
Pertama kalinya. Setelah menyandang istri dari Evan Dinata. Baru kali ini, Anggita merasakan diantar oleh suaminya berangkat bekerja. Anggita bersikeras untuk kembali karena pada dasarnya dirinya memang pekerja keras. Evan pun tidak membatasi pergerakan istrinya itu. Evan memberikan kebebasan kepada Anggita untuk memilih apakah menjadi ibu rumah tangga biasa atau wanita karir. Anggita memilih keduanya. Anggita ingin menjadi ibu rumah tangga sekaligus menjadi wanita karir.
Dirinya memilih kedua peran itu bukan karena rakus. Anggita tidak ingin orang memandang dirinya sebelah mata. Walau dirinya mempunyai suami yang kaya. Anggita bertekad tidak akan tergantung secara materi dari Evan. Sejauh ini, Evan bertanggung jawab penuh akan rumah tangga mereka termasuk kebutuhan mama Feli.
Anggita benar benar membuat benteng pelindung bagi dirinya, Cahaya dan mama Feli secara materi. Anggita sadar bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini termasuk cinta dan kebahagiaan. Pengalaman rumah tangga yang menyakitkan menjadikan Anggita masih tetap waspada akan kelangsungan rumah tangganya. Dia bisa menilai dan merasakan ketulusan cinta Evan. Tapi Anggita tidak bisa menjamin cinta itu selamanya. Jujur, Anggita masih menyimpan sedikit keraguan akan kelamaan rumah tangga mereka ke depannya.
"Jika tujuan kamu bekerja untuk mengumpulkan uang sebanyak banyaknya. Aku bisa memberikan uang yang banyak kepada kamu. Jika penting semua aset akan berpindah nama atas nama kamu dan Cahaya," kata Evan. Anggita dan Evan kini sedang di mobil menuju kafe pelangi tempat Anggita bekerja. Setiap bersama Anggita. Evan selalu menyetir sendiri karena dirinya tidak ingin terganggu jika ada orang lain di saat mereka berdua seperti pagi ini.
"Apa maksud kamu mas?" tanya Anggita dengan suara yang meninggi. Mendengar kata uang dan aset. Anggita merasa jika perkataan Evan menilai dirinya sebagai pemburu harta.
"Aku tahu tujuan kamu bekerja. Kamu bekerja supaya bisa mengumpulkan uang sebanyak banyaknya. Dan jika terjadi sesuatu dengan rumah tangga kita. Kamu tetap aman secara financial. Aku tahu kamu mungkin masih trauma dengan masa lalu kita. Tapi belajarlah untuk optimis. Bahwa rumah tangga kita akan baik baik saja sampai kita menua nanti."
Anggita menatap wajah suaminya. Anggita heran mengapa Evan seakan bisa membaca apa yang di otaknya.
"Jangan menatap aku seperti itu. Aku memang memberikan kebebasan untuk kamu. Tapi jauh di dalam hatiku. Aku kamu ingin menjadi ibu rumah tangga saja. Mengurus aku, Cahaya dan mama Feli. Tapi aku tidak tega mematahkan semangat kamu itu. Tapi setelah mendengar alasan kamu aktif bekerja aku seperti pria yang tidak layak dipercaya," kata Evan. Tadi malam, Evan tidak sengaja mendengar pembicaraan Anggita dan mama Feli. Mama Feli meminta Anggita untuk tidak terlalu aktif mengelola kafe pelangi. Tapi jawaban Anggita terdengar oleh Evan membuat pria itu sedih karena Anggita belum mempercayai dirinya sepenuh hati.
"Jangan mengatakan dirimu seperti itu mas. Bekerja adalah duniaku dan bonusnya adalah tentu saja materi. Apa yang kamu katakan itu memang benar. Tapi sejak memutuskan rujuk dengan kamu. Aku selalu berharap dan berusaha supaya rumah tangga kita langgeng sampai tua."
"Anggita. Berharap dan berusaha saja tidak cukup. Segala sesuatu itu butuh pengorbanan. Jujur, aku berharap kamu mengorbankan kafe pelangi demi keluarga Kita. Aku tidak ingin kita sama sama sibuk yang nantinya bisa membuat waktu kebersamaan kita tidak ada. Harus ada salah satu diantara kita yang benar benar mengurus rumah tangga. Karena tanpa kamu bekerja pun. Aku bisa membuat keluarga kita Sejahtera," kata Evan serius.
"Evan Dinata. Akan aku pertimbangkan semua apa yang kamu katakan saat ini," kata Anggita tidak mau kalah. Sudah terlalu sering Evan memanggil dengan sebutan sayang membuat Anggita merasa janggal mendengar Evan menyebut namanya.
Begitu juga dengan Evan. Pria itu yang lebih terkejut. Ini pertama kalinya Anggita menyebut namanya tanpa ada sebutan kata mas.
