
Evan melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Ada rasa bahagia yang tidak bisa dia lukiskan dengan kata kata bisa melihat Anggita kembali. Tapi setelah Evan berdiri di sisi bed. Evan merasakan hatinya berdenyut nyeri melihat keadaan Anggita yang terlihat lemah dalam tidurnya.
Evan memandangi wajah wanita yang sudah berkali kali dia sakiti itu sekaligus wajah wanita yang membuat dirinya tersiksa selama beberapa bulan ini karena rindu.
Evan mengangkat tangannya ingin membelai wajah Anggita. Tapi tangan itu berhenti di udara kemudian Evan menurunkan tangannya. Seketika dia mengingat status mereka yang bukan suami istri lagi.
Evan menatap wajah Anggita dengan sendu. Hatinya dihinggapi dengan kata kata seandainya. Seandainya dia menghargai sedikit saja bakti Anggita. Seandainya dia mengetahui lebih awal kejahatan Adelia. Seandainya dia bertemu dengan Anggita sebelum sidang kedua mungkin status mereka saat ini masih suami istri.
Mengingat status itu, Evan semakin merasakan hatinya sakit. Dia benar benar sadar jika apa yang terjadi pada rumah tangganya bersama Anggita karena perbuatannya sendiri.
Evan mengesampingkan rasa bersalahnya terlebih dahulu. Kini Evan bertanya tanya dalam hati penyakit apa yang membuat Anggita harus dirawat di rumah sakit ini.
Masih beberapa menit Evan di dalam ruangan Anggita. Pintu kamar Mandi yang berada di ruangan itu terbuka. Evan menoleh ke arah pintu itu dan menganggukkan kepalanya ke pria yang baru saja keluar dari kamar mandi tersebut.
Pria yang berdiri di depan pintu kamar mandi itu tertegun melihat Evan di ruangan itu. Dia terkejut dan tidak menyangka jika ada orang lain yang sudah berdiri di samping bed Anggita.
"Selamat sore dokter," sapa Evan kepada Dokter Angga. Evan tidak mengingat wajah dokter Angga sama sekali. Evan memanggil dokter Angga dengan sebutan dokter karena pria itu memakai baju kebesarannya.
"Selamat sore pak," balas dokter Angga. Dokter Angga terlihat ragu untuk mendekati tempat tidur Anggita. Sebelum kedatangan Evan, sebenarnya dokter Angga tadi ada di ruangan itu. Panggilan alam dari tubuhnya membuat dokter Angga meninggalkan Anggita sendirian sebentar. Dia tidak menyangka setelah keluar dari kamar mandi akan menemukan Evan di ruangan itu. Berbeda dengan Evan. Dokter Angga masih mengingat jelas wajah dari mantan suami Anggita itu.
"Dokter, bolehkah Saya bertanya?" tanya Evan. Dokter Angga tersenyum. Akhirnya pria itu memantapkan hati untuk mendekati tempat tidur Anggita. Kini mereka berdiri berhadapan dengan bed sebagai pemisah.
"Silahkan pak."
"Apa yang menyebabkan istriku dirawat di rumah sakit ini?.
Dokter Angga tertawa dalam hati mendengar Evan menyebut Anggita adalah istrinya. Bersamaan dengan itu, dokter Angga juga bingung hendak menjawab apa atas pertanyaan Evan. Dirinya sendiri yang menyakinkan Evan bahwa Anggita keguguran. Dan dirinya sendiri mengetahui jika kehamilan Anggita dirahasiakan dari Evan.
"Oo bapak suaminya ibu Anggita ya." Dokter Angga sengaja mengatakan itu untuk mengabaikan pertanyaan Evan tadi.
"Iya dok."
"Kalau begitu saya tinggal ya Pak." Evan menganggukkan kepalanya. Dokter Angga sedikit lega meninggalkan ruangan itu karena terhindar dari pertanyaan Evan. Dokter Angga langsung mengirim pesan kepada Danny dan mama Feli bahwa Evan saat ini berada di ruangan Anggita.
"Anggita, ada apa dengan kamu?" tanya Evan sambil menatap lekat wajah Anggita. Dia tidak bisa menahan untuk menyentuh wajah mantan istrinya. Bahkan Evan juga membelai Anggita. Mungkin karena pengaruh obat Anggita masih betah dalam tidur yang nyenyak itu sehingga tidak merasakan sentuhan Evan di wajahnya.
