
Tidak ada yang bisa menggambarkan rasa sedih yang dialami oleh Nia. Bulan ini adalah bulan ke tujuh dimana usia kandungan. Seharusnya, Nia masih mengandung dan mungkin harus mengadakan tujuh bulannan. Tapi yang terjadi bayi itu lahir tanpa persiapan. Bahkan pakaian pakaian bayi juga belum ada yang disiapkan satupun. Nia hendak mencicil semua perlengkapan janinnya tapi yang terjadi dua janin itu tidak betah lagi berada di rahimnya. Satu bertahan dan satu lagi harus kembali kepada Pemilik hidup.
Nia memandangi bayi itu untuk terakhir kalinya. Ternyata rasa sakit yang diderita akibat penghinaan dan makian Gunawan dan Nenek Rieta tidak ada apa apanya dibandingkan melihat bayi laki lakinya terbujur kaku tidak bernafas. Nia memberikan bayi laki laki itu ke tangan Jessi. Nia merasakan hatinya berat tapi dirinya harus rela melepaskan buah hatinya. Sama seperti Nia. Jessi juga terlihat sangat sedih melihat sang keponakan. Dia merasa kasihan kepada Nia. Penderitaan saudara itu seperti sambung menyambung tidak berkesudahan.
Nia akhirnya melambaikan tangan kepada Jessi yang sudah berbalik meninggalkan ruangan itu. Tangisnya semakin terdengar di penjuru ruangan itu. Nia tidak menyangka jika penderitaannya seperti ini. Sang bidan berkali kali mengingatkan Nia supaya tidak menangis lagi demi kesehatannya sendiri. Nia ingin menurut. Tapi mengingat perjuangan yang sulit mempertahankan kehamilannya. Air Mata itu tidak dapat berhenti.
"Maafkan aku anakku," kata Nia dalam hati. Ternyata selain sedih. Nia juga merasa bersalah kepada kedua bayinya. Rasa bersalah itu teramat besar. Rasa bersalah karena dirinya yang merasa sok bisa, sok mampu dalam materi untuk berjuang. Tapi kenyataannya, malam malam yang dia lalui penuh air Mata. Pikirannya tidak fokus hanya kepada kehamilannya. Pikirannya bercabang, menjaga kehamilannya, dan juga memikirkan masa depan dirinya dan sang anak kelak.
"Sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa kamu melakukan ini Nia?" tanya wanita itu kepada Nia setelah Nia berhenti menangis. Nia tidak menjawab. Kebodohannya dan apa yang dilakukan keluarga Danny kepada dirinya cukup hanya dia dan kedua adiknya yang tahu. Nia tidak ingin menambah bahan gosip lagi diantara para tetangganya. Nia menghargai dan berterima kasih atas bantuan wanita itu. Tapi untuk menceritakan kisah pahitnya. Nia tidak mampu lebih tepatnya tidak bersedia.
"Aku hanya meminta tolong kepada ibu. Tolong bantu aku," kata Nia. Dia mengutarakan bantuan yang dimaksudkan. Wanita itu menganggukkan kepalanya. Hati wanita itu bisa tergugah seketika melihat keadaan Nia. Wanita itu menjelma menjadi penolong setelah dirinya ikut bergosip ria membicarakan Nia dan kehamilannya.
Di tempat lain. Tepatnya di luar gerbang rumah Gunawan. Jessi baru tiba di tempat itu. Sebelum Jessi turun dari mobil. Wanita itu melihat bahwa ada sebuah mobil yang masuk ke dalam pekarangan rumah itu. Jessi berharap Gunawan dan Danny sedang di rumah.
Ternyata tidak mudah bagi Jessi untuk masuk ke dalam rumah itu. Jessi mengalami kendala. Tidak mudah baginya langsung menerobos masuk ke dalam rumah. Ternyata Gunawan memperketat keamanan sejak apa yang terjadi di rumah nenek Rieta. Ada seorang satpam yang berjaga. Jessi tidak diperbolehkan masuk.
"Tolong biarkan aku masuk pak. Ada hal penting yang ingin aku antarkan kepada pak Danny," kata Jessi. Satpam itu meneliti penampilan Jessi. Jessi membawa bayi laki laki itu tangannya. Itu pun tidak terlalu terlihat karena Jessi menutupi dengan syal. Beratnya yang hanya sekilo, Dan siapapun yang melihatnya tidak akan curiga jika yang ada ditangan Jessi Itulah bayi.
