Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 130


__ADS_3

Di tempat terpisah dari perusahaan milik Rendra.


Salsa merapikan pakaiannya ke dalam sebuah lemari. Dia baru saja tiba di rumah itu setelah melakukan perjalanan udara selama dua jam. Dan dari bandara ke rumah ini. Salsa harus menghabiskan waktu selama dua jam juga itupun karena lewat jalan tol.


Salsa akhirnya mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai sekretaris di perusahaan milik Rendra. Ternyata bertahan lebih satu bulan setelah ditinggal pria yang dia cintai bukan berarti dirinya masih betah bekerja di perusahaan itu. Salsa bertahan karena belum mendapatkan pekerjaan baru. Dan saat ini dirinya berada di Kota dan di rumah ini. Itu karena Salsa diterima sebagai sekretaris juga di Perusahaan yang lebih besar. Dan rumah ini adalah fasilitas dari kantor yang baru. Salsa tentu saja tidak membuang kesempatan yang Ada. Dia tidak ingin hanya jadi penonton kebahagiaan Rendra dan Anna.


Cinta adalah misteri. Dan tidak bisa.memilih kemana cinta itu bisa berlabuh. Andaikan Salsa bisa melakukan hal itu. Dia tidak akan menjadikan Rendra sebagai tempat berlabuh cintanya. Perhatian dan pernyataan cinta Danny tidak membuat cinta di dalam hati Salsa memudar begitu saja.


Terkadang masih sakit ketika melihat pria itu tertawa bahagia bersama pasangannya sementara dirinya harus berjuang membuang perasaan itu. Itulah sebabnya, Salsa memilih mencari pekerjaan lainnya dibandingkan bertahan di perusahaan itu.


Danny memang datang membawa sejuta harapan dan cinta. Tapi sedikitpun tidak ada niatnya membalas cinta itu karena memang dirinya tidak ada rasa sama sekali terhadap pria itu. Jika memaksakan diri untuk berbahagia. Sebenarnya bisa saja dirinya menerima pria itu. Seperti perkataan Anna. Bahwa seorang wanita lebih baik dicintai daripada mencintai. Restu keluarga dari pihak Danny juga sudah ada. Tapi masa lalu Danny membuat Salsa tidak berminat sama sekali untuk menerima pria tersebut.


Salsa sudah merasakan bagaimana perasaannya tidak berbalas. Dalam keadaan tanpa beban dan jejak dirinya harus merelakan Rendra bersama wanita pilihannya. Salsa sudah merasakan sakit setengah mampus apalagi Nia yang harus membasahi sebagian dari diri Danny sepanjang hidupnya.


Salsa sudah merasakan cinta tidak berpihak kepada dirinya. Dan Salsa tidak akan menjadikan dirinya sebagai pihak yang membuat cinta tidak berpihak kepada Nia. Salsa sangat meyakini jika Nia masih sendiri itu artinya wanita itu masih mengharapkan Danny.


Keluar dari perusahaan milik Rendra adalah jalan satu satunya supaya terhindar dari sakit hati dan kejaran Danny. Ini adalah keputusan Salsa.


"Semoga aku menemukan kebahagiaan di kota ini," kata Salsa pada dirinya sendiri. Dia kini menatap halaman rumah yang tidak terlalu luas tapi enak dipandang mata karena halaman itu tertata dengan rapi dengan bunga bunga yang tumbuh dengan subur.


Sebagai wanita normal. Dia berharap bahagia. Wanita itu juga berharap menemukan belahan jiwa di kota ini. Dia juga berharap menemukan pria yang mencintai dan dia cintai tidak jauh umurnya dari dia. Karena setiap Salsa mengingat bagaimana dirinya mengejar Rendra yang sepantasnya menjadi ayahnya akan membuat wanita itu merasa malu kepada dirinya sendiri.


Kini satu bulan berlalu sejak Salsa keluar dari perusahaan milik Rendra. Wanita itu masih berusaha beradaptasi dengan lingkungan kerjanya. Dan selama satu bulan itu juga. Danny berusaha keras mencari keberadaan dirinya. Danny juga mendapatkan tekanan dari Gunawan dan Nenek Rieta karena tidak berhasil mendapatkan Salsa.


"Kemana aku harus mencari kamu lagi Salsa," kata Danny frustasi sambil memandangi ponsel miliknya. Semua media social milik Salsa tidak bisa menunjukkan dimana keberadaan wanita itu.


