
Evan merasakan hatinya penuh bunga bermekaran. Tapi tidak dengan Anggita. Wanita itu merasa biasa saja setelah mereka resmi berpacaran. Evan bisa melihat itu. Tapi dia tidak perduli. Dia akan berusaha keras membuat Anggita jatuh cinta kepadanya. Dia tidak akan membuang kesempatan ini. Evan berjanji dalam hati jika hubungan mereka akan sampai ke jenjang pernikahan. Pernikahan langgeng sampai maut yang memisahkan. Dan Evan sadar jika hubungan meraka saat ini bukanlah perjuangan akhir melainkan perjuangan tahap pemula untuk meluluhkan hati Anggita.
Perjalanan itu serasa menyenangkan bagi Evan. Berkali kali dia menoleh ke samping hanya melihat wajah pujaan hatinya itu. Sikap tenang yang diperlihatkan oleh Anggita semakin membuat Evan terkagum kagum pada wanita itu.
"Mas, Kita singgah ke swalayan sebentar ya," kata Anggita. Evan semakin mengembangkan senyumnya. Evan merasa jika dirinya semakin berharga.
"Baik sayangku," jawab Evan sambil menoleh kepada Anggita yang masih bersikap tenang.
Pasangan kekasih itu berjalan memasuki swalayan. Evan tidak ragu menggandeng wanita itu. Perlakuan jelas menunjukkan jika dirinya bangga bisa bergandengan tangan dengan Anggita.
"Hanya ini?" tanya Evan setelah melihat troli belanjaan yang hanya sedikit. Anggita menganggukkan kepalanya. Evan mendorong troli belanjaan yang hanya berisi semua kebutuhan putrinya menuju kasir.
"Ini mbak," kata Anggita mengulurkan beberapa lembar uang kertas pecahan seratus ribu. Evan yang sedang merogoh saku celananya hendak mengambil dompet langsung menatap kekasihnya itu. Dia kalah cepat dari Anggita dalam membayar belanjaan itu. Evan akhirnya menarik tangannya dari saku celana tanpa dompet. Bukan tidak ingin membayar belanjaan itu. Tapi kasir sudah memegang uang yang diberikan oleh Anggita dan bahkan kini sedang memberikannya kembalian uang tersebut kepada Anggita.
Satu hal yang dilihat Evan dari berbelanja ini adalah Anggita berbelanja sebutuhnya saja. Tidak langsung membeli banyak barang dan memanfaatkan dirinya untuk membayar.
"Lain kali jangan seperti ini ya Anggita. Jika Kita bersama. Aku yang harus membayar apapun yang kamu beli," kata Evan setelah mereka kembali di dalam mobil.
"Mas, itu kebutuhan Cahaya. Kamu setiap bulan sudah mentransfer uang yang banyak untuk keperluan Cahaya. Uang yang aku gunakan tadi juga uang kamu."
"Tetap saja aku tidak terima. Aku seperti pria yang tidak bertanggung jawab kepada keluarga jika membiarkan kamu membayar seperti tadi."
Anggita tertawa. Evan seolah olah memposisikan dirinya seperti kepala keluarga bagi dirinya dan Cahaya.
"Kenapa tertawa sayang?"
"Aku masih pacar kamu mas. Pacar baru beberapa menit," kata Anggita. Evan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Seiring waktu akan menjadi istriku kembali."
"Kita lihat saja nanti."
Evan hanya tersenyum manis mendengar perkataan Anggita.
"Kita makan dulu sebelum ke rumah ya," kata Evan. Sebenarnya dia belum lapar. Evan berpikir jika mereka langsung ke rumah dia tidak bisa bebas lagi berduaan seperti sekarang ini. Ajakannya itu disambut Anggita dengan anggukan kepala.
