
"Lakukan apa yang kamu mau mas, aku milik mu. Aku siap melayani kamu lahir dan batin," bisik Anggita. Evan merasakan jantungnya berdetak kencang mendengar perkataan Anggita. Perkataan Anggita jelas menunjukkan baktinya sebagai seorang istri.
"Aku juga milik kamu seorang sayang. Tubuh ini, dan semua yang ada dalam diriku adalah milik kamu."
Evan tidak mau kalah. Dia juga mengucapkan kata kata yang terdengar indah di telinga Anggita. Pengantin baru itu saling bertatapan mesra. Anggita mengulurkan tangannya membelai wajah suaminya. Anggita sudah siap lahir dan batin melayani suaminya itu. Satu pemikiran dewasa yang membuat Evan semakin sayang kepada istrinya.
Perlahan tapi pasti kini pasangan pengantin baru itu sudah saling bertukar saliva. Evan mencium istrinya itu dengan lembut dan penuh perasaan. Anggita sampai memejamkan matanya menikmati sentuhan demi sentuhan yang membuat dirinya semakin terbuai dalam permainan bibir itu.
Sentuhan itu kini bukan hanya antar bibir. Evan semakin gencar menyentuh tubuh istrinya hingga suara indah terdengar dari mulut Anggita. Ini bukan yang pertama kalinya mereka melakukan seperti ini. Tapi ini pertama kalinya Anggita mendengar ungkapan cinta dari Evan sambil menyentuh tubuhnya.
"Aku benar benar mencintaimu Anggita, istriku," kata Evan. Bibirnya mengungkapkan cinta dan tangannya merayap mencari inti dari permainan mereka nantinya.
Anggita tersenyum sambil menikmati sentuhan itu. Tangannya juga sudah mulai aktif meraba bagian tubuh suaminya. Anggita ingin memberikan yang terbaik untuk sang suami. Wanita itu sadar jika kepuasan sang suami di ranjang adalah sesuatu yang sangat penting untuk membuat pernikahannya bahagia.
Mereka saling menikmati sentuhan lawan main. Evan menjerit senang ketika Anggita meraba alat tempurnya. Mereka saling meraba dengan bibir yang saling bertautan.
Entah karena sudah lama tidak merasakan permainan nikmat itu. Evan terkesan terburu buru. Dia membuka semua benang yang melekat di tubuh istrinya kemudian membuka benang yang melekat di tubuhnya sendiri.
Melihat hal itu, Anggita yakin jika suaminya itu benar benar tidak pernah menyentuh wanita lain ketika masih berstatus duda.
Evan mencium terlebih dahulu bekas luka operasi yang ada di bawah pusar milik istrinya. Kemudian tanpa ragu memasukkan alat tempurnya ke tempat yang semestinya.
Evan tersenyum ketika mendengar suara indah dari mulut Anggita ketika alat tempurnya itu terbenam sempurna. Sama seperti Anggita. Evan merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika mereka menyatu sempurna.
"Mas?" bisik Evan ketika hendak mencium istrinya. Jujur, Anggita menginginkan lebih dari sekedar terbenam seperti ini. Seakan mengerti keinginan istrinya itu. Evan mulai bergerak di atas tubuh istrinya.
Anggita mengimbangi permainan Evan. Dia masih ingat hal apa yang disukai Evan di saat olah raga ranjang seperti ini. Anggita meraba tubuh suaminya mulai dari punggung hingga pinggang.
Dan benar saja. Evan sudah meracau karena merasa nikmat atas sentuhan itu. Dia mencium Anggita sambil terus bergerak di atas tubuh istrinya.
Ingin membuat Evan semakin puas. Wanita itu juga bergerak liar mengimbangi pergerakan Evan. Evan semakin semangat menggoyang. Dalam hati dia mengakui jika milik Anggita masih sangat sempit sama seperti terakhir kalinya mereka melakukan hubungan suami istri.
Evan semakin bergerak liar. Sesuatu di dalam dirinya hendak keluar.
"Sayang, aku mau keluar." Suara Evan terdengar sangat seksi di telinga Anggita.
__ADS_1
"Sama mas," jawab Anggita. Mereka bergerak cepat seakan mengejar sesuatu yang harus mereka dapatkan secepat mungkin.
"Bersama sayang," kata Evan. Kemudian dia semakin menghentakkan tubuhnya kala menyadari jika Anggita yang keluar terlebih dahulu.
Evan melenguh panjang kala merasakan kenikmatan tiada tara itu. Cairan kental yang selama ini tersimpan sempurna di tubuhnya kini sudah berpindah tempat ke tubuh istrinya.
Bersamaan dengan itu. Evan dan Anggita mendengar suara Cahaya yang menangis. Evan cepat menarik dirinya dari atas tubuh istrinya. Evan menggerakkan tangannya menyuruh Anggita untuk tetap berbaring sementara dirinya terburu buru memakai pakaiannya kembali setelah membersihkan alat tempurnya dengan tissue.
