
Anggita dibantu seorang perawat akhirnya berbaring di bed itu. Sedangkan dokter masih saja duduk di tempatnya semula. Perawat menyingkapkan kemeja yang dikenakan Anggita dan mengoleskan semacam gel di atas perut tersebut.
"Sudah dokter," kata perawat wanita itu. Perawat sudah melaksanakan tugasnya. Kini saatnya dokter yang bertugas.
Anggita berusaha menutup perutnya dengan selimut ketika melihat dokter yang sudah mendekat ke arahnya. Dia merasa malu jika sang dokter melihat perutnya.
"Jangan ditutup bu. Dokter akan segera memeriksa ibu," larang perawat seraya menahan selimut itu. Dokter Angga terkekeh. Baru kali ini dia mendapat pasien yang menutup perut yang sudah diolesi gel karena malu. Tapi dokter Angga memaklumi itu. Dokter Angga berpikir jika Anggita merasa malu karena ini masih pengalaman pertama mengandung dan tidak didampingi suami.
Dari semua pasiennya, bisa dikatakan hanya Anggita yang tidak didampingi oleh suami atau keluarga lainnya saat pemerikasaan seperti ini. Dokter Angga seketika mengingat kejadian empat bulan lalu tentang Anggita. Dimana Anggita menceritakan alasan dibalik dirinya ingin menyembunyikan kehamilannya.
"Untung aku tidak bertanya tentang suaminya," kata Dokter Angga dalam hati. Dia merasa kasihan tentang nasib pernikahan pasiennya itu.
Seakan mengerti akan sikap canggung pasiennya. Sang dokter langsung duduk di kursi. Cara duduk yang menyamping langsung menghadap layar komputer bisa dipastikan jika dirinya tidak melihat perut Anggita. Hal itu sengaja dia lakukan supaya pasiennya itu terlihat nyaman. Tapi ketika dirinya ingin menempelkan alat itu ke perut pasiennya. Tentu saja sang dokter kewalahan. Beruntung dia mempunyai seorang perawat yang bisa melihat dirinya bekerja seakan tidak profesional Hari ini. Perawat itu, membantu dokter Angga mengarahkan alat itu hingga menempel ke perut Anggita.
"Ini janinnya bu Anggita. Bisa lihat?" tanya dokter Angga. Anggita hanya menganggukkan kepalanya dan merasa takjub melihat janinnya walau terlihat Samar. Dokter Angga masih menggerakkan alat itu di sekitar perut milik Anggita. Dokter itu menunjukkan kepala, kaki dan organ tubuh janin itu kepada Anggita.
"Ini detak jantungnya. Normal," kata sang dokter. Anggita mendengar suara yang terasa asing di kupingnya tapi membuat bibirnya tersenyum. Dia mendengar sendiri detak jantungnya anaknya melalui alat itu. Ini pertama kalinya dia mendengar detak jantung janinnya. Anggita dapat merasakan perasaan asing yang tidak bisa digambarkan hanya dengan mendengar detak jantung janin itu.
"Dia pemalu. Dia tidak mau menunjukkan kelaminnya," kata sang dokter lagi. Letak tangan janin Anggita menutupi kelaminnya sehingga tidak bisa dilihat. Apakah dia laki laki atau perempuan. Anggita tidak tahu harus bagaimana menanggapi setiap informasi dari sang dokter. Dia hanya tersenyum.
"Sudah selesai," kata dokter sambil meninggalkan kursinya itu dan kembali ke tempat duduknya semula ketika Anggita baru masuk tadi. Lagi lagi dokter itu tidak melihat ke arah Anggita. Dan setelah perut Anggita dibersihkan oleh perawat. Anggita kembali dipersilahkan duduk di hadapan sang dokter.
"Semua normal, hanya saja berat janin ibu tidak sesuai dengan usianya," kata dokter Angga. Anggita langsung duduk gelisah mendengar penjelasan sang dokter.
"Jangan khawatir bu. Ibu bisa lebih banyak lagi makan supaya berat janin ibu normal sesuai dengan usianya."
"Tapi saya makan teratur dan susu hamil dokter."
"Kalau hanya makan teratur dan minum susu, itu tidak cukup ibu. Perlu makanan pendamping lainnya seperti buah Dan makanan berprotein tinggi lainnya."
Anggita hanya menganggukkan kepalanya pertanda mengerti. Ada rasa khawatir di hatinya mengetahui jika janinnya terlalu kecil dibandingkan usianya. Anggita keluar dari ruangan dokter setelah menerima resep yang diberikan dokter Angga. Kini wanita itu menuju ruangan dimana pembayaran akan dilakukan.
"Sudah dibayar ibu."
Anggita terkejut. Dia heran. Dia belum mengenal banyak orang di Kota ini. Tapi biaya yang harus dibayarkan atas jasa dokter tadi sudah terbayar.
"Siapa yang membayarnya bu?" tanya Anggita. Matanya berkeliling melihat orang orang yang ada di ruangan itu. Tapi satu pun tidak Ada yang mengenal atau dia kenal.