Mereka kini berada di sebuah kafe. Mereka duduk bersebelahan menunggu pesanan datang. Keinginan Evan ingin berduaan lebih lama dengan Anggita sepertinya terganggu. Kini pria itu sibuk dengan ponselnya karena Rico terus menghubungi dirinya. Evan tidak bisa mengabaikan panggilan tersebut karena Rico sedang bercerita tentang apa yang dilihatnya sekarang. Rico yang sedang berada di restoran menemani relasi bisnis dari perusahaan Dinata makan siang harus melihat pemandangan dimana Bronson Dan dokter Angga beserta seorang perempuan sedang makan siang di restoran tersebut.
Anggita tidak mengerti akan pembicaraan itu. Baik Evan dan Rico membuat nama samaran untuk dua pria yang sedang dalam incaran mereka untuk dijatuhkan harga dirinya.
__ADS_1
Evan terlihat sangat serius bahkan setelah pesanan datang. Evan memberikan isyarat kepada Anggita untuk makan terlebih dahulu. Awalnya Anggita tidak mau tapi melihat pembicaraan itu terlihat sangat serius akhirnya Anggita makan juga.
Entah karena lapar atau makanan itu yang terlalu enak. Anggita makan sangat lahap. Anggita tidak sengaja menjatuhkan sendok ketika hendak meraih cup minimumnya. Wanita itu spontan membungkukkan badannya untuk mengambil sendok tersebut. Evan juga spontan meletakkan tangannya di siku meja. Pria itu takut kepala Anggita terbentur ke siku meja tersebut ketika menegakkan tubuhnya kembali.
Anggita mengetahui perhatian kecil itu. Dia menatap Evan yang sudah kembali serius berbicara. Perhatian kecil itu membuat Anggita tersenyum.
"Kita pulang?" tanya Evan. Pria itu belum menghabiskan makanannya.
"Makanan itu tidak dihabiskan?" tanya Anggita sambil menatap makanan itu.
"Aku sudah kenyang," jawab Evan. Pria itu berdiri dan menarik tangan Anggita. Evan sengaja merangkul Anggita keluar dari kafe itu. Evan seakan menunjukkan kepada semua pengunjung kafe bahwa Anggita adalah miliknya. Walau dirinya tadi serius berbicara dengan Rico di telepon. Evan bisa melihat tatapan kagum dari pria pria yang Ada di kafe itu kepada Anggita.
"Mas, berhenti di depan ya," kata Anggita. Mereka sudah ada beberapa menit di dalam Mobil sejak keluar dari kafe.
"Untuk apa?.
"Berhenti saja mas."
"Baiklah." Evan menghentikan mobilnya tepat di tempat yang ditunjukkan oleh Anggita.
"Untuk apa Kita berhenti di sini?" tanya Evan lagi.
"Untuk mencukur itu mas. Biar rapi sedikit," jawab Anggita sambil menunjuk rambut Evan. Evan tertawa bahagia. Dia tidak menyangka jika Anggita memperhatikan dirinya dalam hitungan jam mereka berpacaran.
"Ya udah Sana. Nanti Cahaya kelamaan nunggu."
"Aku antar kamu pulang dulu ya. Nanti sore aku cukuran."
Evan bukannya tidak mau cukuran sekarang apalagi ditemani oleh Anggita. Tapi Evan tidak mau melihat hal seperti di kafe tadi. Di barber shop itu pengunjungnya semua laki laki. Evan tidak ingin wanitanya ditatap kagum oleh pengunjung barber shop tersebut yang terlihat ramai.
Kebahagiaan Evan berbanding terbalik dengan yang dirasakan oleh adiknya Danny. Setelah Evan dan Anggita menginjakkan kakinya di rumah Gunawan. Mereka sudah mendengar kemarahan Gunawan. Evan yang tadinya berencana ke kantor kini ikut duduk di ruang tamu.
"Berkali kali aku meminta kamu berhati hati memilih pasangan Danny. Tapi mengapa kamu mengulang kesalahan yang sama. Dan kamu Nia. Apa kesalahan kami kepada kamu sehingga kamu memecah belah antara seorang paman dan keponakannya. Kamu merencanakan pernikahan dengan Rendra tapi kamu hamil dari Danny. Wanita apa kamu hah."
