
Jam pulang kerja sebentar lagi akan tiba. Sejak Anna keluar dari ruangan Rendra. Pria itu merasa waktu berjalan lambat. Dia sengaja keluar dari ruangannya sebelum jam kerja pulang tiba. Setelah dirinya keluar dari ruangan tersebut. Rendra kembali mendapatkan senyuman genit dari Salsa sang sekretarisnya.
Rendra pura pura tidak melihat Salsa di tempat itu. Dia berjalan terus seakan tidak ada orang di sekitarnya. Rendra tidak munafik. Dia mengakui jika Salsa adalah wanita cantik dan pintar dan lebih muda dari Anna. Entah karena trauma berhubungan dengan wanita muda. Rendra sama sekali tidak tertarik dengan Salsa. Rendra juga jelas mengetahui jika Salsa sengaja menggoda dirinya. Tapi Rendra tidak ingin terjerat akan pesona wanita muda lagi. Cukup hanya Nia yang mempermainkan perasaannya.
Rendra singgah terlebih dahulu ke ruangan divisi keuangan sebelum turun ke parkiran. Tujuannya tentu saja hanya melihat Anna si pujaan hati. Dan kedatangannya di ruangan itu tentu saja membuat suasana menjadi kaku. Para karyawan pura pura sibuk padahal mereka sudah menutup laptop masing masing. Sedangkan Anna bersikap biasa saja. Sebelum Rendra tiba di ruangan itu. Dia sudah menutup laptop dan melihat kedatangan Rendra. Anna tidak pura pura sibuk melainkan merapikan meja kerjanya.
Rendra keluar dari ruangan itu setelah berbasa basi sebentar dengan karyawan lainnya. Dia langsung menuju parkir dan menunggu Anna di dalam mobil. Rendra berharap wanita itu berpikir cepat dan langsung bersedia pulang bersama dengan dirinya.
Hampir dua puluh menit Rendra menunggu kedatangan Anna. Tapi hingga parkiran hampir kosong, Anna tidak muncul. Rendra kembali ke luar dari mobil dan masuk ke dalam ruangan. Satpam sampai heran melihat tingkah atasannya tapi untuk bertanya tentu saja tidak berani.
Rendra berlari menuju ruangan divisi keuangan. Ruangan itu sudah kosong. Itu artinya, Anna juga sudah pulang. Rendra keluar dari ruangan itu dengan lesu.
"Mungkin dia butuh waktu untuk berpikir," gumam Rendra setelah duduk di belakang kemudi. Dia sudah menyuruh supir pribadi pulang terlebih dahulu karena berharap dirinya bisa berduaan dengan Anna sore ini.
Rendra menyetir sambil memikirkan bagaimana caranya menaklukkan hati Anna. Mungkin karena sudah tua. Rendra tidak menemukan cara apapun. Hingga terbersit di pikirannya untuk singgah ke rumah Evan dan Anggita. Dia ingin meminta trik cara menaklukkan wanita dari putranya itu.
Rendra disambut suami istri dengan senang hati. Wajah sepasang suami istri terlihat cerah dan sepertinya baru selesai mandi.
"Duduk pa," kata Evan dan Anggita hampir bersamaan.
"Kok sepi?" tanya Rendra. Evan menjelaskan kemana Cahaya, Mama Feli dan Bibi Ani. Sedangkan Anggita sudah sibuk di dapur membuat minuman untuk mereka bertiga.
Beberapa menit kemungkinan, Anggita muncul membawa tiga minuman sehat untuk mereka.
"Terima kasih nak. Ternyata kamu belum lupa jus kesukaan papa," kata Rendra setelah satu gelas jus terletak di hadapannya. Pria itu langsung mengangkat gelas dan menyedot jus tersebut.
"Rasanya sangat pas," puji Rendra. Evan pun akhirnya penasaran untuk mencoba jus kesukaan papanya buatan Anggita. Evan tidak bisa berkata kata setelah merasakan betapa enaknya jus buatan Anggita itu. Dia menyesal karena tidak pernah menyicip apapun buatan Anggita di pernikahan pertama mereka dulu. Dia dulu sering melihat tampilan jus seperti ini tapi karena mengetahui Anggita yang membuat. Evan tidak berselera untuk mencoba.
"Bagaimana rasanya mas?" tanya Anggita kepada Evan.
"Benar benar enak sayang."
