
Apa yang dialami oleh Adelia. Sangat berbanding terbalik dengan yang dialami oleh Anggita. Wanita itu sekarang hidup lebih tenang. Lingkungan yang aman dan nyaman membuat Anggita perlahan lahan bisa melupakan sakit hatinya.
Anggita menempati rumah pilihan Danny untuk dirinya dan mama Feli. Rumah yang terletak di Kota kabupaten yang masih satu provinsi dengan tempat tinggal Evan. Butuh waktu tiga atau empat jam dari Kota ini ke kota provinsi. Danny sengaja memilih tempat ini karena kotanya sudah lumayan maju dan mudah mendapatkan apa apa saja yang dibutuhkan oleh orang hamil. Mulai dari rumah sakit hingga hal hal kecil yang dibutuhkan untuk mempersiapkan kelahiran bayi Anggita kelak.
Selain itu, Danny sangat yakin jika Evan tidak akan pernah menemukan Anggita di tempat ini. Kota ini adalah Kota yang membuat Evan trauma untuk datang ke Kota ini. Di kota ini, Evan pernah mengalami kecelakaan hingga membuat dirinya hampir tidak tertolong.
Hampir dua bulan Anggita di Kota ini. Dan selama itu juga Danny tidak pernah datang berkunjung. Pria itu menghilang tanpa memberikan kabar apapun kepada Anggita.
Kini usia kandungan Anggita sudah berumur Lima bulan. Perutnya sudah membuncit. Gerakan bayinya juga aktif membuat Anggita tidak sabar menunggu waktu untuk melahirkan.
Janin itu sehat walau tanpa kasih sayang papa biologisnya. Evan bagaikan hanya pendonor benih untuk janin itu. Tapi walau begitu. Anggita sangat optimis bahwa bayinya kelak tidak akan kekurangan kasih sayang. Anggita berjanji dalam hatinya akan berusaha menjadi ibu dan ayah sekaligus untuk sang janin.
Mengandung dengan perut membuncit tidak membuat Anggita hidup malas apalagi bermanja. Jika dia mau. Mama Feli bisa mengerjakan atau tempatnya bermanja. Anggita tahu diri. Statusnya yang sudah menjadi janda sudah membuat mama Feli sedih. Sekuat mungkin, Anggita bangkit dan tidak ingin memyusahkan mama Feli. Wanita itu kini berpikir jika tanggung jawabnya bukan hanya dirinya atau janinnya. Wanita hamil itu berpikir jika mama Feli adalah tanggung jawab juga.
Karena begitu banyaknya tanggung jawab di pundaknya. Anggita tidak bisa hanya berdiam diri. Dia membuka usaha di samping rumahnya.
Anggita membuka kafe kecil kecilan. Letak rumah Anggita yang strategis berada di antara kampus dan rumah sakit membuat Anggita sangat yakin jika kafenya nanti akan banyak pengunjung. Mempunyai pengalaman mengelola kafe pelangi. Kini Anggita sedang merenovasi bangunan samping rumahnya yang lumayan berukuran luas. Dia mendesain kafe itu sendiri. Dia mengarahkan para pekerja untuk membuat kafe itu sesuai keinginannya.
"Aquarium diletakkan di tengah ya Pak," kata Anggita kepada empat laki laki yang sedang mengangkat aquarium yang besar.
"Bunganya diletakkan di sini mbak," kata Anggita lagi kepada seorang wanita yang sedang membawa pot berisi bunga yang cantik.
Setelah hampir satu jam, Anggita puas dengan tampilan kafe itu. Semuanya sudah beres. Anggita berencana membuka kafe itu minggu depan.
"Anggita, darimana kamu mendapatkan uang untuk modal?" tanya mama Feli. Kini kedua wanita itu duduk di meja kasir. Mama Feli bingung tentang sumber keuangan Anggita. Selama mereka di desa dan di Kota ini. Anggita tidak pernah mengeluh tentang kebutuhan mereka sehari hari. Mama Feli berpikir jika kebutuhan mereka selama ini dari tabungan Anggita selama bekerja. Tapi untuk modal sebanyak ini. Mama Feli ragu jika uang itu dari tabungan putrinya.
"Mama, jangan khawatir. Uang itu dari tabungan aku."
