Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Tamu Di Pagi Hari


__ADS_3

Pagi hari di rumah nenek Rieta. Jam tujuh pagi, semua anggota keluarga nenek Rieta berkumpul di meja makan. Nenek Rieta mengajak semua anggota keluarga untuk sarapan bersama pagi ini. Gunawan, tante Tiara juga ada di rumah itu. Gunawan dan tante Tiara memutuskan menginap di rumah nenek Rieta karena Sisil tidak mau pulang karena ada Cahaya di rumah itu. Sedangkan Danny baru saja tiba di rumah itu. Rasa sayangnya kepada Sisil membuat Danny tidak bisa beraktivitas sebelum melihat putri kesayangannya itu.


Suasana di ruang makan itu terasa hangat dengan pembicaraan anggota keluarga itu. Menu sarapan mereka pagi ini adalah hasil masakan dari Nenek Rieta. Walau mereka adalah orang kaya. Terkadang keluarga itu sarapan pagi dengan makanan berat. Seperti pagi ini, nenek Rieta sengaja memasak mie goreng kesukaan Rendra dan Gunawan yang juga menjadi kesukaan anggota keluarga lainnya termasuk Anggita.


"Masakan mama yang satu ini memang tidak ada tandingannya. Kalah chef yang pamer keahlian memasak di televisi," kata Rendra sambil menyodorkan piring kosongnya ke arah nenek Rieta. Nenek Rieta tersenyum mendengar pujian Rendra. Wanita tua itu mengisi piring Rendra untuk kedua kalinya.


"Sayang, aku juga mau tambah," kata Evan kepada Anggita. Wanita itu dengan cepat mengisi piring suaminya.


"Kalian kebiasan ya. Seharusnya sarapan itu tidak terlalu banyak seperti kalian berdua itu. Bisa bisa nanti di kantor bukannya kerja justru tidur karena terlalu kenyang," kata Gunawan kepada adik dan putranya. Rendra Dan Evan seakan tidak mendengar perkataan Gunawan. Mereka justru terlihat sangat lahap menghabiskan mie goreng itu. Gunawan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adik dan putranya itu. Gunawan juga sangat menyukai mie goreng itu, tapi Gunawan bisa menahan diri untuk tidak makan berlebihan. Dibandingkan Rendra, Gunawan memang lebih displin menjaga kesehatan termasuk mengatur pola makan. Mengingat usianya yang tidak muda lagi.


Danny menatap om dan kakaknya itu. Hanya dirinya yang tidak ikut menikmati masakan sang nenek. Lama tinggal di luar negeri membuat Danny terbiasa sarapan dengan susu dan roti.


"Bagaimana penyelidikan kalian tentang Bronson, sudah ada perkembangan? tanya Gunawan membuat Evan berhenti memasukkan mie goreng itu ke mulutnya. Mendengar nama Bronson, mendadak selera makannya hilang.


"Sudah pa. Tapi Kita tidak mau terburu buru untuk menjatuhkan Bronson. Aku akan membuat Bronson tidak berkutik setelah dirinya kalah bersaing dengan Evan Dinata," kata Evan sangat yakin. Orang orangnya sudah banyak memberikan informasi terkait kecurangan Bronson di dunia bisnis.


"Hati hati dalam bertindak. Aku sangat yakin jika Bronson juga tidak diam melihat satu produk mereka sangat mirip dengan produk dari Perusahaan Dinata," kata Gunawan lagi.


"Baik pa. Terima kasih," kata Evan. Produk yang mirip itulah akar kebencian Bronson kepada Evan. Product makanan yang bahan baku sama tapi dikemas dengan nama yang hampir mirip dan harga yang berbeda. Products yang diproduksi oleh perusahaan Dinata lebih Mahal dibandingkan dengan produk yang diproduksi oleh perusahaan Bronson. Dan dibandingkan dengan product dari Perusahaan Bronson. Product dari Perusahaan Dinata yang lebih banyak diminati oleh masyarakat walau lebih Mahal.


Bukan Evan yang meniru tapi Bronson yang menjadi pengikut membuat product tersebut dengan curanng. Bronson menggunakan bahan baku yang berbeda dengan yang tertulis di kemasan. Bronson memang tidak kreatif menciptakan product baru. Hampir semua product yang diproduksi oleh perusahaannya adalah tiruan dari product dari Perusahaan terkenal.


"Bagaimana dengan dokter Angga?" tanya Rendra. Rendra juga khawatir akan kejahatan sang dokter.