Semua hanya terdiam mendengar kemarahan Gunawan. Tujuan Danny membawa Nia ke rumah ini tentu saja meminta restu dari kedua orang tuanya. Tapi yang didapatkan adalah kemarahan. Tante Tiara juga terlihat tidak suka dengan situasi ini. Tapi wanita itu berusaha menahan lisannya. Tante Tiara hanya menunjukkan rasa suka itu dengan diam dan tatapan tidak suka.
"Danny, aku tidak merestui kamu menikahi wanita licik ini," kata Gunawan marah dan tegai. Jari telunjuknya menunjuk kepala Nia yang sedang tertunduk.
"Tapi pa. Nia sudah hamil anak Danny," kata Evan. Evan berharap Gunawan mengubah keputusan dengan mengetahui Nia saat ini sedang hamil. Situasi saat ini mengingatkan Evan akan situasi dimana dulu Danny meminta restu menikahi Clara. Saat itu semua Anggota keluarga menolak. Tapi setelah mengetahui Clara hamil dan Danny mengakui bahwa dirinya yang pertama bagi Clara akhirnya Gunawan dan Tante Tiara merestui mereka untuk menikah.
__ADS_1
"Kamu juga diam Evan. Apa kamu mendukung orang yang sudah dua kali melemparkan lumpur ke wajah papa kamu ini. Andaikan Nia tidak ada hubungannya dengan Rendra. Mungkin ini tidak masalah. Tapi buka Mata kalian. Wanita ini sudah menghancurkan perasaan Rendra. Jika dia menyesal karena terlanjur setuju menikah dengan Rendra. Dia cukup membatalkan saja. Tidak dengan seperti ini. Jangan jangan dia sudah lama merencanakan ingin masuk ke keluarga Martin hingga rela dinikahi oleh pria tua. Tapi ketika kesempatan ada untuk merayu Danny. Dia memanfaatkan kesempatan itu. Sialnya si bodoh ini tidak berpikir panjang untuk melakukan dosa itu."
Gunawan semakin marah mendengar perkataan Evan yang mendukung Danny dan Nia untuk menikah. Sebenarnya, sejak Rendra memperkenalkan Nia sebagai calon istrinya. Banyak pertanyaan yang timbul di benak Gunawan dan Tante Tiara. Terkadang sebelum tidur. Sepasang suami istri itu membicarakan tentang perbedaaan umur antara Rendra dan Nia. Tapi pembahasan mereka mentok jika kata cinta adalah alasannya.
Dan saat ini, keraguan Gunawan dan tante Tiara terjawab. Nia bersedia menyetujui rencana pernikahan itu bukan karena cinta. Andaikan ada sedikit saja cinta Nia untuk Rendra kejadiannya tidak seperti ini. Gunawan dan tante Tiara semakin yakin jika Nia bersedia menikah dengan Rendra adalah faktor ekonomi.
Nia menangis mendengar tuduhan tuduhan itu. Saat ini dia baru menyadari akibat dari perbuatan nekadnya dulu. Jika waktu bisa diputar dia akan memperbaiki perjalanan yang ternoda tersebut. Sedangkan Danny merasa terpengaruh dengan perkataannya papanya itu. Danny mengingat kilas balik perjalanan itu. Tapi Danny menahan diri untuk tidak mengatakan jika dirinya dijebak oleh Nia.
"Berapa duit yang kamu inginkan. Apa uang yang diberikan oleh Rendra tidak cukup bagi kamu?" tanya Gunawan lagi membuat Nia semakin menangis sesunggukan. Sejak duduk di sofa itu. Nia tidak berani mengangkat kepalanya.
Perkataan Gunawan jelas merendahkan dirinya. Nia merasa sendirian saat ini. Tidak ada yang berusaha membela dirinya termasuk Danny ayah dari janinnya dan juga Anggita sahabatnya itu.
"Papa, Jangan berkata begitu. Kalau kamu tidak merestui mereka. Jangan mengeluarkan kata kata yang membuat kamu berdosa," kata Tante Tiara. Dia memang tidak menyukai cara Nia. Tapi tante Tiara juga tidak ingin Nia semakin tersakiti dengan kata kata pedas dari suaminya.
