
"Ada apa ini Angga?" tanya ibu Tisa bingung. Melihat Bronson melilitkan sprei ke tubuh bagian bawahnya membuat wanita yang masih terlihat cantik itu bingung. Bronson menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan bibirnya yang pecah dan bengkak. Berhadapan dengan ibu Tisa istrinya sendiri. Bronson terlihat tidak punya nyali.
" Sebelumnya, aku minta maaf atas kegaduhan ini Ibu, mungkin malam ini adalah waktu yang tepat untuk mengetahui semua sepak terjang pak Bronson di luar sana," jawab dokter Angga. Dokter Angga membantu Bronson berjalan ke arah ruang tamu dengan Elena yang mengikuti dari belakang. Sedangkan ibu Tisa terlihat masih di depan pintu kamarnya. Wanita itu seperti mencerna apa yang dia lihat dan apa yang dia dengar.
"Sepak terjang?" gumam ibu Tisa.
Menyadari ibu Tisa tidak ikut ke ruang tamu itu. Dokter Angga kembali ke depan kamar Bronson. Elena terus mengikuti langkah dokter Angga. Perempuan belia itu terlihat masih ketakutan berduaan dengan Bronson.
"Kita ke ruang tamu sekarang ibu. Tapi sebelumnya, apapun yang ibu dengar nantinya. Tolong jaga hati dan pikirkan untuk tetap sehat dan kuat."
Dokter Angga berdiri tegak dan berbicara sopan kepada ibu angkatnya itu. Ibu Tisa memang bukan ibu kandungnya. Dan dari wanita itulah dokter Angga merasakan sedikit kasih sayang walau kasih sayangnya tidak sebanyak kasih sayang seorang ibu kandung. Dokter Angga berharap, ibu angkatnya bisa menerima cobaan ini dan bisa mengelola hatinya supaya tidak sakit.
Dokter Angga sangat sadar. Perselingkuhan dan tabiat Bronson yang terbiasa dengan wanita bayaran sangat sulit di terima oleh ibu Tisa. Kondisi ini di luar perkiraannya. Menerima perintah dari Evan untuk membuat pria itu tidak berkutik. Dokter Angga sebelumnya sudah mempunyai tersendiri. Tapi ketika melihat gadis mainannya diperlihatkan bagai wanita bayaran. Amarahnya tidak terkendali. Dokter Angga merasa perlu menghentikan tabiat pria tua itu dengan menunjukkan sikap Bronson kepada istrinya.
"Apa sebenarnya yang terjadi Angga. Apa kedatangan kamu ke rumah ini hanya untuk membuat kekacauan. Bronson mengatakan jika kamu sudah kurang ajar dan tidak mau dianggap sebagai anak oleh kami."
Dokter Angga tersenyum sinis mendengarkan perkataan ibu Tisa. Ternyata Bronson sudah memberikan informasi yang salah kepada ibu Tisa. Dirinya dianggap seolah olah anak kurang ajar tapi kenyataannya dirinya tidak nyaman karena selalu diperintah untuk melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan hati nurani.
"Nanti akan aku jelaskan bu. Tapi Kita duduk bersama di ruang tamu," bujuk dokter Angga. Wanita itu akhirnya bersedia melangkahkan kaki menuju ruang tamu.
"Katakan sekarang Angga, jangan bertele tele dan langsung ke inti pembicaraan. Mengapa Bronson lebam seperti ini. Dan siapa wanita ini?"
Ibu Tisa langsung menghadiahi pertanyaan yang membuat Bronson ketakutan. Pertanyaan yang keluar dari mulut ibu tisa seakan akan dirinya sudah curiga jika apa terjadi pada diri Bronson adalah hal yang berkaitan dengan wanita. Pria tua itu menundukkan kepalanya.
Bronson tidak mempunyai nyali hanya untuk menatap wanita itu. Dalam hati, dia berharap dokter Angga tidak menceritakan tentang kejadian di kamar atas. Bronson tidak perduli jika Dokter Angga menceritakan semua hal jahat yang dia lakukan yang berkaitan dengan bisnis. Tapi untuk menyangkut pengkhianatanya. Dia rela memberikan apapun kepada dokter Angga. Melihat situasi tidak memungkinkan untuk bernegoisasi, Bronson berniat hendak melarikan diri dari ruang tamu itu. Tapi ketika dirinya sadar dia tidak berpakaian dan luka luka yang Ada di tubuhnya terasa masih sakit apalagi jika bergerak. Bronson mengumpat dokter Angga dalam hati.
