Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 126


__ADS_3

Salsa melaksanakan tugasnya dengan baik. Atas kesepakatan bersama. Nia tidak diundang di pernikahan Rendra. Semua keluarga tidak menginginkan kedatangan Nia di pesta tersebut. Jika nenek Rieta, Gunawan, Danny dan Rendra tidak menginginkan kedatangannya Nia karena takut Nia membuat hal hal yang tidak diinginkan. Lain hal dengan Anggita dan Evan. Suami istri itu tidak menginginkan kedatangan Nia karena memikirkan perasaan Nia sendiri. Nia memang tidak mengharapkan Rendra kembali


kepadanya. Tapi untuk Danny. Bagaimanapun wanita itu pasti ingin yang terbaik untuk janinnya.


Hampir lima Hari. Salsa dan Danny sibuk bersama mempersiapkan pernikahan itu. Waktu yang tergolong singkat, membuat Danny dan Salsa bekerja ekstra untuk persiapan pernikahan itu. Salsa benar benar menunjukkan jika dirinya bisa diandalkan dalam semua hal. Terbiasa berbicara dengan relasi bisnis perusahaan membuat Salsa cepat bernegoisasi dengan pihak pihak yang berkaitan dengan persiapan pernikahan itu. Bisa dikatakan jika Rendra dan Anna hanya menggambarkan keinginan mereka akan pernikahan itu dan Salsa yang mencari pihak pihak yang berkompeten membuat keinginan Rendra dan Anna merasa puas akan konsep pernikahan mereka. Salsa memang benar benar mengesampingkan perasaannya demi kesuksesan pernikahan Rendra. Salsa memposisikan dirinya sebagai pekerja yang dibayar bukan wanita yang tersakiti ditinggal menikah.


Dan Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi Rendra dan Anna. Hari yang mereka tunggu akhirnya tiba juga. Tepat di jam sebelas mereka sudah resmi suami istri. Semua berjalan lancar karena ternyata tanpa hambatan. Danny menempatkan beberapa pengawal di luar gedung mengantipasi pihak pihak yang menginginkan Pernikahan itu batal. Mantan suami Anna menjadi dafta pertama orang yang tidak diperbolehkan masuk. Sedangkan mama Anita tidak masuk dalan daftar itu karena tidak mungkin bisa keluar dari penjara hanya mengacaukan pernikahan Rendra.


Pernikahan mantan duda dan mantan janda itu dihadiri oleh keluarga masing masing dengan busana yang hampir senada. Busana untuk keluarga dari pihak perempuan berwarna nuansa peach dan dari pihak keluarga Rendra berwarna Salem. Pihak keluarga perempuan terlihat sangat berbahagia. Mereka tidak menyangka setelah dicampakkan mantan suami Anna. Wanita itu, bisa mendapatkan pria yang sangat jauh dari sang mantan. Hanya dari segi umur, mantan suami Anna unggul sedangkan yang lainnya. Rendra sangat jauh di atas sang mantan.


Sedangkan keluarga dari pihak laki laki juga tidak kalah bahagia. Anna memang wanita dari masyarakat biasa tapi hal itu tidak mengurangi kebahagiaan keluarga besar kakek Martin. Bagi mereka kebahagiaan Rendra yang terpenting.


Alunan musik dan suara yang merdu dari penyanyi membuat suasana pesta itu semakin meriah. Dekorasi dan warna warna warna yang indah membuat pesta itu terlihat mewah. Berbagai macam makanan yang tersaji sudah bisa dipastikan sangat enak.


Tidak ada yang dapat menggambarkan rasa bahagia dalam diri Rendra. Berkali Kali dia menatap wanita pujaannya dengan tersenyum dan dibalas Anna dengan tersenyum juga. Sepanjang hari itu. Rendra selalu memamerkan senyum bahagia. Setelah kegagalan menikah dengan Nia. Akhirnya hari ini pernikahannya terjadi juga. Rasa lelah karena berdiri menyambut tamu teralihkan dengan mimpi malam panjang yang akan dilalui nanti malam.


"Apa Salsa tidak datang?" tanya Rendra kepada Danny yang baru saja mengatakan jika rangkaian acara resepsi pernikahan itu akan segera berakhir. Dari tadi, dirinya menyadari jika Salsa tidak ada di tempat itu.