"Maaf ibu. Kami tidak bisa memberitahukan identitasnya. Karena pihak yang membayar tidak ingin identitasnya diketahui oleh siapapun termasuk ibu."
Anggita keluar dari ruangan itu dengan penuh tanda tanya. Niatnya ingin menebus resep yang diberikan oleh dokter Angga harus tertunda. Apotik yang ada di dalam rumah sakit itu sudah tutup.
Anggita keluar dari gedung rumah sakit dengan memperhatikan setiap orang yang dia lihat. Mendapatkan pelayanan gratis atau lebih tepatnya dibayarkan oleh seseorang yang tidak dia ketahui membuat Anggita menduga jika Danny adalah orang tersebut.
"Balasan apa lagi yang Kamu inginkan Danny. Sampai kapan pun aku tidak mau menjadi kekasih Kamu," kata Anggita dalam hati. Dia sudah bertekad akan menolak Danny bagaimanapun caranya. Dia tidak bisa membayangkan tanggapan anggota kakek Martin jika dirinya menjadi kekasih dari Danny. Dia tidak ingin menjadi bahan hinaan lagi oleh mama Anita.
__ADS_1
Anggita berjalan sepanjang parkiran itu dengan menggumam kesal. Pikirannya masih tertuju kepada orang yang membayar biaya periksannya. Semakin dia memikirkannya Anggita merasa bukan Danny yang membayar. Danny tidak mungkin datang ke Kota ini apalagi sampai ke rumah sakit tanpa menemui dirinya.
Anggita melangkahkan kakinya dengan cepat. Dia berencana akan berjalan kaki kembali pulang ke rumahnya.
"Anggita, mau pulang?.
Seseorang sudah menghentikan mobilnya dengan kaca yang terbuka. Anggita menoleh ke pemilik suara yang ternyata dokter Angga. Dokter Angga memanggil dirinya tanpa sebutan ibu seperti di ruangan dokter tadi.
"Ya dokter."
"Arah Mana?. Anggita menunjuk ke arah Mana dia akan pulang.
"Kita satu arah. Naiklah Anggita. Aku akan mengantar kamu pulang."
"Terima kasih dokter. Tapi saya sudah memesan ojek online," kata Anggita berbohong. Dia sengaja mengatakan itu hanya menolak kebaikan pria itu. Pengalaman menerima kebaikan dari Danny berujung menuntut balasan membuat Anggita lebih berhati hati menerima setiap kebaikan dari laki laki. Anggita sadar, statusnya sebagai janda dipandang rendah oleh sebagian orang termasuk Danny. Dia tidak ingin ada orang yang kedua menilai dirinya rendah. Lagi pula. Dokter itu Dan dirinya baru kenal itupun sebatas pasien dan Dokter.
Anggita sengaja berdiri di tempat itu seakan akan menunggu ojek online. Sedangkan dokter Angga juga belum menggerakkan mobil miliknya untuk pergi dari tempat itu. Hal itu membuat Anggita salah tingkah. Anggita akhirnya mengeluarkan ponselnya dan ingin memesan ojek online supaya dia tidak kalah malu kepada sang dokter.
"Ada ojek online nya?" tanya dokter Angga yang sudah tiba tiba berdiri di sebelah Anggita. Anggita benar benar tidak menyadari sebelumnya jika ternyata pria itu keluar dari mobil.
"Ada, sebentar lagi juga datang," jawab Anggita sedikit gugup. Dia belum berhasil memesan ojek online itu. Anggita sengaja berbohong supaya Dokter itu meninggalkan dirinya.
Dokter Angga tersenyum. Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya dan kepalanya menengah menatap langit yang tidak berbintang.
"Kamu tidak tahu ya. Kalau kota ini belum ada layanan ojek online."
"Sebentar lagi mau hujan. Naiklah ke mobilku. Kamu tidak perlu takut Anggita. Aku tidak pemakan manusia. Apalagi memakan dirimu," kata dokter Angga bercanda. Pria itu bahkan sudah membuka pintu mobil dan mempersilahkan Anggita untuk Naik ke atas Mobil.
Anggita akhirnya tidak kuasa menolak kebaikan pria itu. Segala prasangka buruk yang sempat hinggap di otaknya kini lenyap seketika hanya karena sikap dokter itu yang terlihat tulus. Anggita menatap dokter Angga terlebih dahulu sebelum Naik ke dalam Mobil. Anggukan kepala dan senyum pria itu membuat Anggita sangat yakin untuk Naik ke dalam mobil..
"Jangan lupa makan vitaminnya sebelum tidur Anggita."
Dokter Angga memulai pembicaraan di Mobil itu dengan mengingatkan Anggita tidak lupa makan vitamin. Menginginkan berat badan janin Anggita membuat dokter Angga memberikan perhatian walau mereka kini bukan sebatas pasien dan dokter.
"Vitaminnya belum ada dokter. Apotik rumah sakit tadi sudah tutup."