"Pak Bronson baru saja memaksa perempuan muda ini until melayani dirinya di ranjang bu," kata dokter Angga langsung ke inti pembicaraan. Bronson merasakan jantungnya berhenti berdetak l mendengar perkataan Dokter Angga. Sedangkan ibu Tisa tertegun.
"Coba katakan sekali lagi Angga," kata ibu itu untuk memperjelas pendengarannya. Dokter Angga pun mengulang perkataannya.
Ibu Tisa tiba tiba menutup wajahnya dengan dua kedua tangannya. Tidak berapa lama kemudian wanita itu terdengar terisak. Di dalam rumahnya sang suami berbuat hal yang tidak pantas dengan wanita lain. Sementara dirinya bisa melayani suaminya itu dengan senang hati.
Hati siapa yang tahan mendengar perbuatan suami seperti perbuatan Bronson. Termasuk ibu Tisa. Wanita itu merasa hancur berkeping keping. Pria yang diharapkan menjadi raja dalam seumur hidupnya kini tidak lagi membuat dirinya seperti ratu yang diinginkan. Bronson sudah mencari kesenangan dengan wanita lain itu artinya ibu Tisa bukan lagi satu satunya wanita yang menyentuh tubuhnya.
Ibu Tisa merasa harga dirinya tidak ada lagi. Dirinya masih sehat lahir dan batin. Dia merasa masih sanggup melayani sang suami baik di meja makan dan di ranjang.
__ADS_1
Ibu Tisa memperhatikan Bronson dari ujung kepala hingga ujung rambut. Setelah itu dirinya memperhatikan Elena. Mengetahui jika Bronson memaksa Elena hendak bermain di ranjang. Ibu Tisa merasa kasihan kepada Elena.
"Apa benar apa yang dikatakan oleh Angga nak?" tanya ibu Tisa kepada Elena. Elena menganggukkan kepalanya.
Elena pun menceritakan bagaimana dirinya bisa berada di rumah itu. Ibu Tisa terlihat lebih terkejut lagi setelah mendengar bahwa Elena sudah dua hari di kamar lantai tiga.
"Mengapa pa, mengapa setelah tua begini. Kamu mempermalukan diri mu dengan hal kotor seperti itu. Jika kamu tidak menginginkan aku lagi. Mengapa kamu tidak menceraikan aku di Masa muda?" tanya ibu Tisa. Pertanyaannya jelas menunjukkan jika dirinya tidak mengetahui atau mencurigai suaminya jika berada di luar sana. Dia terlalu percaya dengan Bronson. Dia berpikir jika Bronson benar benar bekerja keras untuk keluarga mereka. Tapi kenyataannya. Bronson lebih bekerja keras di atas ranjang dengan wanita bayaran dan wanita simpanannya daripada bekerja keras menjalankan bisnis. Itulah dirinya menjalankan bisnis yang kotor daripada susah berpikir menjalankan bisnis yang sehat.
Dokter Angga menatap pasangan suami istri itu bergantian. Sebenarnya dia tidak tega melihat kehancuran di Mata ibu Tisa. Wanita itu berusaha tenang tapi sorot matanya tidak bisa berbohong bahwa dirinya sedih, marah dan sangat hancur.
Tapi bagi dokter Angga. Apa yang terjadi malam ini tidak bisa disembunyikan atau dilupakan begitu saja. Kesalahan Bronson sudah terlalu fatal baik kepada Evan maupun kepada Elena. Termasuk kepada dirinya sendiri. Andaikan dirinya tidak bisa mengendalikan dirinya. Bisa dipastikan jika dokter Angga mengikuti kelicikan pria tersebut.
"Apakah ini yang pertama atau yang kesekian kalinya?" tanya wanita itu lagi. Ibu Tisa berusaha tenang tapi hatinya membara.
Bronson tentu saja menunduk kepalanya setelah itu dia menunjukkan satu jari atas pertanyaan istrinya itu yang pertanda jika kejadian ini adalah pertama kalinya. Dokter Angga menatap sinis kepada Bronson. Bronson sudah jelas berbohong. Sudah mengalami hal yang memalukan seperti ini. Pria itu belum menunjukkan ciri ciri manusia yang hendak berubah. Bronson tidak hanya mengkhianati ibu Tisa. Pria itu juga tega membohongi istrinya.
