Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Cinta Bertepuk Sebelah Tangan


__ADS_3

Evan terlihat berpikir sebentar sambil menatap mama Anita penuh selidik. Usul dari Rendra terlalu berlebihan menurutnya. Tapi Evan juga berpikir jika tidak ada salahnya menyelidiki mama Anita. Mengingat bagaimana sempurnanya sandiwara Adelia. Evan menjadi seseorang yang krisis kepercayaan kepada orang orang yang berbuat baik kepadanya.


"Kalian sangat keterlaluan menilai aku seperti itu. Apa kalian adalah manusia yang tidak pernah luput dari kesalahan. Aku benar benar minta maaf dan ingin berhubungan baik kepada kalian. Tapi balasan seperti ini yang aku terima. Evan, kamu hendak memeriksa ponsel milikku. Nah, periksa sekarang," kata mama Anita sambil menyodorkan ponsel ke hadapan Evan.


Evan terlihat ragu menerima ponsel itu. Dia berpikir jika mama Anita berani memberikan ponselnya diperiksa itu artinya jika wanita itu tidak bekerja sama dengan Adelia atau Bronson.


Melihat keraguan Evan, Rendra menyambar ponsel itu. Rendra membuka layar ponsel itu dengan mudah karena tidak ada kunci pengaman.


Rendra memeriksa semua chat bahkan kontak di ponsel itu.


"Bagaimana?. Ada?" tanya mama Anita sinis


Dia menyambar ponsel itu dengan kasar.


"Ada yang mencurigakan pa?" tanya Anggita. Rendra menggelengkan kepalanya.


"Sekarang, coba kamu bongkar isi tas kamu?" perintah Rendra. Rendra tidak puas jika hanya memeriksa ponsel mama Anita. Mama Anita menatap mantan suaminya itu dengan kemarahan yang masih dipendam.


Mama Anita menuruti perkataan Rendra. Wanita itu bahkan menyodorkan tasnya kepada Rendra supaya pria itu yang membongkar isi tasnya. Rendra pun tidak ragu untuk membongkar isi tas tersebut. Dia menatap curiga kepada mama Anita karena menemukan ponsel lain.


"Buka layar ponsel ini?" perintah Rendra. Ponsel itu dilengkapi dengan sandi pengaman. Sama seperti Rendra. Evan dan Anggita pun menjadi curiga dengan adanya ponsel itu.


Mama Anita membuka layar ponsel itu dengan menggerutu.


"Nih periksa. Tapi jangan lupa bernafas jika menemukan chat mesra dari kekasihku," kata mama Anita. Rendra tersenyum sinis sambil meraih ponsel itu.


"Bagaimana pa?" tanya Evan penasaran. Memeriksa ponsel yang satu ini lebih lama dibandingkan ponsel yang pertama tadi. Seperti perkataan mama Anita tadi, Rendra juga melihat chat mesra di ponsel milik mantan istrinya. Nomor tanpa foto profil itu benar benar membuat Rendra muak atas gombalan receh seperti gombalan anak remaja. Bukan karena cemburu tapi Rendra baru mengetahui sisi lain dari mantan istrinya itu.


"Tidak ada," jawab Rendra. Dia menyodorkan ponsel itu kepada mama Anita. Mama Anita tersenyum penuh kemenangan karena tuduhan Rendra tidak terbukti sama sekali.


"Rendra, Evan. Kita pernah tinggal satu atap dalam satu keluarga. Aku sangat sedih dan merasa terhina atas perlakuan kalian berdua hari ini kepadaku. Bertahun tahun aku menjadi sosok istri dan ibu yang baik bagi kalian berdua. Tapi inilah balasan yang aku terima. Aku rela diceraikan karena aku juga sadar jika yang namanya jodoh tidak bisa dipaksakan. Tapi kamu Evan, aku akan ingat sampai mati atas keputusan kamu yang membuat Kita sekarang sudah orang lain hanya karena dia," kata mama Anita sambil menunjuk wajah Anggita dengan marah.


"Tolong jaga sikap tante. Jangan menunjuk wajah istriku seperti itu," kata Evan juga sudah terbawa amarah. Dia tidak terpengaruh dengan kata kata mama Anita dan tidak suka mama Anita memperlakukan Anggita seperti itu.


