
"Kita kemana?" tanya Oci. Wanita itu kini menjadi supir karena tidak ingin merepotkan temannya yang meminjamkan mobil tersebut. Sebenarnya, bisa saja tadi mereka membawa salah satu Mobil milik Nenek Rieta tapi Anggita tidak menginginkan itu demi rencana yang sudah dia susun sendiri di otaknya. Bisa dipastikan satupun dari pekerja tersebut tidak ada yang mengetahui jika Anggita dan yang lainnya sudah keluar dari rumah.
Anggita benar benar tidak bisa mempercayai siapapun pekerja di rumah itu termasuk supir pribadi dan pengawal yang sudah disiapkan untuk keluarga. Tempat tinggal seatap yang disediakan bagi para pekerja membuat Anggita tidak percaya kepada para pekerjanya termasuk si Bibi tukang masak.
"Ke alamat ini," jawab Anggita sambil menyodorkan ponsel miliknya menunjukkan sebuah foto gedung yang merupakan kantor Evan. Tanpa banyak bertanya lagi. Oci membawa mobil itu menuju gedung perkantoran milik Evan.
"Mungkinkah mereka masih di kantor ini?" tanya Oci. Anggita dan Oci kini sudah berada di depan gedung kantor milik Evan tapi masih di luar area parkir. Pertanyaan Oci jelas menunjukkan rasa tidak yakin tentang keberadaan Evan di kantor itu saat ini. Saat ini sudah larut malam. Sekalipun dengan alasan lembur, rasanya tidak mungkin. Evan masih berada di dalam gedung itu.
Anggita membuka kaca mobil itu. Dia melihat ada dua mobil yang terparkir di area parkir tapi satu pun bukan mobil milik Evan. Anggita melayangkan pandangannya ke arah pos satpam. Pos satpam itu sepertinya tidak berpenghuni. Tapi beberapa saat kemudian. Anggita dapat melihat gerak gerik seseorang di pos satpam tersebut. Sama seperti satpam yang Ada di rumahnya. Satpam tersebut juga sedang tidur. Melihat hanya satu satpam yang ada di pos tersebut. Anggita merasakan ada yang janggal.
"Kita tidak mengetahui apakah mas Evan di dalam atau tidak jika Kita hanya berdiam diri disini," kata Anggita sambil menggerakkan tangannya membuka pintu mobil.
"Apa tidak sebaiknya kita menunggu adik ipar kamu saja. Aku takut bukan hanya pekerja di rumah nenek Rieta yang berkhianat. Bisa saja salah satu dari karyawan kantor ini berkhianat. Jujur, aku takut jika Kita berdua masuk ke dalam akan menambah masalah. Karena kita tidak mengetahui siapa dan seperti apa orang yang berada di dalam sana," kata Oci.
"Menunggu Danny terlalu lama Oci. Paling cepat dua jam lagi dia tiba. Apa tidak sebaiknya kita bertanya kepada satpam itu?" tanya Anggita. Perkataan Oci sedikit mempengaruhi pikirannya. Anggita menjadi sosok yang krisis kepercayaan mengingat para pekerja yang diperlakukan dengan baik bisa berkhianat. Dan tidak tertutup kemungkinan bagi salah satu karyawan di kantor ini menjadi pengkhianat mengingat mama Anita sering berkunjung ke kantor ini saat wanita itu masih menjadi istri Rendra.
"Terserah kamu saja. Yang pasti aku tidak akan ikut ke dalam gedung jika kamu hendak masuk ke sana."
Oci tidak ingin menjadi orang yang sok berani masuk ke dalam gedung kantor itu. Selain tidak mengetahui pasti apakah Evan berada di sana atau tidak. Oci tidak ingin masuk ke dalam gedung besar itu yang terlihat remang remang dari luar. Bukan tidak ingin berkorban untuk Anggita. Oci tidak ingin terjadi sesuatu yang diinginkan kepada mereka berdua mengingat tempat tersebut sangat sepi mendukung untuk berbuat jahat kepada wanita.