Evan kembali menyedot jus itu. Kini gelasnya tinggal setengah. Setelah merasakan enaknya jus buatan Anggita. Evan kembali diliputi penyesalan karena pernah menyakiti wanita itu dengan cara tidak pernah bersedia memakan atau meminum buatan Anggita.
"Jus ini resepnya hanya aku yang tahu. Dan aku buat hanya untuk orang orang yang aku sayangi. Bahkan di kafe aku tidak mencantumkannya di buku menu."
Perkataan Anggita semakin membuat Evan kagum kepada istrinya itu. Ternyata Anggita bukan hanya sosok wanita pekerja keras tapi juga sosok penyayang kepada orang yang sudah menjadi keluarganya.
"Pertama kali merasakan jus ini, papa langsung suka."
"Aku juga pa," kata Evan. Anggita tersenyum mendengar perkataan suaminya itu. Dia sangat yakin jika saat ini adalah saat pertama kalinya. Evan merasakan jus itu.
"Oya pa. Bagaimana dengan wanita wanita itu. Apa ada yang cocok?" tanya Evan. Rendra menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Untuk langsung berterus terang apa yang dia rasakan kepada Anna. Rasanya Rendra merasa malu. Walau untuk menemukan pasangan dirinya terkesan terburu buru. Rendra juga cukup tahu diri akan usianya.
"Cerita saja pa. Tidak perlu malu. Aku sudah cerita kepada Anggita tentang wanita wanita yang aku calonkan untuk papa."
Rendra menatap wajah menantunya. Ada rasa malu menyusup ke relung hatinya karena tidak bisa menjadi contoh yang baik.
"Ya papa. Cerita saja," kata Anggita. Rendra terlihat tersenyum terlebih dahulu kemudian menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Papa sih lebih suka kepada si wakil Manager keuangan. Walau pun dia janda dibandingkan si sekretaris dan si manager pemasaran. Sepertinya wanita itu wanita yang baik dan tulus," jawab Rendra. Evan tersenyum mendengar papanya yang ternyata cepat juga menjatuhkan pilihan.
"Seharusnya seperti itu pa. Jangan melihat status. Hanya wanita yang baik dan tulus yang bisa menerima kelebihan dan kekurangan suaminya," kata Evan.
"Tapi sepertinya wanita itu agak susah di dekati Evan. Apa kamu mempunyai trik jitu untuk menaklukkan wanita. Maksud papa. Trik apa yang kamu lakukan sehingga Anggita bersedia rujuk dengan kamu,"
"Sebenarnya aku tidak mempunyai trik jitu pa. Aku tidak pernah menaklukkan hati wanita. Kan papa sendiri tahu. Aku pernah berpacaran dengan wanita iblis itu karena dia yang mengejar ku dengan alasan balas budi. Aku dan Anggita rujuk itu karena kebesaran hatinya yang bersedia menerima aku kembali."
Evan merasa dirinya belum maksimal membuat yang terbaik untuk Anggita dan Perkataannya berbanding terbalik dengan tindakannya selama ini. Sejak Cahaya lahir. Evan selalu berusaha menaklukkan hati Anggita dengan berbagai cara termasuk menjaga hatinya dari wanita wanita yang menatap dirinya penuh dengan kekaguman. Evan hanya merasa beruntung karena kakek Martin memilih jodoh yang baik kepada dirinya.
Rendra bergerak gelisah di tempat duduknya. Jawaban Evan tidak memuaskan itu artinya dirinya harus berpikir sendiri untuk menaklukkan hati Anna. Mengingat umurnya yang sudah tua. Rendra khawatir jika dirinya bukan tipe laki laki idaman untuk Anna.
"Anggita, kamu sendiri. Apa yang membuat dirimu bersedia rujuk dengan Evan?" tanya Rendra. Jika dia tidak mendapatkan trik dari Evan. Rendra berharap jawaban Anggita bisa membantu dirinya.
"Aku melihat niat tulus mas Evan untuk berubah pa."
Rendra memijit keningnya. Jawaban Anggita juga tidak memuaskan. Jawaban Anggita adalah untuk menaklukkan hati yang pernah disakiti. Sedangkan dirinya baru ingin mengenal lebih dalam lagi tentang Anna.
"Papa, papa. Mengapa harus bertanya tentang trik jitu. Manusia itu kan beda beda. Dan menaklukkan setiap wanita itu tidak bisa disamakan dengan menaklukkan hati wanita lain. Tunjukkan pesona mu papa," kata Evan kemudian tertawa. Tingkah papanya itu persis seperti tingkah anak muda baru gede yang sedang jatuh cinta.