Mama Anita tidak menjawab perkataan Evan. Dia menyambar tasnya dengan kasar dari atas meja dan melangkah tegap meninggalkan ruang tamu itu.


"Apa aku keterlaluan pa. Apa aku termasuk orang yang tidak tahu membalas kebaikan orang?" tanya Evan setelah mama Anita benar benar keluar dari rumah itu.


"Tidak nak. Untuk hidup bahagia harus ada yang kita korbankan. Dan yang kita korbankan bukanlah orang yang baik melainkan orang yang bermuka topeng. Jadi kamu tidak keterlaluan."


Evan terlihat merenungkan kata kata papanya.


"Menurut papa. Ada baiknya kalian tinggal di rumah nenek dulu. Walau tidak ada bukti apapun tentang kecurigaan papa terhadap Anita. Papa sangat yakin jika keberadaan kalian di daerah ini sudah diketahui oleh orang lain yang tidak kita harapkan."


"Iya mas, aku juga sependapat dengan papa," kata Anggita. Jika berkaitan dengan Dokter Angga atau Bronson. Anggita masih ketakutan.

__ADS_1


"Apapun yang membuat dirimu nyaman sayang. Aku akan turuti," jawab Evan. Sama seperti Anggita, Evan juga takut jika keluarga kecilnya diganggu oleh dokter Angga Dan Bronson. Evan menghubungi tante Tiara supaya langsung membawa Cahaya ke rumah nenek Rieta. Jawaban tante Tiara dari seberang membuat Evan lega. Mama Fely dan Cahaya saat ini sedang di rumah nenek Rieta.


"Sebaiknya kita ke rumah nenek sekarang," kata Rendra. Tanpa berpikir panjang, Evan dan Anggita menganggukkan setuju.


Satu jam kemudian, dua mobil sudah memasuki pekarangan rumah nenek Rieta.


"Papa dan mama dimana nek?" tanya Evan kepada nenek Rieta. Di ruangan tamu hanya mama Feli dan nenek Rieta yang terlihat. Sedangkan Cahaya sudah tidur sejak setengah jam yang lalu.


"Gunawan dan Tiara ke rumah sakit. Baru saja pergi. Danny mengabari jika Nia membuat drama," jawab nenek Rieta. Jelas terlihat rasa tidak suka hanya karena menyebut nama Nia.


"Nia membuat drama?" tanya Anggita bingung. Rendra yang tidak ingin terlibat dalam pembicaraan yang berkaitan dengan Nia langsung berlalu dari ruang tamu dan masuk ke dalam kamarnya.


"Iya. Cari perhatian. Tapi belum tahu sejauh mana kenekatan wanita licik itu untuk mendapatkan perhatian dari Danny."


Anggita menarik nafas panjang mendengar perkataan Nenek Rieta. Anggita dapat menilai bahwa semakin lama Nia seperti bukan dirinya lagi. Sedangkan Evan menggelengkan kepalanya mendengar informasi itu. Evan merasa kasihan kepada Danny yang semakin rumit kehidupannya karena jebakan Nia.


Di rumah sakit tempat Nia dirawat, Danny terlihat menundukkan kepalanya. Danny cepat meluncur ke rumah sakit setelah mendapatkan informasi dari Nia sendiri bahwa wanita itu dirawat di rumah sakit karena kandungan bermasalah.


Danny seperti orang bodoh. Mendengar sendiri dari mulut Nia bahwa dirinya ditahan rumah sakit karena tidak mampu membayar uang perawatan di rumah sakit tersebut. Seharusnya tadi sore Nia sudah bisa keluar dari rumah sakit setelah tiga hari dirawat.


Dan yang membuat Danny sangat kecewa adalah setelah mendengar penyebab Nia dirawat. Nia mengalami dehidrasi yang tentu saja berbahaya bagi janinnya.


"Apa kamu sengaja Nia?" tanya Danny. Pria itu meminta kepada dokter supaya Nia dirawat satu malam lagi supaya kondisi Nia dan janinnya semakin membaik sempurna.


Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Janin itu sangat kuat walau ibunya menyiksa sang janin karena ego. Dan setelah tiga hari dirawat, Nia diperbolehkan untuk pulang. Nia melupakan kondisi ekonomi karena terlalu larut memikirkan bagaimana caranya membuat Danny bersedia menikahi dirinya. Cek yang diberikan oleh Tante Tiara masih utuh tersimpan di lipatan bajunya di lemari.