"Kamu punya tabungan sebanyak itu?" tanya mama Feli. Merenovasi samping rumah menjadi sebuah bangunan kafe yang indah di pandang mata pasti membutuhkan modal besar.
Anggita hanya menganggukkan kepalanya. Pernah bekerja di perusahaan Dinata group selama satu tahun, setidaknya dia mempunyai tabungan. Ditambah dengan mengelola kafe satu tahun. Anggita tidak bodoh. Walau kafe itu diberikan atas namanya. Anggita menganggap dirinya hanya sebagai pekerja. Setiap bulan dia mengambil haknya sebagai pekerja.
Bukan hanya itu saja. Ternyata Anggita juga bekeja secara online di salah satu platform. Dia menjadi tenaga penerjemah yang diperhitungkan di platform tersebut. Selama bekerja Dan menjadi istri Evan, Anggita meluangkan waktunya dua atau tiga jam bekerja di platform tersebut. Itu juga alasan Anggita bersedia pindah dari desa tempat persembunyiannya dulu. Di desa itu dia tidak bisa melakukan apapun untuk menambah tabungan karena tidak ada internet. Setelah di Kota ini, Anggita kembali bisa berkarya.
"Apa keluarga mantan suami kamu memberikan kompensasi yang banyak?" tanya mama Feli ingin tahu. Bukan untuk berniat apa apa. Tapi mama Feli tidak suka jika apa yang dimiliki oleh Anggita saat ini adalah pemberian mantan suaminya. Mama Feli sebenarnya juga malu karena rumah yang mereka tempati adalah pemberian Danny. Itulah sengetahuan mama Feli. Tapi kenyataannya Anggita harus membayar uang kontrak rumah itu untuk Lima tahun ke depan. Karena Anggita sendiri juga tidak bersedia menerima materi apapun dari keluarga kakek Martin.
"Iya ma. Kakek Martin sebenarnya sudah memberikan kafe dan rumah atas nama aku. Tapi semua aku tinggalkan disana. Aku kembalikan," kata Anggita sedih. Mengingat itu sebenarnya hatinya masih sakit. Evan dan mama Anita selalu menghina dirinya karena dua hal itu.
"Harta bisa dicari nak. Tapi harta yang paling berharga adalah kesehatan dan harga diri. Jaga kesehatan kamu. Jangan terlalu larut dalam masalah kamu ini. Jangan biarkan mereka yang menyakiti dirimu tertawa karena terpuruk," kata mama Anita sambil mengelus punggung tangan Anggita.
Anggita menganggukkan kepalanya. Dia juga sudah bertekad di dalam hatinya jika dia akan bisa memiliki harta tanpa embel embel kakek Martin di dalam dirinya.
__ADS_1
Anggita dan mama Feli sama sama menoleh ke halaman kafe itu. Sebuah Mobil berwarna putih baru saja memasuki halaman itu. Anggita sedikit merasa bingung. Kafenya belum beroperasi tapi pengunjung sudah datang. Untung saja dia sudah mempersiapkan sebagian bahan bahan untuk keperluan kafenya dan suasana kafe itu sudah bersih. Anggita bisa menyajikan menu andalan kafe itu untuk pengunjung pertama.
Anggita sudah memikirkan hal yang harus dia lakukan untuk menyambut si empunya Mobil putih. Tapi ketika melihat siapa yang turun dari Mobil. Anggita dan mama Feli sama sama beranjak dari duduknya. Mereka melangkah bersama ke arah pintu. Sedangkan yang punya mobil terlihat tersenyum kepada mereka kemudian memutari mobil hendak membuka pintu mobil untuk seseorang.
Anggita dan mama Feli masih berdiri di pintu itu menunggu siapa yang diperlakukan istimewa oleh pria yang ternyata Danny itu.
Baru saja Danny menutup pintu mobil. Dari balik tubuhnya berlari putri kecilnya ke arah Anggita dan mama Feli.
"Mama Ita, Sisil kangen," kata anak kecil itu sambil menghambur memeluk Anggita. Tubuhnya yang masih kecil hanya bisa memeluk kaki Anggita. Anggita terkejut dan tidak tahu menjawab apa ketika Sisil menyebut dirinya mama. Anggita hanya berpikir jika anak itu salah orang karena Sisil jelas menyebut nama Ita.
