
Evan bisa menarik nafas lega. Wanita yang menjadi penolongnya sudah berhasil dioperasi tetapi harus mengikuti serangkaian pengobatan lainnya untuk menuntaskan akar akar kanker tersebut.
Pernah ditinggalkan oleh orang yang menyayangi dirinya karena kanker. Tentu saja Evan tidak ingin hal itu terjadi pada Rio dan Luna. Dia bisa melihat harapan kakak beradik itu akan kesembuhan ibu Lastri. Evan juga bisa melihat jika Rio dan Luna adalah orang yang tahu membalas kebaikan. Kakak beradik itu Dan ibu Lastri tinggal di rumah Evan pasca operasi. Dan keberadaan Rio dan Luna di rumah itu sangat meringankan pekerjaan Bibi Ani.
Untuk memudahkan ibu Lastri menjalani serangkaian pengobatan yang harus rutin dilakukan tiga kali dalam satu minggu, Evan menyediakan satu Mobil beserta supir pribadi untuk mengantar dan menjemput ibu Lastri berobat ke rumah sakit.
Evan benar benar membalas kebaikan ibu Lastri kepada dirinya di masa lalu. Suatu perbuatan yang hampir seimbang untuk menyelamatkan wanita itu dari kanker.
Satu bulan berjalan. Tidak ada kendala yang serius yang dihadapi ibu Lastri. Semuanya berjalan mulus. Sikap displin dan patuh yang diperlihatkan oleh ibu Lastri dalam pengobatan itu sebagai pertanda jika dirinya juga optimis ingin sehat kembali.
Tapi takdir berkata lain. Manusia boleh berencana dan berusaha. Tapi pemilik Kehidupan bukan manusia itu sendiri melainkan Sang pencipta yang berkuasa atas semua mahkluk ciptaanNya.
Tepat di bulan kedua, Kesehatan ibu Lastri menurun. Wanita itu kritis tanpa penyebab yang diketahui oleh keluarga dan Evan. Jika dilihat dari displin dan kepatuhannya untuk memakan obat tidak mungkin keadaan wanita itu seperti ini.
Rio dan Luna tidak bisa berbuat apa apa. Kakak beradik itu hanya bisa menangis mengingat kondisi ibu mereka yang sudah di ambang kematian. Berusaha maksimal tidak bisa menahan ibu Lastri untuk tetap bersama mereka. Kakak beradik itu hanya bisa pasrah menerima takdir.
Di pagi hari, sebelum matahari menampakan dirinya. Evan dikejutkan dengan informasi tentang kepergian Ibu Lastri untuk selama lamanya. Dia bergegas ke rumah sakit setelah terlebih dahulu menghubungi Rico untuk segera menyusul dirinya ke rumah sakit.
Evan tidak bisa berbuat apa apa untuk menghilangkan kesedihan Rio dan Luna. Dia hanya bisa mengungkapkan kata kata supaya kakak beradik itu untuk tabah menerima takdir.
Evan hanya mengetahui bagaimana menghilangkan beban Rio dan Luna. Evan bersedia menanggung semua biaya kepulangan serta penguburan jenasah ibu Lastri yang akan dikuburkan di Kota dimana mereka berdomisili. Evan dan Rico juga berencana akan ikut mengantarkan jenasah ibu Lastri ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Hal itu dilakukan oleh Evan sebagai penghormatan terakhir bagi dewi penolongnya itu.
Di Hari yang sama. Di siang hari, Danny mendapat panggilan dari mama Feli. Informasi yang didapat oleh Danny bahwa Anggita sudah merasakan kontraksi dan sudah dibawa ke rumah sakit. Jauh jauh hari sebelumnya, Danny berpesan kepada mama Feli untuk mengabari dirinya hal hal yang berkaitan dengan kesehatan dan kehamilan Anggita. Termasuk jika waktunya Anggita melahirkan.