"Mengapa kamu melakukan itu pa. Apa salah dan dosa aku kepada kamu. Apa aku istri yang tidak melaksanakan kewajiban dengan baik?. Aku rasa tidak. Aku sudah melaksanakan kewajibanku dengan benar. Katakan, mengapa kamu menyakiti aku dengan seperti ini?"
Nada suara ibu Tisa terdengar serak karena dirinya berusaha untuk tidak menangis.
"Tidak. Tidak Tisa. Kita tidak boleh berpisah. Ini hanya khilaf dan belum sempat terjadi," kata Bronson cepat. Dia menatap penuh harap kepada ibu Tisa supaya tidak meninggalkan dirinya.
"Angga. Katakan apa lagi yang kamu ketahui tentang perbuatan Bronson di luar sana," kata ibu Tisa tanpa memperdulikan perkataan Bronson.
"Sebelumnya, maaf Pak Bronson. Tapi ibu Tisa berhak mengetahui sepak terjang suaminya di luar sana."
"Diam Angga. Kamu sudah terlalu jauh mencampuri urusan pribadi ku. Pergi lah atau satpam yang akan menyeret kamu," kata Bronson marah. Rasa sakit dari bibirnya yang pecah berdenyut hebat ketika berbicara. Bronson tidak memperdulikan hal itu. Keinginannya saat ini hanya satu. Dokter Angga secepatnya pergi dari rumah itu.
"Yang aku tahu. Pak Bronson mempunyai wanita simpanan dan juga sering bermain perempuan bayaran. Bukti buktinya bisa aku kirimkan ke ponsel ibu sekarang juga," kata dokter Angga. Pria itu sudah memegang ponsel dan kini mengirimkan bukti bukti perselingkuhan Bronson.
Wanita itu memegang dadanya ketika melihat bukti bukti yang dikirimkan oleh dokter Angga. Wanita itu sampai bergetar melihat bukti pengkhianatan suaminya. Wanita itu bangkit dari duduknya dan menghampiri Bronson. Ibu Tisa akhirnya tidak dapat mengendalikan dirinya. Apa yang dilihatnya saat ini tidak seberapa dengan apa yang dilihatnya di video dan bukti lainnya yang dikirimkan oleh dokter Angga ke ponselnya.
Akhirnya beberapa tamparan mendarat di wajah Bronson menambah dahsyatnya rasa sakit yang diderita oleh Bronson. Pria itu tidak malu menjerit karena rasa sakit yang diakibatkan oleh istrinya tidak dapat digambarkan dengan kata kata.
"Ini yang kamu bilang khilaf Bronson?" tanya ibu Tisa marah sambil menunjukkan foto Bronson yang berpelukan mesra dengan wanita muda dengan tubuh yang hanya tertutup oleh selimut. Foto itu adalah foto Bronson dengan wanita simpanannya. Dokter Angga bisa mendapatkan foto itu karena sudah memberikan bayaran kepada wanita simpanan tersebut.
__ADS_1
Bronson meringis dan tidak bisa mengeluarkan kata kata pembelaan akibat bibirnya yang terlihat semakin koyak. Darah mengucur dari sudut bibirnya tapi istrinya seakan sudah mati rasa akan pria itu. Desas desus perselingkuhan suaminya yang terdengar samar samar ke telinganya ternyata kenyataan.
Lewat matanya. Bronson mengintimidasi dokter Angga. Dia sudah bermain cantik dengan wanita simpanannya itu selama ini tapi Dokter Angga bisa mengetahui bahkan mendapatkan fotonya. Bronson hendak bertanya darimana dokter Angga mendapatkan foto itu. Tapi bibirnya yang sangat terasa sakit membuat Bronson hanya mampu menatap dokter Angga dengan tajam.
"Bronson, aku tidak bersedia lagi menjadi istri kamu. Kita bertemu di pengadilan," kata ibu Tisa tegas kemudian beranjak dari duduknya.
Wanita itu tidak butuh waktu banyak untuk memutuskan bercerai karena baginya Bronson sudah sangat terlalu mempermainkan pernikahan mereka.