Dua wanita itu turun bersamaan dari dalam mobil. Mereka menutup pintu mobil dengan pelan. Mereka berdua langsung menuju pos satpam. Anggita memanggil nama sang satpam berkali kali hingga pria itu terbangun.
"Ibu Anggita," kata satpam itu terkejut dan langsung duduk. Sang satpam mengucek matanya supaya penglihatannya lebih jelas lagi.
__ADS_1
"Apa hanya bapak yang bertugas malam ini?" tanya Anggita dingin. Dia tidak menyukai cara kerja satpam ini.
"Tidak bu. Kami berdua." Sang satpam terlihat merasa bersalah atas kelalaiannya.
"Kemana rekan bapak?"
"Tadi dia ada disini," kata pak satpam itu sambil mengedarkan pandangannya ke arah semua area parkir.
Anggita menatap sang satpam itu dengan kesal. Satpam adalah petugas keamanan yang menjadi bagian paling depan menjaga keamanan perusahaan itu. Sang satpam itu sudah lalai dalam melaksanakan tugasnya. Pihak personalia sudah membuat aturan dan imbalan yang sangat bagus khusus untuk satpam shift malam yang bertugas. Tapi sepertinya sang satpam tidak menghargai aturan itu dan seenaknya tidur di jam kerja. Mengetahui dirinya bersalah. Sang satpam menundukkan kepalanya. Dia sudah mengenal Anggita sejak wanita itu bekerja di perusahaan ini. Tatapan Anggita jelas seperti ancaman bagi dirinya.
"Maafkan saya bu," kata sang satpam itu. Dia sengaja meminta maaf supaya Anggita tidak melaporkan kelalaiannya itu kepada Evan maupun pihak personalia.
"Jam berapa mas Evan meninggalkan kantor Pak?" tanya Anggita. Dia tidak menghiraukan permintaan maaf sang satpam. Karena yang terpenting bagi dirinya saat ini adalah mengetahui keberadaan suaminya.
"Pak bos dan pak Rico masih di dalam bu."
"Tapi mobilnya tidak Ada. Dan itu mobil milik siapa?"
"Mobil pak Evan Ada di bengkel sana ibu. Kedua ban belakang mobil itu kempes. Sedangkan Mobil itu milik orang yang sedang memperbaiki cctv di dalam ibu. Katanya kamera tidak bisa tersambung ke laptop," kata satpam itu. Sang satpam juga menjelaskan jika bahwa keinginan Evan lah yang harus cctv itu diperbaiki sekarang juga.
Mendengar keterangan dari pak satpam. Anggita sudah merasa cemas. Ban Mobil milik suaminya kempes bersamaan dengan cctv yang rusak, menurutnya itu bukan kebetulan melainkan kesengajaan. Oci juga berpikir seperti itu tapi tidak langsung memberitahukan pemikirannya itu kepada Anggita karena ada satpam di sekitar mereka.
"Kalau begitu, bolehkah aku masuk ke dalam?" tanya Anggita. Supir itu tentu saja tidak dapat melarang Anggita. Anggita adalah istri dari Pemilik perusahaan. Tanpa minta ijin pun, sang satpam tidak akan berani until melarang. Sang satpam hanya menganggukkan kepalanya. Anggita pun bergerak meninggalkan pos satpam setelah terlebih dahulu menatap Oci.
__ADS_1
Anggita memasuki gedung itu dengan suasana hati yang tidak bisa digambarkan. Ada rasa takut untuk melewati beberapa ruangan gelap menuju lift yang akan membawa dirinya ke lantai ruangan Evan. Walau dirinya seorang mantan karyawan yang pernah pulang malam karena lembur tetap saja Anggita merasakan sedikit ketakutan harus berada di gedung itu di jam satu malam seperti ini.
Ketakutan itu terbukti dengan dirinya yang merinding. Tapi demi Evan suaminya, Anggita menghempaskan rasa takut itu dengan berjalan lurus tanpa menoleh ke kiri dan kanan. Dia focus akan tujuannya ke ruangan Evan.