Danny dengan santainya berjalan mendekat ke arah tiga perempuan berbeda tiga generasi itu. Dia tidak merasa terganggu dengan panggilan putrinya kepada Anggita.
"Apa kabar Anggita, Ibu Feli?" tanya Danny sambil tersenyum. Ekor matanya melirik ke arah perut Anggita yang menonjol.
"Kabar baik nak." Mama Feli yang menjawab sedangkan Anggita hanya tersenyum dan terlihat mengelus kepala Sisil.
"Mama Ita. Di sini ada adik ya," kata Sisil tiba tiba sambil menunjuk perut Anggita.
Anggita menganggukkan kepalanya. Mendengar pertanyaan Sisil bisa dipastikan jika anak kecil itu tidak salah orang. Anggita menarik tangan Sisil lembut masuk ke dalam kafe. Mama Feli dan Danny mengikuti dari belakang.
"Kapan mulai dibuka?" tanya Danny sambil berjalan. Tanpa dijelaskan, Danny bisa melihat bahwa bangunan itu akan dijadikan tempat usaha.
"Minggu depan." Anggita menjawab sambil menarik kursi. Kemudian dia membantu Sisil untuk duduk di kursi tersebut.
Lagi lagi anak kecil itu berceloteh dan menyebut dirinya mama Ita. Sisil membuka tas kecil yang sedari tadi tergantung di punggungnya.
"Ini ma," kata Sisil sambil menyodorkan sebatang coklat. Anggita mengulurkan tangannya menerima coklat tersebut. Ingin rasanya dia meralat nama panggilan yang disebutkan Sisil until dirinya. Tapi melihat binar mata anak kecil itu, Anggita tidak tega.
"Dia putri aku bu. Aku dan mamanya sudah bercerai." Danny menjelaskan status dirinya dan status putrinya. Mama Feli terlihat hanyan menganggukkan kepalanya. Dia ingin bertanya tapi merasa sungkan.
"Anak yang cantik. Pintar lagi. Siapa namanya?" tanya mama Feli sambil mencubit pelan pipi Sisil.
"Sisil Nek," jawab anak kecil itu. Mama Feli tersenyum. Dia mengulurkan tangannya menjangkau anak kecil itu. Sisil juga membalas uluran tangan itu. Kini anak kecil sudah berada di pangkuan mama Feli.
"Desain yang indah," kata Danny sambil mengedarkan pandangannya. Danny mengagumi desain kafe itu.
"Masih menerima saran dan kritik," jawab Anggita. Danny tersenyum mendengar jawaban Anggita. Di hatinya sudah ada penilaian akan wanita yang menjadi mantan kakak iparnya itu.
"Siapa yang mendesain?" tanya Danny.
"Anggita sendiri nak." Mama Feli yang menjawab melihat Anggita sibuk dengan Sisil. Dua wanita itu kini sibuk dengan coklat pemberian Sisil tadi. Anggita terlihat memasukkan sedikit coklat ke mulut Sisil. Kemudian memasukkan coklat juga ke dalam mulutnya sendiri. Sungguh pemandangan yang indah bagi Danny. Perhatian yang tidak didapat oleh Sisil dari mama kandungnya. Mantan istrinya terlalu sibuk dengan dunia luar lebih tepatnya sibuk dengan pria lain.
__ADS_1
"Menurut aku. Semua yang ada di kafe ini sudah mendekati sempurna. Tinggal bagaimana sumber daya manusianya nanti melayani pengunjung. Tentunya dengan menu yang cita rasanya enak dan tidak pasaran," jawab Danny.
Anggita hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya menyetujui saran Danny itu.
"Adiknya gerak," teriak Sisil girang. Anak kecil itu tidak sengaja meletakkan tangannya di perut Anggita dan merasakan gerakan janinnya itu. Anggita tersenyum. Dia juga merasakan pergerakan janinnya. Melihat ekspresi lucu wajah Sisil membuat Anggita tidak bisa menahan tangan untuk mencubit pelan wajah anak kecil itu.