Danny benar benar sibuk mencari sang pujaan hati. Sehingga dirinya lupa bahwa sebenarnya ada juga seseorang yang harus mendapatkan perhatian dari dirinya. Wanita itu adalah Nia. Memang mereka tidak menikahi. Tapi tidak ada salahnya Danny memperhatikan wanita yang akan berjuang mati matian melahirkan calon anaknya.


Dan hal itu benar adanya. Nia memang sepantasnya mendapatkan perhatian saat ini. Di usia kandungan yang sudah menginjak di usia tujuh bulan sudah sepantasnya ada seseorang yang bersiap siaga jika wanita itu membutuhkan bantuan.


Seperti hari ini, Nia tidak bekerja karena dirinya merasa sangat kelelahan. Nia merasakan tubuhnya sangat berat sehingga wanita itu malas bergerak. Dan terkadang wanita itu tidak dapat menahan buang air kecil yang semakin sering. Itulah sebabnya. Nia meminta berhenti bekerja sampai melahirkan karena tidak ingin merapatkan Pemilik butik yang sangat perduli kepada dirinya.


"Ada apa ini?" kata Nia ketika dirinya sadar jika dasternya bagian belakang basah padahal dirinya tidak buang air kecil. Nia berusaha bangkit tapi tidak jadi karena tiba tiba perutnya sangat sakit.


"Tidak mungkin. Baru beberapa hari pas satu bulan," gumam Nia ketika berpikir jika dirinya saat ini hendak melahirkan. Tidak ada yang bisa ditanya karena hanya dirinya yang berada di rumah itu. Kedua adiknya tidak berada di rumah. Sedangkan untuk bertanya kepada tetangga, Nia juga tidak akan mau. Sejak kehamilannya tersebar di tempat itu. Para tetangga banyak yang mencibir dirinya bahkan mengatakan dirinya sebagai wanita murahan. Nia sudah menerima itu sebagai konsekuensi dari kebodohannya.


Nia meringis kesakitan. Rasa sakit yang baru pertama kalinya dia rasakan membuat wanita itu tidak bisa menahan rasa sakit itu. Bukan hanya sakit kini wanita itu merasakan tubuhnya berkeringat. Benar benar sakit dan membuat Nia tidak nyaman. Ternyata rasa sakit yang luar biasa itu membuat suaranya terdengar hingga keluar. Seorang wanita yang sedang melintas mendengar dan tergerak hatinya untuk masuk ke dalam rumah.


"Nia, kenapa kamu?" tanya wanita itu panik. Nia duduk di lantai dan tempatnya itu sudah basah.


"Aku tidak tahu bu. Rasanya sakit sekali. Mungkinkah ini hendak melahirkan tapi masih tujuh bulan," jawab Nia kemudian meringis. Wanita itu mendekati Nia dan membantu Nia untuk duduk di sofa. Dia mengetahui jika wanita itu yang lebih parah mencibir dirinya tapi kini wanita itu yang melihat keadaannya. Hati memang tidak bisa ditebak. Di Masa lalu, wanita itu membenci Nia setengah mati karena hamil di luar nikah. Tapi di Masa sekarang wanita itu yang menjadi penolong bagi Nia.


"Kita ke rumah sakit sekarang. Apapun itu. Pihak medis yang lebih tahu," kata wanita itu sambil mengutak atik ponselnya.. Wanita itu ternyata memesan taksi online.


"Ayo aku bantu. Taksinya sudah datang," kata wanita itu sambil membantu Nia untuk berdiri. Nia membiarkan wanita itu untuk membantu dirinya karena Nia sadar bahwa saat ini dirinya benar benar butuh bantuan. Menolak hanya untuk membiarkan dirinya mati konyol.


"Ke rumah sakit atau ke klinik bersalin," tanya wanita itu setelah mereka duduk di dalam mobil. Wanita itu sebenarnya sudah membuat tujuan mereka ke klinik bersalin karena mengetahui bagaimana kehidupan Nia sejak kedua orang tuanya pindah ke tempat ini. Nia adalah tulang punggung keluarga setelah kematian kedua orang tuanya.


"Klinik bersalin saja bu," jawab Nia lemah." kata Nia. Dia memilih klinik bersalin untuk melahirkan karena di klinik jauh lebih murah dibandingkan di rumah sakit. Nia harus menghemat. Karena setelah melahirkan dirinya pasti tidak adà pemasukan. Karena harus memulihkan diri. Apalagi rasa sakit ini muncul di saat dirinya masih berusaha mengumpulkan uang bersalin yang seharusnya dua bulan lagi.


