Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 145


__ADS_3

"Apa kamu sangat yakin bisa menerima masa lalu Nia?" tanya Danny kepada Alex yang sedang duduk di dalam mobil sedangkan Danny berdiri di luar mobil. Mendengar dan melihat Alex di samping mobilnya. Akhirnya Alex keluar dari mobil hingga mereka berdiri saling berhadapan.


"Setiap manusia mempunyai masa lalu Danny. Begitu juga dengan Nia. Dan begitu juga dengan aku sendiri. Kami sudah saling bisa menerima masa lalu masing masing. Kami ingin fokus menciptakan kebahagiaan kami berdua dalam rumah tangga kami nantinya," kata Alex sangat yakin.


"Tapi Masa lalu Nia bukan masa lalu biasa. Masa lalunya menjadikan kami orang tua dari bayi laki laki yang sudah tiada," kata Danny sedih.


"Aku mengetahuinya dengan jelas," kata Alex. Mendengar sendiri Danny mengulang pertanyaannya. Alex bisa merasakan jika pria itu sangat menyesal. Tapi Alex akan bersikap egois sama seperti Danny. Alex tidak akan melepaskan Nia kepada siapapun termasuk kepada Danny.


"Tidak bisakah kamu melepaskan Nia untuk aku?" tanya Danny. Pria itu merasakan keinginan untuk memiliki Nia semakin kuat. Seakan ada dorongan dalam dirinya yang terus berjuang demi mendapatkan Nia.


"Nia adalah wanita yang aku cintai. Aku tidak akan melepaskan wanita yang aku cintai kepada siapapun. Tidak perduli siapa kamu. Tidak perduli kalian mempunyai anak di masa lalu kalian. Tidak perduli seperti apa keadaan Nia saat ini. Yang terpenting bagiku memiliki Nia dan akan berusaha keras membahagiakan dirinya nantinya."


Danny terdiam. Dari perkataan Nia dan Alex. Danny bisa jika kekuatan cinta Nia dan Alex sangat kuat dan mungkin tidak bisa dipisahkan lagi.


"Baiklah kalau begitu Alex. Aku menyerah. Aku tidak akan mengganggu kebahagiaan kalian. Semoga kamu dan Nia bahagia. Terima kasih karena sudah bersedia menerima Nia dan Masa lalunya. Hanya saja, aku minta kepada kamu. Apapun masalah yang kalian hadapi nantinya. Tolong jangan pernah mengungkit masa lalunya," kata Danny. Tidak Ada lagi yang bisa diperbuat selain melepaskan Nia dari hatinya dan merelakan wanita itu berbahagia dengan pria lain.


Danny berpikir, sudah cukup baginya memohon kepada Nia dan Alex. Inilah perjuangan terakhirnya. Bukan tidak ingin berjuang lebih keras lagi. Melihat dan mendengar bagaimana Nia dan Alex saling mencintai. Danny berpikir jika berjuang lebih keras lagi hanya untuk membuang tenaga dan waktunya saja.


"Terima kasih Danny," jawab Alex. Bersamaan dengan mengucapkan kata terima kasih itu. Nia, Anggita dan Evan muncul di depan pintu kafe dan kini sudah melangkah ke arah Danny dan Alex.


"Lex, kenalkan sahabat aku Anggita dan suaminya," kata Nia kepada Alex. Dia memperkenalkan Anggita sebagai sahabatnya bukan sebagai kakak ipar dari Danny. Alex mengulurkan tangannya ke arah Anggita dan Evan. Mereka bertiga saling menyebutkan nama sambil bersalaman.


"Aku dengar kalian akan menikah empat hari lagi," kata Evan kemudian melirik ke arah adiknya yang masih berdiri mematung. Tatapannya kini tidak lagi ke wajah Nia melainkan tatapannya lurus ke depan. Dari cara Danny, Evan bisa melihat kekecewaan di hati adiknya itu.


"Iya benar," kata Nia dan Alex hampir bersamaan.


Anggita dan Evan saling terdiam. Dalam hati sepasang suami istri itu mengharapkan Nia ataupun Alex mengundang mereka ke pernikahan itu. Tapi setelah beberapa menit menunggu. Tidak ada sepatah kata pun baik dari Nia maupun dari Alex untuk mengundang mereka. Yang ada semua mereka terdiam dengan pikiran masing masing.


