Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 113


__ADS_3

Pagi hari menjelang. Anggita terbangun dan mendapati dirinya sendirian di kamar itu. Baru saja dirinya tersadar dari tidur. Anggita langsung menghubungi mama Feli menanyakan keadaan orang orang yang sangat dicintainya itu. Anggita merasa lega. Karena mama Feli, nenek Rieta dan Cahaya dalam keadaan aman.


Setelah mengetahui keadaan keluarganya. Anggita keluar dari kamar itu. Mencari keberadaan Evan ke lantai bawah. Baru saja, dirinya menginjak tangga paling bawah. Anggita mendengar suara suara dari ruang tamu. Anggita mendekati suara suara itu. Di ruang tamu itu. Anggita melihat Evan dan Danny yang sedang berbicara.


"Sudah bangun sayang?" tanya Evan kepada Anggita yang masih bermuka bantal.


"Kita ke rumah nenek Rieta sekarang," kata Anggita cepat. Dia sengaja melewati tubuh wanita yang membuat Evan dan Rico tertidur. Bahkan Anggita sengaja menginjak kaki wanita itu supaya terbangun.


"Aduh," jerit wanita itu kesakitan. Anggita tidak memperdulikannya dan dengan santainya duduk di dekat Evan.


"Apa tidak sebaiknya kita menunggu Rico bangun?" tanya Danny.


"Aku sudah bangun. Bagaimana ceritanya Kita bisa berada di rumah ini?" tanya Rico bingung dan mendaratkan tubuhnya di sofa. Ketika melihat ada wanita selain Anggita di ruang tamu itu. Dan wanita itu dia kenal sebagai karyawan di kantor perusahaan Dinata membuat Rico semakin bingung.


"Dia yang memberi kalian obat tidur sehingga kalian tertidur," kata Anggita memberitahu. Anggita bisa melihat kebingungan yang jelas tergambar di wajah Rico.


"Kurang ajar kamu ya. Sudah diberikan kesempatan bekerja di perusahaan Dinata tapi berani berani kamu berbuat jahat kepada pimpinan kamu," kata Rico marah. Wanita itu tertunduk ketakutan.


"Maaf Pak, saya....."


"Diam," bentak Rico semakin marah.


"Apapun alasan kamu tidak akan dibenarkan. Kamu tetap manusia yang tidak tahu terima kasih. Kamu dipecat hari ini juga," kata Rico.


"Bukan hanya dipecat. Kamu akan mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi jika tidak jujur dengan pertanyaan yang akan aku ajukan," kata Evan tenang.


Wanita itu terlihat semakin ketakutan dan menyesal. Awal menjalin kesepakatan dengan Adelia. Dia berpikir jika hanya memberikan obat tidur kepada Rico dan Evan tidak berbahaya karena tidak membuat dua pria itu kesakitan. Hanya tertidur dan pasti akan bangun. Tidak akan ketahuan karena cctv sengaja di rusak supaya tidak ada bukti. Tapi kenyataannya saat ini dirinya berada di hadapan dua pria pimpinannya.


"Yang menyuruh kamu Adelia. Lalu Siapa yang membuat Cctv error? tanya Evan tajam. Sejak tadi dia memikirkan dan menghubungkan beberapa kejadian yang sepertinya saling berhubungan.


"Saya tidak tahu pak."


"Jangan bohong kamu. Kamu sudah pasti bekerja sama dengan karyawan yang membuat Cctv error," kata Rico tajam. Wanita itu menggelengkan kepalanya pertanda jika dirinya benar benar tidak mengetahui siapa pelaku yang membuat Cctv error.


"Kalau kamu tidak jujur, kamu akan merasakan akibatnya," kata Danny yang juga marah melihat wanita itu. Danny tidak bisa berdiam diri melihat pengkhianat tersebut. Danny kini sedang mencengkram rahang milik wanita itu sangat kuat. Tapi wanita itu tetap mengatakan jika dirinya tidak mengetahui siapa yang membuat Cctv error.


"Duduk Danny!" perintah Evan lagi. Danny duduk tanpa menghilangkan raut wajah marah dari wajahnya.


"Sekarang katakan. Siapa yang memperkenalkan kamu dengan Adelia," tanya Evan. Wanita itu menyebutkan nama seseorang yang merupakan karyawan dari perusahaan Dinata yang bekerja sebagai penanggung jawab cctv.


Mendengar nama itu Evan, Rico dan Danny semakin terlihat dingin dari raut wajah mereka.