"Benarkah?" tanya Danny antusias. Dia ingin menggerakkan tangannya untuk menyentuh perut Anggita tapi seketika dia sadar akan status dirinya.
"Sini tangan papa." Sisil hendak meraih tangan Danny. Tapi pria itu langsung menangkap tangan itu dan mencium tangan Sisil.
"Papa bisa lihat kok," kata Danny. Dia tidak ingin lancang meletakkan tangannya di perut Anggita karena keinginan putri kecilnya itu. Apalagi Anggita sudah terlihat canggung.
"Sisil, bantu nenek buat kopi yuk," ajak mama Feli kepada Sisil. Anak kecil yang tidak mengerti apa apa itu meraih tangan mama Feli. Mama Feli sengaja mengajak Sisil supaya pembicaraan tentang gerakan janin itu tidak berlanjut. Sangat jelas Anggita tidak nyaman.
Setelah mama Feli dan Sisil tidak ada lagi di tempat itu. Baik Anggita dan Danny sama sama canggung. Danny merasa canggung karena Sisil memanggil wanita itu dengan mama Ita. Dia tidak mengajari anak itu untuk memanggil Anggita dengan sebutan itu. Dan Tapi itu murni keinginan Sisil.
Sedangkan Anggita. Selain sebutan dari Sisil dia juga merasa canggung karena bisa melihat pergerakan tangan Danny tadi yang hendak menyentuh perutnya.
"Anggita, maaf. Aku tahu kamu tidak nyaman dengan sebutan dari Sisil."
"Bukan masalah nyaman tidak nyaman Danny. Kamu seharusnya menjelaskan arti sebutan mama kepada Sisil. Jangan sampai ada yang salah paham dengan sebutan itu."
Bukan tanpa sebab dirinya mengatakan hal itu. Mereka sama sama sama tidak mempunyai pasangan saat ini. Dia tidak ingin sebutan Sisil untuk dirinya menjadi salah paham nantinya kepada wanita yang menjadi pendamping Danny nantinya.
"Itu artinya kamu tidak keberatan dengan sebutan itu kan?" tanya Danny. Anggita menatap Danny. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Jika dia mengatakan keberatan. Anggita merasa tidak enak hati. Danny sudah terlalu baik mencarikan rumah ini untuk mereka tempati. Jika dia mengatakan tidak keberatan. Anggita tidak ingin Danny menilai dirinya mengharapkan sebutan itu untuk dirinya.
"Kamu terlalu berani membawa Sisil kemari. Bagaimana kalau dia bercerita kepada Nenek atau tante tentang pertemuan ini?" tanya Anggita khawatir.
"Kamu tenang saja tentang itu. Seribu kalipun Sisil bercerita tentang kamu dengan sebutan mama Ita. Mereka tidak akan terpikir jika itu kamu," jawab Danny tenang.
"Kamu harus ingat janji kamu Danny. Membawa Sisil kemari, sebenarnya kamu sudah mengingkari janji." Anggita mengingatkan janji Danny sebelum bersedia pindah ke tempat ini.
"Aku tidak mengingkari janji. Saat itu aku berjanji tidak akan memberitahukan kepada siapapun kecuali Sisil. Hanya saja ketika mengatakan kecuali Sisil aku mengatakannya di dalam hati."
Anggita menatap kesal kepada pria itu. Danny terlalu pintar berkata kata membuat dirinya rinselalu kalah jika berbicara dengan pria itu.
"Kamu belum menjawab pertanyaan aku."
"Pertanyaan apa?.
"Kamu tidak keberatan kan kalau Sisil memanggil kamu dengan sebutan mama. Dia sangat merindukan seorang mama Anggita. Clara, mamanya Sisil tidak pernah mengingat putrinya," kata Danny sedih. Setelah dirinya bercerai dari Clara. Clara seakan lupa akan Sisil. Clara tidak pernah menghubungi Sisil walau sekedar Panggilan video.
__ADS_1
Danny tidak berbohong. Apa yang dikatakan oleh pria itu adalah kenyataan. Setiap malam Sisil merindukan sosok ibu. Walau tante Tiara menyayangi Sisil dengan tulus. Sisil masih saja bertanya tentang mamanya.
"Tapi kalau kamu keberatan tidak apa apa Anggita," kata Danny pelan.