
Cinta dan uang adalah paket sempurna yang bisa membuat seseorang merasa sangat bahagia. Tapi tidak semua bisa memiliki dua hal itu. Terkadang manusia memiliki uang dan kekuasaan tapi tidak merasakan cinta dari orang yang dia harapkan. Begitu juga sebaliknya. Terkadang seseorang memiliki kekasih hati yang mencintai dirinya tapi dalam hal materi sangat berkekurangan.
Dan ada sebagian orang yang beruntung memiliki keduanya. Mempunyai kekasih hati yang tulus dan mempunyai materi yang berkecukupan. Hal itu tidak berlaku bagi Evan dan Anggita.
Evan, pria patah hati bergelimang harta tapi hatinya hampa. Masalah rumah tangga yang membuat dirinya merasa terpuruk tidak berimbas sama sekali ke perusahaan miliknya. Jika dilihat dari segi materi yang dia miliki. Apapun bisa dimiliki hanya dengan kata perintah yang keluar dari mulutnya.
Tapi tidak dengan cinta. Sebanyak apapun dirinya memiliki kekayaan. Tetap saja dirinya tidak bisa membeli seseorang yang tulus mencintai dirinya. Hatinya sudah terpaut kepada mantan istrinya itu. Tapi sayang. Usaha maksimal yang dia upayakan untuk mencari keberadaan Anggita. Sampai saat ini tidak membuahkan hasil.
Evan tidak pasrah begitu saja. Dia juga menyuruh beberapa orang untuk mencari keberadaan Anggita. Pria itu juga masih terkadang mengunjungi kafe pelangi demi mendapatkan informasi tentang Anggita. Tapi baik Nia dan Danny masih tetap pada janji mereka untuk tetap menutup mulut. Dan Danny juga sadar dirinya diikuti oleh suruhan Gunawan demi mendapatkan informasi tentang Anggita. Dia sudah membereskan suruhan papanya itu. Sepertinya pria itu membalas sakit hatinya kepada Clara dengan melampiaskannya kepada Evan.
Lain Evan, lain Anggita. Wanita itu seolah sudah melupakan semua kisah pahitnya selama berumah tangga dengan Evan. Kini wanita itu fokus menjalankan usaha kafe bintang. Usaha itu sudah berjalan selama dua bulan ini. Anggita Bisa merasakan kebahagiaan karena kafenya diterima masyarakat dengan baik di Kota ini. Bisa dikatakan jika pengalamannya mengelola kafe pelangi sangat berguna dalam pengelolaan kafe bintang. Bersamaan dengan itu usia kandungannya juga sudah berusia tujuh bulan.
Perkembangan kafe yang bagus dan kandungan yang sehat membuat Anggita tidak berhenti bersyukur. Semakin ke sini. Anggita semakin ikhlas menjalani takdir kehidupannya. Wanita baik itu bisa mengelola hatinya dengan baik sehingga tidak terpuruk menjalani kehamilan yang dipengaruhi oleh hormon yang sering berubah ubah.
Anggita memang tidak mendapatkan perhatian Dan kasih sayang dari pria yang menjadi penanam benih di rahimnya. Tapi dia mendapatkan perhatian dari laki laki yang dia sebut sebagai sahabat. Laki laki itu adalah Danny dan Dokter Angga. Dua pria yang menjaga dirinya dari para Mata keranjang dari pria pria yang menjadi pengunjung kafenya.
Danny hampir setiap akhir pekan berkunjung ke Kafe itu tanpa orang suruhan Gunawan. Sedangkan dokter Angga bisa dikatakan setiap hari datang berkunjung. Jarak yang lumayan dekat dari rumah sakit ke kafe Anggita. Membuat pria itu selalu menyempatkan diri ke kafe Anggita.
"Dimana Anggita?" tanya Danny yang baru saja tiba kafe itu.
"Mbak Anggita dua jam yang lalu keluar dengan dokter Angga pak," jawab Lasmi. Danny melangkahkan kakinya menuju rumah Anggita.