Evan beranjak dari duduknya. Dia mendekati wanita itu dan mengambil ponselnya. Evan memperhatikan ponsel itu kemudian menyuruh wanita itu untuk membuka layar ponselnya. Evan menggerakkan jari jarinya di ponsel tersebut.


"Bagaimana kamu bisa mengirim pesan kepada istriku?" tanya Evan sangat dingin sehingga membuat wanita itu gemetar karena ketakutan. Tadi malam setelah Anggita tertidur. Evan memeriksa ponselnya sendiri dan melihat pesan yang terkirim kepada Anggita. Dan Evan jelas mengingat jika pesan itu bukan dirinya yang mengirim.


Wanita itu menjawab. Jika dia diperintahkan oleh Adelia untuk mengawasi Rico dan Evan selama mereka dalam pengaruh obat tidur. Wanita itu melakukannya. Saat itu dirinya panik karena ponsel milik Evan sering berdering. Wanita itu panik karena takut suara dering ponsel milik Evan membuat mereka terbangun. Wanita itu melaporkan hal itu kepada Adelia. Dan wanita itu menyuruh untuk membuka ponsel milik Evan dengan memberitahukan Sandi pengaman ponsel tersebut.


Semua terkejut mendengar cerita wanita itu. Jika Adelia bisa mengetahui Sandi pengaman ponsel milik Evan. Itu artinya. Adelia memakai jada hacker untuk itu. Mungkinkah pria yang membuat Cctv kantor adalah seorang hacker?


"Tangkap dia. Dan selidiki siapa saja yang menjadi pengkhianat di kantor," kata Evan pada seseorang yang berbicara dengan lewat ponsel. Dia menyuruh seseorang untuk menangkap pria penanggung jawab cctv.


"Dan kamu. Jangan coba coba keluar dari rumah ini ketika kami pergi," kata Evan sambil menunjuk wanita itu. Wanita itu hanya bisa menganggukkan kepalanya karena tidak sanggup berbicara menjawab perkataan Evan. Suara Evan yang terdengar sangat dingin mampu membuat orang orang yang disekitarnya merasa ketakutan.


"Kita pergi sekarang mas?" tanya Anggita ketika Evan menarik tangannya untuk berdiri.

__ADS_1


"Kita sarapan terlebih dahulu sayang. Bibi Ani dan teman kami itu sudah menyiapkan sarapan untuk Kita," jawab Evan sambil mendorong lembut istrinya ke arah ruang makan. Di belakangnya dua pria mengikuti langkah sepasang suami istri itu dengan tatapan kagum akan interaksi Evan dan Anggita. Evan bisa bersikap sangat lembut kepada istrinya dan berbanding terbalik kepada orang lain terutama kaum hawa.


Mereka sudah mengelilingi meja makan. Bibi Ani pun ikut di duduk bersama mereka.


"Oci ini adalah temannya istriku. Dia sengaja diundang ke rumah nenek Rieta untuk menyelidiki si pengkhianat. Dan penyelidikannya berhasil. Siapapun diantara kalian berdua untuk melakukan pendekatan kepada dia. Aku sangat mendukung. Sudah terlalu lama kalian aku lihat menjadi jomblo," kata Evan tenang sambil menunjuk Rico dan Danny. Semua serius mendengar perkataan Evan termasuk Rico dan Danny Hingga di akhir kalimat dua pria itu hampir tersedak karena kalimat terakhir itu jelas jelas mengejek mereka.


"Disaat genting seperti ini. Kamu masih bisa bercanda mas. Oci sudah mempunyai pacar," kata Anggita. Dia menatap Oci yang juga terlihat salah tingkah.


"Tenang saja sayang. Tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi. Semua itu hanya menunggu waktu yang tepat," kata Evan seakan mereka tidak ada masalah saat ini.


"Papa Gunawan dan papa Rendra bagaimana?" tanya Anggita tiba tiba. Dia baru saja mengingat jika Gunawan berjanji akan datang ke rumah Nenek Rieta tapi tak kunjung datang dan bahkan jika dihubungi tidak menjawab.


"Mereka Aman. Tenang saja sayang."


Anggita menarik nafas lega. Mereka akhirnya keluar dari rumah menuju rumah nenek Rieta untuk melihat apa sebenarnya yang direncanakan oleh Bronson dan Adelia.


"Lewat jalan ini," kata Evan kepada Danny yang kini menjadi supir. Di belakang mereka Rico dan Oci mengikuti pergerakan Mobil yang mereka tumpangi.