"Mau kemana Danny?" tanya tante Tiara. Tante Tiara melihat Danny menerima panggilan itu. Dia hanya mendengar jawaban Danny bahwa dirinya akan segera meluncur. Tante Tiara tentu saja tidak mengetahui apa yang terjadi yang sebenarnya. Melihat Danny terburu buru, tante Tiara hanya menyimpulkan dalam hati jika Sikap terburu buru yang diperlihatkan oleh Danny karena ada sesuatu yang penting.
"Ada urusan penting mama," jawab Danny acuh dan berjalan cepat menuju pintu utama rumah itu.
"Urusan penting apa?.
Tante Tiara bertanya penasaran karena urusan yang disebutkan Danny pasti bukan urusan pekerjaan. Hari ini adalah hari minggu.
"Nanti jika tiba waktunya. Mama akan pasti tahu. Sekarang, tolong biarkan aku pergi. Ini benar benar urusan yang sangat urgent."
"Apakah urusan kamu saat ini berkaitan dengan Anggita."
"Mengapa mama selalu bertanya tentang Anggita kepadaku ma?.
"Mama juga tidak tahu. Tapi entah mengapa. Aku sangat yakin jika mama Ita adalah Anggita. Terserah kamu menjawab jujur atau tidak. Itulah yang aku rasakan sejak Sisil menunjuk foto Anggita sebagai mama Ita."
Tante Tiara terkadang tidak mengerti akaan dirinya sendiri tentang mama Ita yang disebutkan oleh cucunya. Dia sangat yakin jika mama itu adalah Anggita. Dan sebelum Danny menerima panggilan, pikirannya tiba tiba tertuju kepada Anggita.
"Ikatan bayimu terlalu kuat untuk neneknya Anggita. Andaikan kamu bersedia bersedia aku memberitahukan keberadaan kamu saat ini. Aku pastikan mama akan menemani kamu bersalin," kata Danny dalam hati. Dia hanya menatap kasihan kepada Tante Tiara. Wanita itu selalu berusaha mengorek informasi tentang Anggita dari dirinya. Tapi sampai hari ini, Danny masih bisa menepati janjinya.
"Aku pergi dulu mama. Semoga Kita cepat mengetahui keberadaan Anggita," kata Danny kemudian meninggalkan tante Tiara. Dia tidak ingin memperlama keberangkatan ke Kota itu. Dari nada bicara mama Feli, Danny merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sebagai pria yang sudah berpengalaman menemani wanita melahirkan. Tentu saja Danny mengetahui bagaimana sakit yang dirasakan oleh Anggita saat ini. Belum lagi kemungkinan kemungkinan yang tidak terduga karena kehamilan tersebut.
__ADS_1
Danny membawa mobilnya dengan kencang. Yang ada di pikirannya saat ini adalah secepatnya tiba di rumah sakit dimana Anggita saat ini berada. Danny menyesali dirinya yang tidak menyarankan Anggita untuk melahirkan di Kota besar saja. Dia berkali Kali melakukan panggilan kepada dokter Angga tapi panggilannya tidak pernah di jawab.
"Apa sebenarnya yang terjadi dengan kamu Anggita. Kamu harus kuat. Kamu harus selamat bersama bayi mu. Apa yang harus aku katakan kepada Evan jika terjadi hal buruk kepada kalian berdua. Anggita, kami harus bisa," kata Danny berkata sendiri. Dia tidak dapat membayangkan hal buruk kepada Anggita ataupun bayinya. Danny sadar. Cepat atau lambat Evan ataupun anggota keluarga besar kakek Martin yang lain akan mengetahui kabar Anggita suatu hari nanti. Dan Danny berharap jika waktu itu tiba. Mereka melihat keadaan Anggita dan Cahaya dalam keadaan baik tanpa kekurangan suatu apapun.
Di rumah sakit, Anggita sudah mengerang kesakitan. Rasa sakit itu menjalar dari pinggang hingga ke pinggul. Dan terkadang Anggita merasakan nafasnya tertahan di tenggorokan karena dahsyatnya rasa sakit tersebut.