Sedangkan Nia, terlihat tidak enak dengan suasana diam itu. Dia tidak enak karena tidak bisa mengundang Anggita dan Evan ke pesta pernikahannya. Dia tidak ingin, Anggita dan Evan mengetahui tentang Naya nantinya. Sedangkan Alex merasa tidak berhak mengundang Anggita dan suaminya karena dua orang itu adalah sahabat dari calon istrinya. Bagi Alex, Nia yang berhak mengundang siapa saja sahabat, kerabat atau pun teman ke pesta pernikahan mereka.


"Gita, Pak Evan. Kami pulang duluan," kata Nia. Dia tidak ingin berlama lama dalam situasi diam diaman seperti itu. Evan terlihat menggerakkan tangannya mempersilahkan Nia dan Alex pulang terlebih dahulu.

__ADS_1


"Sebentar Nia," kata Danny ketika Nia hendak melangkah. Nia menghentikan langkahnya.


"Nia, aku mengucapkan selamat berbahagia walaupun kata sah belum ada dalam hubungan kalian. Satu hal yang harus kamu ingat. Kita sudah impas sekarang. Dulu, kamu melakukan berbagai cara untuk meminta pertanggungjawaban karena ada benih ku di rahim kamu. Dan saat ini, aku juga sudah memohon kepada kamu bahkan kepada calon suami kamu menawarkan di saat tidak ada lagi benih ku di dalam hidup kamu. Rasa sakit yang kamu rasakan di Masa lalu karena penolakan ku. Kini aku yang merasakan rasa sakit itu karena penolakan kamu. Jika suatu hari kamu bersedih karena pasangan mengungkit masa lalu kamu. Jangan lagi menyalahkan aku. Karena kebahagiaan yang sesungguhnya itu adalah kebahagiaan di saat sudah sah berumah tangga."


"Pergilah, raihlah kebahagiaan kamu. Mulai detik ini. Aku akan melepaskan kamu dari hatiku. Aku akan melupakan kamu di sepanjang malam ku. Aku yang bodoh. Tidak seharusnya aku merendahkan diriku di hadapan kamu dan calon suami kamu. Anak laki laki kita tidak ada lagi. Tapi entah mengapa aku masih harus melakukan hal konyol ini."


Setelah mengatakan kata kata itu. Danny kembali masuk ke dalam kafe mengikuti Evan yang sudah masuk terlebih dahulu. Sedangkan Nia dan Anggita masih berdiri terdiam di depan mobil milik Alex. Alex sudah masuk ke dalam mobil bahkan sudah menghidupkan mobil miliknya.


"Nia, kamu yang mengetahui apa yang harus kamu putuskan. Seperti yang aku bilang tadi aku tidak akan memaksa kamu menerima Danny. Tapi kamu lihat perjuangan dia. Dia berjuang bukan semata mata karena bayi kalian yang sudah tiada itu. Dia berjuang karena sudah menyadari rasa cintanya kepada kamu. Kalau laki laki lain. Bisa saja langsung melupakan atau tidak ingin berurusan lagi dengan kamu. Tapi Danny tidak seperti itu. Dulu, dia tidak berani bertindak. Karena dia ingin melangkah mendapatkan restu terlebih dahulu. Sekarang, dia sudah mendapatkan restu itu untuk memperjuangkan kamu. Tapi ternyata restu dan perjuangannya sudah terlambat. Sebagai sahabat. Aku hanya berharap pilihan kamu saat ini adalah pilihan yang tepat dan semoga kamu berbahagia."


Sama seperti Danny, Anggita juga meninggalkan Nia di depan mobil itu setelah selesai berbicara. Karena bagi Anggita tidak ada gunanya mendengar tanggapan Nia atas perkataannya. Anggita mengatakan itu karena Nia masih mempunyai empat hari lagi untuk berpikir. Anggita sudah pernah merasakan dan sulit membedakan cinta tulus yang diperlihatkan oleh dokter Angga kepada dirinya dulu. Anggita tidak ingin hal itu terjadi kepada sahabatnya itu. Alex memang bisa menerima masa lalunya saat ini. Tapi setelah satu bulan dan selanjutnya siapa yang tahu hati manusia.


Anggita kini sudah bergabung dengan Evan dan Danny di meja yang tadi ditempati oleh Nia dan Danny.


