
Anggita masih meringis kesakitan sambil memegang perutnya. Obat yang sudah disuntikkan dokter satu jam yang lalu seakan tidak berarti bagi tubuhnya. Rasa sakit itu tidak hanya di perutnya. Anggita juga merasakan sakit di bagian pinggang hingga bokong. Rasa sakit bercampur rasa panas itu seakan enggan keluar dari tubuhnya. Anggita terus merintih. Sesekali dirinya menarik nafas kemudian menghembuskan kembali tapi hal itu tidak membantu rasa sakit itu hilang dari tubuhnya.
"Dokter, tolong periksa lagi istriku," kata Evan gelisah. Melihat Anggita yang kesakitan, ada rasa takut di hatinya kehilangan sang janin. Tidak hanya ketakutan akan janinnya. Evan juga sebenarnya merasa kasihan kepada Anggita yang terus merintih kesakitan. Tapi rasa kesal karena kejadian ini karena perbuatan Anggita membuat Evan juga marah dalam hati. Dia berpikir jika tindakan Anggita terlalu berlebihan menghadapi orang yang sedang sakit seperti Adelia.
Dokter kembali memeriksa Anggita. Di belakang sang dokter. Evan meletakkan satu satu tangannya di mulutnya karena tidak sabar ingin mendengar penjelasan Dokter. Dokter juga mengajukan beberapa pertanyaan untuk Anggita tapi wanita itu hanya menjawab sakit.
"Dokter, tolong keluarkan dia dari perut aku. Aku ihklas jika mengandungnya hanya satu bulan. Sungguh aku tidak bisa menahan rasa sakit ini. Sangat sakit sekali," kata Anggita pasrah. Dia tidak perduli jika perkataannya itu akan salah diartikan oleh Evan. Baginya, saat ini hanya ingin terlepas dari rasa sakit terutama rasa sakit hatinya.
Bersamaaan dengan itu ponsel Evan berdering. Pria itu menjauh ke sudut ruangan untuk menjawab panggilan itu. Setelah Evan menyebut nama lawan bicaranya yang ternyata adalah Adelia. Anggita merapatkan giginya bukan karena cemburu tapi karena marah atas perbuatan Adelia hari ini kepada dirinya. Rasa sakit ini adalah perbuatan Adelia. Tapi wanita itu seakan tidak bersalah dan tidak tahu malu menghubungi Evan yang sudah jelas bersama Anggita saat ini. Wanita itu seakan tidak memberikan waktu kepada Evan untuk menemani Anggita walaupun dalam keadaan sakit seperti ini.
Anggita meremas ujung selimut menutupi rasa marah di hatinya. Kejadian ini membuat Anggita paham bahwa Adelia adalah wanita yang sangat berharga bagi suaminya. Jika Evan punya rasa simpati saja kepadanya pasti akan selalu setia di sisinya dalam situasi seperti ini apalagi menyangkut keselamatan janinnya. Tapi Hari ini. Anggita dapat melihat jika Adelia adalah prioritas pertama bagi Evan. Sedangkan dirinya, jangankan menjadi prioritas. Kehadiran dan janinnya seakan tidak diharapkan.
"Sabar bu, Kita tunggu beberapa saat lagi ya. Jika ternyata obatnya tidak bereaksi Dan janin ini tidak bisa diselamatkan maka Kita akan melakukan yang terbaik untuk ibu," kata dokter berusaha menenangkan Anggita.
"Tapi aku tidak sanggup lagi,dokter. Tolong aku dokter. Bagaimana kalau janin ini tidak bisa diselamatkan tetapi mengancam nyawa aku?" kata Anggita sambil terus meringis. Anggita memasang kupingnya bagus bagus untuk mendengarkan pembicaraan suaminya.
Dokter itu menatap Anggita sebentar. Sebagai tenaga medis, sang dokter sudah melakukan yang terbaik untuk pasiennya. Tapi jika demi mempertahankan sang janin membahayakan jiwa seorang ibu. Dokter pasti memilih keselamatan sang ibu.
"Kalau itu keinginan ibu. Maka untuk melaksanakan keinginan ibu, harus ada persetujuan dari suami anda," kata dokter pasrah. Dia tidak ingin memaksa Anggita untuk menahan rasa sakit itu terlalu lama.