Anggita merintih tertahan. Walau rasa sakit itu sangat menyiksa tapi Anggita merasa malu mengeluarkan suaranya. Hal itu tentu saja membuat Anggita semakin tersiksa dan hampir tidak tahan.
Anggita mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Rasa sakit itu membuat dirinya pesimis bisa selamat dalam melahirkan ini. Rasa pesimis itu membuat Anggita menangis. Menangis membayangkan mama Feli kehilangan dirinya dan membayangkan anaknya tanpa dirinya.
"Jangan menangis bu. Kalau sakit, ibu boleh menarik nafas kemudian membuangnya kembali," kata bidan. Anggita menurut dengan perkataan bidan itu. Tapi beberapa menit kemudian Anggita merasakan sangat sakit sehingga lupa melakukan apa yang dikatakan bidan itu.
Anggita hanya ditemani oleh mama Feli. Wanita itu terlihat tidak tega melihat rasa sakit yang dirasakan Anggita saat ini. Sedangkan dokter Angga sedang menangani persalinan di ruang sebelah tempat Anggita mengerang kesakitan. Lagipula Anggita tidak ingin persalinannya dibantu oleh Dokter Angga. Dia memilih bidan daripada dokter Angga yang sudah spesialis kandungan.
Alasannya adalah karena terlalu malu jika dokter Angga melihat jalan lahir anaknya kelak. Dokter Angga adalah orang baik yang sudah dia anggap sebagai sahabat. Pernyataan cinta dokter Angga semakin membuat Anggita malu membayangkan jika dokter itu yang akan menangani persalinannya.
Dokter Angga memaklumi apa yang dipikirkan oleh Anggita. Dokter Angga meminta bidan yang sudah tua dan paling berpengalaman untuk membantu persalinan wanita yang terus menghiasi hatinya itu.
"Sudah buka berapa bu?" tanya dokter Angga yang baru saja masuk ke ruangan Anggita. Dia baru saja menyelesaikan tugasnya di ruangan sebelah dengan berhasil. Bidan itu berjalan menjauh dari sisi bed Anggita seakan ada yang disembunyikan dari Anggita.
"Sudah buka sepuluh. Tapi seperti letak bayinya sedikit sungsang dokter," jawab bidan itu pelan. Dia tidak ingin Anggita mendengar kenyataan itu yang bisa membuat wanita itu semakin takut.
Dokter Angga terlihat terkejut. Empat hari yang lalu. Dokter Angga memeriksa kehamilan Anggita lewat Usg. Janin itu letaknya normal dan tidak akan bermasalah jika dilahirkan normal. Dan kesehatan Anggita juga sangat mendukung jika melahirkan normal.
"Sepertinya, operasi adalah jalan satu satunya dokter, supaya pasien tidak terlalu lama menahan sakit," kata bidan. Sebagai tenaga medis yang berpengalaman berpuluh tahun menangani orang yang melahirkan, bidan itu sangat yakin jika Anggita tidak bisa melahirkan normal. Jika dipaksakan resikonya sangat besar dan nyawa ibu dan bayi adalah taruhannya.
"Ibu, boleh bicara sebentar di luar," ajak Dokter Angga kepada mama Feli. Wanita tua itu menganggukkan kepala. Dia menatap Anggita sebentar kemudian mengikuti langkah dokter keluar dari ruangan itu.
"Sepertinya Anggita harus melakukan persalinan lewat operasi bu," kata dokter Angga langsung ke inti permasalahan. Dia tidak bisa menunda lama lagi karena akan membahayakan janin. Jika di perlama besar kemungkinan bayi akan meminum air ketuban atau resiko lainnya.
"Operasi?" tanya mama Feli khawatir. Anggita sudah lama merencanakan melahirkan normal karena mengetahui penyembuhan melahirkan normal lebih cepat dibandingkan persalinan Caesar. Bukan tanpa alasan Anggita bersikeras melahirkan normal. Tanggung jawab kafe bintang ada di pundaknya.