"Maaf ya mbak. Boleh jelaskan benda apa yang akan anda antarkan?" tanya satpam itu. Tatapannya penuh curiga. Gunawan sudah memerintahkan dirinya untuk tidak memasukkan sembarangan orang ke dalam rumah. Sang satpam hanya menjalankan tugasnya.
"Biarkan pak Danny yang mengetahui dan melihat terlebih dahulu. Nanti juga bapak akan mengetahuinya," kata Jessi. Satpam itu semakin curiga dan tidak memberikan Jessi ijin untuk masuk. Bahkan satpam tidak membuka gerbang itu. Kedatangan Jessi tertolak di garda keamanan rumah itu. Sama seperti nasib sang bayi laki laki yang tertolak ketika bayi tersebut berjuang untuk berkembang di rahim ibunya.
Jessi tidak lagi memaksa atau memohon kepada sang satpam. Dia merasa hal itu tidak ada gunanya. Jika dia langsung menunjukkan bayi laki laki itu, Jessi takut dirinya akan diusir karena dianggap orang gila. Jessi memutar otaknya dan berpikir keras. Menunggu sang satpam lengah rasanya rasanya tidak mungkin. Untuk memberitahukan satpam itu tentang sang bayi juga tidak mungkin. Jessi merasa jika satpam pasti tidak percaya.
Akhirnya Jessi menghubungi Anggita. Nomor wanita itu tersimpan di ponselnya karena Anggita meminta Jessi untuk menghubungi dirinya jika ada sesuatu yang terjadi dengan Nia. Jessi meminta wanita itu untuk datang sekarang juga ke tempat itu. Jessi menarik nafas lega. Karena Anggita bersedia datang tanpa banyak pertanyaan.
Tidak lama Jessi menunggu karena saat itu Anggita dalam perjalanan hendak pulang dari belanja keperluan Cahaya.
"Jessi, ada apa. Mengapa kamu ke sini?" tanya Anggita setelah turun dari mobil. Mobilnya langsung masuk ke dalam pekarangan karena satpam sudah mengenali mobil itu dan supirnya. Anggita terlihat sangat khawatir.
Jessi tidak dapat menahan tangisnya. Jessi akhirnya menangis. Dia membuka syal yang menutupi bayi laki laki itu dan menunjukkan wajah bayi itu kepada Anggita. Anggita terkejut. Dia langsung menduga bayi itu milik Nia dan dugaan itu tentu saja benar.
"Aku ingin mengantarkan bayi laki laki ini kepada kak Danny mbak," kata Jessi sambil terisak.
Anggita juga menangis. Di bawah terik matahari itu. Dua wanita itu menangis sambil menatap wajah bayi laki laki tersebut.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Nia?" tanya Anggita khawatir.
"Mbak Nia selamat mbak. Tapi bayi ini meninggal dari dalam," jawab Nia. Nia mengusap air matanya sendiri dan air Mata Jessi. Seperti pesan Nia, Jessi juga tidak menceritakan jika Nia melahirkan bayi kembar dan bayi satu lagi sedang berjuang untuk hidup.
"Kita masuk ke dalam," kata Anggita. Anggita menuntun Jessi masuk ke dalam. Satpam terlihat bingung karena Anggita terlihat sangat akrab dengan wanita yang tidak dia ijinkan masuk ke dalam rumah. Anggita terus berjalan dengan air mata tertahan tanpa menghiraukan tatapan bingung sang satpam. Satpam itu terlihat menatap Anggita dan Jessi sampai tidak terlihat lagi.
Kedatangan Jessi dan Anggita di rumah itu membuat Gunawan, Tante Tiara dan Danny terkejut. Dua pria itu ternyata di dalam rumah. Jessi dapat melihat Danny bersandar ke sofa seperti orang tidak bersemangat sedangkan Gunawan dan tante Tiara terlihat sedang membicarakan sesuatu.
"Anggita, kenapa kamu membawa dia kemari?" tanya Gunawan tajamsambil menunjuk Jessi. Dia masih mengingat dengan jelas wajah Jessi dan mengingat semua perkataan wanita itu ketika mengembalikan cek yang diberikan Tante Tiara kepada Nia.
"Bukan aku yang membawa pa. Jessi datang kemari karena ada tujuan. Dia tidak diperbolehkan oleh satpam masuk. Jessi menghubungi aku untuk membawa dirinya ke dalam rumah ini," jawab Anggita menceritakan yang sebenarnya. Anggita merasa harus menceritakan itu karena dirinya mengetahui bagaimana Gunawan sangat membenci Nia dan Jessi.