Anggita merasa bingung mengapa mereka lewat jalan yang ditunjukkan oleh Evan padahal jalan itu bukan jalan ke arah rumah nenek Rieta. Tapi Anggita sengaja tidak bertanya karena dirinya percaya jika Evan mengetahui apa yang terlebih dahulu mereka kerjakan Hari ini.


"Kamu tidak lupa ingatan kan bro?" tanya Danny ketika Evan kembali memberikan arah jalan yang harus mereka lewati.


"Ingatan masih aman kok bro. Tenang saja. Aku tidak akan membawa kalian ke jurang. Kalian adalah adik adikku yang harus aku lindungi sampai titik darah penghabisan. Percaya saja padaku bro."


"Dia juga adik kamu?" tanya Danny sambil matanya ke arah spion untuk melihat Evan yang selalu menggenggam tangan Anggita di bangku belakang.


"Ya kalian berdua adalah adik kesayanganku."


"Mengapa kamu mengatakan aku sebagai adik kamu mas?" tanya Anggita yang kurang mengerti maksud dari perkataan suaminya.


"Tidak mas. Hanya saja kamu harus bersiap menghadapi dua karakter sekaligus. Karena seperti keinginan kamu. Aku adalah istrimu sekaligus adik kamu. Tapi harus kamu tahu. Seorang adik terkadang lebih cerewet dari seorang istri," kata Anggita. Evan bukannya takut justru tertawa mendengar perkataan istrinya.


"Aku tunggu sikap cerewet kamu itu adik kesayanganku," tantang Evan sambil memeluk istrinya. Danny menggaruk kepalanya melihat kemesraan saudara dan kakak iparnya itu.


"Seorang adik lebih banyak tuntutannya dari seorang istri," kata Anggita lagi.


"Silahkan, tidak takut."


"Seorang adik terkadang ada yang memprovokasi abangnya supaya meninggalkan istrinya."


"Ooo itu jangan dong. Tidak boleh. Kamu harus jadi adik yang manis dan baik ya. Tidak boleh jadi adik yang nakal," kata Evan sambil mengelus kepalanya Anggita yang masih di pelukan.


"Jadi seorang abang tidak boleh minta Jatah ranjang kepada adiknya," kata Danny mengejek suami istri itu. Evan dan Anggita spontan saling memandang.


"Suami istri ada ada saja," kata Danny yang tidak setuju dengan suami istri itu.


"Kata Danny benar mas."


"Baiklah. Status kamu adalah istriku satu satunya. Tapi nanti malam kita buat adik untuk Cahaya ya."


"Eh dasar Edan," kata Danny membuat Evan tertawa terbahak bahak.


"Belok Kiri," kata Evan di masih tertawa kecil. Danny membelokkkan mobilnya ke arah kiri.


"Apa yang terjadi di depan ya. Kok rame?" tanya Anggita. Dari mobil itu mereka bisa melihat dua puluh meter di depan ada kerumunan. Baik Evan dan Danny tidak menjawab pertanyaan Anggita.

__ADS_1


"Mana dia?" tanya Evan lewat ponsel setelah mereka hampir mendekati kerumunan tersebut.


Seseorang menyuruh kerumunan orang orang itu untuk ke arah sisi jalan karena mereka hendak lewat.


"Itu dia," kata Evan kepada Danny dan Anggita. Mereka dapat melihat seorang wanita yang duduk di hadapan rumah yang kini tinggal puing puing karena terbakar.


"Itu Adelia kan mas."


Anggita menajamkan penglihatannya melihat wanita itu. Semakin dia memperhatikan. Dia bisa melihat jika wanita yang sedang menangis itu adalah Adelia.


"Benar mas. Itu memang Adelia," kata Anggita. Danny juga menganggukkan kepalanya bahwa dirinya juga bisa mengenali wanita itu sebagai Adelia.


"Seharusnya wanita jahat itu ikut terbakar ya," kata Danny.


"Mendoakan nyawa manusia lenyap adalah dosa besar. Semoga dengan kejadian ini. Adelia bisa berubah," kata Anggita. Wanita itu seketika merasa kasihan melihat kesedihan Adelia saat ini. Dia melupakan amarahnya akan semua perbuatan Adelia kepada keluarganya hanya melihat Adelia terpuruk seperti itu.