"Terima kasih Angga. Kamu telah membongkar kedoknya. Yang aku sesalkan mengapa baru sekarang kamu memberitahu aku?" kata ibu Tisa. Menatap dokter Angga dengan sedih.
"Maaf ibu. Itu karena aku tidak ingin ikut campur tentang hal pribadi pak Bronson. Tapi karena Pak Bronson terlalu rakus hingga perempuan belia ini juga hendak menjadi korban. Aku tidak bisa untuk berdiam diri lagi. Mungkin dengan jalan seperti inilah, perbuatan Pak Bronson harus terbongkar.'
"Baiklah. Sekarang bantu aku mengeluarkan pria itu dari rumah ini. Dia tidak pantas tinggal dengan aku dan anak anakku," kata ibu Tisa membuat Bronson mendongak menatap wanita itu. Dia hendak protes karena diusir dari rumah hasil keringat sendiri tapi tidak bisa berkata kata.
"Maaf ibu. Kalau urusan mengeluarkan pak Bronson dari rumah ini. Itu bukan urusanku. Aku tidak bisa membantu ibu. Aku harus pergi dari rumah ini saat ini juga karena aku harus menangani Luka kepalaku ini," kata dokter Angga. Luka di kepalanya sudah terasa sangat sakit walau sudah berhenti mengeluarkan darah.
"Elena, Ayo Kita pergi," ajak dokter Angga kemudian melangkah. Elena mengikuti langkah dokter Bronson setelah menatap ibu Tisa sebentar.
Bronson masih tertunduk lesu di ruang tamu itu. Dia marah, kesal tapi tidak bisa mengeluarkan hal yang menyesakkan hatinya itu. Dia menatap kepergian dokter Angga dengan penuh kebencian.
Beberapa menit kemudian. Ibu Tisa kembali di hadapan Bronson dengan koper berisi pakaian milik Bronson.
"Pergilah Bronson. Cari kebahagiaan kamu di luar sana seperti selama ini yang kamu lakukan," kata ibu Tisa dingin. Bronson hanya dapat menggelengkan kepalanya.
"Istri macam apa kamu. Suami kesakitan seperti ini. Bukannya mengobati malah menambah penderitaan," kata Bronson dengan suara yang kurang jelas. Pria itu masih terlihat egois. Sudah jelas dirinya sudah menyakiti sang istri di rumah mereka sendiri. Tapi masih tega mengharapkan bakti istrinya.
"Kamu yang membuat kamu menderita sendiri. Apa kamu Kira aku tidak curiga dengan tingkah kamu selama ini. Aku tidak bisa membuktikan perselingkuhan kamu. Tapi malam ini lewat Angga. Semua desas desus yang aku dengar ternyata kenyataan. Yang lebih sadis. Di rumah ini kamu hendak melakukan perbuatan kotor kamu itu. Sudah tua, bau tanah bukannya memperbaiki diri malah mengotori diri sendiri. Apa dosa nenek moyangku di Masa lalu sehingga aku mendapatkan suami seperti kamu?"
Ibu Tisa terdengar menyesal karena mempunyai suami seperti Bronson.
"Ini rumah hasil keringat aku sendiri. Jika kamu menghendaki bercerai. Kamu yang keluar dari rumah ini."
Ibu Tisa menatap Bronson dengan sinis. Dari tadi pria itu tidak ada mengucapkan maaf sekali pun atas perbuatannya bahkan kini mengusir dirinya. Pria itu bahkan terlihat tidak merasa bersalah sama sekali.
"Rumah ini memang hasil keringat kamu sendiri. Kamu lupa rumah ini atas nama siapa?. Lagi pula aku bukanlah wanita bodoh yang seenaknya kamu buang setelah kamu mengkhianati aku. Sebagai istri yang sudah bertahun tahun mendampingi kamu dan ibu dari anak kamu. Aku tidak akan diam atas semua pengkhianatan kamu ini. Pergilah atau aku yang menyeret kamu?"
__ADS_1
Melihat Bronson yang masih duduk di ruang tamu itu. Ibu Tisa mendekati pria itu dan menarik tangan hendak menyeretnya. Tapi suara jeritan kesakitan dari mulut Bronson membuat ibu Tisa melepaskan tangannya. Wanita itu tidak sedikitpun kasihan melihat kondisi suaminya itu. Hatinya teramat sakit mengetahui perselingkuhan suaminya.