"Ibu, numpang tidur di sofa," kata pria itu langsung merebahkan dirinya di sofa panjang itu. Perjalanan itu ternyata melelahkan dirinya juga.
"Silahkan nak," jawab mama Feli Kemudian meninggalkan Danny sendirian di ruang tamu itu.
Baru saja, Danny memejamkan mata. Mobil milik dokter Angga sudah memasuki pekarangan kafe. Anggita terlebih dahulu turun diikuti oleh dokter Angga. Mereka berdua langsung menuju bagian belakang mobil.
"Bawa yang ringan saja Anggita," kata dokter Angga sambil mengambil kantong besar berisi belanjaan dari tangan Anggita.
"Ga apa apa dokter. Ini masih ringan. Aku bisa membawanya."
"Kamu mau, dia lahir sebelum waktunya?. Wanita hamil tidak boleh membawa beban yang berat." Dokter Angga berkata sambil menunjuk perut buncit Anggita.
Anggita melepaskan kantong belanjaan itu. Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang berbahaya pada kandungannya. Dokter Angga sudah bersedia menemani dirinya berbelanja keperluan kafe ke pasar traditional yang terkenal dengan aroma pasar. Anggita merasa tidak enak hati jika dokter Angga juga yang membawa kantong belanjaan itu yang lumayan banyak.
Anggita menoleh ke arah kafe. Dari pengunjung yang ramai bisa dipastikan jika para karyawannya juga sibuk. Jika meminta salah satu bantuan para karyawannya bisa dipastikan jika ada beberapa para pengunjung yang akan lama menunggu pesanan mereka.
Anggita mengutamakan pelayanan kafe yang cepat. Dia tidak ingin mengganggu para karyawannya hanya untuk mengangkat belanjaan itu. Jika dia membiarkan hanya dokter Angga yang mengangkat belanjaan itu ke dapur bisa dipastikan jika dokter Angga akan bolak balik lebih dari tiga kali antara dapur dan mobil.
"Ayo masuk. Apa yang kamu pikirkan?" tanya dokter Angga sambil mendorong tubuh Anggita pelan. Di tangan kiri kanan dokter Angga sudah ada dua kantong belanjaan yang besar. Anggita ingin mengambil kantong belanjaan yang kecil dari mobil, dokter Angga semakin mendorongnya pelan.
"Aku bawa yang kecil saja."
"Tidak. Danny ada di dalam. Suruh dia yang membantu aku membawa belanjaan ini," kata Danny sambil mengarahkan dagunya ke arah mobil Danny.
"Ah iya. Kamu benar Dokter. Kita buat kedatangan pria itu berguna sedikit," kata Anggita kemudian terkekeh. Dokter Angga juga tertawa mendengar perkataan Anggita. Danny setiap datang ke kafe ini bisa dikatakan hanya untuk menyusahkan Anggita. Pria itu tidak akan memakan atau meminum pesanan kalau bukan Anggita yang membuatnya. Hal itu tentu saja membuat Anggita kesal.
"Apa kedatangannya tidak pernah berguna bagimu?" tanya dokter Angga. Kini mereka sudah berjalan menuju rumah.
"Dokter seperti tidak tahu saja bagaimana Danny."
Mereka baru menginjakkan kakinya di pintu rumah. Anggita dan dokter Angga melihat Danny sudah tertidur di sofa panjang dengan sepatu masih melekat di kakinya.
Anggita menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mantan adik iparnya itu. Makin kesini. Danny bukan seperti pria yang mengejar cinta dari wanita pujaan hatinya. Pria itu bersikap seenaknya saja dan hal itu tidak membuat mama Feli keberatan. Mama Feli juga senang dengan kedatangan pria itu Danny sangat bebas di rumah itu tanpa canggung sedikitpun. Makan dan tidur sesuka hatinya.
"Jangan dibangunkan. Biarkan dia istirahat. Dia pasti lelah menyetir," kata dokter Angga melarang Anggita ketika tangan Anggita sudah siap memukul kaki Danny.
"Tapi dokter?"
__ADS_1
"Tenang saja. Membawa belanjaan itu ke rumah akan membantu tanganku semakin kekar." Anggita dan Dokter tidak sadar jika Danny membuka matanya sebentar kemudian memejamkan kembali.
