Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 147


__ADS_3

"Bayi kembar?" tanya Nenek Rieta terkejut. Bukan hanya nenek Rieta. Semua anggota keluarga terkejut mendengar informasi dari Rendra jika sebenarnya Nia melahirkan bayi kembar.


"Apa maksud kamu Rendra?" tanya Gunawan tidak sabaran. Rendra mengumpulkan mereka di rumah nenek Rieta setelah pulang dari rumah Nia. Anggita dan Evan juga terlihat penasaran dengan kelanjutan informasi dari Rendra yang perkataannya dipotong oleh nenek Rieta.


"Nia melahirkan bayi kembar. Laki laki dan perempuan. Kita sudah tahu apa yang terjadi dengan bayi laki lakinya sedangkan bayi perempuannya sehat dan aku sudah berjumpa dengan Naya."


"Naya, Naya nama cucuku?" tanya mama Tiara. Wanita itu tidak dapat menyembunyikan rasa terkejut dan rasa senang yang bersamaan hinggap di hatinya. Rendra menganggukkan kepalanya. Yang lain masih terdiam seakan informasi itu sesuatu yang sulit dipercaya oleh otak mereka.


"Dimana mereka sekarang. Tolong pertemukan aku dengan Nia dan cucuku," kata mama Tiara lagi. Rendra terlihat menghela nafas panjang dan memperhatikan raut wajah nenek Rieta dan Gunawan.


"Mau tidak mau. Senang atau tidak senang. Kita harus menerima Naya sebagai Anggota keluarga kita karena memang seperti itu kenyataannya. Aku akan mempertemukan Naya kepada kalian semua dan bahkan secepatnya jika kalian bisa memenuhi persyaratan yang akan aku buat."


"Persyaratan apa?" tanya mama Tiara cepat. Hanya wanita itu yang terlihat sangat antusias dibandingkan yang lainnya. Evan, Anggita Dan Gunawan mereka masih belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rendra.


"Damai. Persyaratan hanya damai. Jangan ada lagi yang mengungkit kesalahan Nia di masa lalu. Dan mengapa dirinya menyembunyikan Naya dari kita"


Mama Tiara menganggukkan kepalanya dengan cepat. Dia setuju dengan persyaratan yang dikatakan oleh Rendra karena memang seperti yang seharusnya. Jika terus menyalahkan masa lalu pasti tidak akan ada titik temu padahal ada seorang anak yang harus disayang oleh Nia dan juga Danny.


"Bagaimana dengan mama dan kamu Gunawan?" tanya Rendra kepada dua orang itu. Sejak meninggalkan bayi laki laki itu. Nenek Rieta dan Gunawan tidak pernah menunjukkan kebencian kepada Nia. Tapi Rendra khawatir dengan mengetahui Nia menyembunyikan Naya selama ini. Nenek Rieta dan Gunawan kembali membenci atau menilai negative kepada Nia.


"Aku tidak akan mempertemukan kalian jika ada salah satu dari anggota keluarga kita yang tidak ingin berdamai dan menperpanjang masalah Nia yang menyembunyikan Naya dari kita. Bahkan aku akan membantu Nia membawa Naya sejauh mungkin dari keluarga ini. Tapi jika kalian semua setuju dengan persyaratan damai yang aku buat. Hari ini juga. Naya akan datang ke rumah ini."


Rendra tidak main main dengan perkataannya. Rendra sudah lelah menghadapi masalah di keluarga ini yang sepertinya tidak berujung. Mulai dari penyakit kritis bahkan meninggalnya kakek Martin, perceraian Evan dan persengkolan Adelia juga Anita, kegagalan pernikahan dirinya dengan Nia, Kehamilan Nia hingga meninggalnya bayi laki laki milik Nia dan Danny. Rendra hanya berharap setelah mengetahui tentang Naya. Tidak ada lagi masalah serius di dalam keluarga itu.


"Dan satu lagi. Jangan ada yang berpikir licik. Jika ada yang berencana memisahkan Naya dari Nia. Maka yang menjadi lawannya adalah aku sendiri," kata Rendra lagi. Perkataan itu penuh penekanan dan secara tidak langsung ditujukan kepada nenek Rieta dan Gunawan.


