memperhatikan calon suaminya yang sedang serius duduk di meja kerjanya.


Nia tersenyum bahagia. Tidak ada alasan bagi dirinya menolak lamaran Alex. Alex sangat baik dan menepati janjinya. Selama enam bulan menjalin kasih dengan sahabatnya itu. Alex sangat menghargai dirinya dan tidak pernah lewat batas memperlakukan dirinya sebagai kekasih. Alex juga bisa menerima bayi perempuannya seperti putrinya sendiri.


Nia benar benar bisa merasakan perlakuan Alex kepada putrinya seperti perlakuan seorang ayah kandung. Tidak jarang, Alex membeli apa yang menjadi kebutuhan putrinya. Diapers dan susu yang menjadi kebutuhan pokok bayi sehari harinya. Alex mengambil bagian dalam tanggung jawab tersebut.


Nia tidak pernah meminta hal itu kepada Alex. Nia juga merasa tidak enak hati menerima pemberian dari Alex itu. Alex masih status kekasih dalam hidupnya tapi pria itu sudah melakukan tanggung jawab selayaknya ayah bagi Naya putri Nia.


Nia juga sebenarnya tidak ingin terburu berburu untuk menikah. Nia masih ingin fokus dengan usaha yang baru dia rintisnya Tapi Alex berhasil menyakinkan dirinya untuk menerima pria itu sebagai pendamping hidupnya. Mereka bukan lah dua pribadi yang baru mengenal. Baik Nia dan Alex sudah mengetahui karakter masing masing membuat Nia akhirnya tidak ragu menerima lamaran pria itu. Tentang usaha Nia yang baru. Wanita itu mengikuti jejak Alex dalam bisnis perlengkapan bayi. Alex mendukung usaha milik Nia itu hingga sudah mempunyai toko milik Nia sendiri yang sudah dua bulan beroperasi di pinggiran Kota itu.


"Ayo, berangkat!" kata Alex yang sudah berdiri di hadapan Nia. Nia tergagap. Memikirkan kehidupannya setelah menikah nantinya membuat Nia tidak menyadari calon suaminya bergerak melangkah ke arah dirinya.


"Haus."


Alex terkekeh. Pria itu merasa gemas melihat tingkah Nia yang terkadang manja pada dirinya di saat mereka sedang berdua seperti ini.


"Tunggu, aku ambil kan minum untuk kamu," jawab Alex sambil mencubit hidung mancung milik Nia dengan pelan. Kemudian pria itu melangkah ke sudut ruangan dimana ada showcase disana.


"Minum," kata Alex menyodorkan botol minuman itu kepada Nia setelah membuka tutup nya terlebih dahulu. Nia menerima. Sambil meneguk minimum mineral itu. Nia menatap wajah Alex yang sedang tersenyum menatap dirinya.


"Kehausan rupa nya. Kenapa ditahan dari tadi?" tanya Alex. Melihat air dalam botol itu sisa sedikit. Alex menduga jika Nia menahan rasa haus itu.


"Nunggu ditawarin minum. Ternyata harus diminta dulu baru dikasih air mineralnya."


"Masa sih. Sepertinya tidak," sangkal Alex. Sejak Nia di ruangan itu entah apa saja yang sudah dia tawarkan kepada Nia. Bahkan kotak makanan dan cup bekas masih terlihat di tempat sampah bekas tempat makanan dan minuman Nia. Dan itu tentu saja Alex yang memesan untuk Nia.


"Bukan aku yang haus Lex, tapi kamu. Sejak tadi aku di ruangan ini. Kamu tidak minum bahkan makanan milik mu juga belum di makan. Kamu sangat perhatian kepada aku. Tapi kamu tidak perhatian kepada dirimu sendiri. Mencintai aku maka kamu juga harus mencintai dirimu sendiri dengan menjaga pola makan dan gaya hidup kamu," kata Nia sambil menatap pria baik di depannya.


Satu hal yang tidak disukai Nia dalam diri Alex adalah pria itu pekerja keras tapi sering melupakan dirinya sendiri. Seperti hari ini. Nia bisa melihat jika Alex melewatkan makan siangnya hanya demi menyelesaikan gaun pengantin milik Nia.


"Aku belum makan karena belum lapar."