"Tentang perempuan yang menjadi korbannya sudah berhasil didekati oleh orang suruhan aku pa. Aku akan menghancurkan pria itu dengan menggunakan perempuan tersebut. Hanya saja sampai saat ini, belum ada bukti untuk menjerat Dokter Angga."


"Bagus, jangan berikan ampunan kepada pihak pihak yang ingin menghancurkan keluarga kita," kata Gunawan. Dia sangat senang mendengar informasi terbaru terkait Bronson dan dokter Angga. Gunawan kasihan melihat Anggita yang tidak bisa leluasa keluar rumah termasuk pergi ke kafenya sendiri. Gunawan memang sudah menawarkan pengawal untuk Anggita jika hendak keluar rumah. Tapi Evan menolak dengan tegas karena tidak ingin memberikan celah sedikitpun kepada Dokter Angga atau Bronson.


Para wanita hanya mendengarkan pembicaraan itu tanpa berniat masuk ke dalam pembicaraan tersebut. Danny juga terlihat begitu. Pria itu seperti tidak bersemangat memulai aktivitasnya pagi ini.


"Maaf nyonya, maaf semuanya. Di luar ada tamu yang ingin bertemu dengan ibu Tiara."


Semua mata mengarah ke pekerja rumah yang sedang berdiri dekat meja makan itu.


"Siapa?" tanya Rendra cepat. Pikirannya langsung mengarah ke Anita.


"Saya tidak mengenalnya pak. Dan baru Kali ini melihatnya," kata pekerja itu. Rendra langsung meminta kepada pekerja untuk menyalahkan televisi yang tidak jauh dari mereka. Sang pekerja melakukan apa yang diperintahakan oleh Rendra. Cctv yang tersambung ke televisi itu memperlihatkan seseorang yang berada tidak jauh dari pos satpam.

__ADS_1


"Siapa dia?" tanya Gunawan. Wanita yang disebut sebagai tamu itu sedang memakai masker. Semua mengerutkan kening karena tidak mengenal wanita tersebut.


"Suruh saja masuk. Tapi pastikan tas itu diperiksa terlebih dahulu. Takut saja di dalamnya ada tikus yang bisa meledak," kata Nenek Tiara. Bukan tanpa sebab Nenek Rieta berkata begitu. Di dunia persaingan bisnia apa saja bisa terjadi. Sang pekerja itu membungkukkan tubuhnya kemudian berlalu dari ruang makan untuk melaksanakan perintah Nenek Rieta. Lewat layar televisi itu. Evan Dan yang lainnya bisa melihat jika wanita itu menurut dengan apa yang diperintahkan. Dan lewat layar televisi Anggita, nenek Rieta dan yang lainnya dapat melihat wanita itu berjalan tegap menuju ruang makan dengan didampingi sang pekerja rumah.


Selamat pagi semuanya," sapa wanita itu sopan tapi suaranya terdengar tegas memenuhi ruang makan itu.


"Selamat pagi. Buka masker kamu," balas nenek Rieta tanpa mempersilahkan wanita itu untuk duduk padahal ruang tamu tidak jauh dari ruang makan itu. Wanita itu pun membuka maskernya.


Anggita terkejut melihat siapa yang menjadi tamu mereka di pagi hari itu.


"Jessi, apa yang kamu lakukan dek?" tanya Anggita. Hatinya seketika diliputi kekhawatiran karena menduga sesuatu terjadi pada sahabatnya Nia. Sejak tadi malam, Anggita tidak berhenti memikirkan sahabatnya itu. Bahkan pagi ini. Dirinya dan Evan sudah berencana untuk mengunjungi Nia. Anggita juga sudah berkomunikasi dengan Nia pagi ini sebelum duduk di ruang tamu itu.


"Tidak melakukan apa apa mbak. Aku hanya ingin bertemu dengan ibu Tiara. Bolehkah aku bertemu dengan beliau?" tanya Jessi sopan. Dia belum pernah bertemu sama sekali dengan wanita itu. Diantara yang duduk di ruang tamu itu, dia hanya mengenal Anggita dan pernah bertemu dengan Rendra dua kali.


"Tapi untuk apa dek. Apa Nia baik baik saja?" tanya Anggita pelan. Suaranya menyerupai berbisik Kini wanita itu sudah berdiri si sebelah Jessi. Jessi menganggukkan kepalanya. Anggita menarik nafas lega.


