Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Perdebatan Tante Tiara dan Danny


__ADS_3

"Ini kopinya," kata Anggita dan meletakkan kopi itu di hadapan Danny. Danny tersenyum Dan menarik kopi yang diletakkan oleh Anggita mendekat ke arah tubuhnya.


"Rasanya pas. Pasti dibuat dengan hati," kata Danny setelah menyeruput sedikit kopinya. Cara duduknya dibuat sangat santai untuk menunjukkan kepada dokter Angga bahwa dirinya adalah orang yang paling dekat dengan Anggita.


"Dimana mana. Kopi itu dibuat dengan air panas, gula dan kopi atau ditambah dengan susu. Bukan dibuat dengan hati."


Dokter Angga berkata dengan tenang sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Ketika Danny ingin berbicara. Dokter Angga langsung berdiri dan berkata "Anggita, terima kasih atas undangan atas pembukaan kafe milik kamu. Aku sangat yakin jika kafe ini akan disukai masyarakat di Kota ini. Sukses buat kamu."


"Terima kasih dokter."


"Aku pamit dulu Anggita. Jangan lupa jaga kesehatan," kata dokter itu sambil tersenyum kepada Anggita.


"Duluan ya bro," kata dokter itu lagi sambil menepuk lengan Danny pelan. Sikap Dokter Angga yang bersahabat sangat berbeda dibandingkan sikap Danny yang merasa tersaingi.


"Siapa dia Anggita?" tanya Danny setelah tubuh dokter Angga tidak terlihat lagi.


"Teman."


"Hati hati memilih teman Anggita. Kamu sudah pernah gagal dengan Evan. Jangan sampai kamu salah memilih teman hidup nantinya."


"Ah, ternyata kamu pintar juga Danny. Tapi perkataan itu adalah perkataan yang seharusnya ditujukan kepada dirimu sendiri. Bukankah kamu juga sudah gagal?.


"Benar, aku sudah menemukan wanita yang baik dan cocok untuk pendamping aku kelak."


"Baguslah. Asal jangan kamu katakan jika wanita itu adalah aku."


Danny tertawa sambil menatap wajah Anggita yang terlihat kesal.


"Jangan tunjukkan wajah seperti itu Anggita. Keponakan ku yang di dalam rahim kamu itu pasti tidak senang om nya diperlakukan seperti ini. Iya kan dedek bayi," kata Danny sambil menggerakkan tangannya hendak mengelus perut Anggita.


"Yang sopan Danny," bentak Anggita sedikit keras dan memukul tangan laki laki itu sebelum menyentuh perutnya. Untung saja para pengunjung yang dekat meja itu sudah keluar. Kalau tidak bisa jadi tingkah Danny menjadi perhatian.


"Aku ingin menunjukkan kasih sayangku kepada ponakan. Apa itu salah?. Danny tertawa seakan tingkahnya itu adalah benar.


Anggita semakin kesal melihat tingkah Danny yang menyebalkan itu. Sedangkan Danny sama sekali tidak tersinggung dengan sikap Anggita yang jelas terlihat tidak menyukai kedatangannya saat ini.


"Jelas salah."


"Jadi bagaimana yang benar?.


"Tidak perlu sentuhan fisik. Cukup kamu mendoakan dia sempurna jasmani dan rohani serta lahir dengan selamat."


"Kalau itu sudah pasti Anggita." Danny memamerkan senyum manisnya.


"Habiskan kopi mu. Setelah itu pulanglah. Kasihan Sisil kamu tinggal terus."


"Aku baru tiba dengan tiga jam perjalanan. Kamu sudah mengusir aku," kata Danny pura pura kesal.


"Siapa yang suruh kamu datang."


"Hatiku yang menuntun tubuhku ke tempat ini." Danny tertawa sedangkan Anggita terlihat semakin kesal


"Ah, rayuan basi. Aku masih banyak kerjaan. Nikmati kopimu dan terserah mau pergi secepatnya atau tidak."