Evan dengan sabar menunggu Anggita bangun dari tidurnya. Sudah hampir satu jam dirinya berada di ruangan itu tapi belum ada tanda tanda wanita itu akan bangun dari tidurnya. Evan bahkan mengabaikan peringatan yang terdengar dari pengeras suara bahwa jam besuk sudah habis.
Evan menunjukkan rasa sayang kepada Anggita. Dia berkali kali mengelus wajah dan punggung tangan wanita itu. Hanya dengan seperti itu. Evan bisa melepaskan rasa rindunya kepada Anggita.
Anggita masih betah dalam tidurnya. Dan mama Feli juga sudah kembali ke rumah sakit itu. Mendapatkan pesan dari dokter Angga jika Evan ada di ruangan Anggita membuat wanita itu seketika tidak tenang. Niatnya hanya untuk pulang mandi ke rumah sebentar. Ternyata wanita tua itu juga belum mandi.
"Untuk apa kamu di ruangan putriku?" tanya mama Feli tajam. Tidak Ada wajah ramah sedikit pun terlihat di wajahnya.
"Maaf ibu. Jika aku lancang memasuki ruangan ini. Aku tidak bermaksud jahat kepada Anggita." Evan menundukkan kepalanya. Dia juga menjaga jarak dari Anggita. Sosok pemimpin yang selalu diperlihatkannya kepada para karyawannya. Tidak terlihat saat ini. Dia tidak ubahnya seperti penjahat yang sudah bertobat yang sedang meminta maaf. Sedangkan Danny memilih tidak ikut ke rumah sakit lagi supaya Evan percaya tentang perkataan yang menjadi relasi bisnis dari pemilik rumah sakit.
"Pergilah dari tempat ini sebelum Anggita bangun. Keberadaan kamu di ruangan ini akan memperburuk keadaannya."
__ADS_1
Mama Feli langsung duduk di bangku dekat tempat tidur itu. Tangannya mendorong Evan yang masih berdiri supaya cepat keluar.
Evan masih bersikeras. Dia tidak akan membuang kesempatan ini hanya karena mama Feli mengusir dirinya. Dia tetap berdiri tegak di tempat itu.
"Tidak bu. Aku akan pergi setelah meminta maaf kepada Anggita." Evan tetap pada pendiriannya. Dia bahkan menyuruh Rico untuk menunggu di Mobil supaya asistennya itu tidak bosan menunggu.
Mama Feli tidak bisa berbuat apa apa untuk mengusir Evan. Dia sempat berpikir jika dirinya langsung menduduki kursi satu satunya di ruangan itu akan membuat Evan menyerah dan pergi. Ternyata pemikirannya salah. Evan masih tetap berdiri seperti sebelumnya dan matanya terus menatap Anggita.
"Ibu, sebenarnya Anggita sakit apa?"
"Sakit hati," jawab mama Feli ketus. Mama Feli sebenarnya sedikit lega mendengar pertanyaan Evan. Itu artinya jika Evan belum mengetahui jika Anggita baru saja melahirkan putri mereka.
Evan mengerti jika jawaban mantan mama mertuanya itu adalah sindiran baginya. Evan akhirnya memilih diam daripada mendapatkan sindiran lagi.
Evan merasakan jantungnya kembali berdetak kencang ketika melihat kedua mata milik Anggita bergerak. Dan kemudian Anggita membuka matanya dengan sempurna.
Anggita tentu saja sangat terkejut melihat wajah Evan yang sedang menatap dirinya. Karena terkejut Anggita sampai tidak bisa mengucapkan satu kata pun. Sama seperti Evan. Anggita juga bisa merasakan jantungnya berdetak tidak karuan. Jika Evan senang bertemu dengan Anggita. Anggita melihat Evan seperti mengenang masa penderitaannya semasa menjadi istri pria itu.
Terbangun dari tidur, dia berharap langsung melihat bayi perempuannya. Tapi yang dia lihat justru penyumbang benih yang menyebabkan bayi perempuannya bersemayam di rahim dan kini sudah dia lahirkan.
Anggita memiringkan kepalanya. Dia tidak ingin melihat Evan ada di ruangan itu. Walau masih terasa lemah. Anggita memikirkan siapa yang memberikan informasi tentang keberadaannya kepada sang mantan.
"Kamu sudah bangun nak?" tanya mama Feli senang. Melihat Anggita bangun seperti ini, seharusnya mama Feli mengucapkan kata selamat untuk putrinya itu karena sudah menjadi seorang ibu. Tapi karena Evan ada di ruangan itu. Mama Feli tidak mengucapkan kata selamat karena tidak ingin Evan mengetahui tentang bayi itu.