"Jangan banyak berbicara kamu Rendra. Sekarang juga suruh Nia dan cucuku datang ke rumah ini. Aku setuju dengan persyaratan kamu itu," kata Gunawan. Dari tadi pria itu terdiam bukan Karena dirinya kembali membenci atau menilai Nia negative. Tapi informasi tentang putri Danny yang disembunyikan oleh Nia juga membuat hatinya senang karena penerusnya semakin banyak. Tapi pria itu tidak dapat mengekspresikan rasa senang karena rasa terkejut lebih dominan mengusai hatinya.


"Bagaimana dengan mama?" tanya Rendra kepada nenek Rieta.


"Apakah ada alasan menolak kabar baik ini?. Sedangkan bayi laki laki yang sudah meninggal itu kita perlakukan dengan baik apalagi dengan Naya yang pasti cantik dan menggemaskan," kata nenek Rieta. Dalam hati wanita tua itu menghitung cicitnya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kalian?" tanya Rendra kepada Evan dan Anggita.


"Tentu saja kami sangat setuju pa. Tapi ada baiknya. Danny juga mengetahui tentang putrinya Naya secepatnya m," jawab Evan. Pria itu baru saja mengerti jika Danny sedang dalam perjalanan ke luar negeri mengurus perusahaan miliknya.


Mendengar perkataan Evan, Gunawan langsung memainkan ponselnya dan sepertinya sedang menghubungi Danny.


"Nomornya sudah tidak aktif. Tapi aku sudah mengirimkan pesan tentang Naya," kata Gunawan. Pria itu juga menginginkan Danny mengetahui tentang Naya secepatnya itulah sebabnya Gunawan tidak menunggu Danny pulang untuk memberitahukan tentang Naya.


Sedangkan Rendra juga sudah terlihat menempelkan ponsel ke telinganya. Semua orang di ruang keluarga itu mendengar jika Rendra menghubungi Nia dan menyuruh wanita itu membawa Naya ke rumah nenek Rieta sekarang juga. Semua terlihat senang dan tidak sabaran menunggu kedatangan wanita itu bersama putrinya setelah mendengar jawaban Nia yang bersedia datang ke rumah itu sekarang juga.


"Berapa jam perjalanan?" tanya Nenek Rieta tidak sabaran. Mama Tiara terlihat tersenyum senang melihat antusias mertuanya bertemu dengan cucunya itu. Dia pun seperti itu. Membayangkan mempunyai tiga cucu perempuan yang cantik dan berbeda usia. Mama Tiara sudah bisa membayangkan bagaimana ketiga cucunya yaitu Sisil, Cahaya dan Naya jika bermain boneka atau main masak masakan bersama.


"Yang pasti secepatnya ma. Paling lama satu jam. Mama bisa istirahat dulu di kamar," kata Rendra. Nenek Rieta menggelengkan kepalanya. Dia ingin menunggu Naya dan Nia di ruang keluarga itu. Wanita tua itu takut ketiduran jika harus beristirahat di kamarnya. Anggita juga seperti itu. Kalau melihat perut buncitnya dan tidak nyaman duduk berlama lama di sofa itu harusnya wanita itu bisa menunggu kedatangan Nia dan Naya di kamar. Tapi dirinya juga tidak ingin melewatkan moment kedatangan Naya untuk pertama kalinya di rumah itu.


Evan mengetahui ketidaknyamanan istrinya itu. Pria itu menyuruh Anggita duduk dengan bersandar ke arm panel dan kemudian membantu Anggita meluruskan kakinya. Anggita merasa tidak enak duduk seperti itu di hadapan kedua mertuanya dan yang lainnya. Biasanya dia duduk seperti itu jika hanya dirinya dan Evan di rumah.


"Sudah tidak apa apa. Mama dan Nenek juga pernah hamil. Mereka tidak langsung menilai kamu tidak sopan hanya karena duduk seperti ini. Lagi pula papa Gunawan dan papa Rendra juga tidak disini" kata Evan. Anggita menatap mama Tiara dan nenek Rieta. Melihat senyum kedua wanita itu akhirnya membuat dirinya senyaman mungkin di sofa itu.


Gunawan dan Rendra sengaja menunggu kedatangan Naya di teras rumah. Tidak lama dua pria itu duduk di teras rumah. Sebuah mobil sudah memasuki pekarangan rumah itu dan mobil itu adalah mobil Alex. Gunawan menghampiri mobil itu cepat karena tidak sabar untuk menggendong cucunya.


