
"Menuntut bayaran. Apa maksud kamu?" tanya Evan sama sekali tidak mengerti.
"Lihat ponsel kamu. Bibi Ani sudah mengirimkan percakapan mereka ke ponsel mu."
Evan langsung meraba saku celananya. Ponselnya tidak ada di saku itu. Evan langsung mencari ponselnya di atas meja kerja. Benar saja. Ponsel ada di atas meja dengan pesan video yang sudah masuk ke ponsel tersebut.
Evan membuka video itu. Dia mengeraskan rahangnya mendengar percakapan itu. Seseorang yang disebutkan menuntut bayaran itu sedang mencari Adelia ke rumah Evan. Pria itu mengancam bibi Ani yang dia duga menyembunyikan Adelia. Evan menyimpulkan jika tuntutan bayaran yang dimaksudkan pria itu berhubungan dengan kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya beberapa tahun yang lalu.
Setelah mendengar percakapan video itu. Evan terlihat melakukan panggilan.
"Bibi, apa orang itu masih di rumah?" tanya Evan ke Bibi Ani lewat telepon.
"Tahan dia di rumah," kata Evan lagi.
"Rico, Kita ke rumah sekarang," kata Evan kepada Rico. Pria itu langsung menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Evan. Evan dan Rico tidak sadar jika sudah mengabaikan Danny di ruangan itu.
Danny pun akhirnya angkat kaki dari ruangan itu. Mendengar sendiri bagaimana ada seseorang menuntut pembayaran karena perbuatan Masa lalu membuat Danny memutuskan mengikuti mobil yang membawa Evan dan Rico.
"Mana dia?" tanya Evan Tak sabar setelah turun dari mobil. Bibi Ani sudah menyambut kedatangan tuannya itu.
"Itu tuan," tunjuk Bibi Ani kepada seseorang yang sedang duduk di pos satpam.
"Suruh dia masuk," titah Evan lagi. Pria itu melenggang masuk ke dalam rumah bersamaan dengan mobil Danny yang juga sudah berhenti di halaman rumah itu.
"Kita masih ada urusan?" tanya Evan yang melihat Danny langsung duduk bersama dirinya di ruang tamu.
"Tidak. Aku hanya mengkhawatirkan dirimu. Kamu meninggalkan aku di ruangan karena seseorang yang tidak kamu kenal. Aku takut dia orang jahat. Sebagai seorang adik aku hanya ingin melindungi kakakku sendiri."
"Banyak alasan kamu."
Danny tersenyum. Dia dengan santai duduk dengan kaki yang saling menimpa. Matanya berkeliling melihat dinding yang ternyata sudah banyak pigura foto bergantung di tembok tersebut.
Setelah melihat foto itu satu persatu. Danny menoleh ke arah kakaknya itu. Sepertinya Evan benar benar menyesali perbuatan hingga foto pernikahan yang sebelumnya tidak Ada di tembok itu kini foto foto Anggita dan Evan menjadi hiasan di dinding itu.
"Bro, apa kamu benar benar menyesali semua perbuatan kamu kepada Anggita?.
__ADS_1
Akhirnya Danny tidak bisa menahan pertanyaan itu. Sebelumnya dia tidak ingin membahas Anggita sama sekali tetapi melihat foto foto itu. Danny tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Bukan hanya menyesal. Aku kadang memgutuk diriku sendiri atas perbuatan Masa lalu itu." Evan masih terlihat sedih jika menyangkut masa lalunya dibahas.
"Kapan kamu merasakan penyesalan itu. Setelah Anggita pergi atau setelah ketok palu perceraian."
"Sebenarnya aku sangat menyesali setelah mengetahui semua kebenaran tentang Anggita."
"Apakah kamu sebagai pihak yang menggugat?"
"Tidak. Dalam perjanjian kami sebenarnya aku yang akan menggugat dia. Tapi mungkin karena dia tidak tahan Anggita akhirnya menggugat aku."
Danny sebenarnya terkejut. Dari keterangan Anggita dan Evan sebenarnya mantan suami istri itu tidak pernah mendaftarkan perceraian mereka. Lalu, siapakah yang mendaftarkan perceraian itu.
"Apa Anggita punya pengacara ketika proses perceraian itu."
"Tidak sama sekali. Anggita tidak dibantu kuasa hukum."
Danny langsung menyimpulkan jika yang mendaftarkan perceraian itu adalah Adelia. Tidak Ada orang lain yang menginginkan Anggita dan Evan bercerai selain wanita itu. Lagipula Adelia pernah tinggal di rumah itu membuat Danny sangat yakin akan kesimpulannya.
Danny Dan Evan sama sama menoleh ke arah pintu. Rico dan orang asing telah memasuki rumah.
"Duduk di sofa saja," kata Evan kepada orang asing itu. Pria asing itu sudah hampir duduk di lantai. Mungkin karena melihat sofa yang mewah itu, pria asing itu terlalu sungkan untuk duduk berhadapan dengan Evan dan yang lainnya.
"Katakan apa maksud dan tujuan kamu mencari Adelia."
Evan bersikap biasa untuk membuat pria asing itu tidak takut untuk mengatakan maksud dan tujuannya mencari Adelia. Pria asing itu terlihat menundukkan kepalanya.
"Ada hal penting yang harus aku tuntur dari Nona Adelia. Dia harus bertanggung jawab atas keadaan ibuku saat ini."
"Lalu, mengapa kamu mencari wanita itu di rumah ini. Ini bukan rumah dia. Dia hanya menumpang di sini."