"Persetujuan apa?" tanya Evan yang sudah berdiri dekat dengan dokter. Dia baru saja menyelesaikan pembicaraan dengan Adelia dan membujuk wanita itu. Anggita bisa mendengar jika Evan berkata akan secepatnya ke ruangan Adelia. Padahal dalam satu jam ini, entah berapa Kali Evan harus bolak balik ke kamar Adelia dan kamar Anggita.
Rasa sakit bercampur rasa kesal menyatu di dalam diri Anggita. Jika mengikuti rasa marahnya, Anggita sebenarnya ingin menyuruh pria itu untuk ke ruangan Adelia sekarang juga. Melihat Evan di ruangan itu hanya mengotori pemandangannya saja dan juga menambah sakit hatinya.
Wanita Mana yang tidak sakit hati melihat suaminya memberikan perhatian dan bersikap lembut kepada wanita lain sementara dirinya juga butuh perhatian dan dukungan.
"Ibu Anggita tidak dapat menahan rasa sakit itu Pak. Ibu Anggita ingin menggugurkan janinnya?"
"Menggugurkan?" tanya Evan bingung karena tidak percaya dengan pendengarannya. Dia menatap wajah Anggita untuk memastikan pendengarannya. Raut wajahnya jelas berubah karena tidak percaya atau marah mendengar perkataan itu. Anggita tidak perduli dengan perubahan wajah itu. Dia hanya ingin keinginannya terpenuhi.
"Iya mas, Sakit sekali. Bahkan aku bisa merasakan darah sudah keluar dari tubuh aku," kata Anggita sambil menahan rasa sakit dengan menggigit bibirnya. Evan menyingkapkan selimut yang dipakai oleh Anggita. Dan benar saja, ketika Evan membuka kedua kaki Anggita. Dia bisa melihat Ada bercak darah di celana bagian pangkal paha. Celana Anggita yang berwarna krem membuat darah itu sangat jelas terlihat.
__ADS_1
"Tolong dokter, tolong lakukan sesuatu supaya janin itu tetap bertahan," kata Evan sambil menutupi tubuh Anggita dengan selimut. Jelas terlihat jika dirinya tidak ingin kehilangan sang janin.
Di tengah rasa sakitnya, Anggita menilai jika Evan hanya menginginkan janinnya bertahan tanpa mempertimbangkan kesehatan dirinya. Sikap Evan saat ini semakin membuat Anggita merasa tidak berarti di mata suaminya. Anggita kini merasakan bukan hanya perutnya yang sakit tapi juga dengan hatinya yang semakin terluka. Luka yang semakin dalam setiap hatinya karena sikap Evan..
"Sakit mas. Tolong jangan membuat aku lama menahan rasa sakit ini," kata Anggita mengiba. Dia bahkan menyentuh tangan suaminya supaya pria itu mengerti rasa sakit yang dia derita sekarang.
"Bertahanlah. Obat akan menghilangkan rasa sakit itu," kata Evan datar. Dia bahkan tidak membalas sentuhan Anggita di tangannya itu. Evan jelas menunjukkan bahwa dirinya adalah suami yang kurang pengertian akan penderitaan istrinya itu. Dokter dan perawat bisa melihat interaksi suami istri yang tidak harmonis itu.
Anggita terdiam. Evan tidak mengkhawatirkan dirinya sama sekali. Sangat berbeda dengan sikap Evan terhadap Adelia yang begitu mengkhawatirkan wanita itu. Anggita menatap mata suaminya sebentar kemudian memalingkan wajahnya. Jika boleh jujur, sebagai seorang wanita dia juga ingin mendapatkan perhatian dan dukungan di saat seperti ini.
"Lakukan tugas kalian dokter. Aku akan memberikan hadiah kepada kalian jika bisa menyelamatkan janin itu."
Di sela rasa sakitnya, Anggita tersenyum kecut mendengar perkataan Evan. Evan akan memberikan hadiah kepada dokter jika berhasil menyelamatkan janinnya. Sedangkan dirinya yang menjadi tempat bertumbuh janin itu, jangankan hadiah. Dihargai sebagai istri juga tidak pernah.