"Apa kabar Nia?" tanya Gunawan lembut setelah pria itu dekat dengan Nia. Gunawan mengulurkan tangannya. Seperti keinginan Rendra. Gunawan terlihat sangat baik bersikap di hadapan Nia. Gunawan juga mengambil Naya dari tangan Nia kemudian mencium Kedua pipi bayi itu. Gunawan terlihat sangat senang melihat cucunya itu.


"Kabar baik tuan," jawab Nia sambil menundukkan kepalanya. Walau Rendra sudah mengatakan jika tidak ada yang perlu ditakutkan dan semua pihak keluarga menerima Naya. Wanita itu masih merasakan ketakutan di hatinya.


"Pria ini pasti calon suami Nia kan?" tanya Gunawan. Alex turun dari mobil setelah Anna turun terlebih dahulu. Anna ikut dalam mobil itu karena wanita itu menemani Nia dan Naya di kafe dekat rumah nenek Rieta menunggu kedatangan Alex. Rendra sengaja menurunkan Nia, Naya dan Anna di kafe itu karena Rendra tidak ingin langsung membawa Naya ke rumah nenek Rieta sebelum mengetahui tanggapan semua anggota keluarganya.


"Benar om, aku calon suami Nia," jawab Alex sambil mengulurkan tangannya. Gunawan menerima uluran tangan itu sambil menggendong Naya di tangan kirinya.


"Ayo Naya. Saat kamu bertemu dengan nenek kamu dan yang lainnya. Nia, Alex. Ayo masuk!" ajak Gunawan melihat Nia dan Alex terlihat canggung mengikuti langkahnya. Tapi akhirnya calon suami istri itu mengikuti langkah Gunawan setelah Anna memukul tangan Alex dan Nia dengan pelan.


"Nenek, om, tante. Semuanya. Naya datang," kata Gunawan kencang. Di dalam ruang keluarga semua bergerak berdiri menatap Gunawan yang sudah menggendong Naya masuk ke dalam ruangan itu. Semua penasaran dan ingin menggendong Naya terlebih dahulu. Tapi Gunawan memberikan Naya ke tangan mama Tiara. Sama seperti Gunawan. Wanita itu juga menciumi pipi cucunya itu. Bedanya, mama Tiara mencium Naya sambil menitikkan air matanya.

__ADS_1


Antara sedih dan terharu meliputi perasaan wanita itu. Dia merasa sedih karena kehadiran cucunya itu di dunia ini bukan seperti kehadiran bayi bayi yang lainnya yang terlahir karena diharapkan dan diimpikan. Tapi Naya sudah mengalami perjuangan yang berat dan penuh drama yang mengantarkan bayi itu ke dunia ini.


Melihat Nenek Rieta ingin menggendong Naya. Mama Tiara juga memberikan bayi itu kepada Nenek Rieta. Kemudian wanita itu beranjak dari duduknya dan mendekati Nia. Mama Tiara memeluk wanita itu tanpa mengucapkan satu katapun.


"Sisil dan Cahaya pasti senang punya adik seperti Naya," kata nenek Rieta sambil memainkan tangan Naya. Wanita itu mengarahkan tangan Naya mengusap pipinya. Sisil dan Cahaya tidak ada di ruangan itu karena sedang tidur.


Gunawan tertawa mendengar perkataan Nenek Rieta. Kini bayi cantik itu berpindah tangan ke Evan. Evan juga terlihat sangat senang melihat keponakannya itu.


"Hidungnya mirip Cahaya kan sayang," kata Evan setelah Naya berada di tangan Anggita.


"Bukan hanya hidung Cahaya. Tapi hidung kamu juga," jawab Anggita. Semua mata langsung memperhatikan hidung Evan dan Naya. Semua anggota keluarga tertawa setelah menyadari jika Naya juga mewarisi hidung mancung dari kakek Martin. Gunawan, Rendra , Evan dan Danny memiliki hidung persis seperti hidung kakek Martin.


Nia dan Alex tidak banyak mengeluarkan kata kata. Mereka berperan seperti penonton atas kebahagiaan keluarga kakek Martin itu karena kedatangan Naya di rumah itu. Tapi Nia juga menyadari jika Danny tidak ada di ruangan itu. Tentu saja Nia tidak bertanya kemana pria itu saat ini walau hatinya penasaran mengapa Danny tidak ada di tempat itu.


