Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 162


__ADS_3

Anggita menatap Danny dan Anggita bergantian. Melihat Nia yang tertunduk malu malu. Anggita menduga jika tebakan suaminya benar. Danny juga terlihat sangat bahagia. Anggita pun akhirnya mengembangkan senyumnya. Anggita juga merasa senang jika hubungan Danny dan sahabatnya itu sudah membaik dan bahkan sudah seperti hubungan suami istri pada umumnya.


"Sayang, buatkan kopi untuk papa donk."


Beberapa pasang mata langsung menoleh ke Danny yang masih berbaring santai di lantai itu.


"Iya kak," jawab Nia. Nia beranjak dari duduknya dan melangkah menuju dapur.


"Sudah cukup," kata nenek Rieta kepada Evan, Anggita dan Anna. Tiga orang itu langsung menghentikan tangan dari bagian tubuh nenek tua itu.


"Rasanya pegal pegal di tubuhnya menghilang setelah melihat hubungan kamu dengan Nia sudah membaik Danny," kata Nenek Rieta. Evan langsung menatap nenek Rieta dengan tajam. Bisa bisanya sang nenek mengatakan pegal di tubuhnya menghilang hanya karena melihat hubungan Danny dan Nia membaik.


"Kami bertiga sudah memijit kaki dan tangan nenek hampir satu jam. Sepertinya tidak ada gunanya ya nek," kata Evan kecewa.


Danny tertawa terbahak bahak melihat Evan yang semakin kesal.


"Maaf Evan. Nenek tidak bermaksud tidak menghargai perbuatan baik kalian. Nenek terlalu bahagia melihat adik kamu," jawab nenek Rieta. Evan pun tidak menperpanjang perkataan Nenek itu.


Bersama dengan itu, Nia pun sudah masuk ke ruangan itu dengan membawa secangkir kopi panas pesanan Danny.


"Terima kasih sayang," kata Danny ketika Nia meletakkan kopi itu di meja. Danny juga sudah duduk di sofa.


"Mas, mau kopi juga?" tanya Anggita. Melihat Evan memperhatikan kopi panas itu. Anggita sangat yakin jika suaminya juga ingin minum kopi di suasana dingin seperti ini. Hujan beberapa jam yang lalu sudah berhenti. Tapi rasa dinginnya masih terasa sampai detik ini.


Evan menatap wajah istrinya sambil tersenyum. Memijit tangan nenek hampir satu jam, sebenarnya dia mengantuk dan hanya minum kopi yang bisa mengusir rasa kantuk tersebut. Tapi untuk meminta Anggita yang membuatkan kopi. Evan tidak tega melihat istrinya itu kesusahan berjalan dengan perut buncitnya. Jika menyuruh salah satu para pekerja untuk membuatkan kopi untuk dirinya. Rasanya pasti tidak pas di ludahnya.


"Tidak sayang. Duduk saja," kata Evan.


Anggita tetap beranjak dari tempat duduknya. Anggita mengedipkan sebelah matanya kepada Evan supaya suaminya itu mengikuti langkahnya. Mereka berdua berjalan ke arah dapur secara bersama sama. Evan dan Anggita tidak menyadari jika Danny juga mengikuti langkah mereka.


"Yes," kata Anggita dan Evan secara bersamaan. Mereka tertawa karena sesuatu yang mereka rencanakan berhasil. Tidak jauh dari mereka, Danny bersandar sambil meliput tangan memperhatikan tingkah Evan dan Anggita.


"Bolehkah, aku tahu mengapa kalian sangat bahagia saat ini?" tanya Danny santai. Evan dan Anggita langsung menoleh ke pria itu. Anggita dan Evan tersenyum.


"Kamu tidak hanya tahu tapi sudah merasakannya. Nikmati hari hari kebahagiaan kamu adikku," kata Evan.


"Jangan jangan, Apa yang terjadi di rumah ku adalah rencana kalian berdua," kata Danny. Danny sebenarnya menilai sikap pengasuh itu yang terlalu berani.

__ADS_1


Anggita Dan Evan sama sama menganggukkan kepala mereka.


Tidak ada yang ditakutkan jika rencana mereka ketahuan oleh Danny. Tapi kepada Nia, kalau boleh jangan sampai mengetahui jika itu adalah rencana mereka.


Anggita mengedarkan pandangannya. Dia mengajak Evan dan Danny untuk berbicara di taman saja.