"Sepertinya tidak om," jawab Danny. Dari tadi dia juga berusaha mencari keberadaan Salsa di pesta itu. Tapi hasilnya nihil. Danny sudah dari tadi pagi berniat menghubungi wanita itu tapi ada ada saja yang menghalangi.


"Kemana anak itu. Mengapa tidak datang?" tanya Anna juga. Dari tadi dia juga mencari keberadaan Salsa. Anna ingin berterima kasih atas kinerja wanita itu yang mempersiapkan pesta pernikahan. Bisa dikatakan jika rangkaian acara, dekorasi, hiburan dan catering sangat sesuai dengan seperti keinginan Rendra dan Anna. Salsa benar benai bisa menemukan pihak pihak yang membuat acara resepsi itu sangat sesuai dengan keinginan sang kedua mempelai.


Sepasang suami istri itu dan Danny sibuk membicarakan tentang Salsa sehingga mereka tidak menyadari bahwa ada seseorang yang berdiri di diantara mereka hendak mengucapkan selamat berbahagia kepada Rendra dan Anna.


"Hemmm."


Tiga manusia itu menoleh ke arah sumber suara. Danny yang membelakangi sumber suara juga membalikkan badannya. Rendra dan Danny terkejut melihat orang itu. Tamu undangan yang tidak diharapkan datang dan tidak ada dalam daftar undangan. Kini berdiri di hadapan mereka dengan sebuah kado di tangannya.


Rendra akhirnya tersenyum melihat wanita yang batal menjadi istrinya itu. Nia. Wanita itu adalah Nia. Mengingat mereka sudah berbaikan dan berdamai. Rendra menyambut uluran tangan Nia yang mengucapkan doa doa indah bagi pernikahannya dengan Anna. Rendra bisa melihat jika Nia mengucapkan kata selamat berbahagia dengan tulus.


"Terima kasih Nia," kata Rendra. Rendra tidak bertanya bagaimana wanita itu mendapatkan kartu undangan. Bagi Rendra yang terpenting adalah Nia tidak membuat malu di menit menit terakhir resepsi pernikahan itu.


"Sama sama Pak," jawab Nia. Kemudian Nia mengulurkan tangannya ke Anna dan tidak lupa dengan senyuman manis.


"Terima kasih."


"Sama sama ibu," kata Nia kemudian mengulurkan tangannya memberikan kado kepada Anna. Anna menerima kado tersebut dan kembali mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


Danny berdiri mematung memperhatikan Nia dan suami istri itu. Dia tidak menyangka jika Nia berani menampakan diri di hadapan keluarganya. Nia tidak diundang, seharusnya wanita itu sadar bahwa dirinya tidak diharapkan datang di pesta ini.


Dan selain itu, Sebenarnya yang menjadi perhatian Danny adalah penampilan Nia yang sudah mulai terlihat gemuk. Usia kandungnya sudah menginjakkan Lima bulan membuat perutnya sudah mulai menonjol. Kehamilan itu tidak bisa ditutupi lagi walau memakai pakaian longgar seperti yang dikenakan oleh Nia saat ini.


"Kak Danny, apa kabar?" tanya Nia. Setelah selesai bersalaman dengan Rendra dan Anna. Tubuh jangkung milik Danny menjulang di hadapannya. Melewati pria itu rasanya tidak sopan sehingga Nia memutuskan untuk menyapa ayah dari janin yang dia kandung. Dan lagi, Nia ingin menunjukkan jika dirinya baik baik saja tanpa pertanggungjawaban pria itu dan keluarganya.


"Ka.. kabar baik," jawab Danny gugup. Nia tersenyum tulus dan tidak bermaksud mengejek kegugupan pria itu.


"Syukurlah kalau kabar baik," kata Nia sambil tersenyum. Nia berkata sangat tenang sekali seakan diantara mereka berdua tidak ada dan tidak pernah ada masalah.


Nia melangkah pergi setelah berbasa basi dengan Rendra. Di belakangnya, tiga orang itu hanya melihat tubuh Nia yang semakin menjauh.


