
"Bagaimana aku harus membuktikannya pak. Memberikan diriku sekarang juga kepada bapak?" tantang Salsa berani dan tidak mau kalah. Rendra mengusap rambutnya melihat keberanian Salsa. Dia tidak menyangka jika perkataannya membuat dirinya terjebak. Dia berpikir Salsa menyerah. Tapi yang terjadi, Salsa memberikan pertanyaan yang sulit dia jawab. Salsa menatap Rendra dengan berani. Sedangkan Rendra harus mengusap kepalanya dari depan ke belakang. Pria itu sulit menjawab pertanyaan Salsa.
Sebenarnya bisa saja Rendra menguji Salsa dan menjawab iya. Tapi karena melihat keberanian Salsa. Rendra tidak ingin terperangkap dengan dosa besar jika Salsa juga bersedia memberikan dirinya saat ini. Selain itu, Rendra juga tidak ingin jatuh ke dalam kebohongan. Bisa saja jika dirinya mengatakan Iya dan Salsa bersedia tapi kenyataannya wanita itu sudah tidak suci lagi.
Tapi untuk berkata tidak juga adalah hal sulit. Dia yang membuat pertanyaan tapi dirinya sulit untuk membuktikan.
"Menurut kamu. Bagaimana kamu bisa membuktikan jika dirimu masih suci tanpa kita berbuat dosa," jawab Rendra tenang. Matanya menatap Salsa penuh selidik. Dia tidak mengetahui jika Salsa sangat terluka dengan perkataannya. Wanita itu sebenarnya tersinggung tapi dirinya memaklumi pertanyaan itu. Dia sadar sikapnya yang berlebihan untuk mendapatkan Rendra.
Salsa berusaha mengusai dirinya supaya tidak menunjukkan kemarahannya. Bagaimanapun dia sadar bahwa pria tua yang berdiri di hadapannya adalah pimpinannya di kantor. Salsa tidak ingin hanya karena perasaannya yang tidak bersambut berpengaruh buruk kepada karirnya.
"Baiklah pak. Jika bapak butuh pembuktian. Aku tidak dapat melakukan hal apapun. Aku tidak akan memaksakan perasaanku dibalas. Benar kata bapak. Lebih baik menikahi janda daripada gadis yang belum tentu masih suci. Aku berharap hubungan bapak dan ibu Anna bisa lebih dekat lagi dan berakhir di pelaminan," kata Salsa akhirnya. Dia tidak akan menjatuhkan harga dirinya lagi di hadapan pria itu. Cukup hari ini dan hari yang lalu dia bertingkah konyol dan bahkan terkesan murahan demi pria yang sudah dia kagumi sejak lama. Mengikhlaskan pria itu adalah jalan satu satunya supaya dirinya lebih bisa menahan diri.
"Itu artinya, kamu tidak suci lagi," kata Rendra menebak asal yang membuat Salsa semakin terluka. Salsa menundukkan kepalanya dengan mata yang sudah memanas. Perkataan Rendra benar benar membuat dirinya seperti wanita yang tidak berharga. Rendra menebak tanpa bukti dan dengan lantang menuduh dirinya tidak suci lagi. Mendengar tebakan Rendra. Salsa merasakan dirinya seperti terlepas dari raganya. Perkataan itu adalah perkataan paling menyakitkan yang pernah ditujukan kepada dirinya.
"Anggap saja seperti itu Pak," kata Salsa dengan suara yang serak. Tidak membantah dan tidak membenarkan. Karena baginya, tidak ada gunanya mengatakan yang sebenarnya. Jika pun dirinya mengatakan masih suci. Rendra akan percaya dengan bukti. Salsa berusaha keras supaya air mata yang sudah tergenang itu tidak tumpah.
"Terima kasih atas kejujuran kamu Salsa."
__ADS_1
Salsa hanya menganggukkan kepalanya. Untuk mengucapkan satu kata saja, dirinya tidak mampu. Setiap kata kata yang keluar dari mulut Rendra seperti sayatan pisau di hatinya. Melihat Rendra percaya begitu saja dengan mengiyakan tebakan dari dirinya membuat Salsa merasa orang yang tidak punya harga diri yang dinilai rendah oleh Rendra.
"Kita sudah bisa keluar sekarang?" tanya Rendra. Pria itu tidak bisa melihat perubahan wajah Salsa. Jarum jam sudah menunjukkan waktunya makan siang.
"Bolehkah makan siangnya dibatalkan saja pak?.
"Kenapa?" tanya Rendra heran. Salsa yang menginginkan makan siang ini dan dia juga yang membatalkan. Rendra sudah memesan meja untuk mereka siang ini.
"Tiba tiba perutku kram pak," jawab Salsa. Rendra memperhatikan Salsa dari ujung rambut ke ujung kaki. Salsa yang terlihat meringis dengan mata yang hampir menangis membuat Rendra percaya jika wanita itu sedang sakit perut.
"Ayo, aku bawa kamu ke rumah sakit terdekat."
"Baiklah Salsa. Kamu bisa mengatur ulang jadwal makan siangnya. Kapanpun kamu mau. Aku akan siap meluangkan waktu sebagai ucapan terima kasih atas bantuan dan kebaikan kamu."