"Kalau seandainya, suatu saat Nia tidak bahagia dan berpisah dari laki laki itu. Apa kamu masih menerima dia?" tanya Evan. Anggita yang baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi itu langsung memukul tangan Evan karena tidak menyukai pertanyaan suaminya itu.


"Tidak. Cukup aku sekali ini merendahkan diri atas kesalahanku di masa lalu," kata Danny serius. Dia tidak akan menerima wanita manapun yang sudah menolak dirinya demi pria lain seperti yang dilakukan oleh Clara sang mantan istri dan yang dilakukan oleh Nia saat ini. Nia memang tidak berselingkuh. Tapi cara Nia yang melarikan diri dari dirinya dan langsung merencanakan pernikahan membuat Danny merasa sudah cukup berjuang untuk wanita yang pernah menjebak dirinya itu.


Danny menganggukkan kepalanya. Setelah ini mungkin dirinya bisa melupakan bayang bayang kesedihan Nia selama ini. Dia akan mengubur rasa cinta yang sudah perlahan tumbuh di hatinya. Melupakan nama Nia dari hatinya tanpa melupakan bayi laki laki yang pernah bersemayam di rahim Nia.


"Aku rasa di kantor mas Evan. Banyak wanita yang bening. Sering sering lah berkunjung ke Sana supaya kamu secepatnya mendapatkan wanita pendamping kamu. Nia saja yang baru melahirkan enam bulan yang lalu bisa merencanakan pernikahan secepat ini apalagi kamu," kata Anggita.


"Apa ada wanita yang ingin kamu rekomendasikan mbak?" tanya Danny iseng.


"Ada. Banyak di kantor mas Evan," kata Anggita. Evan tertawa melihat tingkah istrinya yang seperti mempunyai maksud lain dari perkataannya itu. Evan dapat melihat kecemburuan di mata istrinya itu hanya karena dirinya memperkerjakan wanita wanita muda dan cantik di kantornya. Evan tidak mempunyai maksud lain apalagi karena tertarik kepada wanita wanita tersebut. Tapi Evan memperkerjakan wanita wanita cantik itu demi keuntungan perusahaan. Dan bukan dirinya yang merekrut. Pihak personalia yang berurusan soal penerimaan karyawan.


"Percaya padaku sayang. Hanya kalian berempat wanita tercantik di dalam hidupku."


"Berempat?" tanya Anggita bingung dengan wajah yang merengut.


"Iya berempat. Mama Tiara, nenek Rieta. Anggita istriku tercinta dan Cahaya. Kamu memang urutan ketiga. Tapi percayalah. Kamu adalah prioritas pertama," kata Evan sambil merangkul pundak istrinya. Mereka berniat untuk menghibur Danny tapi mereka yang menebar kecemburuan kepada Danny. Danny terlihat menatap sepasang suami istri itu dengan sorot mata yang juga merindukan kehangatan sebuah keluarga.

__ADS_1


Anggita tersenyum sambil mengelus perut buncitnya. Tanpa diucapkan oleh suaminya itu. Dirinya dapat merasakan jika Evan sangat memprioritaskan hidupnya. Anggita tidak salah mengambil keputusan kembali kepada Evan. Karena Anggita tidak asal kembali. Anggita bersedia kembali karena sudah melihat penyesalan suaminya itu. Anggita juga merasa bangga mempunyai suami seperti Evan Karena pria itu sangat menyayangi mama Tiara, nenek Rieta dan juga Cahaya tanpa mengabaikan apalagi menomorduakan dirinya.


Sebelum bertemu Nia hari ini. Anggita berharap apa yang dirasakan oleh dirinya saat ini bisa dirasakan oleh sahabatnya Nia. Enam bulan dirinya bisa melihat Danny menyesal dan berjuang. Tapi perjuangan itu harus terhenti hari ini juga karena pernikahan Nia sudah di depan mata.


"Apa kamu tidak ingin mengejar Salsa lagi. Dia bekerja di salah satu perusahaan milik temanku," kata Evan kepada Danny. Evan mengetahui Salsa bekerja di perusahaan milik temannya karena temannya sendiri yang bercerita. Temannya itu mengetahui jika Salsa adalah sekretaris dari Rendra yang diketahui oleh temannya itu jika Rendra adalah papa dari Evan.