"Aku sendiri yang bernama Tiara. Apa Kita mempunyai urusan?. Sepertinya kita tidak saling mengenal. Tapi walaupun begitu. Kita berbicara di Sana," kata Tante Tiara. Wanita itu beranjak dari duduknya dan mempersilahkan Jessi untuk berjalan terlebih dahulu. Jessi menoleh ke Anggita dan Anggita menganggukkan kepalanya supaya Jessi mengikuti langkah Tante Tiara yang ternyata sudah berjalan melewati tubuh Jessi.


"Silahkan duduk. Siapa nama kamu nak?" tanya tante Tiara lembut. Jessi menyebutkan namanya.


"Aku adik dari Nia ibu," kata Jessi membuat Tante Tiara juga terkejut. Gunawan Dan yang lainnya yang belum mengenal Jessi juga terlihat terkejut mendengar perkataan Jessi. Dari ruang makan itu bisa melihat bahkan mendengar terjadi di ruang tamu.


"Aku ingin mengembalikan ini ibu. Ini milik ibu kan?" kata Jessi sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celananya jeansnya. Selembar kertas bernilai mahal yang diberikan oleh Tante Tiara kepada Nia.


"Kenapa dikembalikan?" tanya tante Tiara heran. Tante Tiara meletakkan cek itu di atas meja.


"Maaf ibu, jika Mbak Nia sudah lancang mengganggu ketentraman keluarga kalian. Aku akui kami memang orang susah. Dan kami sudah terbiasa hidup susah dan bisa hidup seadanya tanpa uang ibu. Tolong jangan buat kami orang susah ini semakin merasa rendah diri karena pemberian seperti ini bu," kata Jessi dengan sopan. Dia sudah mengarang kata kata ini sejak tadi malam setelah memutuskan mengembalikan cek itu kepada Tante Tiara.


Jessi tidak setuju jika Nia menggunakan uang itu untuk membuka Usaha. Karena Jessi mempunyai pemikiran sendiri tentang cek itu. Dan tadi malam mereka memutuskan mengembalikan cek tersebut dan memulai hidup dengan cara mereka sendiri.


"Maaf Jessi. Tante memberikan cek ini bukan berniat untuk merendahkan kalian. Tante benar benar tulus untuk membantu Nia. Karena bagaimana pun. Janin itu adalah cucuku. Tante tidak ingin Nia atau janinnya kekurangan. Jadi Tante mohon. Tolong berikan ini kepada Nia lagi ya."


"Tidak tante. Cek ini harus kembali kepada Tante," kata Jessi bersikeras. Jessi semakin merasa harga diri keluarganya tidak ada di hadapan keluarga ini. Jessi tidak memandang pemberian tante Tiara sebagai perbuatan yang tulus tapi Jessi merasa jika tante Tiara menganggap permasalahan beres hanya dengan menggunakan kekuatan uang.


Pembicaraan dua manusia itu terdengar jelas ke ruang makan. Kini nenek Rieta dan yang lainnya juga sudah duduk bergabung di ruang tamu.


"Dan untuk Pak Rendra. Aku juga akan mengembalikan uang yang pernah bapak berikan kepada kami. Tapi sayangnya, uang itu berada di dalam tas aku yang ada di pos satpam. Aku akan titip nantinya kepada satpam," kata Jessi lagi. Semua tercengang mendengar perkataan Jessi. Rendra juga demikian. Uang Lima puluh juta yang sudah lama dia berikan kepada Nia beberapa bulan yang lalu atas kerjasama Rendra dengan Nia supaya Anita tidak mengganggu dirinya lagi.

__ADS_1


"Bawa kembali uang itu. Aku tidak pernah meminta apa yang sudah aku berikan. Lagipula uang itu adalah milik Nia karena sudah membantu aku saat itu," kata Rendra.


"Maaf Pak. Akan tetap aku titip karena aku tidak mau mempunyai hutang budi kepada kalian."


"Aku pamit tante, mbak Anggita."


"Tunggu!, kata Gunawan cepat. Jessi yang hendak beranjak dari duduknya kini sudah terlihat duduk tenang kembali.


"Trik apa ini?. Apa kamu Kira setelah mengembalikan ini semua. Wanita licik yang tersemat pada diri Nia akan hilang begitu saja?" tanya Gunawan. Gunawan menduga jika pengembalian cek itu adalah trik Nia untuk mengambil simpati dari Danny.