Dan Hal itu membuat Nia menemukan jalan keluar. Dia menghubungi Danny dan masih berharap pria itu berubah pikiran.


"Apa kamu berpikir jika mengandung tanpa suami itu adalah perkara yang mudah kak?. Aku harus mengalami mual yang parah setiap hari. Tidak selera makan apapun," kata Nia. Dia ingin Danny tersentuh dengan perkataannya.


"Jawabannya bukan itu. Bukan hanya kami wanita yang pernah hamil muda. Sekarang jawab pertanyaan aku?" tanya Danny. Danny berpikir tidak mungkin Nia dehidrasi kalau bukan disengaja.


"Jangan buat pertanyaan yang memojokkan aku kak. Tidak ada orang yang menginginkan dirinya dirawat si rumah sakit seperti ini. Aku cukup waras."


"Kalau kamu waras, Tidak mungkin kamu menjebak aku," kata Danny dalam hati. Dalam kondisi seperti ini, Danny masih bisa menjaga perasaan Nia supaya tidak tersinggung dengan mengungkit jebakan itu.


"Belajarlah bertanya jawab Nia. Janin ini sudah hadir di rahim kamu sebaiknya kamu harus bisa menjaganya dengan baik."


"Kak, ini janin kita bersama. Seharusnya kamu juga ikut menjaga dan membuat ibunya nyaman. Aku heran sama kakak. Kakak sangat perhatian kepada kehamilan Anggita dulu. Tapi kepada darah daging sendiri, kakak tidak memperdulikan atau jangan jangan tidak pernah mengingat jika ada janin ini."


"Sudahlah Nia. Jangan berdebat. Fokuslah dulu untuk kesehatan kamu dan janin itu. Tentang kenyaman yang kamu inginkan. Jika kamu berpikir cerdas, kamu pasti tahu untuk membuat dirimu nyaman."


Nia kembali memalingkan wajahnya. Dia ingin mempengaruhi Danny dengan kesusahan yang dialami selama mengandung tapi Danny langsung mematahkan pembicaraan itu.


Nia menggerakkan kepalanya ketika terdengar suara pintu yang berderit. Dia berpikir jika Danny yang keluar dari ruangan itu ternyata Gunawan dan tante Tiara yang sedang masuk ke ruangan itu.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengan kamu Nia?" tanya tante Tiara penuh perhatian. Wanita itu mengabaikan kelicikan Nia demi ingin tahu tentang kondisi calon cucunya.


"Nia dehidrasi ma," jawab Danny. Terdengar Gunawan yang menarik nafas panjang. Gunawan tidak tertarik sama sekali untuk bertanya apalagi mendekati tempat tidur Nia. Pria itu tetap berdiri dekat pintu masuk Dan bahkan sedang sibuk dengan ponselnya.


"Kamu susah makan ya?" tanya tante Tiara lagi. Wanita itu bersikap lembut seperti biasanya. Mendengar Nia dehidrasi, tante Tiara tidak berpikiran macam macam karena banyak kasus juga seperti yang dialami oleh Nia.


"Iya tante," jawab Nia sopan. Wanita itu bergerak hendak duduk.


"Sudah berbaring saja. Jangan kamu paksakan untuk duduk," kata Tante Tiara sambil menepuk tangan Nia dengan pelan.


"Sudah ma?" tanya Gunawan. Mereka baru beberapa menit di ruangan itu. Gunawan sudah tidak betah. Mendengar Nia dirawat karena dehidrasi, Gunawan sudah bisa menebak tujuan Nia yang sebenarnya.


"Sebentar pa, Kita baru saja tiba. Masa langsung pulang?" tanya tante Tiara protes. Walau dirinya tidak menyukai Nia. Tante Tiara berusaha supaya Nia tidak tersinggung karena akan berpengaruh kepada janinnya.


"Jangan berlebihan bersikap ma. Cara mama itu memberikan perhatian kepada dia. Seakan akan mama memberikan lampu hijau kepada wanita itu untuk menjadi menantu Kita," kata Gunawan tegas. Nia meremas ujung selimut mendengar perkataan Gunawan. Setelah berbagai macam usaha yang dia lakukan. Ternyata restu itu tidak juga berpihak kepada dirinya.