Lagi lagi Salsa hanya menganggukkan kepalanya. Setelah mengucapkan hal itu. Rendra pamit pulang.
Salsa menatap kepergian pria yang sangat dia kagumi itu. Sejak pertama bekerja di perusahaan milik Rendra. Salsa mengagumi Rendra. Rendra yang berwibawa dan memperlakukan dirinya dengan baik membuat Salsa menghormati Rendra tidak sekedar hanya karena pimpinan. Sebagai sekretaris dan sudah mempunyai pengalaman bekerja di perusahaan lain sebelum bekerja di perusahaan milik Rendra. Salsa bisa melihat bagaimana sikap pimpinan bahkan pemilik perusahaan terhadap sekretarisnya. Terkadang sekretaris bukan hanya mengurus tentang pekerjaan sang bos tapi juga mengurus hal pribadi sang atasan terutama urusan bagian bawah perut.
__ADS_1
Salsa merasakan hal berbeda di perusahaan milik Rendra. Sebagai pimpinan Rendra sangat menghargai dirinya. Salsa benar benar hanya mengurus tentang pekerjaan Rendra. Penghargaan atas kinerjanya tidak hanya berupa gaji dan bonus yang besar. Tapi terkadang Rendra mengingatkan dirinya supaya tidak lupa makan dan beristirahat. Satu perhatian yang tidak pernah dirasakan oleh Salsa dari seorang ayah.
Ternyata perhatian perhatian kecil yang diberikan Rendra kepada para karyawannya termasuk Salsa membuat perasaan asing tumbuh di hati gadis itu. Salsa berusaha menekan perasaan itu kala mengetahui jika Rendra sangat mencintai istrinya yang kala itu adalah mama Anita. Salsa tidak mau jadi pelakor meskipun perasaan di hatinya Makin bertumbuh dengan subur. Salsa merasa mendapatkan peluang setelah mengetahui perceraian Rendra dan mama Anita. Dia berusaha mencari perhatian kepada Rendra tapi tidak membuahkan hasil.
Salsa kembali menekan perasaannya kala mengerti pernikahan Rendra dengan Nia. Saat itu dirinya merasa jika Rendra memang bukan jodohnya. Lagi lagi Salsa merasa mendapatkan peluang mengetahui kegagalan pernikahan itu.
Salsa memberanikan diri menggoda Rendra tapi tidak berhasil. Hatinya kembali tersisih jika Rendra ternyata mendekati salah satu rekan kerjanya yaitu ibu Anna.
Salsa merasa bahwa cinta tidak berpihak kepadanya. Dia yang mengharapkan Rendra tapi Rendra mengejar ibu Anna. Seperti yang dia tahu, ibu Anna sama sekali tidak memberikan harapan kepada Rendra setelah mendapatkan teror dari mama Anita.
Salsa tidak menyerah. Dia ingin perasaannya mendapatkan balasan. Tapi kenyataannya yang didapatkan adalah keraguan akan kesucian dirinya. Salsa tentu saja merasa dirinya tidak dihargai dalam hal ini. Salsa menyerah. Terkadang Salsa merasa dirinya adalah wanita yang paling bodoh di dunia. Dengan wajah cantik dengan tubuh yang ideal, Salsa bisa mendapatkan kekasih yang jauh lebih muda atau tampan dari Rendra. Tapi yang namanya Cinta. Sosok Rendra adalah sosok sempurna bagi Salsa yang akan menjadi pendampingnya di hari hari yang akan datang.
Tapi apa yang terjadi siang ini. Semua angan dan harapan Salsa terhempas ke jurang yang sangat dalam. Usahanya untuk meraih hati Rendra tidak berhasil. Semua perkataan perkataan Rendra siang ini dianggap sebagai penolakan oleh Salsa.
Apa yang dirasakan Salsa berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh Anggita. Jika saat ini Salsa merasa cinta tidak berpihak kepadanya. Anggita justru merasakan cinta sudah berpihak kepadanya. Anggita dapat merasakan cinta Evan benar benar tulus kepada dirinya. Sikap Evan benar benar menghargai Anggita.
"Sayang, apa kamu sudah merasakan ada cinta terhadapku?" tanya Evan. Sepasang suami istri itu kini sedang duduk di sofa dengan Anggita yang kini berbaring dengan paha suaminya sebagai bantal.
__ADS_1
"Seharusnya kamu tidak bertanya tentang cinta mas. Tapi coba rasakan apa yang aku lakukan kepada kamu dengan cinta. Apapun yang aku lakukan terhadap kamu dan keluarga Kita. Coba menilainya dengan cinta. Termasuk dengan apa yang aku lakukan saat ini," jawab Anggita.
Di pernikahan kedua ini, Anggita memang merasa nyaman dengan apa yang dilakukan oleh Evan kepada dirinya. Anggita tidak ingin terburu buru menamakan rasa aman sebagai cinta. Bagi Anggita, Biarlah kata cinta untuk sang suami belum pernah terucap dari bibirnya tapi setiap tindakannya menggambarkan cinta seorang wanita untuk keluarganya.