Anggita juga mengusir rasa takut itu dengan memikirkan hal janggal yang terjadi Tentang cctv tersebut. Anggita kembali mencoba menghubungi Evan dan Rico. Tapi seperti tadi. Panggilan itu berdering tapi tidak dijawab.
Sesampai di depan ruangan Evan. Anggita mengetuk pintu itu berkali kali bahkan memanggil nama Evan. Anggita merasakan jantungnya berdetak kencang karena tidak ada jawaban dari dalam. Sang satpam jelas jelas mengatakan jika suaminya dan asistennya masih berada di kantor ini. Tapi mengapa panggilan dari dirinya tidak mendapatkan sahutan. Anggita hendak pergi dari depan ruangan itu dan akan mencari keberadaan Evan di ruangan asistennya.
Ketika Anggita hendak melangkah dia merasa kaki terasa berat. Dan keinginan untuk masuk ke dalam ruangan Evan semakin kuat. Akhirnya Anggita mendorong pintu kaca. Dia terkejut melihat pemandangan yang Ada di ruangan itu. Evan sedang menelungkupkan kepalanya ke meja kerja sedangkan Rico juga sedang melakukan hal yang sama. Bos dan asisten itu saling berhadapan dengan posisi yang sama.
Anggita setengah berlari menghampiri dua pria itu. Anggita semakin merasakan jantungnya berdetak kencang memikirkan hal buruk yang menimpa dua pria itu. Bronson adalah musuh bisnis yang sudah sangat jelas mereka ketahui sudah dan akan berbuat jahat kepada keluarga Evan. "Mungkinkah ini adalah bagian dari persaingan bisnis?" tanya Anggita dalam hati.
"Mas Evan, pak Rico," panggil Anggita setelah dirinya berada sangat dekat dengan Evan. Anggita menyentuh bahkan mengguncang bahu Evan. Tapi dua pria itu tidak terganggu sama sekalk.
"Mas Evan," kata Anggita sambil menyentuh pundak suaminya entah yang berapa kalinya. Anggita tidak mendapatkan jawaban dari suaminya itu. Anggita membantu Evan untuk bersandar. Sedikitpun pria itu tidak terganggu sama sekali. Melihat gelas berisi setengah minuman yang ada di hadapan dua pria itu. Anggita sangat yakin jika Evan dan Rico tertidur karena pengaruh minuman itu.
"Bangun mas," kata Anggita sambil menyentuh pipi suaminya. Melihat ada yang tidak beres di ruangan itu. Anggita buru buru menghubungi Oci Dan menunjukkan situasi dalam ruangan itu. Anggita juga menyuruh Oci dan satpam untuk segera Naik ke lantai atas.
"Aku tidak akan melepaskan kamu Anita," kata Anggita dalam hati. Wanita itu sangat yakin jika kejadian yang dialami oleh suaminya saat ini berhubungan erat dengan rencana para penglihatan itu.
Semua perlakuan mama Anita terbayang di pikirannya. Anggita masih mengingat dengan jelas bagaimana wanita itu memfitnah dirinya sebagai wanita yang penggila harta dan menghalalkan semua cara untuk mendapatkannya. Tapi setelah mama Anita berpisah dari Rendra justru wanita itulah yang terlihat sebagai penggila harta dan menghalalkan semua cara untuk mendapatkan harta itu. Itu terbukti dengan kerja samanya wanita itu dengan Bronson dan Adelia seperti saat sekarang ini.
Melihat suami dan asistennya sepertinya itu. Anggita tidak akan memberikan ampunan kepada orang yang menjadi perpanjangan tangan Adelia maupun mama Anita sehingga Evan dan Rico seperti saat ini.
__ADS_1
Anggita sudah memikirkan rencana apa saja yang akan dia lakukan kepada orang yang memberikan obat tidur kepada Evan dan Rico. Dia tidak akan melepaskan orang orang itu. Anggita selama ini boleh dianggap sebagai wanita lemah tapi jika membahayakan keluarganya. Anggita tidak akan tinggal diam.
"Cepat lah Oci," kata Anggita dalam hati. Oci Dan satpam belum juga tiba di ruangan itu membuat Anggita tidak bisa berbuat apa.