Danny dan tante Tiara terlihat menatap Jessi penuh tanda tanya sedangkan Gunawan tersenyum sinis. Pria itu masih saja berprasangka buruk. Dia berpikir, kedatangan Jessi untuk memohon pertanggungjawaban karena tidak mampu menanggung rasa malu atau meminta bantuan materi. Dia masih mengingat jika bulan ini usia kandungan Nia tujuh bulan. Usia kandungan yang harus mempersiapkan banyak dana untuk persalinan.
"Apa tujuan kamu nak?" tanya tante Tiara. Wanita itu selalu bersikap lembut dan tidak langsung berprasangka buruk seperti suaminya. Tante Tiara bahkan mempersilahkan Jessi untuk duduk tapi Jessi tetap berdiri. Bukan tidak menghargai kebaikan wanita itu tapi karena Jessi merasa jika dirinya tidak akan lama di rumah itu. Sedangkan Gunawan sengaja tidak bertanya. Pria itu menginginkan Jessi yang memohon. Karena Gunawan berpikir jika Jessi adalah wanita yang sombong. Danny tidak berkata apapun. Pria itu terlihat menundukkan kepalanya.
"Aku mengantarkan bayi ini, tante. Bayi yang tersesat di rahim mbak Nia dan memilih pulang kepada Penciptanya," kata Jessi sambil mengulurkan bayi laki laki itu kepada Tante Tiara.
Semua tertegun mendengar perkataan Jessi. Tante Tiara tidak langsung menerima bayi itu dari tangan Jessi. Dia menatap Jessi kemudian memperhatikan wajah bayi itu. Sedangkan Gunawan terdiam. Mulutnya terkunci tidak bisa memberikan komentar apapun. Sedangkan Danny langsung beranjak dari duduknya dan menerima bayi itu. Mendengar perkataan Jessi. Danny merasakan jantungnya seperti melompat dari raganya. Danny terlihat sedih kemudian terduduk di sofa setelah bayi laki laki itu berada di tangannya. Tidak lupa Nia meletakkan surat keterangan lahir bayi itu diatas bayi itu.
Akhirnya Danny tidak bisa menutupi kesedihan itu. Dia menitikkan air mata dan mengusapnya dengan kasar. Bayi laki laki yang seharusnya pelengkap hidupnya kini menjadi korban dari keegoisannya. Tante Tiara juga seperti itu. Dia menangis sambil mengelus wajah bayi laki laki itu. Danny, Anggita dan tante Tiara menangis bersama menangisi sang bayi.
Jessi tidak mendapatkan jawaban atas perkataannya. Mungkin karena terlalu sedih tante Tiara dan Danny tidak mendengar perkataannya. Sedangkan Gunawan masih duduk mematung.
Jessi membalikkan badannya. Tidak ada gunanya dia berlama lama di tempat itu. Diamnya Gunawan, Jessi menganggap jika itu adalah jawaban setuju jika pihak keluarga Danny yang mengurus penguburan bayi tersebut.
"Tunggu nak. Bagaimana kabar Nia?" tanya tante Tiara. Ternyata wanita itu memikirkan kondisi wanita yang melahirkan cucunya Melihat sang bayi, sudah pasti wanita itu mengetahui jika bayi itu lahir prematur. Tante Tiara ingin tahu apa yang membuat Nia sampai harus melahirkan prematur.
"Adakah seorang ibu yang baik baik saja melihat bayinya seperti ini?" kata Jessi balik bertanya. Jawaban samar yang mengatakan jika Nia sangat sedih dan selamat dalam melahirkan bayi itu.
Setelah mengucapkan itu. Jessi melangkah keluar dari rumah Gunawan. Tugasnya sudah selesai. Dan masih banyak tugas lainnya yang harus dia urus menyangkut Nia dan bayi perempuannya.
Sedangkan di rumah Gunawan. Mereka masih menangisi bayi itu. Danny mendengar perkataan terakhir Jessi. Dia merasa lega dalam hati mendengar Nia selamat melahirkan bayi laki laki ini.