"Iya bu. Sebelum operasi itu dilakukan harus ada persetujuan keluarga secara tertulis ibu."
"Dokter, bisakah menunggu Danny sebentar. Aku rasa dia yang lebih mengerti akan hal itu. Lagipula dia adalah mantan adik iparnya. Ibu sudah menelepon Danny dua jam yang lalu," kata mama Feli. Wanita itu tidak ingin memutuskan secara sepihak mengingat anak yang dilahirkan oleh Anggita adalah keturunan dari seorang pengusaha terkenal yang sangat disegani walau hanya tinggal nama.
Di sisi lain. Mama Feli juga memikirkan hal terburuk. Dia tidak ingin disalahkan jika terjadi apa apa kepada janinnya Anggita. Itulah sebabnya mama Feli menghubungi Danny supaya salah satu keluarga dari keluarga kakek Martin bisa melihat perjuangan Anggita melahirkan garis keturunan kakek Martin.
"Tidak bisa ibu. Perjalanan dari Kota ke tempat ini tiga jam. Satu menit saja terlambat keselamatan Anggita Dan bayinya yang dipertaruhkan. Tanpa Danny kita harus cepat melakukan tindakan demi keselamatan janin dan Anggita sendiri."
"Lakukan yang terbaik untuk keselamatan Anggita Dan janinnya Dokter. Aku siap bertanggung jawab," jawab mama Feli akhirnya. Keselamatan Anggita dan janinnya adalah harga mati untuk mama Feli. Jika hanya sebuah tanda tangan bisa menyelamatkan Anggita dan janinnya. Mama Feli siap bertanggung jawab.
Setelah mendapatkan persetujuan. Dokter Angga menyuruh perawat untuk mempersiapkan kertas perjanjian yang harus ditandatangani oleh mama Feli. Kemudian do Angga masuk ke dalam ruangan Anggita. Dia memerintahkan tenaga medis lainnya untuk mempersiapkan ruang operasi. Anggita juga tidak bersikeras untuk melahirkan normal setelah mendengar penjelasan dokter Angga. Dan dia juga tidak bisa menolak dokter Angga yang akan menangani operasi tersebut. Karena di rumah sakit kecil itu hanya dokter Angga yang spesialis kandungan.
"Aku berharap tanda tangan ini untuk keselamatan kamu dan janin mu nak. Anggita, bertahanlah demi mama dan janin kamu. Mama hanya memiliki kalian berdua," kata mama Feli setelah menandatangtangani kertas itu. Kemudian wanita itu berlari menuju lift dimana Anggita berada di lantai tiga dan sudah dipersiapkan untuk memasuki ruangan operasi.
__ADS_1
"Kamu harus kuat nak. Kita bertiga harus hidup bahagia," kata mama Feli tersenyum kepada Anggita. Mama Feli mencium kening putrinya ketika hendak dimasukkan ke ruang operasi. Setelah pintu ruangan itu tertutup. Mama Feli mengucapkan doa doa dalam hatinya memohon keselamatan kepada Pemilik Kehidupan.
Empat puluh menit kemudian. Danny terlihat sudah ada di rumah sakit itu. Dia langsung menuju ruang tunggu untuk pasien operasi yang melahirkan.
"Bu, bagaimana Anggita?.
Danny tidak sabaran bertanya kepada mama Feli. Mendengar persalinan normal yang diinginkan Anggita harus berakhir dengan persalinan Caesar membuat pria itu sudah menduga duga hal buruk.
" Sudah di kamar operasi. Letak bayinya sungsang," jawab mama Feli pelan..
Hanya itu jawaban mama Feli. Jelas terlihat kekhawatiran di wajah wanita tua itu.
"Anggita dan bayinya pasti selamat bu. Kita harus berdoa terus," kata Danny menyemangati mama Feli. Dia bahkan membawa wanita tua itu ke pelukannya. Mama Feli menganggukkan kepalanya dan tidak berhenti berdoa dalam hati.