"Ini bukan trik apapun pak. Tenang saja. Mbak Nia sudah ikhlas menerima semua ini. Oleh karena itulah kami mengembalikan semua ini supaya kami tidak berhutang budi kepada keluarga ini," kata Jessi tegas penuh keberanian. Suaranya tidak terdengar gemetar berbeda dengan kakinya yang gemetar. Jessi menekan lantai kuat supaya tidak ketahuan kepada yang lainnya dirinya sebenarnya takut dan gugup menghadapi orang kaya itu.


"Tidak ingin berhutang budi, mengapa sebelumnya diterima," kata Gunawan sinis. Yang lainnya tidak mengeluarkan suara karena kemarahan terlihat di wajah Gunawan.


"Karena, alasan kegagalan pernikahan


mbak Nia dan pak Rendra baru aku ketahui tadi malam pak."


"Bawa kembali cek itu. Itu bukan lagi milik Tiara tapi milik Nia. Bawa sekarang juga."


"Aku tidak mau pak. Sampai kapan aku tidak akan mau," jawab Jessi bersikeras. Gunawan mengulurkan tangannya mengambil cek itu dari meja dan melemparkan cek itu ke pangkuan Jessi.


Jessi merasakan harga dirinya tidak ada karena Gunawan melemparkan cek itu kepda dirinya. Nia menundukkan kepalanya melihat cek itu kemudian mengambilnya. Beberapa detik kemudian cek itu sudah berubah bentuk menjadi kertas kertas kecil karena Jessi merobek kertas tersebut.


"Dengar ya Pak. Mbak Nia memang benar benar salah menjebak pria yang bernama Danny. Tapi satu hal yang perlu bapak ingat. Kelahiran dan kematian adalah hal misteri yang manusia hanya boleh menerima begitu saja dari Penciptanya. Janin itu ada bukan karena kehendak mbak Nia tapi karena memang janin itu harus Ada. Banyak di luar sana pasangan suami istri yang tidak dikarunia anak. Banyak di luar sana orang orang melakukan pergaulan bebas. Tapi banyak dari mereka tidak mengandung karena memang takdirnya belum dikarunia untuk mengandung. Kalian boleh memandang janin itu ada karena kelicikan tapi aku memandang janin itu ada karena suatu alasan. Jangan menyesal jika suatu hari nanti dia berhasil kami didik menjadi orang sukses. Kami tidak ingin ada tuntutan di Masa depan. Itulah sebabnya kami tidak ingin menerima sepeser dari kalian. Seperti kalian menolak mbak Nia. Maka kami juga menolak pemberian kalian," kata Jessi panjang lebar.


Anggita menundukkan kepalanya, dia menitikkan air mata mendengar pembelaan Jessi akan Nia. Sedangkan Tante Tiara dan nenek Rieta juga tercengang mendengar perkataan Jessi. Mereka membenarkan sebagian kata kata itu di dalam hati.


"Jangan pernah berpikir bahwa perkataan aku ini untuk mempengaruhi kalian supaya berubah pikiran. Tidak sama sama sekali."


Jessi akhirnya beranjak dari duduknya. Dia sangat puas karena sudah mengatakan apa yang sudah dia susun sejak tadi malam. Jessi tidak ingin harga diri keluarganya semakin tidak berharga dengan menerima pemberian tante Tiara atau Rendra.


Siapa manusia yang tidak ingin hidup enak dan materi yang cukup. Jessi juga menginginkan itu pada mereka bersaudara jika dari jalan yang benar. Dia pernah merestui Nia dan Rendra menikah karena Jessi merasa jika itu adalah takdir hidup Nia yang berjodoh dengan pria tua.


Tapi kenyataan tidak seperti itu. Mendengar cara licik yang dilakukan oleh Nia membuat Jessi mengusulkan mengembalikan semua pemberian dari Tante Tiara dan Rendra. Jessi berpikir jika Nia menerima pemberian itu artinya Nia seakan akan menjebak Danny karena alasan ingin hidup enak.


"Mbak tasnya ketinggalan," kata satpam kepada Jessi yang sudah mencapai pintu gerbang.

__ADS_1


"Pak, tolong berikan tas ini kepada pak Rendra. Tas ini berisi uang Lima puluh juta yang aku pinjam beberapa bulan lalu," kata Jessi kepada sang satpam.


Sang satpam langsung membuka tas itu. Satpam meragukan perkataan Jessi. Tapi setelah melihat kertas kertas merah itu. Sang satpam akhirnya masuk ke dalam rumah setelah Jessi keluar dan pintu gerbang sudah dikunci.


__ADS_2