Tiba di klinik. Nia langsung mendapatkan penanganan. Apa yang dialami oleh Nia saat ini adalah tanda tanda hendak melahirkan. Karena terlalu banyak pikiran. Janin itu tidak dapat lahir cukup umur. Jalan lahir sudah menunjukkan bukaan lima yang artinya beberapa jam lahir kelahiran itu akan tiba.

__ADS_1


"Sepertinya janin kamu dua atau kembar," kata sang bidan setelah memeriksa perut Nia dengan meraba.


"Kembar?" tanya Nia dan wanita yang menolong dirinya hampir bersamaan.


"Tidak pernah USG?" tanya bidan itu lagi. Mendengar pertanyaan terkejut dari Nia dan wanita itu. Sang bidan menduga jika Nia tidak pernah memeriksakan kehamilannya dengan alat canggih itu.


Nia tidak menjawab. Rasa sakit itu membuat dirinya tidak bisa mengeluarkan kata kata untuk menjawab. Meringis lebih baik daripada berbicara yang akan membuat dirinya bertambah sakit. Seperti pertanyaan bidan. Nia tidak pernah memeriksakan kehamilannya. Hamil di luar nikah membuat dirinya membatasi interaksi dengan pihak luar termasuk rumah sakit. Dia berpikir bahwa semua orang yang melihat dirinya sedang mengandung mengetahui jika dirinya hamil di luar nikah.


"Kenapa bu bidan?" tanya wanita yang menolong Nia ketika bidan itu sudah selesai memeriksa detak jantung sang janin. Sang bidan menggelengkan kepalanya.


"Detak jantungnya hanya satu. Tapi ketika Saya raba. Ini sepertinya dua," kata bidan itu sambil kembali memeriksa perut Nia.


"Kita lihat saja nanti. Kelahiran tunggal atau kembar. Yang penting kamu dan janin kamu sehat. Semangat ya," kata bidan itu setelah selesai memeriksa Nia. Nia hanya menganggukkan kepalanya. Rasa sakit itu tidak bisa digambarkan seperti apa. Nia hanya bisa meringis Dan menarik nafas kemudian menghembuskannya kembali.


"Apa kamu tidak perlu memberi tahukan pria, ayah dari janin kamu?" tanya wanita itu setelah bidan meninggalkan mereka sebentar.


"Ahhh. Ti..tidak per..lu bu." jawab Nia dengan terbata.


Melihat bagaimana Nia bertahan sendiri merasakan rasa sakit itu. Wanita itu sudah menduga jika si pria tidak bersedia bertanggung jawab. Seketika itu juga, sang ibj merasa kasihan kepada Nia. Kebenciannya selama ini terhadap Nia memudar hanya melihat rasa sakit Nia. Nia tidak hanya sakit badan tapi juga sakit hati. Sang ibu, mengandaikan penderitaan Nia terjadi pada putri kandungnya.


"Terserah kamu saja, yang penting kamu tidak boleh menyerah berjuang," kata wanita itu. Melihat sorot Mata Nia yang terlihat sayu. Wanita itu takut jika Nia tidak selamat dalam melahirkan ini. Wanita itu juga langsung menghubungi Jessi adik Nia yang sedang kuliah.


"Sebentar lagi. Jessi akan tiba," kata wanita itu. Nia menganggukkan kepalanya.


"Apa tidak sakit lagi?"


Belum sempat Nia menjawab. Rasa sakit itu kembali menyerang bahkan keringat membanjiri tubuh Nia.


Dua jam kemudian.


Persalinan itu akhirnya tiba juga. Sang bidan sudah mengarahkan Nia untuk mengejan. Dia menurut apa yang diperintahkan sang bidan. Tapi setelah mengejan beberapa kali. Janin itu tidak juga bersedia keluar.


"Ayo Nia.. Kamu harus bisa," kata wanita itu memberikan semangat kepada Nia. Ketakutannya hampir menjadi kenyataan melihat Nia sudah lemas.


"Bagaimana kalau dirujuk saja ke rumah sakit?" tanya wanita itu kepada sang bidan. Wanita itu takut karena terlambat penanganan. Nyawa Nia tidak terselamatkan.


"Baik ibu. Aku akan memerintahkan supir untuk menyiapkan mobil," kata bidan. Mobil yang dimaksudkan oleh bidan bukan ambulance melainkan mobil pribadi yang dijadikan Pemilik klinik untuk mengantarkan pasien yang tidak dapat ditangani di klinik itu ke rumah sakit.