"Kok bisa sih bro, mbak?" tanya Danny bingung. Mereka sudah duduk di taman. Danny mengingat dengan jelas bahwa dirinya menghubungi please yayasan itu.


Evan menjelaskan yang sebenarnya. Yayasan penyalur tenaga kerja untuk baby sitter itu adalah miliknya tanpa sepengetahuan keluarga besarnya. Hanya Anggita yang mengetahui hal itu. Ketika Danny menghubungi contact person pihak yayasan. Orang tersebut juga memberitahukan kepada Evan bahwa Danny memesan satu pekerja untuk diperkerjakan sebagai pengasuh di rumahnya. Merasa aneh karena sang contact person mengetahui jika tidak ada bayi di rumah Gunawan. Sang contact person tersebut mengetahui jika Danny adalah saudara dari Evan.


Evan dan Anggita pun bertindak cepat. Mereka bekerja sama dengan pengasuh itu untuk membuat Nia cemburu. Membuat sang pengasuh dengan terang terangan menggoda Danny dan bahkan harus berpakaian minim. Mereka juga berpesan jika kerja sama itu tidak boleh diketahui Danny dan Nia. Anggita dan Evan tidak mengetahui jika ternyata sifat sang pengasuh yang sebenarnya. Setelah mengetahui Danny daru kalang orang kata. Selain karena tanggung itu. Sang pengasuh juga menggoda Danny dari hati.


"Ya ampun. Kalian benar benar ya. Kalian bekerja sama dengan orang yang tidak tepat. Sang pengasuh itu melakukan tugasnya bukan hanya karena kerja sama kalian. Tapi karena memang dirinya itu adalah wanita yang tidak benar," kata Danny.


Danny pun menceritakan jika godaan sang pengasuh bukan hanya berpaling minim dan memberikan perhatian lebih kepada dirinya. Di suatu malam. Sang pengasuh itu bahkan pernah menawarkan dirinya untuk menghangatkan ranjang miliknya yang saat itu dirinya dan Nia masih tidur terpisah.


Flash back on


Saat itu Danny pulang malam dari kantor karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan malam itu juga. Dia tiba di rumah di saat semua penghuni rumah sudah tidur kecuali sang pengasuh. Danny berjalan lesu ke dalam rumah dengan wajah yang kusut dan terlihat lelah.


"Apa apaan ini. Lepas!" kata Danny berontak dan langsung berdiri. Pakaian mini sang pengasuh tidak langsung membuat Danny tergiur akan kemolekan tubuh pengasuh itu.


"Pak, aku rasa bapak butuh itu. Aku mengetahui jika bapak dan istri tidak dalam keadaan baik baik saat ini. Aku siap menggantikan peran istri bapak di ranjang," kata sang pengasuh itu tidak tahu malu.


Danny mengusap wajahnya sangat kasar. Ternyata dirinya salah memilih orang untuk membantu Nia menjaga Sisil.


"Kamu Kira setelah membuat aku sarapan saat itu. Aku bersedia menerima santapan yang kamu berikan malam ini?" tanya Danny tajam. Danny berpikir jika sang pengasuh itu berani menggoda dirinya hingga sejauh ini karena Danny bersedia menghabiskan sarapan yang dibuat oleh sang pengasuh.


"Ya ampun pak. Jadi manusia jangan munafik. Aku tahu bapak juga tertarik kepada aku kan. Aku juga mengerti jika bapak saat ini kehausan sentuhan seorang wanita."


Danny merapatkan giginya karena marah kepada sang pengasuh itu. Dia mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Takut jika sewaktu waktu ada salah satu penghuni rumah mendengar perkataan sang pengasuh itu yang bisa menimbulkan salah paham. Apalagi jika penghuni itu adalah Nia. Sungguh, Danny tidak ingin rumah tangga yang baru saja dibangun harus semakin memburuk karena ulah pengasuh gatal itu.


"Kalau pun aku butuh sentuhan wanita. Aku tidak akan sudi menerima sentuhan kamu. Aku hanya menerima sentuhan halal dari istriku," kata Danny. Setelah mengucapkan itu. Danny meninggalkan ruang makan dengan kesal dan sedikit lapar. Makanannya yang tidak habis karena gangguan sang pengasuh.