"Nia."


Nia menghentikan langkahnya mendengar namanya dipanggil. Dia mengenali suara itu. Nia hendak berlalu dari tempat itu tanpa menghiraukan panggilan itu tapi Pemilik suara yang memanggil Nia terlihat semakin mempercepat melangkah ke arah Nia. Nia akhirnya tidak tega jika tidak menunggu orang itu.


"Seharusnya kamu berpura pura tidak melihat aku Gita," kata Nia sambil menggerakkan tangannya mencubit pelan pipi Cahaya yang Ada di tangan Anggita. Dua sahabat itu saling melemparkan senyum. Mereka sudah lumayan lama tidak bertemu. Tapi sepertinya tempat ini bukan tempat yang tepat bagi mereka melepas rindu walau hanya berbincang bincang sebentar.


"Kamu dapat undangan juga?" tanya Anggita dengan nada suara yang tidak biasanya. Anggita jelas mengetahui jika Nia tidak diundang karena alasan kesalahan Nia. Nia tidak menjawab. Wanita itu justru mengedarkan pandangannya. Dia berharap Gunawan atau nenek Rieta tidak melihatnya.. Sejak datang, Nia berusaha bersembunyi dari dua orang itu dan berniat hanya menampakan wajahnya di hadapan Rendra dan istrinya.


Tapi apa yang terjadi saat ini. Tidak jauh dari mereka. Gunawan sudah melihat dirinya bahkan menatap dirinya dengan tajam. Tidak hanya itu. Gunawan sudah terlihat beranjak dari duduknya dan seperti akan mendatangi Nia. Sorot matanya bukan seperti sorot mata yang sedang berbahagia tapi sorot mata itu menunjukkan kemarahan.


"Apa yang kamu lakukan di sini. Mencari simpati?. Sampai kapanpun kamu tidak akan mendapatkan simpati dari keluarga besar kami. Selamanya kamu adalah pembohong. Dan Danny tidak akan pernah menikahi kami?" kata Gunawan marah sambil memperhatikan Nia dengan sinis. Sudah jelas di tubuh Nia ada generasinya tapi Gunawan sepertinya tidak perduli.


Sepertinya hati Gunawan masih tertutup kebencian dan tidak bisa melupakan perbuatan Nia di masa lalu.


"Tidak Pak. Aku tidak mencari simpati pak. Kedatangan aku murni untuk mengucapkan selamat kepada pak Rendra dan istrinya."


Nia berkata tenang walau hatinya terasa sakit. Berhadapan dengan Gunawan bukan perkara mudah bagi Nia. Bisa dikatakan Gunawan adalah sosok yang paling tidak menginginkan Danny bertanggung jawab atas kehamilannya. Gunawan hanya melihat sepihak. Nia yang bersalah dan membiarkan wanita itu menanggung sendiri dari kesalahannya.


Pembohong kamu. Kalau tidak mencari simpati,.lalu apa?." Kamu Kira dengan kedatangan kamu. Kami akan luluh dan Danny akan menikah kamu. Jangan harap Nia."


Gunawan tidak hanya berkata kasar. Pria itu bahkan menunjuk wajah Nia.


"Maaf Pak. Tidak ada niat selain mengucapkan selamat."


"Dasar wanita licik. Kamu jelas tidak diundang di pesta ini, jadi mengapa kamu harus repot datang ke mari kalau tidak ada tujuan tertentu."

__ADS_1


"Aku memang bukan tamu tanpa undangan Pak. Tapi Aku punya kartu undangannya."


Nia menunjukkan kartu undangan yang bertuliskan nama seorang laki laki.


"Aku pasangan dari nama yang dituliskan di kartu undangan ini Pak. Aku memang bersalah besar kepada keluarga kalian. Tapi antara aku dan Pak Rendra sudah berdamai. Dan tentang kak Danny. Aku tidak mengharapkan apapun lagi dari dirinya. Tolong jangan pernah berpikiran bahwa aku akan selalu mengharapkan tanggung jawab kak Danny. Urusan aku dengan kalian sudah aku anggap sudah selesai. Tidak Ada lagi urusan pak. Apapun itu tidak ada lagi." kata Nia.