Merasa ada yang tidak beres dengan perkataan Anggita. Evan akhirnya menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kenapa. Tidak nyaman aku sebut dengan nama sehingga kamu membalas dengan menyebut namaku tanpa embel embel mas?" tanya Evan. Pria itu menatap Anggita yang memalingkan wajah ke luar mobil.
__ADS_1
Anggita tidak menjawab. Wanita itu betah menatap ke luar dan tidak bersedia menatap suaminya.
"Marah ya!" kata Evan lagi sambil mencolek pinggang bahkan ketiak istrinya. Anggita hanya menggerakkan tangannya tanpa menjawab perkataan suaminya.
Melihat tingkah istrinya. Evan kini tertawa terbahak bahak. Dia baru menyadari jika istrinya itu sedang merajuk. Evan tidak berhenti tertawa melihat Anggita yang menoleh kepada dirinya dengan wajah yang cemberut.
"Sini, papa peluk. Putri pertama papa. Jangan merajuk ya. Nanti papa belikan buah kesukaan kamu. Mau apa kiwi?" tanya Evan bercanda sambil mengulurkan tangannya hendak memeluk Anggita. Anggita mengibaskan tangan sang suami seakan tidak terima dengan candaannya.
Evan masih tertawa melihat tingkah istrinya itu. Anggita memang merajuk. Hal itu tidak membuat Evan kesal ataupun marah. Yang ada pria itu melihat Anggita terlihat lucu.
"Kamu nyaman dengan panggilan sayang dari aku. Itu artinya kamu sudah mencintai suami mu ini," kata Evan sambil menatap Anggita dengan tersenyum. Evan tertawa kembali kala melihat wajah Anggita yang bersemu merah.
"Iya kan. Ayo ngaku."
"Tau ah."
"Jujur saja Anggita. Aku akan memanggil kamu dengan sebutan sayang jika kamu jujur tentang perasaan kamu."
Anggita tidak menjawab. Wanita itu hanya memajukan bibirnya dengan posisi wajah menatap lurus ke depan.
Baru saja, Anggita memajukan bibirnya. Tangan Evan sudah meraih wajahnya dan langsung mencium bibirnya dengan rakus. Evan seakan tidak membiarkan istrinya itu menghirup oksigen. Dia tidak memberikan kesempatan kepada Anggita untuk melepaskan bibir itu. Pada akhirnya, Anggita ikut menikmati permainan bibir itu. Evan bersorak dalam hati karena Anggita menikmati ciuman mereka.
"Terima kasih sayang. Aku merasa sangat bahagia dicintai oleh mu," kata Evan setelah melepaskan permainan bibir mereka. Anggita tidak menjawab. Wanita itu hanya tersenyum dengan pipi yang memerah. Wanita itu bahkan menundukkan kepalanya. Tingkahnya persis seperti anak remaja yang baru jatuh cinta.
"Kamu malu karena mencintai ku?.
"Tidak, tidak mas," jawab Anggita cepat. Anggita tidak mau. Evan salah mengartikan sikapnya.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak malu. Coba ucapkan perasaan kamu yang sebenarnya kepadaku," kata Evan. Sebenarnya tanpa mendengar dari mulut istrinya. Evan sangat yakin jika Anggita sudah mulai mencintainya.
"Aku sangat mencintai...."
Anggita sengaja terdiam sebentar sebelumnya melanjutkan perkataannya. Sedangkan Evan merasakan detak jantungnya berpacu cepat mendengar perkataan cinta dari mulutnya sang istri.
"Cahaya," kata Anggita. Kini wanita itu tertawa kegelian karena tangan Evan sudah aktif di pinggang dan ketiaknya. Sepasang suami istri itu tertawa bersama.
"Mas, mas ampun. Hentikan," kata Anggita dengan suara yang terdengar lelah. Evan akhirnya menghentikan tangannya. Dia tidak tega melihat Anggita lelah karena tertawa.
"Mas, itu Nia kan?" tanya Anggita sambil menunjuk ke arah mobil putih yang melewati mobil mereka.
"Gak lihat tadi," jawab Evan sambil menghidupkan mesin mobil.
"Mas ,jika memungkinkan. Bolehkah kita mengikuti Nia?"
"Untuk apa?.
"Aku ingin tahu dia hendak kemana mas. Jika dia pergi untuk bekerja. Ada baiknya kita mengetahui dimana dirinya bekerja. Apakah pekerjaan itu aman atau tidak untuk ibu hamil."
Evan menggerakkan mobilnya ke arah mobil putih tempat Nia.
"Untuk apa dia kemari mas?" tanya Anggita. Mereka kini memasuki area rumah mama Anita.
"Ali juga tidak tahu," kata Evan. Hingga mobil itu memasuki rumah mama Anita.
Anggita dan Evan semakin terkejut melihat mobil putih itu. Mobil putih itu kini berhenti di depan rumah mama Anita.
__ADS_1