Anggita ikut tertawa melihat Rendra yang sepertinya sedang galau karena tidak mendapatkan trik menaklukkan hati si wanita sang pujaan hati.
"Dulu, papa bagaimana menaklukkan hati mama Anita. Kan bisa dipraktekkan sekarang ke wanita gebetan papa," usul Anggita.
"Anita mah, dibawa ngedate pake mobil sudah langsung lengket," jawab Rendra. Pertanyaan Anggita mengingatkan dirinya tentang pendekatannya kepada Anita dulu. Saat itu, dirinya yang tergila gila kepada Anita. Anita tidak memandang dirinya sama sekali. Setelah dirinya meminjam mobil sang papa. Anita langsung bersedia di antar pulang. Saat itu, mobil adalah barang langka hanya beberapa orang yang memiliki di Kota ini termasuk kakek Martin yang usahanya mulai berkembang saat itu.
Evan dan Anggita terdiam dan tidak ingin menperpanjang pembicaraan tentang mama Anita.
"Anggita," sapa wanita itu. Anggita memalingkan wajahnya karena tidak ingin bertatapan dengan wanita itu.
"Anggita, mama minta maaf atas semua kesalahan mama kepada kamu di masa lalu," kata wanita itu yang tidak lain dari mama Anita. Wanita itu menatap Anggita dengan wajah yang memohon.
Anggita masih memalingkan wajahnya. Melihat wanita itu saat ini sama saja mengenang semua sakit hati di pernikahannya dulu. Bisa dikatakan jika mama Anita adalah wanita yang sangat berperan mempengaruhi Evan sehingga mengabaikan Anggita.
"Mama benar benar menyesal Anggita. Kamu sudah memberikan maaf kepada Evan. Tolong maafkan juga mama."
" Tante Anita. Jujur, aku masih mengingat dengan jelas semua perbuatan tante kepada aku. Aku bukanlah malaikat yang disakiti dan dengan mudah memaafkan. Tapi karena Tante sudah membuang waktu datang ke rumah ini. Aku memaafkan tante," kata Anggita. Jelas terlihat masih ada rasa benci di hati Anggita melihat wanita itu.
Anita menatap Anggita dengan sedih. Anggita mengingatkan dirinya status saat ini. Dia sadar jika Anggita memanggil dirinya dengan sebutan tante karena sudah mengetahui siapa sebenarnya Evan.
"Boleh mama masuk?" tanya mama Anita. Anggita kembali tidak menjawab. Anggita justru menoleh ke dalam rumah. Membayangkan reaksi Rendra jika bertemu dengan mama Anita.
Tanpa mendengar jawaban Anggita. Mama Anita langsung masuk. Dia memanggil nama Evan dengan kencang. Anggita menggerutu melihat tingkah mama Anita. Wanita itu masih seperti yang dulu. Bersikap seenaknya masuk ke dalam rumah.
"Evan, Evan."
Evan dan Rendra saling berpandangan mendengar suara itu. Walau sudah lama tidak mendengar suara tersebut. Mereka masih mengenal suara itu.
"Mama," jawab Evan setelah mama Anita mendekati sofa tempat mereka duduk. Anita berlari ke arah Evan yang sudah berdiri. Wanita itu langsung memeluk Evan dengan sangat erat.
__ADS_1
"Evan, aku merindukan kamu. Mengapa kamu tidak pernah bersedia menemui mama?" tanya mama Anita sedih. Rendra melihat dua manusia yang berpelukan itu dengan rasa yang tidak senang.
"Aku sangat sibuk akhir akhir ini ma."
"Sibuk menikmati kebahagiaan sehingga kamu melupakan wanita yang mengurus kamu sejak kecil," kata Anita pura pura merajuk.
"Bukan melupakan ma. Aku memang benar benar sibuk," jawab Evan. Evan melepaskan pelukan itu dan menyuruh mama Anita untuk duduk.
Mama Anita sengaja duduk bersebelahan dengan Evan. Dia melihat Rendra tapi tidak berniat sama sekali menyapa mantan istrinya itu. Bersamaan dengan itu, Anggita juga sudah di ruang tamu dan duduk si sofa tunggal.