"Pa, jaga bicara kamu. Terlepas dari kesalahan Nia. Tetap saja janin itu adalah cucu Kita. Apa salahnya Kita menjaga perasaan ibu dari cucu Kita sendiri."


"Sudahlah ma, jangan berlama lama. Evan, jika urusan kamu dengan wanita itu sudah selesai. Kamu juga sebaiknya pulang dari tempat ini. Papa tidak ingin ada lagi penjebakan yang kedua."


Sebenarnya Gunawan sangat kesal. Datang ke rumah sakit ini hanya membuang waktunya saja. Lebih berguna waktunya bermain dengan Cahaya atau Sisil daripada mengunjungi Nia. Cara Danny memberikan tahukan Nia sedang di rumah sakit seakan akan Nia dalam kondisi darurat.


"Nia, tante pulang dulu ya. Tante ingin kamu bisa ikhlas menerima semua kenyataan hidup ini dengan bertanggung jawab. Dan lain kali jangan gegabah dalam mengambil tindakan. Supaya tidak terulang dehidrasi kedua. Perhatian pola makan dan banyak minum air putih."


"Iya tante. Terima kasih."


Tante Tiara menyelipkan beberapa uang lembaran merah ke tangan Nia. Nia menolak dan menarik tangannya. Tapi tante Tiara bersikeras memberikan uang itu dan akhirnya Nia bersedia menerima. Gunawan tersenyum sinis melihat tingkah Nia yang sok menolak.


"Aku pulang," kata Danny setelah Gunawan dan Tiara keluar dari ruangan itu.


"Kak, aku mohon. Tolong pikirkan tentang Kita," kata Nia memohon. Dia menyambar cepat tangan Danny sehingga Danny menghentikan langkahnya.


"Nia, tolong jangan seperti ini. Sudah berapa kali aku katakan. Aku memikirkan yang terbaik untuk kamu dan janin itu."


'Kak, Aku benar benar minta maaf atas semua kesalahanku. Aku sadar kesalahanku memang fatal. Tapi tolong berikan aku kesempatan untuk membuktikan jika aku tidak selicik yang kalian tuduhkan," kata Nia. Dia tidak melepaskan tangannya dari tangan Danny.


"Aku juga minta maaf yang sebesar besarnya Nia. Aku tidak bisa bertanggung jawab seperti yang kamu inginkan. Dan seharusnya kamu juga sadar bahwa yang bertanggung jawab akan kondisi ini adalah diri kami sendiri. Tapi percaya kepadaku. Jika bayi itu lahir,.aku akan meperlakukan anak itu akan sama dengan apa yang aku berikan kepada Sisil."


Untuk kesekian kalinya, Nia mendapatkan penolakan tegas. Wanita itu terlihat hampir menangis sambil menundukkan wajahnya.


"Baik kak, asal kamu tahu. Aku melakukan kesalahan ini karena berpikir jika ini adalah jalan satu satunya bisa terlepas dari pernikahan dengan pak Rendra. Dan yang mempengaruhi aku untuk berpikir ulang tentang pernikahan itu adalah dirimu sendiri kak. Selain itu, aku melakukan jebakan itu karena aku bisa merasakan perasaan berbeda ketika bersama dengan kakak dibandingkan dengan pak Rendra. Aku mencintai kamu kak. Dan ini adalah janjiku. Malam ini, saat ini adalah hal terakhir aku mengemis kepada kakak. Aku juga berharap setelah ini, anggap saja tidak pernah terjadi hal apapun diantara kita termasuk janin ini," kata Nia.


Nia merasa lelah mengejar tanggung jawab dari Danny. Perjuangannya berakhir saat ini dengan melepaskan Danny dari hidupnya. Nia membaringkan tubuhnya dan membelakangi Danny.


"Pergilah kak," kata Nia ketika merasakan tidak ada pergerakan di belakang tubuhnya. Nia sangat sadar. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Sampai kapanpun melihat bagaimana kerasnya sikap Danny dan keluarganya. Nia berpikir jika restu itu tidak akan pernah berpihak kepadanya. Nia berjanji, mulai saat ini akan lebih fokus untuk menjaga kehamilannya. Nia juga berencana akan memanfaatkan cek pemberian tante Tiara untuk membuka usaha.

__ADS_1


__ADS_2