"Anggita adalah satu satunya hartaku di dunia ini. Aku tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu yang buruk kepada putriku."
Nada bicara mama Feli terdengar ketakutan. Wanita tua itu bisa melihat bagaimana Anggita menahan kesakitan ketika belum dimasukkan ke ruang operasi. Selain keringat sebesar biji jagung. Anggita sudah terlihat pucat.
"Ssstt. Tidak akan terjadi apa apa kepada Anggita dan janinnya. Beberapa menit lagi. Ibu pasti bahagia melihat cucu ibu." Danny berusaha menyemangati mama Feli walau hatinya juga diliputi kekhawatiran.
Mendengar kata cucu. Mama Feli terlihat lebih bersemangat. Dia menganggukkan kepalanya sebagai pertanda dirinya juga menginginkan hal yang dikatakan oleh Danny.
Harapan mama Feli menjadi kenyataan. Seorang perawat keluar dari ruang operasi dengan membawa seorang bayi cantik. Wajah wanita tua itu terlihat berbinar.
"Ini cucu aku?"
"Ini bayi nyonya Anggita." Perawat itu tidak langsung menjawab iya tapi perkataannya mempertegas jika bayi cantik itu adalah cucu mama Feli.
"Iya Anggita putriku."
Mama Feli langsung menangis bahagia mendengar perkataan perawat itu. Dia mengelus pipi bayi itu diikuti oleh Danny. Mereka ingin berlama lama menatap bayi itu. Tapi perawat menjelaskan jika bayi itu harus secepatnya dimasukkan ke dalam inkubator.
"Tunggu dulu suster. Anggita tidak apa apa kan?.
Rasa senang melihat cucunya tidak membuat mama Feli melupakan putri kesayangannya itu. Perawat itu menganggukkan kepalanya membuat mama Feli kembali bersyukur kepada Pemilik Kehidupan..
"Danny, aku sudah menjadi seorang nenek," kata mama Feli dengan wajah yang sangat bahagia.
"Iya bu. Selamat ya ibu," kata Danny sambil mengulurkan tangannya bersalaman dengan mama Feli.
"Kamu juga sudah menjadi seorang paman nak. Terima kasih karena kamu selalu baik dan memberikan waktu untuk Anggita."
"Ibu, ini adalah tanggung jawab ku sebagai seorang adik dari mantan suaminya. Aku tidak mungkin membiarkan Anggita sendirian. Apa yang aku lakukan kepada Anggita tidak seberapa dibandingkan dengan penderitaannya selama menjadi bagian dari keluarga kakek Martin."
Mama Feli hanya terdiam mendengar perkataan Danny. Jauh di lubuk hatinya, sebenarnya mama Feli sangat sedih melihat perjuangan Anggita melahirkan. Pada umumnya wanita melahirkan ditemani oleh sang suami tapi itu tidak berlaku bagi Anggita. Dia tidak mempunyai suami sekarang. Situasi mengajarkan Anggita untuk berjuang sendiri.
__ADS_1
Di sore hari yang sama. Evan dan Rico terlihat di keramaian. Dimana saat ini Evan dan Rico harus mendampingi Rio dan Luna untuk penguburan ibu mereka Lastri. Setelah penguburan ibu Lastri. Evan tiba tiba merasakan perutnya sangat sakit. Dia seakan tidak bisa menahan rasa sakit itu. Evan memisahkan diri dari beberapa orang yang masih banyak di dalam rumah itu. Evan merintih dan sambil memegangi perutnya.
"Rico, bawa aku ke rumah sakit secepatnya," perintah Evan sambil menahan kesakitan. Rico tidak banyak bertanya karena dia jelas melihat Evan sangat kesakitan. Pria itu berlari mengambil mobilnya yang agak jauh terparkir di depan rumah tetangga ibu Lastri.