"Silahkan bumil cantik," jawab Danny santai. Anggita akhirnya meninggalkan Danny karena merasa pembicaraan mereka tidak ada gunanya sama sekali. Lagi pula semakin kesini Anggita dapat merasakan jika apa yang keluar dari mulut pria itu adalah candaan. Bukan Anggita mengharapkan keseriusan Danny di setiap perkataannya. Tapi Anggita merasakan sangat janggal dengan pengakuan Danny yang jatuh hati kepadanya tapi sikapnya seakan tidak begitu serius.


"Mbak Anggita."


Anggita menghentikan langkahnya karena suara yang memanggil dirinya dari meja kasir. Tujuan awalnya hendak ke dapur kini Anggita melangkahkan kakinya menuju meja kasir.

__ADS_1


"Ada apa Lasmi?"


"Ini Ada Titipan untuk kamu mbak," kata Lasmi sambil menyerahkan sebuah buku dan kartu nama.


Anggita membaca judul buku kemudian membalikkan lembar demi lembar. Buku itu ternyata tentang buku panduan untuk ibu hamil. Mulai dari makanan, olahraga yang aman untuk ibu hamil hingga perawatan untuk ibu nifas. Kemudian Anggita membaca kartu nama yang ternyata adalah kartu nama dokter Angga.


"Ibu bisa menghubungi dokter Angga terlebih dahulu jika ingin periksa kehamilan mbak. Biar jangan kelamaan ikut antri."


Lasmi mengatakan apa yang dipesankan oleh dokter Angga tadi. Anggita menganggukkan kepalanya. Mendapatkan perhatian seperti ini, hati Anggita sedikit menghangat.


"Bukan hanya itu mbak. Pria tadi juga memberikan ini," kata Lasmi sambil mengambil kantong plastik berisi buah dari bawah meja.


"Terima kasih Lasmi. Ambil buah yang kamu suka," kata Anggita sambil membuka kantong plastik yang berisi buah apel dan mangga berukuran besar.


"Makasih mbak. Untuk mbak aja semua."


Anggita mengambil satu buah apel dan satu buah mangga dan meletakkan kedua buah tersebut di atas meja.


"Ini untuk kamu. Jangan ditolak."


Setelah mengatakan itu, Anggita berlalu dari meja kasir dan masuk ke dalam rumah.


"Hatimu sangat baik mbak. Semoga kafe dan persalinannya nanti lancar," kata Lasmi dalam hati. Dua hari bersama Anggita. Lasmi bisa merasakan kebaikan yang tulus dari wanita itu.


Sedangkan Danny yang sudah duduk berpindah dari meja sebelumnya ke meja dekat kasir tanpa sepengetahuan Anggita bisa melihat kebaikan Anggita itu.


"Kamu wanita yang berhati baik dan tulus, cantik dan mandiri Anggita. Siapapun suami kamu kelak. Aku hanya berharap kamu mencintai dan dicintai. Dan aku berharap pria beruntung itu...."


Danny berkata dalam hati tapi tidak bisa meneruskannya karena suara ponsel langsung mengganggu dirinya. Setelah menjawab panggilan itu. Danny terlihat beranjak dari duduknya. Dia melangkahkan kakinya keluar dan masuk ke dalam mobil tanpa membayar pesanan kopi dan tidak pamit kepada Anggita.


Pria itu terlihat memundurkan mobilnya dan langsung berbelok meninggalkan pekarangan kafe bintang. Sisil, putri yang sangat disayanginya kembali merindukan mama Kandungnya dan kini kembali rewel. Bahkan Kali ini lebih parah. Sisil tidak hanya rewel tapi juga demam.


Kedatangannya sudah disambut tante Tiara ruang keluarga.


"Bagaimana keadaan Sisil ma?" tanya Danny khawatir.


"Dia sudah minum obat. Dan demamnya sudah mulai turun. Duduklah dulu. Sisil sudah tidur sebaiknya jangan diganggu." Danny menarik nafas lega.


"Danny, mama ingin kamu jujur. Siapa sebenarnya mama Ita yang disebutkan oleh Sisil."


Tante Tiara akhirnya tidak dapat untuk tidak bertanya tentang mama Ita. Sejak dua Hari yang lalu, Tante Tiara sudah ingin menanyakan hal itu. Tapi karena Evan menginap di rumah ini selama dua Hari ini. Tante Tiara terpaksa memendam keinginan itu. Dia tidak ingin pertanyaannya di dengar oleh Evan dan akhirnya berujung salah paham.