"Tidak. Aku tidak akan merendahkan diriku kepada wanita yang pernah menolak aku," kata Danny. Pria itu berjanji dalam hati akan membuka hatinya tapi tidak kepada wanita yang pernah menolak dirinya. Cukup kepada Nia dirinya sampai memohon. Dan terkadang. Danny juga tidak mengerti mengapa dirinya bisa sampai melakukan hal yang tidak masuk akal ini hanya mendapatkan Nia. Di luar sana, Danny termasuk pria yang menjadi perhatian para wanita karena ketampanan dan juga tubuhnya yang tinggi.


"Semoga kamu tidak menyesal dengan keputusan kamu ini Nia," gumam Anggita dalam hati. Danny jauh di atas Alex dari segi apapun. Danny tidak tergolong pria pemain wanita. Danny pekerja keras. Walau saat ini, pria itu tidak mempunyai usaha sendiri seperti Alex. Tapi bisa dipastikan jika perusahaan Gunawan nantinya akan jatuh ke tangan Danny. Evan tidak akan mendapatkan apapun dari perusahaan Gunawan karena dirinya sudah mewarisi perusahaan yang didirikan oleh kakek Martin.


Dalam kebaikan pun, Danny bisa dikatakan adalah orang yang baik. Dia sangat perduli kepada keluarga besar. Jika pria itu menorehkan luka di hati Nia itu bukan karena pria itu yang jahat. Keadaan lah yang memaksa dirinya seperti itu. Dan seharusnya juga Nia mengerti dan sabar menunggu Danny. Karena bagaimana pun. Nia yang menciptakan penderitaannya sendiri. Andaikan dia tidak menjebak Danny. Bisa dipastikan tidak ada kehamilan yang mengakibatkan dirinya dihina. Tidak ada duka karena kehilangan bayi laki lakinya.


"Aku percaya kamu bisa menerima kenyataan ini Danny. Aku bangga kepada kamu karena kamu bersedia berjuang dan ingin menebus kesalahan kamu. Tapi perjuangan kamu tidak membuahkan hasil. Itu artinya Nia bukan lah takdir kamu. Dengan perjuangan kamu ini. Aku sangat yakin jika ada kebahagiaan yang lain yang menanti kamu. Jangan berkecil hati karena penolakan Nia. Tapi dengan siapapun kamu kelak menikah. Buktikan jika kamu adalah pria yang bertanggung jawab dan sanggup membahagiakan keluarga dari segi apapun. Biarlah Nia saat ini merasa di atas angin karena mendapatkan laki laki yang bisa menerima masa lalunya," kata Evan. Danny menganggukkan kepalanya. Setelah berpikir, Danny semakin bisa menerima jika Nia bukanlah takdirnya.


Satu jam kemudian, Evan, Danny dan Anggita akan meninggalkan meja itu. Tapi sebelum Danny, beranjak dari duduknya. Pria itu memejamkan matanya.


"Di tempat ini. Aku merasakan semangat karena menemukan kamu Nia. Tapi di tempat ini juga. Harapan ku tidak sesuai dengan yang aku harapkan. Berbahagia lah kamu dengan pasangan hidup mu," gumam Danny dalam hati. Tidak ada pilihan selain mendoakan wanita itu hidup bahagia. Karena Danny sangat yakin doa nya itu akan berbalik juga kepada dirinya.


Besok paginya. Danny terlihat menarik sebuah koper membuat Gunawan dan tante Tiara terkejut.


"Kamu mau kemana Danny?" tanya Gunawan heran sekaligus mengamati penampilan Danny dan juga koper milik Danny.


"Ma, pa. Titip Sisil. Aku hanya pergi sebentar. Clara dan kekasihnya lengah. Dan orang kepercayaanku berhasil mendapatkan tanda tangan mengalihkan perusahaan itu kembali kepadaku," jawab Danny.


"Benarkah?" tanya Gunawan senang. Mama Tiara juga terlihat senang. Danny menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana kalau papa ikut saja?" tanya Gunawan.


"Tidak perlu pa. Aku bisa menangani ini sendiri," jawab Danny. Gunawan tidak bisa memaksa dan melepaskan kepergian putranya itu selepas sarapan pagi.


"Pemilik hidup bahkan memberikan kesibukan lain kepada ku supaya tidak terus larut dalam kesedihan," kata Danny dalam hati setelah dirinya di dalam mobil menuju bandara. Mendapatkan panggilan dari orang kepercayaannya tadi malam memberikan informasi penting ini membuat pikiran Danny hanya tertuju kepada perusahaan saja.

__ADS_1


__ADS_2