Tanpa sadar Anggita mengembangkan senyumnya mendengar perkataan dokter Angga. Kebaikan dokter Angga sangat nyata dan terlihat tulus. Dia mengikuti langkah dokter itu sampai ke dapur dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya.
"Kenapa senyum senyum?" tanya dokter Angga. Pria itu sudah meletakkan belanjaan itu di depan kulkas.
"Aku senyum. Sepertinya tidak."
Anggita tidak bisa menutupi kegugupan yang melanda hatinya ketika ketahuan sedang tersenyum. Apalagi senyum itu karena kebaikan pria yang sedang di depannya.
"Jadi kamu tidak tersenyum tadi ya. Mungkin aku yang salah lihat."
Dokter Angga juga tidak dapat menyembunyikan senyum setelah meninggalkan Anggita di dapur itu. Bahkan dia menggelengkan kepalanya mengingat senyum wanita hamil yang terlihat sangat manis di matanya.
"Istirahat dulu Dokter. Aku buatin apa?. Kopi atau jus?" tanya Anggita. Ini kedua kalinya dokter Angga membawa kantong belanjaan dari mobil ke dapur ini.
"Terserah kamu saja. Mau dibuatin apapun. Aku pasti senang."
"Duduk dokter. Aku akan buatkan jus untuk Dokter."
"Nanti saja duduknya Anggita. Aku ambil kantong belanjaan dulu. Biar tenang nanti menikmati jus buatan kamu," kata dokter Angga sambil tersenyum. Kemudian kembali ke dalam mobil untuk mengambil belanjaan lagi.
Bolak balik mengangkat belanjaan dari Mobil ke dapur ternyata membuat dokter Angga kelelahan juga. Kemejanya yang basah karena keringat menandakan jika pria itu mengerahkan tenaganya untuk mengangkat beban yang lumayan berat itu.
"Cape bro?" tanya Danny yang sudah duduk di sofa panjang itu. Dokter Angga yang melewati ruang tamu itu hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil terus melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Tahan tahanlah bro. Cinta butuh pengorbanan. Mengangkat kantong belanjaan itu masih kategori pengorbanan yang sangat kecil sekali," kata Danny kemudian tertawa. Dia sangat yakin jika perkataannya itu pasti didengar oleh dokter Angga.
Dugaan Danny ternyata benar. Dokter Angga tersenyum mendengar perkataan Danny itu. Rasa lelah mengangkat kantong belanjaan itu hilang setelah melihat Anggita menyodorkan segelas jus segar kepada dirinya.
"Kalian duduk si ruang tamu saja," kata mama Feli ketika dokter Angga menarik kursi. Mama Feli kini sudah sibuk mengeluarkan isi dari kantong kantong belanjaan itu.
"Iya Dokter. Kita di ruang tamu saja," ajak Anggita. Dapur yang sedikit berantakan Karena banyaknya kantong belanjaan membuat Anggita merasa tidak nyaman jika dokter Angga menikmati jus itu di dapur.
"Jus buatan kamu sangat enak Anggita," puji Dokter Angga. Mendengar pujian Dokter Angga, seketika Danny bangun dari tidurnya.
"Ya... Begitu lah orang yang sedang jatuh cinta. Apa apa semuanya indah dan enak. Andaikan garam dibuat campuran buah itu. Kamu pasti juga mengatakan enak," kata Danny. Anggita mengerutkan keningnya mendengar perkataan Danny itu. Sedangkan dokter Angga tersenyum kemudian menundukkan kepalanya.
"Terlalu sering mengalami membuat kamu bisa mengetahui seseorang yang sedang jatuh cinta."
Bukannya membantah, dokter Angga seakan membenarkan perkataan Danny yang mengatakan dirinya sedang jatuh cinta.
"Aura orang orang yang sedang jatuh cinta itu berbeda dengan aura yang tidak sedang jatuh cinta bro. Bukan karena aku sering mengalaminya."
