
Wanita yang bernama Indi itu tidak dapat menyembunyikan keterkejutan yang jelas terlihat di wajahnya. Wanita itu memalingkan wajahnya ke arah dinding supaya Evan tidak dapat memperhatikan perubahan raut wajahnya. Dan beberapa menit kemudian wajah wanita itu sudah terlihat seperti biasa. Rencana yang mereka susun dan sudah dilaksanakan harus tersimpan dengan rapi walaupun nantinya rencana itu tidak berhasil. Ternyata dirinya masih berharap bekerja di rumah itu tapi tidak berusaha setia terhadap majikannya.
"Tuan, aku memang orang miskin dan mengandalkan hidup dari pekerjaan rendahan ini. Aku mohon, jangan memberikan tuduhan kepada aku hanya karena aku manusia hina," kata Indi sambil menangkupkan kedua tangannya di dada. Sikap yang sangat meyakinkan. Dia tidak mengetahui jika kecurigaan tertuju kepada dirinya bukan asal mencurigai tetapi berdasarkan bukti.
Melihat hal itu. Anggita dan Oci saling berpandangan. Ternyata wanita ini bukan hanya licik tapi juga pintar bersandiwara. Bagi siapa yang melihat Dan tidak mengetahui apa yang dilakukan wanita itu menyangkut kecurigaan tersebut. Orang akan berpikir jika wanita itu adalah korban fitnah. Anggita dan Oci tentu saja tidak percaya dengan apapun yang dikatakan oleh Indi.
"Fitnah. Aku punya bukti akan pengkhianatan kamu Indi," kata Evan dengan suara yang sudah mulai meninggi. Dia tidak menyukai kata kata Indi yang seakan menjadikan dirinya korban fitnah dan Evan sendiri sebagai pelaku.
"Bentuk pengkhianatan seperti apa yang aku lakukan kepada kalian tuan. Jika kalian mencurigai aku akan sesuatu hal. Aku bisa membuktikan bahwa aku tidak bersalah."
Evan dan Danny menatap wanita itu dengan tajam. Oci bersikap tenang seakan dirinya memang tidak bersalah. Pantas saja Adelia mengajak wanita itu bekerja sama karena wanita itu bisa diandalkan dalam melaksanakan kejahatan seperti ini. Anggita mendekati Indi dan memperhatikan wajah wanita itu dengan seksama. Menatap tajam wanita yang menjadi pelaksana rencana jahat Adelia. Sikap Anggita jelas menunjukkan dirinya sebagai salah satu nyonya yang ada di keluarga Kakek Martin. Anggita mengetahui sebagian dari pekerja menganggap dirinya remeh karena perbuatan Evan di masa lalu. Salah satunya adalah wanita ini.
"Indi, bukan tanpa sebab kami mencurigai kamu adalah pengkhianat. Ada buktinya. Kamu memakai ponsel Bibi tukang masak untuk menghubungi Adelia. Kamu melakukan itu supaya kamu Aman dari pengkhianatan ini kan?. Kamu sengaja memakai ponsel Bibi. Supaya yang menjadi tersangka adalah Bibi. Kamu licik. Dan kelicikan itulah awal dari kehancuran kamu. Aku juga mengetahui jika sasaran kalian adalah Cahaya. Rencana jahat apa yang sudah kalian jalankan untuk mencelakai putriku?" tanya Anggita marah. Wajahnya memerah karena membentak Indi di akhir kalimatnya.
Kemarahan Anggita tidak berarti bagi wanita itu. Dia masih bersikap tenang karena mungkin sudah mengetahui resiko berbuat jahat bila ketahuan seperti ini.
"Bagaimana aku merencanakan hal jahat kepada putri anda nyonya. Cahaya tidak pernah berpindah tangan ke salah satu pekerja di rumah ini. Hal itu adalah tidak mungkin," bantah wanita itu cepat. Apa yang dia katakan adalah benar. Tidak semua orang bisa menjaga Cahaya. Hanya orang orang tertentu yang bisa menjaga anak itu. Indi merasa puas karena jawabannya masuk akal.
"Benar yang kamu katakan. Itulah sebabnya kamu memadamkan lampu dari meteran supaya kamu bisa menjalankan rencana jahat. Rencana jahat seperti apa yang kamu lakukan. Memberi racun ke makanannya?" tanya Anggita menebak rencana jahat itu. Wanita itu tidak menampakan wajah terkejut atas bukti pengkhianatannya yang dibeberkan oleh Anggita dan juga tebakan Anggita akan rencana jahat yang mungkin sudah dia lakukan.
"Untuk membuktikan diriku sendiri tidak bersalah. Aku akan menelan makanan yang diperuntukkan untuk Cahaya. Dan jika terbukti tidak ada aku tidak terima akan tuduhan ini," kata wanita itu semakin berani. Dia sangat yakin bahwa tidak ada racun di dalam makanan Cahaya. Evan yang mendengar perkataan Indi mengerutkan keningnya kemudian tersenyum sinis. Mungkin pria itu menemukan titik terang karena mendengar perkataan pekerjanya itu.
