
Danny merasakan kelelahan yang luar biasa. Hari ini sungguh melelahkan. Tapi demi kemajuan perusahaan milik Papanya. Danny rela harus pulang malam. Dirinya sangat yakin, bahwa kelak perusahaan itu akan menjadi miliknya.
Danny berjalan lesu setelah keluar dari dalam mobil. Danny memang sudah makan, tapi rasanya sangat lelah. Tadi malam dirinya tidak bisa tidur karena sesuatu hal dan efek kini terlihat saat ini. Masih jam sepuluh, tapi rasanya Danny ingin tidur saja.
Danny menaiki tangga itu dengan konsentrasi yang penuh. Dalam situasi mengantuk seperti ini. Danny masih berhati hati supaya tidak terjatuh. Dia sengaja melewatkan kamar Sisil. Karena Danny langsung tidur. Dia membuka pintu kamarnya.
Danny tertegun sebentar melihat ranjang yang tidak seperti biasanya. Tiap pulang entah darimana saja. Ranjang itu selalu rapi. Kini pria itu melihat Naya dengan jelas. Danny mengucek kembali matanya untuk memastikan jika penglihatannya. Ternyata itu benar Naya.
Danny semakin mendekati ranjang. Rasa kantuk yang menyerang dirinya sejak dari dari kantor kini perlahan menghilang. Danny tersenyum melihat Nia yang menutupi tubuhnya dengan selimut. Tidak ingin mengganggu putri dan istrinya. Danny masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Mendengar suara pintu kamar mandi yang dibuka kemudian ditutup. Nia merasa lega. Sebenarnya untuk tidur bersama satu ranjang dengan Danny. Nia masih canggung. Tapi karena tidak ingin sang pengasuh terus nenggoda dan khawatir Danny tergoda akhirnya Nia memutuskan untuk berusaha menjadi istri yang baik bagi Danny.
Nia memperhatikan isi kamar suaminya. Hampir setiap hari setelah menjadi suami istri. Dirinya keluar masuk ke kamar itu Ketika Danny tidak ada di kamar itu. Nia semakin terbiasa tapi Kali ini. Nia merasakan hawanya berbeda karena Danny ada juga di kamar itu.
Nia kembali bersembunyi di balik selimut setelah mendengar pintu kamar mandi kembali di buka. Wanita itu sengaja menahan nafas supaya tidak ketahuan jika dirinya belum tidur.
Lagi lagi Danny tersenyum. Sebenarnya dia mengetahui jika Nia belum tidur. Setelah memakai pakaian santai. Danny keluar dari kamar itu untuk memastikan Sisil sudah tidur atau tidak. Ternyata bukan hanya itu tujuannya. Dia pergi ke salah satu kamar tamu dimana box bayi Sisil waktu kecil di simpan di sana.
Danny mendorong box bayi itu dengan pelan menuju kamarnya setelah dia bersihkan terlebih dahulu. Dengan pelan dan hati hati. Danny memindahkan Naya ke box tersebut.
__ADS_1
Danny sengaja menghembuskan tubuhnya ke ranjang. Pergerakan ranjang itu membuat Nia spontan dan membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Nia khawatir pergerakan itu membuat Naya terbangun. Dia terkejut tidak melihat Naya di ranjang itu.
"Mana Naya," tanya Nia panik. Danny tersenyum Dan mengarahkan dagunya ke arah box bayi yang dia letakkan tidak jauh dari ranjang itu. Nia terlihat memegang dadanya karena merasa lega.
"Aku memindahkan Naya ke box supaya kita tidak terganggu," kata Danny membuat Nia membulatkan matanya. Nia juga langsung menutupi tubuhnya dengan selimut. Nia tersenyum. Dia sangat yakin jika Nia mengerti maksud perkataannya. Tapi Danny hanya berniat mengerjai Nia. Jika pun, Nia bersedia melayani dirinya saat ini. Danny akan senang. Jika pun belum. Danny juga senang karena dirinya yakin apa yang dilakukan oleh Nia saat ini adalah usaha untuk menjadi istri yang baik.
Danny semakin mengerjai istrinya itu. Dia langsung memeluk Nia bahkan kaki kanannya menimpa kaki Nia. Posisi Nia yang membelakangi tubuhnya membuat Danny leluasa merapatkan tubuhnya ke tubuh Nia.
"Sst. Tenanglah. Jangan banyak bergerak. Aku hanya sekedar memeluk kamu. Tapi jika kamu bersedia memberikan lebih dari pelukan. Dengan senang hati aku menerimanya," bisik Danny di telinga Nia yang tertutup selimut. Nia langsung tidak bergerak lagi. Tapi pelukan Danny yang sangat erat membuat dirinya terasa sesak.
Merasa tidak ada lagi pergerakan Nia. Danny pun melepaskan pelukan itu. Dia juga sadar jika terus memeluk istrinya seperti itu pasti Nia merasa tidak nyaman.