"Tentu saja kamu tidak lapar. Kamu lebih mementingkan rokok daripada makanan dan minimum sehat yang masuk ke dalam perut kamu. Lex, tolong perbaiki gaya hidup kamu. Aku ingin kita hidup sehat bersamaan," kata Nia serius. Nia bahkan meraih dan menggenggam tangan Alex berharap pria itu bisa menjaga kesehatannya. Selama ini, Alex memang tidak pernah mengeluh sakit apapun. Tapi rasa sayang yang ada di hati wanita itu membuat dirinya mengkhawatirkan Alex jika sering sering mengabaikan perutnya akan berdampak pada kesehatan pria itu di masa depan.


"Kamu mengatakan ini. Karena kamu sayang padaku?" tanya Alex. Hatinya sangat senang mendapatkan perhatian berkali Kali seperti ini dari Nia. Bukan kali ini pertama Nia mengingatkan dirinya akan pola makan dan gaya hidup sehat. Melihat Nia tidak bosan bosan memperingatkan dirinya akan hal itu membuat Alex terharu. Dia merasa dirinya berharga bagi Nia.


"Ya iyalah kedondong. Kan gak mungkin karena benci," jawab Nia sambil melepaskan tangannya dari tangan Alex. Pria itu tertawa.


"Yee. Yang kedondong itu kamu. Bukan aku," kata Alex. Calon suami istri itu sudah kembali ke status mereka menjadi sahabat. Mereka memang sering seperti ini. Pembicaraan serius diakhiri dengan canda.


"Belum terlambat kita pergi kalau aku makan terlebih dahulu?" tanya Alex. Nia langsung menganggukkan kepalanya senang melihat pria itu yang akhirnya bersedia makan sebelum mereka pergi ke pemakaman. Nia bahkan langsung membuka kotak makanan yang sedari tadi terletak di atas meja itu.


"Buka mulut kamu Lex," kata Nia. Di tangannya sudah ada sendok berisi makanan yang siap dimasukkan ke dalam mulut Alex. Mendapatkan perhatian dari wanita yang dicintai seperti itu, tentu saja Alex tidak menolak. Pria itu membuka mulut lebar lebar.


"Rasanya enak dan makin enak disuapin kamu seperti ini," kata Alex sambil mengunyah mulutnya. Nia tersenyum. Dalam hati Nia berjanji akan memberikan perhatian lebih kepada Alex setelah menjadi suaminya nanti terutama dalam hal pola makan seperti ini.


"Jangan menebar gombal di hadapan aku Lex, bilang saja kalau kamu mau aku menyuapi kamu sampai makanan ini habis kan?. Aku sudah mengetahui kamu seperti apa.'


"Kamu benar kedondong. Tidak sia sia aku mencintai sahabatku sendiri. Ternyata benar. Seorang sahabat itu bisa mengerti Kita walau kita tidak mengatakan apa yang menjadi keinginan kita sendiri."


Nia tertawa mendengar perkataan Alex. Alex memang bercanda. Tapi Nia bisa merasakan apa yang dikatakan oleh Alex itu adalah suatu kebenaran. Dirinya juga seperti itu. Alex banyak mengerti dirinya walau Nia tidak mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya.

__ADS_1


Isi kotak makanan itu kini sudah berpindah ke perut Alex dengan bantuan Nia. Alex mengelus perutnya yang sudah membuncit.


"Terima kasih sayangku."


"Eh."


Nia menatap malu kepada calon kekasihnya yang memanggil dirinya dengan sebutan sayang itu. Selama ini mereka terbiasa dengan panggilan kesayangan mereka yaitu kedondong dan nenas. Kali ini, Alex memanggil dirinya dengan panggilan romantis itu tentu saja ada debaran aneh di hatinya.


"Empat hari lagi kita akan menikah. Aku sudah bisa kan memanggil kamu dengan sebutan itu?" tanya Alex. Berpacaran selama enam bulan, mereka berkomunikasi layaknya sebagai sahabat. Tidak ada yang berubah dari persahabatan mereka disaat bersamaan mereka berpacaran.


"Su.. sudah," kata Nia. Ada rasa kaku yang tiba tiba dirasakan tubuh Nia hanya dengan perubahan panggilan itu.


Alex tertawa melihat Nia yang berubah kaku.


"Kemari sayang. Mendekat lah," kata Alex sambil menyentuh lengan Nia yang berjarak setengah meter dari dirinya. Nia menggeser duduknya hingga jarak mereka hanya beberapa centi saja.


Tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Alex memeluk Nia. Nia terkejut. Tapi pelukan itu hanya sebentar. Alex melepaskan pelukan itu sebelum Nia protes. Sedangkan Nia sibuk menetralkan detak jantungnya yang tidak beraturan. Sebelum mereka berpacaran. Alex pernah memeluk dirinya ketika pertama Kali mengetahui masalah tentang kehamilannya. Tapi setelah sepakat berpacaran. Jangankan memeluk. Bersentuhan tangan pun tidak pernah. Nia melarang hal itu karena sentuhan tangan bisa berlanjut ke berpelukan. Dari pelukan bisa berlanjut ke ciuman. Dan dari ciuman bisa berlanjut kemana saja.


"Kita berangkat," kata Alex. Alex beranjak dari duduknya dan berdiri. Alex memberikan tangannya kepada Nia supaya wanita itu juga ikut berdiri.


"Maaf, jika tindakan ku tadi berlebihan. Aku terlalu bahagia."


"Tidak apa apa Lex."


Terlalu berlebihan rasanya jika Nia memperdebatkan pelukan itu. Nia menerima tangan Alex dan akhirnya berdiri.


"Empat hari ini, biarkan kita berpacaran seperti pasangan kekasih lainnya. Aku janji hanya sebatas seperti ini," kata Alex. Nia menganggukkan kepalanya. Nia percaya dengan perkataan calon suaminya itu jika Alex tidak melewati batas.


Nia menebar senyum kepada mantan rekan rekannya itu. Sedangkan Alex tidak begitu memperdulikan para karyawannya. Dia berjalan terus menggandeng tangan Nia.


"Masuk sayang," kata Alex setelah membukakan pintu untuk Nia. Alex mendorong pelan tubuh mantan istrinya itu kemudian memutari mobil.


"Lex, kamu lihat tadi tatapan para karyawan kamu?.. Mereka terkejut."


"Biarkan saja. Apa kita membawa Naya ke sana," tanya Alex. Pria itu sengaja bertanya supaya dirinya bisa mengambil jalan pintas ke rumah Nia.


Nia berpikir sebentar. Ada keinginan membawa putrinya ke pemakaman putranya itu. Mempertemukan bayi perempuannya dengan pusara bayi laki lakinya yang sudah beda alam. Tapi mengingat jarak dan waktu yang lebih lama jika mereka menjemput Naya terlebih dahulu membuat Nia memutuskan pergi berdua saja dengan Alex.


Alex membawa mobil itu setelah Nia menyebutkan alamat pemakaman bayi laki lakinya.


"Untuk apa kita berhenti disini?" tanya Nia. Mereka masih berada di pertengahan jalan antara butik milik Alex dengan pemakaman.


"Kita membeli bunga segar terlebih dahulu," kata Alex sambil menunjuk toko bunga yang ada di seberang jalan.


"Oiya kamu benar Lex. Aku belum pernah kesana sama sekali dan tidak mengetahui apakah ada penjual bunga di sekita pemakaman itu atau tidak," kata Nia sambil melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya.


"Biar aku saja kesana. Nanti kulit mu gosong terkena sinar matahari," kata Alex sambil menahan tangan Nia yang hendak membuka pintu mobil. Setelah Nia setuju tetap tinggal di mobil akhirnya Alex turun dari Mobil.


Tatapan Nia tidak lepas dari pria calon suaminya sejak turun dari mobil. Memperhatikan Alex ketika menyebarangi jalan bahkan kini sedang berbicara dengan Pemilik toko bunga.


"Terima kasih lex, atas semua Cinta mu," kata Nia pelan. Pria itu kini sedang menyebarangi jalan sesudah membeli bungan segar. Tanpa Alex entah bagaimana hidupnya kini. Nia dapat merasakan ketulusan Cinta Alex kepada dirinya. Nia menerima keranjang bunga itu sebelum Alex naik ke dalam mobil.

__ADS_1


Alex kembali membawa mobil ke tempat tujuan.


"Untung saja Kita membeli bunganya. Ternyata di sekitar sini tidak ada yang jual nunga," kata Nia setelah Alex menghentikan mobilnya di sebelah mobil hitam tidak jauh pintu masuk pemakaman itu.


"Itu sepertinya tempat menjual bunga tapi tutup," kata Alex sambil menunjuk salah satu rumah kecil. Nia melihat rumah yang ditunjuk oleh Alex itu.