"Bayi ini korban keegoisan kita pa. Korban keras kepala Kita. Andaikan kamu memberikan kebebasan kepada Danny untuk menjalani hidupnya sendiri. Generasi Kita sudah bertambah. Penjahat penghilang nyawa saja mendapatkan ampunan apalagi penjahat yang menghadirkan anak," kata Tante Tiara setelah berhenti menangis. Timbul banyak penyesalan di hati wanita itu dan merasa kesal kepada Gunawan. Dirinya sudah berusaha memberikan pengertian kepada Gunawan bahwa Nia dan janin itu butuh sosok Danny untuk berjuang bersama sama. Tapi Gunawan menolak dengan tegas. Pria itu tetap menilai Nia yang menghalalkan segala cara untuk masuk ke dalam keluarga mereka.
__ADS_1
Tante Tiara bisa melihat jika Danny dibawah tekanan Gunawan dan Nenek Rieta. Sejak mengetahui Nia Hamil. Danny sudah bersedia bertanggung jawab. Tapi karena alasan kelicikan, kebohongan dan kegagalan pernikahan Nia dan Rendra. Nia dicap sebagai penjahat yang menanggung hasil dari kejahatannya sendiri. Tante Tiara tidak membenarkan perbuatan Nia. Tapi Tante Tiara sadar jika kelahiran, kematian sudah ada yang mengatur yaitu Pencipta. Manusia hanya sebagai media bagi kelahiran itu sendiri. Jika boleh berkata jujur kepada suami dan mama mertuanya. Tante Tiara ingin mengumumkan sejak dulu bahwa dirinya sangat kasihan kepada Nia. Tapi sebagai istri dan menantu. Tante Tiara mengetahui sifat keras kepala Gunawan yang turun dari sang mama mertuanya.
Danny masih menangis. Berkali Kali dirinya mengusap pipinya tapi air mata itu tidak berhenti membasahi kedua pipinya. Kepergian bayi laki laki itu membuka kembali sisi kemanusiannya yang sudah lama tertutup. Kegagalannya memilih wanita yang menjadi mantan istrinya sekarang. Gunawan dan Nenek Rieta menuntut dirinya mendapatkan pasangan hidup yang sempurna. Penjebakan Nia pada dirinya membuat Gunawan dan Nenek Rieta menganggap wanita itu sebagai wanita penjahat kelas kakap. Wanita yang tidak pantas menjadi pendampingnya bahkan tidak pantas menjadi bagian dari keluarga besar mereka.
"Sebelum kalian tidak menginginkan dia masuk ke dalam keluarga ini. Dia memilih pergi tanpa nama itu," kata Tante Tiara lagi. Masih jelas terlintas di pikirannya bagaimana Gunawan menolak nama Dinata ada dibelakang nama anak yang dilahirkan oleh Nia.
Gunawan belum juga mengeluarkan kata kata. Mulutnya masih terkunci dengan rapat. Dia sebenarnya bukan tidak menginginkan bayi itu. Dia hanya tidak menginginkan Nia menjadi bagian keluarganya. Dia berusaha menekan Nia supaya wanita itu lelah dan memberikan anak yang dikandung Nia kepada mereka. Gunawan ingin mempunyai cucu yang banyak. Tidak terkecuali yang lahir dari rahim Nia. Dia sudah menyusun banyak rencana jika Nia menyerah dan memberikan bayi itu kepada dirinya. Rencana itu tersusun rapi di otaknya tanpa siapapun yang mengetahui.
Tapi sebelum itu tiba. Bayi itu lahir di luar perkiraannya. Nia memang menyerah dan memberikan bayi itu seperti keinginannya. Tapi bukan seperti ini yang dia inginkan. Apalagi mengetahui jika bayi itu laki laki. Gunawan merasakan kehilangan yang sangat dalam. Sudah lama dirinya menginginkan cucu laki laki bahkan ketika Cahaya masih di kandungan. Dan kini, dirinya sudah mempunyai dua cucu perempuan dan cucu laki laki. Tapi cucunya yang laki laki tidak sekuat cucu cucunya yang perempuan. Gunawan terbodoh mengingat semua perlakuannya kepada Nia.
Pada dasarnya, tidak ada yang menginginkan kematian itu termasuk Gunawan. Kematian bayi laki laki itu meruntuhkan keras kepalanya selama ini. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana dirinya menghina Nia dua bulan yang lalu di pesta pernikahan Rendra. Hatinya bertanya tanya. Adakah hinaan dan makiannya itu dengan kelahiran bayi prematur ini?. Membayangkan jika hinaan dan makiannya berhubungan dengan kelahiran prematur ini. Membuat Gunawan tidak bisa berkata kata. Itu artinya dirinya secara tidak langsung menjadi penyebab kelahiran prematur ini. Seketika itu juga Gunawan merasa menjadi manusia yang bertanggung jawab atas kematian anak itu.