"Belum tidur?" tanya Danny dan langsung menahan selimut supaya Nia tidak bersembunyi lagi. Danny bahkan menjatuhkan selimut itu ke lantai.
"Belum," jawab Nia. Danny langsung menahan tubuh Nia supaya tidak membelakangi dirinya lagi.
"Nia, terima kasih karena bersedia menemani aku tidur di ranjang ini," kata Danny sambil menatap wajah Nia. Nia tidak menatap wajah suaminya. Jarak yang sangat dekat dengan Danny membuat jantungnya berdetak kencang. Ini adalah pertama kalinya dirinya tidur bersebelahan di ranjang dengan pria dalam posisi yang sama sama sadar. Pertama dirinya berada di ranjang dengan Danny ketika penjebakan itu. Danny tidak sadar karena pengaruh obat yang diberikan oleh Nia saat itu.
"Dan aku berharap. Kamu tidak sekedar menemani aku tidur. Di malam malam selanjutnya. Aku ingin Kita saling berbagi kebahagiaan dan berbagi kesedihan di sini. Aku ingin hubungan kita seperti hubungan suami istri pada umumnya. Nia, maukah kamu menjadi istri yang baik bagi aku?" tanya Danny. Tangannya kini menggenggam tangan Nia. Nia membiarkan tangan digenggam.
__ADS_1
"Mulai malam ini aku akan berusaha istri yang baik bagi kamu kak."
Danny memeluk tubuh istrinya setelah mendengar perkataan Nia. Walau hanya masih berusaha. Danny sudah senang. Danny sangat yakin jika Nia akan menjadi ibu yang baik bagi anak anaknya dan istri yang baik bagi dirinya.
Danny mencium kening Nia dengan waktu yang lumayan lama. Nia terlihat memejamkan matanya menikmati ciuman tulus di keningnya. Nia merasa senang karena Danny hanya mencium keningnya. Tapi rasa senang itu berakhir dengan rasa terkejut karena bibir suaminya itu tidak lagi di keningnya. Tapi sudah menempel di bibirnya.
Nia berdebar debar. Asa rasa yang tidak biasa menyusup di hatinya mendapati kenyataan itu. Nia masih berusaha tidak membuka mulutnya karena sejujurnya Nia masih enggan untuk melayani suaminya itu saat ini.
Ternyata Danny tidak bisa diremehkan. Entah bagaimana caranya. Nia bersedia membuka mulutnya membuat Danny bisa menjelajahi rongga mulut istrinya. Nia berusaha tidak membalas. Tapi lagi lagi Danny bermain pintar Nia sudah mulai membalas pergerakan bibir suaminya di bibirnya dengan malu tertahan.
Di saat Nia sudah mulai menikmati pergerakan bibir Danny di bibirnya. Danny melepaskan bibirnya. Dia menatap Nia kemudian memeluk istrinya itu.
"Tidurlah," kata Danny. Kemudian pria itu mengambil selimut dari lantai dan menyelimuti tubuh istrinya. Dia sengaja menyudahi permainan bibir itu karena Danny bisa merasakan Nia sangat kaku berhadapan dengan dirinya saat ini. Jujur, dia menginginkan permainan lebih dari itu. Tapi Danny tidak ingin, Nia melayani dirinya dengan terpaksa. Dia ingin berbagi kebahagiaan dan kesenangan dengan istrinya itu. Bukan hanya kepada Nia dirinya seperti itu. Dulu sewaktu menjadi suami dari Carla. Danny tidak pernah memaksakan keinginan atau melakukan hubungan ranjang dengan sang mantan istrinya itu.
Ternyata miss communication membuat mereka tidak bisa merasakan kesenangan malam ini. Rasa memabukkan yang diciptakan Danny di bibir Nia. Wanita itu pun sebenarnya menginginkan lebih. Tapi untuk meminta Danny untuk meneruskan permainan itu. Nia merasa malu.
Danny tidur telentang. Mungkin karena rasa kantuk yang sempat tertunda membuat pria itu langsung tertidur. Nafas teratur dan mata terpejam menandakan jika pria itu sudah tidur. Di sebelahnya, Nia masih bermain dengan pikirannya sendiri.
Menyadari Danny sudah tertidur. Nia duduk dan bersandar ke kepala ranjang. Dia memandangi wajah suaminya yang terlihat lelah di wajahnya. Nia mengusap wajah suaminya dengan lembut. Berada di ranjang yang sama dengan suaminya. Nia semakin ketakutan jika sang pengasuh itu berhasil merebut Danny dari dirinya.
__ADS_1
"Tidak, tidak akan kubiarkan. Aku adalah istri dari kak Danny. Apa pun akan aku lakukan untuk mempertahankan rumah tangga ku."