Evan keluar dari kamar itu setengah berlari dengan tanpa menutup pintu kembali. Dia merasa lega karena Cahaya terbangun setelah mereka menyelesaikan ritual suami istri.
"Iya nak. Ini ayah."
Anggita bisa mendengar Evan menjawab tangisan putrinya. Anggita masih betah berbaring menikmati sisa sisa kenikmatan akibat permainan mereka tadi. Anggita bisa merasakan jika Evan berubah memperlakukan dirinya di ranjang. Evan tidak lagi hanya memikirkan kepuasan dirinya sendiri. Tapi permainan mereka Kali ini, Anggita bisa merasakan jika Evan juga memperhatikan kepuasan dirinya.
Anggita menunggu beberapa menit kemudian bangkit dari tempat tidur itu.
Setelah membersihkan area terlarang itu. Anggita mengenakan pakaiannya. Dia menyusul Evan ke kamar mereka.
Anggita merasakan hatinya damai ketika membuka pintu kamar, Hal pertama yang dia lihat adalah Evan sedang memberikan susu kepada Cahaya. Tapi kemudian wanita itu terlihat khawatir akan kemampuan Evan membuat susu untuk putri mereka.
"Bisa donk. Apa yang tidak bisa aku lakukan.. Sedangkan membuat dia hadir di dunia ini bisa apalagi hanya membuat susu," jawab Evan santai. Pria itu merasa gengsi jika dirinya sudah pernah bertanya kepada mama Feli tentang membuat susu Cahaya.
"Serius kamu mas, membuat susu bayi itu tidak sembarangan. Banyaknya air hangat harus sesuai dengan takaran susu," kata Anggita khawatir.
"Iya, aku tahu. Kamu tidak lihat?. Cahaya sangat lahap?. Itu artinya susu buatan kamu dan susu buatan aku sama rasanya," jawab Evan tenang. Anggita duduk di sisi ranjang itu. Cahaya memang terlihat lahap dan bahkan kini tertidur kembali. Evan menidurkan kembali putrinya itu dengan hati hati. Evan berdiri dan mengelus kepala Anggita sebentar kemudian berlalu dari kamar itu.
Beberapa menit kemudian. Evan kembali masuk ke dalam kamar dengan sebuah apel di tangannya. Evan menarik tangan Anggita untuk duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu. Mereka duduk sangat dekat sekali. Kini Evan membantu Anggita untuk bersandar di bahunya. Tangannya juga terulur mendekatkan apel itu ke mulut istrinya.
Anggita menggigit apel itu kemudian Evan juga menggigit apel tersebut.
"Kamu lapar mas?" tanya Anggita. Melihat Evan makan apel itu seperti orang kelaparan. Anggita menduga suaminya itu lapar.
"Tidak sayang. Ini hanya untuk penambah tenaga saja," jawab Evan tersenyum. Pria itu kembali mengulurkan tangannya mendekatkan apel itu ke mulut Anggita.
"Boleh sekali lagi?" tanya Evan setelah apel itu tidak tersisa lagi. Anggita mengerutkan keningnya. Pertanyaan Evan tidak jelas antara apel atau olah raga ranjang.
__ADS_1
"Ronde kedua," kata Evan sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ronde kedua. Pindah kamar lagi?" tanya Anggita. Evan tertawa dan tidak menjawab. Evan kembali menarik tangan Anggita keluar dari kamar. Tapi tidak memasuki kamar lain lagi. Pasangan suami istri itu sudah duduk di sofa dengan Anggita berada di pangkuan suaminya. Mereka berciuman panas. Lebih panas dari ronde pertama. Entah karena ini yang kedua kalinya. Sepasang suami istri itu mereguk kenikmatan bersama dengan berbagai gaya.
Di tempat terpisah seorang pria terlihat duduk sendirian di sofa di dalam kamar. Kebahagiaan Evan dan Anggita menikmati malam pertama sebagai suami istri berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh pria itu.
Pria itu adalah Rendra. Dia berada di kamar hotel yang sudah dia pesan sebagai kamar pengantin dirinya dan Nia. Rendra tidak membatalkan kamar hotel tersebut karena berpikir jika Evan akan Anggita akan menginap menghabiskan malam pertama di kamar itu. Tapi dugaannya salah. Tidak ingin uangnya terbuang cuma cuma. Akhirnya Rendra memutuskan untuk menginap di kamar itu walau tanpa istri.
Rendra merenung. Hari bahagia yang dia rencanakan ternyata Hari bahagia itu untuk Anggita dan Evan. Dia menatap ranjang yang bertabur bunga dan ditengah ranjang tersebut, bunga disusun membentuk sebuah hati.
Sebagai pria normal. Melihat ranjang itu. Pikiran pikiran liar menyusup ke otaknya. Rendra berusaha mengendalikan pikiran pikiran liar tersebut. Jika Rendra mau. Dia bisa mempergunakan ranjang itu sesuai fungsinya malam ini walau tanpa wanita yang disebut dengan istri.