Anggita tidak menjawab. Dia menggerakkan kepalanya menatap mama Feli. Ada rasa tidak senang terlihat di sorot Mata itu.Tatapannya seakan bertanya kepada mama Feli akan keberadaan Evan di ruangan itu.
Evan tidak menyiayiakan kesempatan itu untuk meminta maaf kepada Anggita. Sedangkan Anggita tidak berminat sama sekali untuk menjawab permintaan maaf Evan. Anggita berusaha keras untuk tidak marah Dan tidak mengingat semua penderitaannya dulu. Anggita mengerti jika Kondisinya yang baru selesai operasi melahirkan butuh ketenangan hati. Dia tidak ingin memikirkan hal lain. Anggita ingin fokus akan kesembuhannya.
"Mama, aku haus." Anggita benar benar mengabaikan permintaan maaf dari Evan. Diabaikan seperti ini, Evan merasakan hatinya berdenyut nyeri. Situasi ini mengajarkan dirinya akan sakit hati karena diabaikan.
"Sebentar ya. Kita tanya dokter dulu apakah kamu sudah bisa minum atau tidak."
Mama Feli bergerak cepat menekan sebuah tombol untuk bertanya tentang keinginan Anggita kepada tenaga medis.
"Sabar ya, sebentar lagi dokter akan visit ke ruangan ini."
Mama Feli mengatakan apa yang dikatakan oleh tenaga medis tadi. Anggita menganggukkan kepalanya. Evan yang berada di tempat itu hanya sebagai pendengar antara Anggita dan mama Feli. Dia menyadari jika dirinya diabaikan. Tapi Evan tidak ingin menyerah. Evan bahkan mengulangi permintaan maafnya tapi Anggita masih enggan untuk menjawab pria itu.
Evan merasakan hatinya berkali kali berdenyut nyeri. Diabaikan seperti ini membuat Evan mengingat bagaimana dirinya dulu jarang menjawab perkataan Anggita. Dia akan menjawab perkataan Anggita dengan kesal setelah Anggita berkali kali mengulang pertanyaan yang sama. Padahal dia jelas mengetahui jika pertanyaan pertanyaan Anggita di masa mereka suami istri adalah bentuk perhatian Anggita sebagai istri.
Beberapa menit kemudian Dokter masuk ke ruangan itu tapi bukan dokter Angga. Dokter itu langsung memeriksa keadaan Anggita. Kondisi Anggita sangat bagus dan sudah boleh minum. Dokter juga memberikan arahan kepada Anggita akan hal hal yang boleh dilakukan atau tidak setelah operasi ini. Evan mendengar semua apa yang dikatakan oleh dokter itu tapi masih tetap tidak terpikir olehnya bahwa Anggita baru melahirkan.
Evan ingin membantu Anggita untuk minum tapi dirinya kalah cepat dari mama Feli.
"Anggita, aku benar benar minta maaf." Untuk ketiga kalinya Evan meminta maaf.
"Aku sudah memaafkan kamu mas," jawab Anggita cepat. Tapi wajahnya tidak menoleh sedikit pun kepada Evan.
__ADS_1
"Terima kasih Anggita. Aku benar benar prihatin akan keadaan kamu saat ini, Anggita. Sebenarnya kamu sakit apa. Jika kamu mau. Aku bisa meminta rumah sakit untuk merujuk kamu ke rumah sakit di Kota," kata Evan lagi terdengar tulus. Selagi Anggita menjawab pertanyaannya Evan langsung menawarkan kebaikan. Anggita merasa lega mendengar pertanyaan Evan. Dia masih berniat menyembunyikan bayi perempuannya dari Evan jika situasi mengijinkan. Dari tadi dia sudah menduga jika Evan sudah mengetahui tentang bayi itu ternyata dugaannya salah.
"Tidak perlu mas. Aku hanya operasi usus buntu."
Anggita sengaja berbohong. Baginya bayi perempuan itu adalah miliknya sendiri sejak Evan memilih lebih percaya kepada Adelia daripada dirinya.
"Aku hanya ingin kamu secepatnya pulih. Sebaiknya di rujuk saja ke rumah sakit di Kota. Tentang biaya kamu tidak perlu memikirkannya.
"Mas, diantara Kita tidak ada urusan apapun lagi. Jadi tidak perlu memikirkan diriku," kata Anggita tegas.
Evan terdiam. Perkataan Anggita jelas membuat dirinya mengingat status mereka yang sempat dia lupakan karena Anggita berkata sudah memaafkan dirinya.