Danny mengusap rambutnya terlebih dahulu kemudian menatap tante Tiara. Sungguh, dia tidak pernah menduga sebelumnya jika tante Tiara kembali bertanya tentang mama Ita. Seketika Evan teringat akan kepergian tante Tiara dan Sisil dua hari yang lalu ke rumah Nenek Rieta. Dalam hati, Danny menghubungkan pertanyaan tante Tiara dengan kepergian mama dan putrinya itu ke rumah nenek Rieta.


"Aku sudah menjawab pertanyaan mama. Dia teman ku mama."


"Teman?. Atau mantan adik ipar?.


"Apa maksud mama?.


"Setiap aku menunjukkan foto Anggita. Sisil selalu menyebutkan sebagai Anggita. Dimana Anggita Danny. Mengapa kamu menyembunyikan Anggita dari kami?. Tante Tiara menuntut jawaban jujur dari Danny. Tante Tiara sudah menunjukkan banyak foto Anggita kepada Sisil. Anak kecil itu selalu menyebutkan Anggita sebagai mama Ita.


Kini Danny mengusap wajahnya frustasi. Membawa Sisil bertemu dengan Anggita ternyata adalah kesalahan. Dia masih ingat dengan jelas persyaratan yang diajukan Anggita kepada dirinya ketika hendak pindah dari desa.


"Dia bukan Anggita ma. Tapi sedikit mirip dengan Anggita."


"Jangan bohong Danny. Sisil tidak mungkin berbohong." Tante Tiara tetap pada keyakinannya jika Danny mengetahui keberadaan Anggita.


"Mama, mengapa mendesak sesuatu yang tidak aku ketahui. Aku tidak tahu dimana Anggita. Jadi aku harus jawab apa?. Danny kini terlihat kesal dengan pertanyaan tante Tiara yang membuat dirinya seakan terdesak.

__ADS_1


"Danny, mengapa kamu tega terhadap Evan. Tidakkah kamu lihat penyesalannya?.


"Mama andaikan aku tahu dimana Anggita. Aku juga tidak sudi untuk memberitahukan kepada Evan."


"Kamu tega pada kakak kamu."


"Iya aku tega. Karena Evan juga tega membuang Anggita seperti sampah. Dia tidak tahu bahwa di luar Sana. Banyak yang menganggap Anggita seperti berlian. Kesalahan Evan sangat fatal. Bukan kesalahpaham tapi Evan dengan sadar menyakiti Anggita. Kita juga tidak tahu bagaimana Evan memberlakukan Anggita di rumah. Kita hanya mengetahui penderitaan Anggita sebatas yang Kita lihat. Jadi biarkan dia menikmati penyesalannya dulu."


"Tapi Evan sudah berubah dan menyesal."


"Masih hitungan bulan ma. Biarkan dia merasakan penyesalan itu bertahun tahun."


"Danny."


"Aku korban perselingkuhan ma. Aku tahu sakitnya diselingkuhi dan diabaikan. Aku rasa Anggita juga tidak ingin melihat Evan saat ini. Karena seperti itulah yang aku rasakan saat ini. Tidak ingin bertemu dengan Clara."


"Evan sudah sadar jika dirinya ternyata mencintai Anggita. Dia dan Adelia tidak ada hubungan apa apa lagi. Biarkan mereka bertemu. Evan ingin minta maaf kepada anggita."


"Mama, jangan membela Evan karena sudah menyesali perbuatannya."


"Mama tidak membelanya. Tapi mama kasihan kepada kakak kamu."


"Lalu mama tidak kasihan kepada Anggita?" tanya Danny sambil memicingkan matanya.


"Aku menyayanginya seperti putriku sendiri. Jika kamu tanya apa kasihan atau tidak. Aku merasakan lebih dari kasihan. Bahkan aku bisa merasakan penderitaan Anggita."