Rendra hampir khilaf, dia hampir memesan jasa seorang wanita panggilan untuk memuaskan dirinya malam ini. Tapi ketika hendak memesan wanita panggilan, tiba tiba dirinya teringat dengan sang papa kakek Martin. Rendra teringat dengan semua nasehat kakek Martin yang sangat anti dengan hubungan bebas.
"Apa aku tidak berhak bahagia?" gumam Rendra pelan. Tangannya mengangkat sebuah gelas yang berisi minuman tidak sehat. Jujur, walau pun dirinya sudah gagal menikah. Rendra masih berharap akan menemukan wanita yang tulus dan baik untuk menjadi pendamping hidupnya kelak.
Rendra menghabiskan malam itu dengan minum minuman alkohol. Dia ingin melupakan permasalahan hidupnya sejenak. Hingga pria itu tergeletak di sofa itu. Ranjang yang dihias untuk ranjang pengantin, itu tidak digunakan sama sekali. Karena sepanjang malam itu. Rendra tidur di sofa.
Di tempat terpisah, Nia juga tidak bisa memejamkan matanya. Malam yang seharusnya malam pengantinnya bersama Rendra. Nia menghabiskan malam itu dengan menangis. Ternyata, selain kepada Danny. Nia juga merasa bersalah kepada Rendra. Nia menangisi sifatnya belum dewasa membatalkan pernikahan itu dengan cara yang tidak benar.
"Maafkan aku pak," gumam Nia pelan. Bagaimanapun Nia sangat sadar jika dirinya termasuk orang yang tidak tahu diri membalas kebaikan Rendra dengan kejam seperti ini. Rendra sudah sangat baik sudah menjamin pendidikan kedua adiknya sampai tamat hanya dengan Nia bersedia membantu Rendra berpura pura menjadi calon istrinya supaya mama Anita tidak mengganggu Rendra lagi.
Tapi seiring berjalannya waktu dan seringnya bertemu Nia dapat merasakan jika Rendra tidak hanya sekedar baik. Tapi juga sudah mulai jatuh cinta kepadanya. Nia menerima pelukan dari Rendra ketika Rendra berterus terang akan perasaan itu. Rendra juga mengajak Nia untuk lebih serius menjalani hubungan itu. Lagi lagi Nia tidak menolak. Di pikirannya hanya ingin melihat kedua adiknya bisa melanjutkan pendidikan tanpa kendala biaya. Menikah dengan Rendra adalah jalan terbaik dibandingkan hanya bekerja di kafe pelangi yang hasilnya sangat pas pasan untuk hidup tiga orang.
Nia sudah mantap menikah. Tapi saran dari Danny menggoyahkan hatinya. Waktu dimana mereka hendak mencari keberadaan Anggita. Nia merasakan perasaan aneh kepada Danny. Nia yakin jika perasaan aneh itu adalah rasa cintanya yang sudah tumbuh untuk Danny Hingga Nia nekat menjebak pria itu hanya karena perasaan cinta sesaat dan untuk membebaskan dirinya dari Rendra.
Nia masih menangis. Nia sadar kesalahannya tidak hanya menghancurkan hati Rendra. Tapi juga membuat malu keluarga kakek Martin. Kesalahannya bukan hanya berdampak kepada keluarga besar kakek Martin. Kesalahan itu juga berdampak kepada kedua adiknya yang terancam putus sekolah. Selain merasakan hatinya hancur, Nia juga bingung akan biaya adik adiknya itu.
Ditengah semua rasa yang meremukkan hatinya. Nia hanya bisa berkeluh kesah kepada pemilik Hidup. Nia sangat berharap, belas kasihan Danny menolong dirinya dari kehancuran itu.
Nia mengelus perutnya. Keberadaan janin itu jelas menghadirkan penderitaan bagi dirinya dan juga murka di dalam keluarga kakek Martin.
Pagi Hari tiba. Evan terbangun dari tidurnya. Disebelahnya, Anggita dan Cahaya masih terlihat tidur nyenyak. Evan memandangi dua wajah perempuan perempuan kesayangannya. Evan mengelus wajah istrinya dengan lembut kemudian mendaratkan ciuman selamat pagi di kening istrinya. Evan kemudian mengalihkan tangannya mengelus si buah hati. Seketika bayi itu terbangun karena terganggu dengan elusan ayahnya.
Tidak ingin, Anggita terganggu. Evan mengangkat putrinya dan membawa Cahaya keluar dari kamar. Seperti tadi malam. Evan juga membuatkan susu untuk putrinya itu. Evan sangat bahagia menjalani kehidupanya yang seperti ini. Dia berjanji dalam hati akan melakukan hal yang terbaik dalam rumah tan tangganya bersama Anggita. Sikap dewasa yang dimiliki Anggita mengajarkan Evan untuk lebih dewasa.
__ADS_1