Anggita mengatakan yang sejujurnya. Tadi dia sudah berencana untuk ke apotik di luar rumah sakit terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Sepertinya rencananya itu harus tertunda karena dirinya menumpang Mobil dokter Angga. Dia segan untuk meminta dokter Angga untuk singgah sebentar di apotik. Apalagi petir terdengar bersahut sahutan pertanda hujan akan turun. Dan benar saja, kini hujan sudah turun disertai kilat dan petir.
"Anggita, aku mau turun sebentar. Tidak apa apa kan kamu menunggu?" tanya dokter setelah menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Tidak apa apa dokter."
Hanya beberapa menit di luar, dokter Angga sudah kembali ke dalam mobil dengan baju yang terlihat sedikit basah. Hujan di luar ternyata juga disertai angin sehingga payung yang dipakai dokter Angga tidak bisa berfungsi dengan sempurna.
"Ini untuk kamu Anggita."
__ADS_1
Anggita menatap wajah dokter itu sebentar kemudian beralih ke plastik putih yang Ada di tangan sang dokter.
"Apa ini dokter?" tanya Anggita bingung.
"Ini vitamin yang aku resep tadi untuk kamu. Terimalah!.
Anggita langsung mengedarkan pandangannya ke luar mobil. Ternyata mobil itu berhenti tepat di depan sebuah apotik. Anggita terdiam. Tangannya terasa berat untuk menerima plastik putih itu. Dokter Angga bukan siapa siapa tapi sangat perhatian kepada janinnya.
"Berapa ini dokter. Aku akan membayarnya?.
Akhirnya Anggita menerima plastik putih itu dan berniat akan membayarnya.
"Aku bukan apotik. Kalau mau membayar disana. Tapi hujan deras tidak bagus untuk kesehatan kamu dan janin kamu," jawab dokter Angga sambil menghidupkan mesin mobilnya. Anggita tahu bahwa itu hanya alasan dokter supaya tidak menerima pembayaran dari dia.
"Terima kasih dokter."
"Sama sama."
"Tidak ada yang gratis di dunia ini. Dengan apa aku membalas kebaikan kamu ini dokter?" tanya Anggita. Dia masih jelas mengingat perkataan Danny tentang itu. Dia sengaja juga mengatakan itu kepada sang dokter supaya Anggita tidak punya hutang budi.
"Siapa yang bilang tidak ada yang gratis di dunia ini?" tanya dokter Angga sambil fokus menatap jalanan. Hujan deras membuat dokter Angga harus ekstra hati hati membawa mobil itu. Sesekali badannya mencondong ke depan untuk mempertajam penglihatannya.
"Kenyataannya seperti itu kan?.
"Hanya orang orang yang tidak pandai bersyukur mempunyai pemikiran seperti itu. Kamu menghirup udara. Apa kamu membayarnya. Kepada siapa kamu membayarnya?"
Anggita terdiam mendengar perkataan sang dokter. Perkataan dokter itu sangat benar. Tidak ada orang yang membayar atas udara yang dihirup kecuali orang sakit dengan penyakit tertentu yang harus bernafas dibantu dengan tabung oksigen.
"Satu lagi Anggita. Orang orang yang berhati tulus tidak akan membenarkan istilah tidak ada yang gratis di dunia ini. Karena sebagian orang memberi atau berbagi itu adalah salah satu bentuk kebahagiaan. Dan aku berharap kamu, aku dan semakin banyak orang di dunia ini yang tidak membenarkan istilah itu."
Anggita hanya menganggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan oleh dokter itu adalah hal yang baik. Niatnya ingin membalas kebaikan dokter Angga dia justru mendapatkan pelajaran gratis yang seharusnya dilakukan oleh setiap manusia.
"Dokter. Rumahku sudah kelewatan," kata Anggita panik. Air hujan yang menghalangi pemandangan dan juga pembicaraan mereka yang tergolong serius membuat Anggita kurang memperhatikan jalanan.
"Jangan panik Anggita. Kita bisa putar lagi," kata dokter Angga tenang. Dokter Angga kini memperhatikan jalan dengan seksama untuk membelokkkan mobilnya. Anggita semakin tidak enak hati karena semakin merapatkan dokter itu.
"Dokter, Lusa adalah pembukaan kafe milikku. Aku mengundang dokter secara khusus. Itupun jika dokter punya waktu."
"Kafe. Kamu berencana membuka kafe di Kota ini?. Anggita menganggukkan kepalanya.
"Hebat kamu Anggita. Dalam keadaan hamil seperti ini kamu masih bisa memulai usaha. Semoga usaha kamu lancar," puji dokter Angga.
"Amin."
"Berhenti dokter. Rumah yang itu," kata Anggita sambil menunjuk rumah bercat kuning.
__ADS_1
"Sebentar," kata dokter Angga. Dokter Angga bergerak dan mengambil payung dari belakang kursinya.
"Pakai ini. Kesehatan janin kamu tergantung kepada dirimu sendiri." Anggita menerima payung itu dengan tersenyum. Entah mengapa. Perhatian dokter Angga akan janinnya membuat Anggita senang.