"Apakah mama pernah berpikir. Jika kejahatan Adelia tidak terbongkar. Evan tetap menyesali perbuatannya. Jika saja kejahatan Adelia tidak terbongkar bisa saja mereka sudah melangsungkan pernikahan sekarang ma. Bisa saja evan dan Adelia sekarang tertawa berbahagia. Evan pasti tidak akan merasa menyesal karena bercerai dari Anggita. Justru dia merasa lega karena terlepas dari pernikahan perjodohan itu."


"Jadi biarkan Evan menikmati penyesalannya dulu ma. Jika mereka berjodoh. Sejauh manapun Anggita berlari. Mereka akan bertemu. Lagipula, kalau dia sunguh sungguh mencari Anggita. Pasti ketemu. Kalau hanya menyesal tidak cukup ma. Tapi perlu usaha yang ekstra untuk menemukannya."


"Dia sudah berusaha keras. Danny. Tolong beritahu kami dimana keberadaan Anggita," kata Tante Tiara memohon. Tante Tiara sangat yakin jika mama ita adalah Anggita.


"Berapa kali aku katakan ma. Aku tidak tahu dimana Anggita berada." Danny tetap pada pendiriannya. Dia tidak ingin ingkar janji kepada Anggita.


"Tapi mama sangat yakin jika kamu benar benar menyembunyikan Anggita dari kami."


"Jika mama sangat yakin akan hal itu. Silahkan ma. Tapi ada satu hal yang mama ingat. Jika aku mengetahui dimana Anggita. Aku tidak akan memberitahukan kepada Evan."


"Keterlaluan kamu Danny. Apa salah Evan kepada kamu."


"Dia tidak salah apa apa kepadaku ma. Kesalahannya kepada Anggita. Sebagai wanita, seharusnya mama menghukum dia seperti ini. Apa mama tahu bagaimana sakit hati Anggita ketika Evan membawa Adelia satu atap dengan mereka?. Apa mama tidak bisa melihat kehancuran di mata Anggita ketika mendengar Evan berkata akan mengikuti program hamil setelah menikah dengan Adelia. Jawab ma!. Evan benar benar dengan sadar menyakiti Anggita. Dan setelah mengetahui kejahatan wanita pujaannya. Seenaknya saja dia mengatakan menyesal dan merasa kehilangan Anggita."


Tante Tiara terdiam mendengar perkataan Danny. Dia bisa merasakan penderitaan Anggita selama berumah tangga dengan Evan. Tapi rasa sayang dan melihat penyesalan Evan. Tante Tiara tentunya ingin melihat Evan bahagia. Termasuk melihat Evan dan Anggita bertemu kembali dan kalau boleh rujuk.


"Setidaknya mereka bertemu Danny. Evan akan merasa lega jika sudah meminta maaf kepada Anggita."


"Minta maaf atau tidak. Tidak Ada lagi gunanya untuk rumah tangga mereka. Mereka sudah bercerai. Dan aku rasa Anggita sudah banyak berkorban untuk rumah tangga mereka. Jadi biarkan pria bodoh itu hanya bisa mengenang Anggita tanpa melihatnya. Anggita pasti baik baik saja tanpa Evan di sisinya. Lagipula, Kita tidak tahu sejauh Mana hubungan Evan dan Adelia. Mereka sudah pernah satu atap. Biarkan saja Evan dengan wanita jahat itu. Itu hukuman untuk pria bodoh seperti dirinya."


"Mereka sudah tidak berhubungan lagi Danny."


"Itu bukan urusan aku," kata Danny sambil beranjak dari duduknya. Dia sengaja menghindar supaya tidak mendapatkan pertanyaan lagi tentang Anggita.


Tinggallah tante Tiara di ruang tamu itu sendirian. Semua perkataan Danny memang benar. Anggita sangat menderita dan penyesalan Evan tidak sebanding dengan kehancuran dan sakit hati Anggita.


Tidak jauh dari ruang keluarga. Gunawan terlihat berjalan menjauhi ruang keluarga. Pria itu tidak sengaja mendengar semua perdebatan antara istrinya dan Danny.


"Mulai hari ini. Tolong kamu ikuti putraku Danny kemana pun dia pergi," kata Gunawan kepada seseorang di telepon.


Setelah mengakhiri pembicaraan di telepon. Gunawan masuk ke dalam rumah seolah olah baru saja tiba di rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2