"Apa yang sekarang kamu rasakan Gunawan. Kamu menyesal?. Bisakah keras kepala kamu itu menghilangkan duka Kita?" tanya tante Tiara tajam kepada Gunawan. Gunawan tidak juga bergeming. Hanya penyesalan yang memenuhi hati pria itu. Tante Tiara kembali menangis bayi laki laki itu.
"Dan kamu Danny. Sebagai pria. Seharusnya kamu bisa berdiri di kaki kamu sendiri. Memakai otak dan perasaan bersamaan. Kalau sudah seperti ini. Bisakah kamu memutar waktu ke masa lalu. Yang ada, kamu hanya bisa menerima dengan penyesalan seumur hidup kamu. Belajar lebih bijak menghadapi hidup Danny," kata Tante Tiara lagi. Sikap diam yang diperlihatkan oleh Tante Tiara selama ini adalah bermaksud membebaskan Danny mengambil keputusan tentang dirinya dengan Nia. Andaikan Danny bersikeras untuk bertanggung jawab atas kehamilan Nia. Tante Tiara tidak akan melarang.
Tapi Danny justru tidak mencari dukungan kepada dirinya. Danny membiarkan dirinya dalam pengaruh Gunawan dan Nenek Rieta. Putranya itu lebih menurut kepada Gunawan dan Nenek Rieta menjadi Nia seperti musuh yang harus dihindari. Daripada meminta restu kepada tante Tiara sebagai ibu kandungnya.
"Anggita, hubungi nenek kamu dan yang lainnya," perintah tante Tiara lagi. Anggita mengusap pipinya terlebih dahulu kemudian menghubungi Evan. Wanita itu juga belum bisa menghilangkan kesedihan itu. Membayangkan Nia menjalani kehidupan yang sulit seperti ini. Anggita mengingat dirinya ketika hamil tanpa suami. Saat itu Anggita mandiri dalam hal materi tidak seperti Nia. Anggita tidak menyangka jika perjalanan hidup Nia lebih sulit dibandingkan perjalanan hidupnya. Anggita bersyukur karena Cahaya lahir tepat waktu dan selamat.
Anggita tidak bisa menahan tangisnya ketika bercerita kepada Evan tentang bayi laki laki itu. Evan terdengar menenangkan Anggita dan mengatakan dirinya yang akan menghubungi nenek Rieta dan yang lainnya. Evan juga meminta Anggita untuk tidak larut dalam kesedihan karena kondisi istrinya itu yang sedang hamil muda.
Kini semua berkumpul di rumah Gunawan. Semua terlihat sedih tidak terkecuali nenek Rieta. Sama seperti Gunawan, wanita tua itu juga merasakan penyesalan yang sangat dalam akan kehilangan bayi laki laki itu. Nenek Rieta menatap sedih bayi laki laki itu yang kini sudah di pangkuannya.
"Maaf, maafkan aku nak."
Tidak seperti Gunawan. Nenek Rieta meminta bayi laki laki itu. Wanita itu mengungkapkan penyesalannya dengan mencium wajah sang bayi.
"Sudah lah mama. Jangan menangis. Jaga kesehatan. Penyesalan dan maaf kita tidak bisa menghidupkan bayi laki laki itu kembali. Kita jadikan kejadian ini sebagai pelajaran di masa depan," kata tante Tiara. Nenek Rieta terlihat terpukul. Di hari tuanya, dia harus mengantarkan salah satu cucunya ke peristirahaan yang terakhir. Sebagai orang tua yang hampir lanjut usia. Nenek Rieta menginginkan dirinya yang terlebih dahulu menghadap Pencipta daripada anak anak atau cucu cucunya.
"Siapa yang membawa bayi ini kemari?" tanya Nenek Rieta lagi. Tante Tiara menceritakan kedatangan Jessi.
"Apa kamu tidak ingin menggendongnya pa?" tanya tante Tiara kepada Gunawan. Wanita itu bisa melihat penyesalan di mata suaminya.
"Aku tidak layak menyentuh bayi laki laki suci ini," kata Gunawan. Kini pria itu sudah mendekat ke Danny dan menatap wajah sang bayi.
__ADS_1