Flashback off


Anggita juga merasa geram mendengarkan cerita Danny. Sedangkan Evan terlihat menyesal melakukan kerja sama itu.

__ADS_1


"Tapi untung saja, kamu bisa mengendalikan diri Danny. Jika tidak. Entah apa yang terjadi," kata Evan.


"Benar bro. Tapi memang dasarnya aku pria yang sudah bertobat bro. Cukup di Masa muda dengan Clara melakukan itu tanpa ikatan pernikahan. Saat ini, aku hanya ingin fokus membahagiakan keluarga kecil ku," kata Danny.


"Jangan bertobat hanya di mulut saja. Bertobat juga jangan setengah setengah. Bulatkan hatimu. Jika hanya Nia yang ada di hatimu saat ini dan sampai maut memisahkan," kata Anggita menasehati adik iparnya itu.


"Iya benar. Seperti diriku kan sayang," kata Evan kemudian memeluk Anggita dengan sayang.


"Emang kamu seperti apa?" tanya Anggita kepada Evan.


"Seperti yang kamu bilang ke Danny itu sayang. Menjadi kamu ratu satu satunya di hatiku dan sepanjang hidupku. Serius."


"Jangan pernah menggeser aku dari hatimu mas. Aku pun akan menjadikan kamu raja satu satunya di sepanjang hidupku," jawab Anggita. Anggita membalas pelukan suaminya.


"Ah terima kasih sayangku. Cintaku. Aku cintaku selama lamanya," jawab Evan.


"Ya ampun. Kalian berdua ya. Kita sedang membicarakan tentang kehidupanku. Tapi kok jadi kalian yang pamer kemesraan di depanku," kata Danny pura pura kesal kepala pasangan romantis yang ada di hadapannya. Dia juga berharap kehidupan akan seperti mereka berbahagia dan saling menjaga keutuhan rumah tangga.


"Bilang saja, kamu belum bisa seperti kami ini dengan Nia," jawab Evan. Anggita tertawa.


"Memang belum tapi sudah hampir. Jika ditanya tentang Cinta. Aku sudah bisa memastikan jika hatiku memang benar benar mencintai Nia," jawab Danny serius.


"Bagaimana dengan Nia. Apa kamu sudah merasakan cintanya?" tanya Evan. Anggita memukul tangan suaminya karena terlalu jauh mencampuri urusan percintaan adiknya itu. Evan mengedipkan sebelah matanya memberikan kode kepada istrinya itu jika pertanyaannya itu hanya ingin membantu Danny nantinya.


"Sudah donk bro. Seorang istri yang sangat tulus melayani suami dan keluarganya pasti karena sudah ada cinta di hatinya," jawab Danny dengan bangga.


Evan dan Anggita mengembangkan senyumnya. Mereka berdua ikut berbahagia dengan kebahagiaan Danny dan Nia.


"Kalau begitu hajar terus adikku. Perjuangan mu butuh tujuh orang anak lagi. Supaya keluarga kecil mu bisa menjadi Tim kesebelasan," kata Evan. Anggita tertawa.


"Kamu Kira istriku pabrik anak. Kamu sendiri yang buat keluarga kecil mu tim kesebelasan," balas Danny.


"Bagaimana sayang. Kamu sanggup kan?" tanya Evan bercanda kepada Anggita.


"Sanggup. Sanggup menyemangati kamu untuk hamil anak kita yang selanjutnya," jawab Anggita. Danny tertawa begitu juga Evan dan Anggita. Mereka tidak tahu bahwa tidak jauh dari mereka. Nia berdiri di balik pintu penghubung rumah dengan taman. Wanita itu mendengar pembicaraan Danny dengan Evan dan Anggita. Tapi Nia mendengarkan pembicaraan itu mulai dari godaan sang pengasuh di meja makan.


Di malam dimana, sang pengasuh menggoda Danny di meja makan. Nia sudah mengetahuinya. Saat itu, Nia hendak turun mengambil air putih tapi yang dia dapatkan adalah pembicaraan sang pengasuh yang menawarkan dirinya menghangatkan ranjang milik Danny. Nia juga mendengar penolakan tegas dari suaminya itu. Saat itu Nia merasa dihargai oleh Danny karena mengatakan hanya menerima sentuhan halal dari istrinya. Hal itulah awal dimana Nia bertekad menjadi istri yang baik bagi Danny.

__ADS_1


__ADS_2