"Kita bercerai karena kamu tidak hadir di sidang mediasi dan sidang kedua. Andaikan kamu hadir aku pastikan tidak melepaskan kamu. Dan Kita pasti masih suami istri saat ini.
Anggita tertawa sinis mendengar perkataan Evan.
"Mas, aku ingin beristirahat. Tolong pergi dari ruanganku."
Anggita mengusir Evan. Daripada melihat wajah pria yang menyakiti dirinya lebih baik melihat bayi mungilnya. Keinginan untuk melihat bayinya tidak terbendung lagi.
"Apakah aku tidak bisa disini menemani kamu dan ibu?" tanya Evan sedih. Sungguh, dia tidak ingin pergi dari tempat itu. Kalau boleh dia ingin berlama lama bahkan menemani Anggita sampai sembuh dan keluar dari rumah sakit.
"Maaf mas. Tidak bisa. Aku pasti tidak nyaman jika kamu ada disini. Ingat status mas."
Evan menundukkan kepalanya. Penolakan Anggita persis seperti penolakan dirinya dulu akan wanita itu. Kata kata Evan di awal mereka menikah kini dikembalikan Anggita kepadanya.
Baru saja Evan mengangkat kepalanya. Pintu ruangan terbuka. Seorang perawat terlihat mendorong boks bayi. Evan mengerutkan keningnya melihat boks bayi itu yang semakin didorong perawat tersebut masuk ke ruangan. Evan mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan dan hanya Anggita yang berstatus pasien di ruangan itu.
Sedangkan Anggita dan mama Feli juga terlihat panik. Jika sepertinya ini, mereka tidak akan bisa menutupi tentang bayi perempuan itu dari Evan. Seketika mama Feli menyalahkan dirinya yang tidak bertindak cepat untuk menyuruh perawat menahan bayi perempuan itu lebih lama di ruangan khusus bayi.
"Ibu, sekarang waktunya bagi ibu untuk belajar menyusui bayi cantik ini."
Evan terkejut, matanya membulat mendengar perkataan perawat. Perkataan perawat itu membuat dirinya seperti orang bodoh yang sulit mencerna kata kata yang baru didengarnya. Padahal Dia bisa mendengar dengan baik.
"Menyusui bayi cantik?" tanya Evan dalam hati. Matanya mengikuti pergerakan tangan perawat yang meletakkan bayi cantik itu di sebelah Kiri Anggita.
"Cantiknya putri mama." Karena terlanjur bahagia Anggita mengungkapkan kebahagiaannya melihat darah dagingnya itu. Hanya melihat putri cantiknya itu dia melupakan jika Evan ada di tempat itu sedangkan mama Feli bergerak gelisah dengan tatapan yang menatap Anggita dan Evan bergantian.
"Anggita, bayi ini adalah putriku kan?" tanya Evan gugup. Tapi hatinya penuh kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan. Tanpa jawaban Anggita, Evan sangat yakin jika bayi itu adalah putrinya. Dia berpindah dari sisi tempat tidur yang awalnya di sebelah kanan menjadi ke sebelah Kiri.
"Putriku," kata Evan dengan air Mata bahagia. Dia mendaratkan ciuman di kening putrinya itu. Dia masih jelas mengingat saat Anggita keguguran. Dia tidak ambil pusing dengan keguguran itu. Yang dia yakini sekarang bahwa bayi itu adalah miliknya. Dia mengerti sekarang, mengapa dirinya sering mengalami sakit perut yang aneh. Ternyata itu sebagai ikatan batin antara dirinya dengan bayi perempuan cantik itu.
"Anggita, berarti keguguran itu tidak pernah terjadi kan. Terima kasih Anggita. Putriku. Ini putriku. Aku sudah menjadi seorang ayah," kata Evan bahagia dan tulus. Tangannya juga bergerak membelai rambut mantan istrinya itu. Anggita tidak suka diperlakukan berlebihan seperti itu. Tapi tangan kanannya yang diifus dan di tangan kirinya bayi cantik itu terletak membuat Anggita tidak bisa mengibaskan tangan Evan.
"Benar mas. Bayi ini adalah putri kamu. Hasil dari aku yang melemparkan diriku ke ranjang mu." Perkataan Anggita sengaja menyindir Evan.
"Maafkan aku Anggita. Aku minta maaf." Evan masih sangat jelas mengingat perkataan itu. Perkataan yang membuat Anggita marah saat itu dan memilih tidur di kafe.
__ADS_1
Tidak ada pilihan lain. Anggita akhirnya jujur tentang bayi itu.