"Ular sampai kapanpun tidak akan bisa berubah menjadi kelinci yang imut. Begitu juga dengan Adelia. Wanita yang sudah mempersembahkan hatinya untuk kejahatan akan sulit berubah. Dia benar benar melebihi ular. Ular saja jika dikasih makan sampai kenyang akan jinak. Sedangkan Adelia. Dia sudah diberikan kebaikan yang tulus tapi lihat kelakuannya. Segala sesuatu yang diperoleh dari hal yang kotor tidak akan bertahan lama. Seperti rumahnya yang terbakar itu. Adelia bisa membeli rumah itu hasil dari dirinya bertopeng malaikat padahal yang sebenarnya dia itu adalah setan," kata Evan tanpa mengalihkan pandangannya dari puing puing rumah itu.


"Kamu tidak berencana turun bro. Menghibur setan itu misalnya?" kata Danny membuat Evan mendaratkan pukulan di bahunya.


"Coba saja, kalau turun," kata Anggita sambil mengepalkan tangannya dan memukul pahanya sendiri. Evan terkekeh melihat tingkah istrinya itu. Dia mengerti jika dirinya turun Anggita akan meninju dirinya.


"Kalian kira aku kurang kerjaan?" tanya Evan sambil mencubit pipi istrinya pelan.


"Kali saja cinta itu masih ada untuk sang mantan terindah," kata Danny. Evan kembali mendapatkan pukulan di bahu adiknya itu.


"Jangankan cinta. Mengingat namanya saja. Hampir muntah. Tahu nggak?.


"Nggak percaya. Buktinya melihat langsung seperti ini tidak muntah," kata Danny.


Anggita tersenyum mendengar perkataan Danny yang seakan menguji hati Evan akan Adelia. Sedangkan Evan merasa kesal akan adiknya itu. Dia takut perkataan adiknya itu membuat Anggita ragu akan cintanya.


"Terserah percaya atau tidak. Yang pasti kita bisa melihat kedepannya bagaimana nantinya."


"Kita berbicara sekarang bro. Bukan nanti."


"Diam Danny. Jalan sekarang," kata Evan tapi Danny tidak menjalankan Mobil itu. Dia justru membuka pintu mobil dan keluar dari Mobil itu.


Danny berjalan mendekati Adelia. Dia berdehem ketika dirinya sudah berdiri tepat di belakang wanita itu.


"Kamu, Adelia," kata Danny pura pura terkejut ketika Adelia sudah berhadapan dengan dirinya. Adelia juga terlihat terkejut melihat keberadaan Danny di tempat itu.


"Kebetulan lewat. Aku kira kamu orang gila yang hendak mencari barang rongsokan di puing puing rumah terbakar itu. Diantara orang orang yang berkerumun di tempat ini. Hanya kamu yang terlihat menyedihkan," kata Danny menambah kesedihan di hati wanita itu. Setelah dirinya kehilangan rumah kini dirinya disebut sebagai orang gila. Mungkin karena syok, panik ditambah mata sembab karena menangis dan bibir yang bengkak,akibat pukulan dokter Angga membuat tampilan Adelia bukan seperti orang yang waras.


"Jangan sembarangan kamu ya. Itu rumahku yang terbakar," kata Adelia kemudian meringis karena bibirnya masih terasa sakit.


"Ooo rumah kamu. Selamat atas terbakarnya rumah kamu ya. Untung kamu juga tidak ikut terbakar. Padahal itu lebih baik supaya berkurang orang jahat di dunia ini," kata Danny . Kemudian pria itu berlalu dari hadapan Adelia setelah berhasil membuat wanita itu jengkel setengah mati.


"Apa yang kamu katakan kepada sang mantan terindah itu?" tanya Anggita setelah Danny duduk di belakang setir. Evan tertawa mendengar Anggita yang jelas mengejek dirinya.


"Hanya mengucapkan selamat," jawab Danny. Anggita tertawa.


"Kasihan bukan selamat," kata Anggita.


"Dalam situasi seperti ini. Kata kasihan itu untuk manusia yang benar benar berhati manusia setengah malaikat. Kan tadi kamu dengar mantannya bilang apa. Dia bukan manusia tapi ular. Wanita bertopeng malaikat berhati setan," kata Danny mengulang perkataan Evan. Anggita tertawa. Kata mantan yang disebutkan oleh Danny jelas tertuju kepada diri Evan.

__ADS_1


"Untung satunya adik dan yang satunya istri," kata Evan membuat Anggita dan Danny tertawa terbahak bahak.


__ADS_2