Sang bidan itu memanggil rekannya dari pintu ruangan. Sang bidan tidak meninggalkan Nia yang sedang lemah. Dalam hal seperti ini, bukan hanya Nia yang harus di rujuk ke rumah sakit. Klinik itu adalah tempat para ibu hamil untuk melahirkan dari kalangan menengah ke bawah. Dan sebagian dari mereka tidak mempunyai jaminan kesehatan. Banyak diantara mereka tidak memeriksakan kehamilannya secara canggih sebelumnya. Sehingga dalam proses melahirkan normal terkendala. Karena mereka tidak mengetahui apa bisa melahirkan normal atau tidak.


Pihak klinik selalu bertindak cepat. Mereka sudah mempunyai kerja sama dengan rumah sakit tertentu. Mereka tidak mau menahan pasien untuk melahirkan normal jika tidak memungkinkan. Seperti yang dialami Nia seperti saat ini.


"Jangan pikirkan biaya. Yang penting kamu dan bayi kamu selamat. Uang bisa dicari bahkan diutang. Tapi nyawa tidak bisa dibeli," bisik wanita itu tepat di telinga Nia. Nia menganggukkan kepalanya. Dia juga tidak may mati konyol karena dirinya merasa mempunyai tanggung jawab kepada kedua adiknya. Di tengah rasa sakitnya dia memikirkan bayinya jika dirinya meninggal. Dirinya saja sudah ditolak pihak keluarga Danny apalagi janinnya yang masih butuh perjuangan untuk membesarkan. Tentang materi, pihak keluarga Danny tidak diragukan. Tapi menyangkut kasih sayang. Nia tidak menjamin.


"Ahhhh."


Nia mengerang kembali kemudian mengedan. Sang bidan yang masih memperhatikan jalan lahir sang janin menyuruh Nia untuk kembali mengedan karena kepala sang janin sudah terlihat. Nia menurut. Beberapa detik kemudian. Bayi itu bisa ditarik oleh sang bidan. Tapi tidak mengeluarkan suara tangisan.


"Bayi mu laki laki," kata sang bidan setelah memotong tali pusar. Tapi kemudian sang bidan itu meletakkan sang bayi di tempat bayi yang baru lahir. Bidan itu terlihat sibuk dengan bayi itu dengan membelakangi tubuh Nia.


"Kenapa dengan bayi itu?" bisik wanita yang menolong Nia kepada sang bidan. Wanita itu menatap sedih bayi laki laki yang sangat kecil itu. Mungkin beratnya tidak sampai satu kilo.

__ADS_1


"Bayi ini sudah mati dari dalam bu. Kembaran masih di dalam," kata bidan itu pelan supaya suaranya tidak didengar oleh Nia. Setelah bayi itu keluar. Sang bidan meraba perut Nia. Dan masih ada bayi di dalamnya. Bidan memastikan jika bayi itulah yang bisa terdeteksi detak jantungnya. Wanita itu menoleh sebentar kepada Nia.


"Di rahasiakan dulu bu bidan," kata wanita itu. Dia tidak ingin Nia drop setelah mengetahui bayinya meninggal padahal dirinya masih harus berjuang melahirkan satu bayi lagi.


Lima belas menit kemudian. Nia kembali merasakan sakit. Sang bidan menyuruh Nia untuk mengejan. Mungkin karena bayi itu masih bernafas. Hanya sekali mengejan. Bayi itu sudah bisa dikeluarkan. Dan suaranya memenuhi ruangan itu.


"Bayi kamu perempuan."


Sama seperti bayi yang pertama. Sang bidan tidak meletakkan bayi perempuan itu di dada Nia. Bayi perempuan itu langsung dimasukkan ke dalam inkubator. Bayi perempuan itu terlihat lebih besar dibandingkan dengan bayi laki laki tadi. Walau beratnya tidak bisa dikatakan berat normal bagi bayi yang baru lahir.


Nia merasakan bahagia dan sedih secara sekaligus. Dia sudah melahirkan bayinya dengan selamat tanpa dirujuk ke rumah sakit tapi bayi itu tidak seperti bayi pada umumnya. Bayi hanya mempunyai seorang ibu tanpa seorang ayah.


"Suaminya Mana bu?.


Entah keberapa Kali sang bidan menanyakan ayah dari sang bayi sejak kedatangan Nia di klinik itu. Sang bidan kembali menanyakan itu karena dirinya tidak mendapatkan jawaban. Selain itu, mengetahui jika wanita yang menemani Nia saat ini hanya tetangga. Sang bidan merasa jika dirinya perlu memberitahukan keadaan bayi laki laki yang sudah meninggal itu kepada ayahnya terlebih dahulu daripada langsung kepada Nia.