Anggita menatap wanita itu. Melihat keberanian wanita itu sangat jelas jika ada seseorang yang mendukung pengkhianatannya. Anggita sebenarnya ingin mendaratkan tamparan di wajah wanita itu. Selain marah karena rencana jahat itu. Anggita juga marah karena melihat sandiwara wanita itu. Anggita berpikir panjang. Dia tidak akan bertindak gegabah dengan menuruti kemarahannya. Dia sadar di balik pengkhianatan wanita itu, selain Adelia ada juga Bronson. Anggita tidak ingin terjebak dalam rencana jahat mereka. Niatnya hendak mengungkap para pengkhianat jangan sampai dirinya yang masuk penjara karena tidak bisa menahan amarah.
Evan bisa melihat kemarahan istrinya. Tidak ingin istrinya terbawa emosi, Evan akhirnya mendekati dan menarik tangan Anggita mundur menjauh dari Indi. Kemudian Evan membisikkan sesuatu ke kuping Anggita. Anggita pun menganggukkan kepalanya. Kemudian Anggita dan Evan mendekati wanita itu kembali.
"Indi, aku memberikan kesempatan kepada kamu untuk membuktikan jika kamu bukan pengkhianat," kata Anggita dengan suara yang datar. Bisikan suaminya membuat Anggita lebih tenang karena apa yang dibisikkan sang suami adalah rencana yang sangat bagus untuk mengetahui rencana yang dilakukan para pengkhianat itu. Indi menganggukkan kepalanya dengan senang.
__ADS_1
"Mari ikut kami," ajak Evan kepada Indi. Indi menurut. Kemudian Evan juga mengajak dua pekerja yang lain untuk mengikuti langkah mereka menuju sebuah ruangan.
"Ruang makannya di sebelah sana tuan," kata Indi ketika mereka berjalan ke arah yang berbeda. Evan tidak menjawab. Pria itu terus melangkah hingga mereka tiba di sebuah ruangan tempat bermain Cahaya dan Sisil. Indi terlihat bingung tapi tidak bisa menolak ajakan sang majikan.
"Masuk," perintah Evan dingin. Semua masuk ke dalam ruangan tersebut dan Evan memperingatkan supaya tidak menyentuh apapun yang ada di ruangan itu.
"Indi, Aku perintahkan kamu untuk merapikan semua mainan ini terutama mainan Cahaya," kata Evan dengan tenang. Pria itu menunjuk mainan itu. Danny dan Rico langsung menatap Indi. Oci sudah siap dengan kamera nya untuk merekam wanita itu sedangkan Anggita mendorong Indi pelan supaya secepatnya melaksanakan perintah suaminya.
"Mainan ini semua sudah tampak rapi tuan. Apa lagi yang dirapikan."
Anggita merapatkan giginya mendengar perkataan Indi yang membantah perkataan suaminya. Memang benar, semua mainan itu sudah tampak rapi. Tapi jika di susun dengan lebih rapi lagi pasti akan terlihat lebih indah. Anggita semakin curiga melihat Indi yang belum bergerak melaksanakan perintah Evan.
Indi akhirnya merapikan sebagian mainan itu setelah melihat kemarahan yang jelas terlihat di wajah Evan. Wanita itu merapikan mainan itu dengan sangat hati hati. Hal itu tidak luput dari penglihatannya Evan dan yang lainnya.
Beberapa pasang mata memperhatikan gerak gerik Indi. Indi mengetahui dirinya diawasi. Evan dan Anggita tidak mengatakan tujuannya menyuruh Indi merapikan mainan itu tapi Rico, Danny dan Oci sudah menduga jika Evan dan Anggita mencurigai Indi melakukan hal yang sama seperti yang terjadi pada salah satu pekerja yang merasakan tubuhnya gatal hanya karena duduk di sofa.
"Sudah tuan, nyonya," kata Indi beberapa menit kemudian. Ruangan itu terlihat lebih rapi dari sebelumnya setelah Indi merapikan semua mainan itu. Wanita itu tersenyum. Wanita itu merasa menang karena dirinya tidak mengalami hal apapun setelah merapikan mainan itu. Indi mengetahui dengan jelas tujuan Evan menyuruh dirinya merapikan mainan itu.
Semua terdiam melihat perubahan ruangan itu. Dian diam mereka memperhatikan kedua tangan Indi yang tidak mengalami apapun setelah membereskan mainan itu. Ada rasa kecewa dalam diri Rico, Danny dan Oci melihat wanita itu tidak mengalami hal apapun. Tapi tidak dengan Evan dan Anggita. Mungkin karena Cahaya adalah sasaran rencana jahat itu membuka sepasang suami istri berpikir keras dan teliti memikirkan rencana seperti apa yang sudah dilaksanakan oleh Indi.
"Indi, tolong ambilkan mainan yang itu," kata Anggita sambil menunjukkan salah satu mainan yang tidak disentuh sama sekali oleh Indi.