"Tiga bulan yang lalu. Kami pernah bertemu di rumah ini. Dia yang menyuruh aku kemari."
"Tunggu, apa maksud kamu menuntut bayaran karena perbuatan Masa lalu." Kini Rico yang bertanya.
__ADS_1
"Sepuluh tahun yang lalu, Nona Adelia meminta tolong untuk kepada ibuku untuk mendonorkan darah kepada temannya yang sedang pingsan. Tapi setelah ibuku mendonorkan darahnya, Nona Adelia menyuruh ibuku secepatnya meninggalkan rumah sakit. Dia berjanji akan membantu keluarga kami. Satu tahun yang lalu ibuku divonis Dokter menderita kanker Rahim. Dan minggu ini dijadwalkan untuk operasi. Tiga bulan yang lalu dia berjanji akan membantu biaya operasi ibuku."
Danny dan Rico saling berpandangan setelah mendengar cerita dari pria asing itu. Sepuluh tahun yang lalu Evan dan Rico mengalami kecelakaan dan Evan yang paling parah. Waktu yang bersamaan dimana ibu dari pria asing itu mendonorkan darahnya kepada teman Adelia. Mungkinkah ibu dari pria itu yang mendonorkan darahnya kepada Evan tapi Anggita mengaku sebagai pendonornya.
"Apa kamu mengetahui siapa nama teman Adelia yang dibantu oleh ibu kamu?" tanya Evan lembut.
"Aku tidak mengetahuinya. Tapi mungkin ibuku mengetahui namanya."
"Apa ada bukti jika ibu kamu yang mendonorkan darahnya kepada temannya Adelia?"
"Tidak juga. Tapi ibu aku pernah bercerita jika teman Adelia yang ditolongnya itu terluka parah di bagian pahanya sebelah kanan."
Evan merapatkan giginya karena merah. Keterangan pria asing itu sudah cukup membuktikan jika dirinya adalah yang ditolongnya oleh ibunya. Dia masih ingat bagaimana paha sebelah kanannya terluka parah hingga daging di pahanya itu terlepas dari tulang. Jika sekarang pahanya kanannya sudah hampir sempurna itu karena setelah kecelakaan itu tumbuh daging baru.
"Pulanglah, Adelia tidak ada di rumah ini. Jika kamu ingin menemui Adelia. Dia sekarang ada di penjara. Aku hanya bisa memberikan kamu uang untuk pulang," kata Evan sambil menyerahkan beberapa lembar uang seratus untuk pria itu.
Pria asing itu terlihat melemas. Dia mengambil uang itu dari tangan Evan dan pergi dari rumah itu setelah mengucapkan terima kasih.
"Aku rasa dia tidak berbohong," kata Danny setelah tinggal mereka bertiga di ruang tamu itu.
"Rico, hubungi polisi dan suruh mendapatkan informasi dari Adelia tentang siapa yang mendonorkan darah kepadaku. Aku butuh informasi itu secepatnya."
Evan berkata dengan sorot Mata yang dikuasai amarah. Bukan dirinya menolak percaya atas keterangan pria asing itu. Dia hanya ingin hati hati bertindak mengingat banyaknya penipu jaman sekarang ini. Mengingat Adelia yang dia anggap seorang wanita yang baik ternyata kenyataannya adalah wanita jahat. Membuat Evan tidak mudah percaya atas apa yang dia katakan pria asing tadi.
Dua jam kemudian, Rico dan Evan mendapatkan informasi dari polisi jika orang yang mendonorkan darah kepada Evan bukanlah Adelia. Evan semakin terlihat marah mengetahui sifat busuk Adelia yang ternyata tidak hanya berusaha mencelakai Anggita. Ternyata wanita itu sudah berbohong bertahun tahun lamanya demi bisa menjadi kekasih Evan. Andaikan Adelia ada di tempat itu selamanya bisa saja wanita itu sudah babak belur karena amarah Evan.
"Tidak Ada jalan lain Evan. Kita harus ke kota itu. Bagaimana pun kamu sudah berhutang nyawa kepada ibu itu," kata Rico. Menyadari jika pria asing itu sudah pergi jauh dan pasti sulit untuk ditemukan. Evan terlihat menyesal karena tidak langsung percaya kepada pria asing tadi.
Evan terlihat sedang berpikir. Kecelakaan sepuluh tahun yang lalu masih membekas di ingatannya. Mengingat bagaimana tragisnya kecelakaan itu membuat Evan enggan untuk mengingat nama Kota itu apalagi harus kembali mengunjungi Kota tersebut.
"Yakin kan dirimu. Jika kembali kesana Kita tidak akan kecelakaan lagi. Kasihan ibu itu jika tidak jadi operasi Karena terkendala biaya," kata Rico.
"Baiklah, sudah sepantasnya sekarang aku membalas kebaikan ini. Rico, tolong atur jadwal kita. Kosongkan satu hari khusus untuk menemui ibu itu. Kalau bisa besok atau lusa," kata Evan.
Danny mengangkat kepalanya mendengar kesediaan Evan untuk pergi ke Kota itu. Kota yang sama yang kini menjadi tempat tinggal Anggita.
__ADS_1
"Anggita, Evan akan ke Kota itu. Jika kalian bertemu. Bukan karena aku sudah memberitahukan keberadaan kamu," kata Danny dalam hati. Dia tidak berusaha untuk melarang Evan untuk pergi ke Kota itu.