"Baiklah Pak, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Bisa kah bapak keluar?" kata sang dokter.
Evan menatap Anggita sebentar kemudian menganggukkan kepalanya. Dengan berat hati pria itu akhirnya keluar dan mempercayakan kesehatan Anggita dan janinnya kepada dokter dan perawat.
"Bagaimana keadaan Anggita?" tanya Nenek Rieta dan Tante Tiara hampir bersamaaan. Sedangkan mama Anita mendekat ke Evan dan memeluk putranya itu. Sedangkan Rendra langsung duduk di lantai. Pria itu pesimis akan menjadi seorang kakek setelah mendengar penjelasan Evan mulai dari tujuannya membawa Anggita menemui Adelia hingga mengatakan ada darah yang keluar dari tubuh Anggita.
Sedangkan Anita, sudah menduga jika apa yang menimpa Anggita adalah akibat perbuatan Adelia. Walau dirinya membenci Anggita tapi mama Anita tidak percaya jika Anggita menarik Adelia hingga mereka berdua terjatuh di lantai. Dirinya adalah saksi atas kejahatan Adelia. Tapi tidak bersedia bersaksi untuk menyangkal tuduhan Adelia. Dia sangat yakin jika apa yang menimpa Anggita adalah perbuatan Adelia.
Diantara orang itu. Yang paling terlihat khawatir adalah Tante Tiara. Wanita itu terus menggigit jari telunjuknya karena tidak sabar menunggu hasil pemerikasaan dokter. Evan bisa merasakan perbedaaan sikap antara mama Anita dan Tante Tiara. Tapi tidak begitu memperdulikannya. Saat ini yang ada di pikirannya hanya keselamatan janinnya. Bahkan dia lupa akan janjinya kepada Adelia yang akan datang secepat mungkin ke ruangan wanita itu.
Keheningan terjadi di depan ruangan itu karena mereka semua terdiam. Keheningan itu harus terusik karena ponsel milik Evan kembali berdering.
"Sabar lah Adelia. Aku harus mengetahui hasil pemerikasaan dokter sebelum ke ruangan kamu," kata Evan sambil mengambil jarak beberapa meter dari para keluarganya. Adelia merengek bagai anak kecil meminta Evan ke ruangannya.
"Jangan memaksaku Adelia," bentak Evan marah. Dia memutuskan panggilan itu secara sepihak karena Adelia memaksa dirinya harus ke ruangannya sekarang juga.
"Lihatlah Evan, wanita itu belum menjadi istri kamu tapi dia sudah ingin mengatur hidup kamu. Bagaimana kalau sudah istri. Ingat Evan. Di silsilah keluarga kita tidak Ada istilah suami dibawah ketiak istri. Yang ada, suami dan istri harus saling menghargai, saling memahami dan saling mengerti," kata nenek Rieta. Sejak mendengar Evan berbicara dengan Adelia di telepon, nenek Rieta tidak sabar ingin mengomel ke cucunya itu.
__ADS_1
Wanita tua itu bisa mendengar suara Adelia yang memaksa Evan ke ruangannya. Nenek Rieta menilai Adelia adalah wanita yang sangat egois. Nenek Rieta menarik nafas panjang. Dia prihatin dengan nasib percintaan kedua cucunya. Danny harus bercerai karena mempunyai istri yang jahat. Sedangkan Evan hampir bercerai karena tidak menginginkan Anggita jadi istrinya. Dalam hal ini bisa dikatakan jika Evan lah yang jahat.
"Dia tidak memaksa aku nek. Dia sedang sakit. Dia hanya butuh perhatian aku," kata Evan membela wanita pujaannya. Dia tidak ingin Adelia mendapat penilaian yang negatif dari keluarganya padahal Adelia sudah mendapatkan penilaian negatif itu dari dulu. Dan penilaian negatif itulah yang membuat kakek Martin tidak merestui Adelia menjadi istrinya.