"Berapa kali kamu sudah pernah mengalami jatuh cinta?" tanya Dokter Angga kepada Danny.
"Lupa. Yang pasti berkali Kali bro." Tawa dua pria itu pecah seketika setelah Danny menjawab pertanyaan Dokter Angga.
"Sudah masuk kategori playboi."
"Kalau dokter berapa kali?" tanya Danny balik.
"Kalau boleh jujur. Ini yang kedua kalinya."
"Beruntung donk dia. Setidaknya dia tidak menjadi yang ke sekian."
Danny dan dokter Angga masih saja berbicara tentang hal hal yang menyangkut diri mereka masing masing. Merasa dirinya tidak bisa masuk dalam pembicaraan itu. Akhirnya Anggita meninggalkan dua pria itu di ruang tamu. Anggita ingin membantu mama Feli di dapur untuk membereskan belanjaan yang tadi.
"Anggita."
__ADS_1
Anggita menoleh ke arah sumber suara dimana Danny menjumpai dirinya ke dapur.
"Ada apa Danny?" tanya Anggita. Tangannya tidak berhenti untuk membereskan belanjaan itu.
"Dokter Angga sudah pulang. Dia tidak pamit kepadamu karena ada panggilan darurat dari rumah sakit."
Anggita hanya menganggukkan kepalanya. Ini bukan pertama kalinya. Dokter Angga terburu buru pulang dari kafenya jika ada panggilan darurat dari rumah sakit.
"Anggita boleh kita berbicara sebentar?.
Anggita menghentikan tangannya dari kantong belanjaan itu. Dia menatap wajah Danny yang penuh harap akan permintaan itu.
"Boleh." Anggita langsung berusaha berdiri. Perut buncitnya sedikit menghalangi pergerakannya. Dia mengikuti langkah Danny menuju ruang tamu.
"Bicara apa?. Anggita kini duduk berhadapan dengan mantan adik iparnya itu.
"Mungkin di hari mendatang. Aku akan jarang datang mengunjungi kalian."
Danny terdiam sesaat sebelum menyampaikan apa yang menjadi ganjalan hatinya. Begitu juga dengan Anggita. Wanita itu juga masih terdiam menunggu Danny berbicara lagi.
"Anggita, sebelumnya aku minta maaf jika ada perkataanku yang membuat dirimu tidak nyaman mengingat kita adalah mantan ipar. Tapi itu semua aku lakukan sebenarnya untuk menjaga kamu dari pria pria yang tidak bertanggung jawab. Ketika aku mendengar kamu hendak membuka kafe. Yang aku pikirkan adalah status kamu dan kemungkinan pengunjung yang mungkin akan ada yang bermata keranjang. Aku pernah berpikir jika mengaku menjadi kekasih Kamu. Orang tidak akan berani merendahkan kamu.Tapi saat ini. Aku sadar bahwa sudah Ada pria yang lebih bisa menjaga kamu. Pria yang baik dan tulus."
Anggita terkejut mendengar pengakuan Danny. Dia tidak menyangka jika Danny memikirkan terlalu jauh akan dirinya. Dia pernah kesal kepada pria itu karena menuntut balasan atas kebaikannya. Ternyata maksud dari semua itu adalah kebaikan dirinya sendiri yang mempunyai resiko membuka usaha kafe.
"Pria yang mana yang kamu maksud Danny?. Anggita sengaja bertanya untuk memperjelas siapa pria yang dimaksudkan oleh Danny. Danny terlalu pintar berkata kata. Anggita tidak ingin terjebak dengan pembicaraan pria itu yang ujungnya akan menyebut Evan sebagai pria yang baik dan tulus.
"Apakah ada pria yang berusaha mendekati kamu selain dokter Angga?" tanya Danny. Danny kemudian tersenyum melihat Anggita. Pesona Janda Muda plus Hamil itu bisa menggetarkan hati pria saja yang memandangnya. Tapi berkat kedekatan Anggita dan dokter Angga membuat para pria pengagum kecantikan wanita itu menjadi mundur teratur.
"Dokter Angga mendekati aku?. Anggita bertanya seakan tidak percaya dengan perkataan Danny.