"Kita harus melapor dulu ya," kata Nia. Di pintu masuk itu ada juga rumah kecil yang sepertinya tempat penjaga pemakaman itu.


"Iya harus melapor terlebih dahulu. Ayo turun sayang," kata Alex. Sepasang calon suami istri itu membuka pintu bersamaan dan hampir menurunkan kaki bersamaan juga.


Nia hendak menutup pintu mobil tapi tangannya tertahan setelah melihat seseorang yang sedang berdiri di depan mobil milik pria itu dan sedang menatap dirinya.


"Kak Danny," kata Nia dalam hati. Wanita itu terkejut melihat ayah dari bayi kembarnya berada di tempat itu saat ini.


Nia memegang erat pintu mobil itu. Dia tidak ingin bertemu dengan pria itu tapi mereka bertemu di tempat ini dengan tujuan yang sama. Bedanya Danny sudah hendak pulang dan sendirian sedangkan Nia baru datang dengan pria calon suaminya.


Nia tidak memalingkan wajahnya supaya tidak bertatapan dengan pria itu. Ternyata setelah kelahiran bayi kembarnya dan bahkan hendak menikah empat hari lagi. Bayang bayang penolakan Danny dan keluarga kepada dirinya masih jelas dalam ingatannya.


"Nia, Ayo cepat," panggil Alex yang sudah berjalan beberapa langkah menjauhi mobil.


"Lex," panggil Nia. Suaranya bergetar hanya karena mengingat perlakuan Danny dan keluarganya di masa lalu.


Menyadari ada yang kurang beres dengan calon istrinya. Alex mendekati Nia.


"Ada apa?" tanya Alex penuh perhatian. Pria itu bisa melihat perubahan wajah calon istrinya.


"Kita lain kali mengunjungi pusara bayi laki lakiku. Aku ingin pulang sekarang," kata Nia. Alex tentu saja bingung dengan perkataan Nia itu. Alex mengedarkan pandangannya. Kemudian menatap Nia dan pria yang berdiri di depan mobil itu secara bergantian.


"Maaf mengganggu. Bisakah aku berbicara dengan Nia. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan dia."


Ternyata Danny mendekati Alex dan Nia. Alex menatap Danny dengan penuh selidik.


"Perkenalkan. Aku Danny. Pria dari bayi laki laki yang hendak kalian kunjungi," kata Danny memberitahukan siapa dirinya Dan mengulurkan tangannya kepada Alex. Sedangkan Nia masih betah memalingkan wajahnya dari Danny.


"Alex. Calon suami Nia," jawab Alex sambil menerima uluran tangan Danny. Kedua pria masa lalu dan pria masa depan Nia itu saling berjabatan tangan.


"Kami ke dalam dulu sebentar. Jika anda ingin berbicara dengan calon istriku. Kamu bisa menunggu dimana yang kamu inginkan. Di kafe atau di resto cepat saji yang tidak jauh dari tempat ini," kata Alex.


"Aku akan menunggu kalian di sini saja," jawab Danny. Dia tidak ingin melepaskan kesempatan ini untuk berbicara dengan Nia. Dia takut jika menyetujui Alex menunggu di kafe atau di resto. Nia tidak bersedia menemui dirinya.


"Tidak perlu menunggu kak Danny. Karena tidak ada alasan bagi kita untuk membicarakan apapun," kata Nia. Nia kemudian menutup pintu mobil itu.


"Ayo lex," ajak Nia. Alex melangkah mengikuti langkah Nia sehingga mereka berjalan bersebelahan.


"Mengapa kamu menyuruh dia untuk menunggu Kita?" tanya Nia kesal kepada Alex.


"Dia ingin berbicara. Dan aku rasa tidak ada salahnya kalian berbicara. Aku akan ada nantinya. Jadi apa yang kamu takutkan?"


"Tidak ada yang aku takut. Aku tidak mau berbicara dengan dia karena tidak ada yang perlu dibicarakan."


"Itu menurut kamu. Tapi menurut dia. Jadi ada baiknya menyelesaikan apa yang ingin dia bicarakan. Itu lebih bagus daripada menghindar."

__ADS_1


"Nia, Jangan takut. Jangan menghindar. Tapi harus dihadapi. Aku akan ada bersama kamu apapun keadaan kamu. Kita hadapi bersama sama apa yang ingin dia bicarakan. Oke?"


__ADS_2