Bukannya percaya. Gunawan bahkan tertawa sinis. Meraih kartu undangan itu dari tangan Nia dengan kasar.


"Eh, dasar wanita murahan. Hamil dengan siapa, ke pesta bergandengan dengan siapa. Aku bersyukur karena menolak kamu menjadi menantuku," ejek Gunawan lagi.


"Papa," kata Anggita. Dia protes dengan perkataan papa mertuanya yang masih mengeluarkan kata kata kepada Nia yang tidak enak didengar. Anggita menyentuh lengan Nia supaya sahabatnya itu cepat berlalu dari tempat itu.


Gunawan tidak menghiraukan Anggita. Pria itu masih saja mengeluarkan kata kata pedas. Pria itu bahkan tidak memberikan kesempatan kepada Nia untuk pamit. Situasi itu bertambah runyam setelah nenek Rieta muncul di tempat itu.


"Mengapa dia ada disini. Apa kamu yang mengundangnya Anggita?" tanya Nenek Rieta tajam.


"Bukan Anggita yang mengundang aku nek. Tapi aku yang berkeinginan datang ke pesta ini untuk mengucapkan selamat berbahagia kepada pak Rendra," kata Nia cepat Dalam situasi tersakiti, Nia mengatakan yang sebenarnya karena tidak ingin Anggita mendapatkan masalah nantinya.


"Jangan panggil aku nenek. Aku bukan nenek kamu meskipun anak yang kamu kandung itu adalah benih dari cucuku," kata Nenek Rieta sinis.


"Berhenti berusaha untuk mendapatkan apa yang kamu mau Nia. Kami tidak akan pernah merestui kamu. Jika kamu berpikir kedatangan kamu hari ini. Bisa mengubah keputusan kami. Kamu salah besar," kata nenek Rieta. Wanita tua itu berpikir jika Nia sengaja datang untuk menunjukkan kehamilannya.


"Baik nyonya."


Dari pelaminan, Rendra dan Anna bisa melihat Nia dikelilingi keluarganya. Tapi tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan di sana. Dia sudah menduga jika Gunawan dan Nenek Rieta akan menyakiti Nia tapi tidak bisa berbuat apa apa. Tamu tamu masih ada yang berdatangan mengucapkan selamat kepada mereka. Sedangkan Danny, tidak terlihat lagi di ruangan itu. Ketika Rendra melihat Tante Tiara. Rendra memberikan kode supaya kakak iparnya itu menghampiri Nia.


"Ada apa ini mama?" tanya tante Tiara. Dia muncul di tempat itu nenek Rieta masih memberikan ceramah kepada Nia. Sedangkan Nia terlihat tidak nyaman dengan ceramah menyakitkan itu.


Tante Tiara memperhatikan Nia dari ujung kaki hingga ujung rambut. Wanita itu merasa senang dalam hati karena melihat perkembangan kehamilan Nia yang sepertinya berkembang dengan baik. Tapi wanita itu tidak menunjukkan kesenangan di hadapan suami dan mama mertuanya. Wanita itu justru memastikan jika pembicaraan itu tidak terdengar ke tamu tamu yang agak jauh dari mereka. Tante Tiara merasa lega.


"Entah siapa yang mengundang dia ke pesta ini," gerutu nenek Rieta.


"Tidak penting siapapun yang mengundang dia ke pesta ini ma. Yang penting niat Nia baik. Lihat sekitar ma. Jangan sampai mereka mendengar mama marah marah," kata Tante Tiara. Gunawan terlihat tidak senang dengan perkataan istrinya. Sedangkan Nenek Rieta menatap Tante Tiara dengan tajam. Anggita menarik nafas lega akan kedatangan mama mertuanya itu.


"Nia, apa kabar?" tanya Tante Tiara. Merasa malas berlama lama di tempat itu. Gunawan dan Nenek Rieta berlalu meninggalkan tempat itu.


"Baik nyonya," jawab Nia.

__ADS_1


"Pergilah Nia. Apapun yang kamu dengar dari suami dan mertuaku. Jangan sampai mempengaruhi kesehatan kamu," kata Tante Tiara. Nia membalikkan badannya dan pergi.


__ADS_2