"Yang Mana nyonya," tanya Indi. Jari telunjuk Anggita jelas menunjuk sebuah mainan yang terletak di atas Baby walker. Tapi Indi seperti sengaja tidak melihat jari telunjuk Anggita. Dari pengamatan Anggita seharusnya mainan itu tidak berada di tempat itu. Dan dari tadi, sepertinya Indi berusaha untuk tidak menyentuh mainan itu.
"Itu. Yang diatas baby walker," jawab Anggita. Indi akhirnya melangkah ke arah baby walker tersebut. Indi terlihat ragu mengambil mainan itu tapi akhirnya mengambil juga.
"Bawa kemari," kata Evan ketika melihat mainan yang ditunjukkan Anggita sudah berada di tangan Indi.
__ADS_1
Anggita memperhatikan mainan itu dengan seksama. Anggita juga memperhatikan sikap tenang yang di perlihatkan oleh Indi.
Sama seperti Anggita. Evan juga memperhatikan mainan itu. Mainan yang menyerupai ikan paus itu sudah berada di tangan Indi beberapa menit dan wanita itu terlihat tenang. Bagi siapa saja yang melihat sikap tenang Indi pasti menolak mencurigai wanita itu sebagai pengkhianat. Tapi bagi Anggita dan Oci sudah cukup bukti membuat wanita itu layak dicurigai.
"Gigit, seperti Cahaya menggigit benda itu," kata Anggita tajam. Anggita bisa melihat ada sesuatu yang terdapat di mainan yang merangkap sebagai teether itu. Cahaya sangat menyukai mainan itu. Gigi taring dan gerahamnya yang hendak tumbuh membuat gusinya bengkak. Menggigit teether itu membantu Cahaya menghilangkan rasa tidak nyaman di gusinya.
Indi terkejut mendengar perintah itu. Dia memperhatikan teether itu. Wajahnya juga terlihat pucat seketika. Permukaan teether itu yang tidak rata seperti bergerigi bisa menampung sesuatu di sela sela gerigi tersebut. Dan Anggita bisa melihat sesuatu yang menyerupai serbuk itu.
"Gigit Indi. Buktikan kamu bukan pengkhianat," bentak Evan. Melihat wajah pucat wanita itu. Evan sangat yakin jika ada sesuatu yang tidak beres dengan teether tersebut. Ketika Indi dengan sangat yakin berbicara bahwa dirinya bukan pengkhianat dan bersedia menelan makanan Cahaya. Evan sudah sangat yakin jika makanan Cahaya tidak di racun. Evan langsung mengingat Teether ini dan merasa sangat yakin jika pengkhianat itu berencana mencelakai Cahaya hanya lewat ini. Selain makanan. Hanya teether ini yang boleh masuk ke dalam mulutnya.
Apa yang dilakukan Indi diluar perkiraan. Dia melemparkan teether itu kearah mulut Evan. Tapi Evan bisa melihat pergerakan tangan Indi. Evan langsung bergerak cepat menghindar setelah terlebih dahulu mendorong tubuh istrinya sehingga teether itu terjadi di lantai. Dan saat itu juga mereka yang ada di ruangan itu lengah. Indi berhasil melarikan diri dari kamar tersebut dan langsung berlari ke arah pintu utama.
"Tidak perlu dikejar," kata Evan melarang Rico, Danny dan pekerja pria lainnya berhenti mengejar Indi. Semua bingung mendengar larangan Evan tapi mereka juga menurut. Evan memerintahkan pekerja pria untuk membuang sofa yang diduduki pria yang mengalami gatal gatal tadi. Dan pria itu duduk tenang di sofa yang aman yang sudah diduduki para pekerja tapi tidak mengalami gatal gatal.
"Sepuluh menit kemudian. Semua yang ada di ruang tamu itu merasa heran akan kedatangan dua pria yang menyeret Indi masuk ke dalam rumah. Yang membuat mereka terkejut tampilan pria itu bukan seperti satpam melainkan seperti pemulung dan pria satunya seperti preman.
"Tetap berjaga di luar," kata Evan setelah dua pria itu pamit. Ternyata Evan sudah memerintahkan para pengawal setianya berjaga di luar rumah.
"Baik tuan."
Dua pria itu keluar dari rumah menjalankan tugasnya. Mereka adalah para orang orang yang setia kepada Evan dan keluarganya. Evan sudah menguji kesetiaan mereka. Dan tadi malam. Evan memerintahkan semua orang orangnya untuk mengawal keluarga dari jauh. Termasuk yang di depan rumah.
"Binatang saja, tidak mengotori tempatnya makan. Tapi kamu manusia yang berotak tega teganya mengkhianati kami dan hendak mencelakai putriku. Manusia seperti apa kamu hah?" bentak Evan marah sambil mendorong Indi dengan kasar. Wanita itu terpental tapi tidak terjatuh ke lantai karena dinding ada di belakangnya.
"Manusia berotak dangkal, manusia kurang ajar. Apa aku perlu memasukkan benda itu ke mulut kamu supaya kamu yang menjadi korban kejahatan kalian?" kata Anggita juga marah.
Danny, Rico, Oci dan pekerja lainnya menggerakkan kepala melihat Indi. Mereka juga menatap marah kepada wanita penglihatan itu.
__ADS_1