.Anggita, kamu tidak ingin membuatkan minuman untuk mama?. Buatkan mama jus jeruk," kata mama Anita.
"Duduk sayang. Aku akan pesan jus jeruk untuk mama lewat online," kata Evan cepat ketika melihat Anggita hendak berdiri. Anggita tersenyum dalam hati melihat sikap suaminya itu. Anggita sangat senang. Bukan senang karena tidak repot membuat jus jeruk. Tapi sikap Evan yang bisa melihat sikap mama Anita yang memperlakukan dirinya seperti dulu.
"Tidak perlu Evan. Mama hanya ingin jus jeruk buatan Anggita."
Evan tidak memperdulikan larangan mama Anita. Pria itu tetap mengeluarkan ponsel dan melakukan pemesanan.
"Jangan seperti itu mama. Aku tidak membiarkan Anggita membuat jus jeruk untuk mama karena aku bisa menebak apa tujuan mama menyuruh Anggita membuat jus jeruk tersebut," kata Evan. Dia tidak suka mama Anita menyuruh Anggita dengan seenaknya sama seperti dulu. Dan Evan tidak akan memberikan celah kepada mama Anita untuk menghasut dirinya membenci Anggita.
"Darimana mama mengetahui alamat rumah ini?" tanya Evan. Alamat rumah ini tidak sembarangan yang mengetahui. Hanya Rico orang yang bukan dari keluarga kakek Martin yang mengetahui alamat rumahnya.
"Apa yang tidak mama ketahui tentang kamu nak. Rasa sayangku terlalu besar kepada kamu sehingga hal apapun tentang kamu. Mama pasti tahu."
Evan dan Anggita saling berpandangan mendengar perkataan mama Anita. Sedangkan Rendra hampir muntah mendengar bualan mama Anita.
"Terima kasih mama. Sebenarnya, apa tujuan mama datang ke rumah ini?" tanya Evan.
"Selain meminta maaf kepada Anggita. Mama juga ingin mengucapkan selamat berbahagia untuk kalian bertiga."
"Terima kasih mama. Sudah meminta maaf kepada istriku?" tanya Evan lagi. Mama Anita menganggukkan kepalanya.
"Sudah. Anggita sudah memaafkan mama," jawab mama Anita senang.
"Jika kamu tidak Ada urusan lagi. Silahkan pergi dari rumah putraku," kata Rendra ketus. Sejak kedatangan mama Anita. Rendra sudah memendam kekesalan kepada mantan istrinya itu.
"Evan adalah putraku. Tidak ada yang bisa melarang aku berkunjung ke rumah ini termasuk kamu," jawab Anita. Wanita itu langsung marah mendengar perkataan Rendra yang jelas menunjukkan rasa tidak senang kepada dirinya.
"Terlalu percaya diri kamu Anita. Kamu lupa siapa dirimu. Evan memanggil kamu dengan sebutan mama karena kamu dulu masih istriku. Kita sudah bercerai. Antara kamu dan Evan tidak Ada ikatan darah. Beda dengan diriku sendiri. Tanpa mengadopsi Evan. Aku tetap bisa dipanggil papa oleh dia. Karena darah yang mengalir di tubuhnya sama dengan darah yang mengalir di tubuhku. Nah, kamu?"
"Aku yang merawatnya sejak kecil."
Rendra tertawa mendengar perkataan Anita. Sedangkan Evan dan Anggita memilih menjadi penonton setia mendengar perdebatan mantan suami istri itu.
"Apapun alasan kamu. Jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi," kata Rendra penuh penekanan.
"Evan, tolong katakan sesuatu kepada pria ini. Kamu putraku kan?. Mama masih bisa datang ke rumah ini kan?" tanya mama Anita meminta pembelaan dari Evan. Wanita itu sangat yakin jika Evan tidak melupakan kasih sayangnya dan membela dirinya.
"Mama sebenarnya rumah ini milik Anggita dan atas namanya. Anggita yang berhak memberikan ijin kepada siapapun untuk berkunjung ke rumah ini," kata Evan. Dia sengaja bersikap seperti ini karena Evan tidak ingin Anggita tersakiti oleh siapapun termasuk mama Anita. Anggita menatap suaminya itu. Dia senang karena sikap Evan sangat menghargai dirinya.
__ADS_1
"Anggita, kamu mengijinkan mama berkunjung ke rumah ini kan?"
Anggita hanya terdengar menarik nafas panjang kemudian menatap wanita itu.