"Pergi dari rumah ku sekarang juga. Jika Danny menikahi kamu maka dia kehilangan keluarganya," kata Gunawan lagi. Pria itu tidak terpengaruh sedikit pun dengan tangisan Nia.
Anggita hanya bisa menatap kasihan sahabatnya itu. Dalam hati dia juga menyayangkan perbuatan Nia. Perbuatan yang tidak bisa dibenarkan oleh siapapun karena Nia sendiri yang membuat dirinya mendapatkan hinaan seperti ini.
Anggita hendak berdiri menyusul Nia yang sudah meninggalkan ruang tamu itu tapi tangan mama Feli langsung menahan tangan Anggita supaya duduk kembali.
"Pa, bagaimana nasib anak itu nantinya jika papa melarang Danny menikahi Nia," kata Evan pelan. Dia tidak mendukung perbuatan Danny dan Nia yang melakukan hubungan suami istri di luar nikah. Tapi dia tidak ingin Danny menyesal nantinya jika mengabaikan Nia dan janin itu.
"Itu urusan Danny. Dia sudah dewasa. Salahnya sendiri tidak hati hati memilih teman." Gunawan masih menunjukkan kemarahannya walau Nia tidak ada lagi di rumah itu.
"Danny,bagaimana dengan kamu. Apa kamu mencintai Nia?" tanya Evan. Danny menggelengkan kepalanya. Dia tidak ada rasa sama sekali kepada Nia. Dia bersedia menikahi Nia hanya semata Mata sebagai tanggung jawab. Bagaimanapun dia memikirkan nasib janin itu nantinya. Sebab janin itu tidak berdosa sama sekali.
Masalah ini memang benar benar rumit. Semua keluarga dan kerabat bahkan relasi bisnis sudah mengetahui nama calon istri dari Rendra lewat undangan. Entah bagaimana mereka membatalkan ratusan undangan yang sudah tersebar tersebut. Bahkan Gunawan mengetahui jika relasi relasi bisnis dari Rendra dari luar Kota akan tiba nanti sore di Kota ini. Pria itu terlihat beberapa mengusap wajahnya kasar dan menatap Danny dengan tajam.
"Aku memang belum atau tidak mencintai Nia. Aku bertanggung jawab karena tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, sama seperti kesalahan kamu kepada Anggita dulu."
Danny mengatakan yang sebenarnya. Dia jelas melihat bagaimana Evan menderita setelah menyadari kesalahannya. Danny tidak ingin hal itu terjadi pada dirinya. Selain itu Danny sangat yakin jika janin itu adalah benihnya. Dan Danny tidak ingin janinnya itu merasakan penderitaan karena dosa ibunya. Pemikiran itu ketika pertama kali dirinya mengetahui Nia Hamil tapi setelah melihat dan mendengar perkataan dan dugaan Gunawan. Danny berubah pikiran. Niatnya hambar untuk menikahi Nia.
"Sekarang, kamu tentukan. Apa kamu jadi menikahi Nia atau tidak.
Tidak seperti perkataannya yang tadi pagi. Kini Danny terlihat ragu. Danny bingung. Bingung memilih orang tua atau memilih Nia.
"Aku sudah melakukan kesalahan berkali Kali. Membuat mama Dan papa malu. Saat ini aku menurut apa saja yang menjadi keinginan papa dan mama."
"Pa, ma. Maafkan aku," kata Danny tulus. Dia menundukkan kepalanya karena menyadari semua kesalahan yang jelas membuat papa dan mamanya malu.
__ADS_1
"Minta maaf memang mudah bagi kamu Danny. Kamu tidak mengetahui bagaimana hancurnya hati kami melihat kamu melaksanakan kesalahan yang sama sampai dua kali. Lihatlah dirimu. Karena cinta kamu kehilangan segalanya," kata Tante Tiara pelan. Wanita itu menatap Danny sendu. Tatapan matanya seakan menggambarkan hatinya yang terluka karena perbuatan dirinya.
Wanita mana yang tidak hancur hatinya melihat putranya melakukan dua kali kesalahan yang sama.