Nia merasakan kesedihan itu semakin menjadi jadi. Dalam diam Nia menangis mengingat nasib dan nasib putra putrinya. Wanita itu merasa terselamatkan dari pertanyaan sang bidan dengan datangnya Jessi di ruangan itu.


"Mana bayinya?" tanya Jessi senang setelah memastikan Nia terlebih dahulu. Wanita yang menemani Nia dan bidan memandang ke arah yang berbeda. Wanita itu memandang k arah bayi laki laki yang sudah dibedong dengan rapi sedangkan sang bidan memandang ke arah inkubator.


Jessi memperhatikan arah pandangan kedua wanita itu. Dia melihat ke bayi laki laki itu dan ke bayi arah bayi perempuan.


"Kembar?" tanya Jessi senang. Nia menganggukkan kepalanya dengan senang. Dia tidak berpikiran yang buruk tentang bayi laki laki itu. Nia berpikir jika bayi laki laki itu diletakkan disana karena inkubator hanya ada satu buah di ruangan itu.


Jessi mendekati bayi itu diikuti oleh sang bidan.


"Meninggal?" kata Jessi bingung. Sebelum sang bidan memberitahukan tentang keadaan bayi itu.


"Meninggal, siapa yang meninggal?" tanya Nia. Bersamaan dengan itu wanita itu langsung menggenggam tangan Nia dengan erat.


"Maaf bu. Ibu harus tabah. Bayi laki laki ini sudah meninggal dari dalam. Itulah sebabnya detak jantungnya hanya bisa terdeteksi dari satu bayi saja," jawab bidan itu menjelaskan.


"Kamu harus kuat Nia. Kamu masih mempunyai satu bayi lagi yang harus kamu jaga," kata wanita itu. Nia tidak dapat menahan kesedihan itu. Nia menangis. Kebahagiaan berkurang mengetahui keadaan bayi laki laki itu. Dia merasa sempurna dengan kelahiran putra putrinya tapi hanya sekejap. Nia harus puas hanya mendapatkan bayi perempuannya.


"Bolehkah aku memegangnya untuk terakhir Kali?" tanya Nia dengan terisak. Wanita itu dan bidan saling berpandangan. Wanita itu sebenarnya berpikir tidak perlu karena hal itu akan membuat Nia sulit melupakan bayi laki lakinya itu. Tapi melihat tangan Nia yang masih terulur. Akhirnya sang bidan meletakkan bayi itu di sebelah Nia.


Nia menatap bayi laki laki itu sambil menangis. Perjuangan berat memperjuangkan tanggung jawab Danny tidak berhasil dan bagaimana dirinya menanggung malu karena mempertahankan kehamilannya itu. Tapi salah satu dari bayinya tidak bersedia berjuang bersama dirinya. Bayi itu memilih pergi daripada ikut menikmati hidup sebagai anak tanpa ayah.


"Harus kuat mbak. Kita hadapi kenyataan ini bersama sama," kata Jessi sambil menangis kemudian memeluk Nia. Dia tidak sanggup melihat kesedihan Nia. Jessi kemudian mengambil bayi itu kemudian meletakkan nya kembali di tempat semula. Sang bidan juga terlihat larut dalam kesedihan itu.


"Bu bidan, boleh aku minta tolong?" tanya Nia setelah berhenti menangis. Gerakan bayi perempuan yang terlihat olehnya membuat Nia kuat.


"Apa itu. Katakan lah."


"Tolong buatkan surat keterangan lahir bayi itu yang menyatakan jika bayi tersebut meninggal dari dalam tanpa menyebutkan jika aku melahirkan bayi kembar," kata Nia. Bidan itu menganggukkan kepalanya karena apa yang diminta Nia. Surat keterangan itu harus dikeluarkan oleh pihak klinik.


Tidak lama membuat Surat keterangan itu. Hanya beberapa menit, surat keterangan itu sudah ada ditangan Nia.


"Jessi, tolong antarkan bayi ini kepada Danny dan berikan Surat keterangan ini," kata Nia. Semua yang ada di ruangan itu terlihat bingung tapi enggan bertanya.


"Iya mbak," jawab Jessi. Jessi meraih Surat keterangan dari tangan Nia setelah menerima pesan pesan apa saja yang hendak disampaikan Jessi kepada Danny dan keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2