"Dia menyukai kamu Anggita. Dan aku rasa Dokter Angga adalah pria yang tepat untuk menjadi pendamping kamu. Dokter Angga adalah pria yang baik. Kalian pasti cocok nantinya. Nama kalian juga hampir sama kan.
Kamu Anggita. Sedangkan dia Anggota. Jika disingkat Anggi dan Anggo. Eh... salah Angga."
Danny terbahak sendiri karena perkataannya. Apalagi melihat wajah Anggita yang terlihat kesal seperti hiburan bagi dirinya sendiri.
"Yeaah. Tidak terima dia. Nama calon suaminya diplesetkan."
"Danny," bentak Anggita kesal. Pria itu semakin sesuka hati menyebut status dokter Angga bagi dirinya.
"Oke. Oke. Kali ini aku serius Anggita. Kamu berhak bahagia. Dengan siapapun itu yang penting pria yang kelak mendampingi kamu nantinya adalah pria yang baik yang kamu cinta dan mencintai kamu. Jika kamu mengharapkan Evan kembali. Dengan senang hati aku akan memberitahukan keberadaan kamu pada dia. Asal kamu tahu. Mantan suami kamu itu masih berusaha mencari kamu dan terlihat menyesali perbuatannya."
Danny sengaja mengatakan itu untuk mengetahui isi hati mantan iparnya terhadap Evan. Sebagai seorang adik. Dirinya juga mengharapkan yang terbaik untuk hubungan Anggita dan Evan. Jika Anggita tidak bisa menerima Evan. Setidaknya Danny tidak menyesal suatu saat karena menyembunyikan keberadaan Anggita dari Evan.
"Apa ada alasan untuk aku bertemu dengan dia Danny. Aku tidak pernah dianggapnya. Aku bagaikan sampai yang secepatnya harus dibuang. Kalau dia menyesal sekarang mengapa dia tidak berpikir panjang mendaftarkan gugatan cerai itu."
"Bukan kamu yang mendaftarkan perceraian itu?" tanya Danny terkejut. Anggita menggelengkan kepalanya. Dari informasi yang dia dapat bahwa Anggita lah yang mendaftarkan gugatan perceraian itu.
"Siapapun yang mendaftarkan gugatan itu tidak mengubah status kami saat ini."
"Tapi akan ada anak diantara kalian," kata Danny lagi.
"Anak?. Anak ini sudah aku korbankan untuk kebahagiaan dia. Anak ini hanya milikku selamanya. Kamu tidak pernah merasakan bagaimana sakit seorang ibu yang hendak dipisahkan dari anaknya. Mama Anita berencana memisahkan anak ini dari aku. Dan Adelia berkali kali mencoba mencelakai janin ini. Dan kakak kamu itu percaya akan fitnah yang dilontarkan Adelia. Aku bahkan hampir mendekam di penjara. Janinku sudah merasakan kejahatan Adelia masih hitungan bulan bersemayam di rahim ku. Dia sama sekali tidak pernah mempercayai aku dan justru menyebut aku sebagai pembunuh. Adakah jalan untuk aku kembali kepadanya?.
Anggita ternyata masih merasakan hatinya sakit ketika mengatakan semua penderitaannya kepada Danny.
"Jangan menangis Anggita. Aku percaya kamu adalah wanita yang kuat. Percaya kepadaku. Aku akan tutup mulut tentang keberadaan kamu sampai kapanpun kamu menginginkannya. Bukalah hatimu kepada pria yang bisa memberikan kebahagiaan kepada kamu. Aku sangat yakin jika dokter Angga adalah pria yang tepat."
Danny juga bisa merasakan kesedihan Anggita. Melihat wanita itu hampir menangis dia juga mengutuk perbuatan Evan dalam hati.
__ADS_1
"Aku mengharapkan yang terbaik untuk hubungan kamu dan dokter Angga. Dan aku akan tetap ada untuk kalian. Kapanpun kamu membutuhkan bantuanku. Jangan segan segan untuk menghubungi aku Anggita."
"Terima kasih Danny," kata Anggita tulus.