"Bela aja terus. Sampai pembelaan kamu itu membuat diri kamu merasa manusia paling bodoh nantinya. Sebaiknya kamu ke ruangan wanita itu sekarang. Kasihan wanita pujaan kamu sendirian," kata Rendra sinis. Evan tidak begitu mendengarkan nasehat dari nenek atau perkataan Rendra papanya. Pria itu, masih merasa jika Adelia lah wanita yang terbaik untuk dirinya. Jika ada sikap Adelia yang kurang berkenan di hatinya. Evan hanya menganggap itu adalah hal biasa. Bagi Evan tidak ada manusia yang sempurna. Dia tidak sadar jika ada sandiwara yang sempurna untuk menutupi sisi buruk seorang manusia. Dan itu ada pada diri Adelia. Wanita itu bisa memainkan sandiwara yang sempurna di depan Evan tapi membuka sisi buruknya di hadapan Anggita.
"Apa kamu berpikir jika wanita yang baik itu mengharapkan perhatian dari pria yang masih beristri?" tanya nenek Rieta tajam.
"Seharusnya nenek tidak bertanya akan hal itu. Bukankah kalian yang membuat kami terpisah. Dan satu hal yang harus kalian ingat. Dia berada di rumah sakit ini karena perbuatan wanita pilihan kalian," jawab Evan pelan tapi terdengar mengerikan. Nenek Rieta memegang dadanya sendiri mendengar perkataan cucunya itu.
"Ah ternyata kamu sudah dibutakan cinta dari wanita itu. Hingga kamu bisa menyalahkan kami atas wanita baik yang kami pilih untuk menjadi pendamping kamu. Dan lebih menyedihkan kamu membela wanita itu seakan wanita itu adalah wanita sempurna yang tidak ada tandingannya. Ingat Evan. Tidak bagus mencintai Adelia secara berlebihan jika kamu tidak ingin terluka terlalu dalam nantinya."
"Sudah ma, Kita di rumah sakit. Jangan membuat keributan di sini. Kita harus fokus akan kesehatan Anggita," kata Tante Tiara sambil mengelus pundak mama mertuanya. Tante Tiara tidak ingin menperpanjang perdebatan itu. Evan sudah di mabuk cinta akan Adelia. Nasehat apapun pasti tidak akan masuk akal bagi Evan.
Beberapa saat terdiam, Semua Mata menoleh ke pintu ruangan yang dibuka oleh perawat.
"Suami pasien dipersilahkan masuk," kata perawat. Beberapa kaki yang tidak sabar ingin masuk ke ruangan itu untuk melihat kondisi Anggita spontan berhenti. Tapi tidak dengan mulut mereka yang tidak berhenti bertanya tentang kondisi Anggita dan janinnya.
"Bagaimana kondisi menantuku sus?"
"Apa janinnya baik baik saja."
"Tolong lakukan yang terbaik untuk Anggita."
Perawat hanya tersenyum sebagai jawaban dari pertanyaan pertanyaan itu. Kemudian perawat kembali menutup pintu. Hanya Evan yang diijinkan masuk ke dalam ruangan itu.
'Maaf Pak. Janinnya anda tidak dapat selamatkan. Untuk keselamatan ibu Anggita. Kami harus melakukan tindakan medis secepatnya. Tapi untuk mencegah hal hal yang tidak inginkan di kemudian hari. Bapak sebagai suami dari ibu Anggita harus menandatangtangani Surat pernyataan terlebih dahulu," kata dokter setelah Evan sudah di ruangan itu.
Evan bisa merasakan sesuatu ada yang menusuk dadanya. Walau tusukan itu tidak nyata tapi Evan merasakan sakit di dadanya sangat nyata. Pria itu terlihat lemas mendengar perkataan sang dokter.
"Baiklah dokter. Jika itu yang terbaik. Aku tidak bisa berbuat apa apa," kata Evan akhirnya pasrah. Dia menarik kertas yang disodorkan dokter. Dia membubuhkan tanda tangan di atas kertas itu sebagai pertanda jika dirinya sudah setuju melepaskan sang janin. Tapi tidak dengan hatinya. Dia tidak rela jika janin itu digugurkan.
__ADS_1
"Silahkan keluar Pak. Kami harus melakukan tindakan medis secepatnya," kata dokter sopan. Evan beranjak dari duduknya. Dia menoleh ke Anggita sebelum keluar dari ruangan itu.