"Nia, terima kasih. Karena perjuangan kamu. Naya ada. Sehat dan menggemaskan seperti ini," kata nenek Rieta. Nia hanya menundukkan kepalanya. Wanita itu sebenarnya merasa malu berada di rumah itu. Tapi karena demi Naya, Nia mengesampingkan rasa malu itu.


"Kami juga berterima kasih kepada kamu Alex. Aku sangat yakin, selama ini kamu pasti banyak memberikan kasih sayang kepada cucuku ini," kata Gunawan kepada Alex. Alex hanya tersenyum. Alex tidak menjawab karena dirinya tulus melakukan itu dan memang seharusnya seperti itu. Menerima Nia berarti dirinya harus siap menjadi ayah bagi Naya.


Setelah beberapa menit merasakan kebahagiaan. Kini wajah Gunawan, Nenek Rieta dan tante Tiara terlihat sedih. Mereka memikirkan jika setelah ini, Naya tidak bisa milik mereka sepenuhnya. Tiga hari lagi Nia akan menikah dengan Alex. Itu artinya Naya dan Nia akan jauh dari mereka. Naya sebagai cucu dari kakek Martin akan merasakan hal yang berbeda dengan yang dirasakan oleh cucu cucu yang lain. Mereka hanya sekedar mengetahui jika Naya adalah putri Danny.


"Nia, kamu memang akan menikah dengan Alex tiga hari lagi. Dan tentang Naya. Tolong ijinkan Danny bertanggung jawab kepada putrinya," kata Gunawan. Nia dan Alex saling berpandangan. Gunawan sadar, kehadiran Naya tanpa ikatan pernikahan melemahkan hak Danny akan cucunya itu. Gunawan menginginkan Naya sama seperti cucunya yang lainnya. Yaitu mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya.


Nia tidak menjawab. Jujur, dirinya tidak mengetahui apa yang harus dia lakukan setelah ini. Mengijinkan Danny bertanggung jawab atas Naya. Itu artinya dirinya akan tetap berkomunikasi dengan Danny. Dia tidak ingin seperti itu. Sebentar lagi dirinya akan menikah dengan Alex. Nia tidak ingin hanya karena sering berkomunikasi dengan Danny nantinya akan membuat hubungan dengan Alex ada kesalahan pahaman.


"Bagaimana Nia. Apa kamu setuju dengan perkataan Gunawan?" tanya Rendra.


"Maaf tuan, untuk saat ini kebutuhan Naya belum terlalu banyak. Nanti kalau sudah masuk sekolah, atau jika merasa tidak sanggup. Aku akan memberitahu kepada kalian," jawab Nia pelan. Jawaban Nia itu membuat Nenek Rieta menarik nafas panjang.


"Nia. Tolong. Mari kita bekerja sama demi kebaikan dan perkembangan, serta Masa depan Naya. Biarkan Danny tetap berperan sebagai ayah kandung Naya tanpa mengganggu hubungan kamu dengan Alex," kata Evan.


Pihak keluarga Danny berharap Nia bersedia menerima tanggung jawab Danny atas Naya. Bukan hanya itu, mereka sebenarnya menginginkan Nia menjadi bagian keluaga mereka walau Nia tetap menikah dengan Alex.

__ADS_1


"Alex dan Nia. Bagaimana pun caranya. Aku ingin kalian menjadi bagian anggota keluarga kakek Martin mulai saat ini. Alex akan aku angkat menjadi putraku. Dengan seperti itu Nia akan menjadi menantu di rumah ini. Pernikahan kalian tiga hari lagi menjadi tanggung jawabku," kata Gunawan. Dia tidak ingin kehilangan Alex dan Nia. Gunawan juga bisa melihat jika Alex adalah pria yang baik dan sopan. Selain itu Gunawan ingin membalas kebaikan Alex karena tulus menyayangi Naya. Gunawan mengetahui kebaikan Alex itu dari Rendra. Evan dan yang lainnya terlihat tidak keberatan dengan perkataan Gunawan itu.


"Bagaimana Alex. Apa kamu bersedia dianggap anak oleh Gunawan?" tanya Rendra.


__ADS_2