
Anggita jelas sangat risih dengan perlakuan Danny itu. Tidak pernah terpikir oleh dirinya bahwa Danny akan menyatakan perasaannya seperti ini. Dia pernah berpikir jika kebaikan Danny adalah rasa sayang kepada janin yang sedang dia kandung. Tapi Hari ini Anggita merasa jika Danny ternyata orang yang sangat egois. Anggita merasa terbodoh. Andaikan dia mengetahui niat terselebung Danny dari semua bantuan. Anggita akan menolak semua bantuan pria itu.
Jangankan menjalin hubungan dengan Danny. Memikirkan untuk kembali saja dengan Evan tidak pernah terbersit di pikirannya. Anggita sudah berjanji di dalam hatinya untuk fokus dulu menata masa depan. Anggita jadi ragu. Jika Danny sering sering datang ke tempat ini tidak tertutup kemungkinan Evan akan mengetahui keberadaan dirinya.
Anggita menarik nafas panjang. Dia pernah berpikir jika pergi dari Evan akan membuat hidupnya tenang tanpa bayang bayang keluarga kakek Martin. Tapi sepertinya hidup tenang bersama mama Feli dan anaknya kelak akan terganggu dengan sikap Danny kepadanya. Masih terngiang di telinganya bagaimana Danny mengatakan akan sering sering datang ke tempat ini.
Seperti Anggita yang memikirkan sikap Danny kepadanya. Danny juga sedang memikirkan Anggita di dalam mobilnya. Pria itu terkadang bernyanyi sambil fokus menyetir. Walau Anggita belum menerima dirinya tapi pria itu sangat yakin jika Anggita akan menjadi miliknya. Dia membayangkan hidupnya dengan Anggita akan bahagia.
Dari awal bertemu, dirinya sudah tertarik dengan Anggita. Kecantikan wanita itu sanggup membuat dirinya terpana. Setelah mengenal Anggita lebih lama. Danny sangat mengagumi sifat Anggita. Danny sadar jika Anggita tidak hanya cantik wajah tapi juga cantik hati. Kriteria seperti Anggita yang menjadi wanita idamannya selama ini.
"Aku tidak akan pernah melepaskan kamu Anggita," gumam Danny sambil terus fokus menatap jalan. Pikirannya kembali membayangkan masa indah yang akan dia lalui bersama Anggita nantinya. Dia juga tersenyum membayangkan Sisil memanggil Anggita dengan mama.
Perjalanan tiga jam dari rumah Anggita ke rumah orang tuanya tidak terasa hanya membayangkan Anggita. Danny benar benar merasa jatuh hati kepada janda kakaknya itu.
Sementara di rumah milik orang tua Danny. Tante Tiara terlihat kewalahan menghadapi Sisil. Sejak dua jam yang lalu, anak kecil itu terus saja rewel merindukan mama kandungnya clara.
"Nek, mau mama," kata anak kecil itu sambil menangis.
"Iya, iya sayang. Tapi mama kamu lagi kerja. Tidak bisa diganggu," bujuk tante Tiara. Tante Tiara memeluk cucunya itu dengan penuh kasih sayang tapi tidak membuat anak itu berhenti menangis. Melihat Sisil seperti ini. Hatinya juga sakit. Hal yang wajar jika anak sekecil Sisil merindukan mama kandungnya.
Tante Tiara jadi bingung sendiri. Dia ingin menghubungi Clara tapi Clara sudah menutup semua akses kepada semua keluarga kakek Martin.
"Ibu macam apa kamu Clara?" tanya Tiara marah dalam hati. Marah di hatinya berganti sedih mengingat dirinya juga pernah mengabaikan anak sendiri. Walau dengan alasan yang berbeda dirinya dan Clara sama sama jauh dari anak masing masing. Tetap saja Tante Tiara merasa sangat bersalah kepada Evan.
"Diam ya sayang. Nenek akan mencari cara supaya kamu bisa berkomunikasi dengan mama kamu."
Sisil juga tidak langsung diam. Dia tidak begitu paham dengan kalimat panjang neneknya. Anak kecil itu hanya ingin bertemu dengan mamanya.
"Mau mama. Mau mama." Sisil terus menangis. Sepertinya kerinduan anak kecil itu tidak terbendung lagi mengingat sudah empat bulan dirinya tidak pernah bertatap muka dengan mama kandungnya.
"Bagaimana ini?.
Tante Tiara benar benar kewalahan. Dari tadi dia sudah menawarkan apa yang menjadi kesukaan Sisil tapi itu tidak berhasil. Mulai dari es krim, jalan jalan ke mall bahkan memberikan ponsel kepada anak itu. Tapi semua tidak berhasil.
"Telepon papa mau?" tanya tante Tiara. Sisil menggelengkan kepalanya.
"Kita ke rumah om Evan mau?" tanya tante Sisil lagi. Sisil kembali menggelengkan kepalanya. Tante Tiara akhirnya hanya bisa menarik nafas panjang. Biasanya Sisil sangat senang jika bertemu dengan Evan. Tapi Kali ini, Sisil sepertinya hanya ingin bertemu dengan mama kandungnya.
Tante Tiara benar benar lelah membujuk cucunya itu. Hingga terbersit satu namanya di hatinya.
"Bagaimana dengan mama Ita?" tanya tante Tiara. Seketika juga Sisil terdiam dari tangisnya. Mungkin karena sudah lelah menangis akhirnya anak kecil itu menganggukkan kepalanya dengan lemah.
Tante Tiara menatap cucunya itu sebentar kemudian memeluknya kembali. Dia menjadi sangat penasaran dengan mama Ita yang bisa membuat cucunya langsung diam. Masih hanya menyebut namanya. Bagaimana jika sudah bertemu. Tante Tiara bisa membayangkan jika cucunya itu pasti sangat senang.
"Nanti, kalau papa kamu pulang. Kita ajak ke rumah mama Ita ya," kata Tante Tiara membuat Sisil mengangguk senang.
"Iya nek. Rindu mama Ita juga," jawab anak itu. Sisa sisa lelah karena menangis masih terasa di setiap tarikan nafasnya. Bibirnya tertarik membentuk senyuman hanya mengingat mama Ita.
"Mama Ita itu seperti apa sih?.
Akhirnya Tante Tiara tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya akan mama Ita. "Mungkinkah wanita itu seperti Anita memberlakukan Evan sehingga Sisil bisa lengket kepadanya?.
"Perutnya besar. Ada adik bayinya," kata Sisil. Tante Tiara menganggukkan kepalanya pertanda jika dirinya sudah mengetahui Hal itu sebelumnya.
"Terus apalagi?.
__ADS_1
"Cantik, adik bayinya gerak," kata anak kecil itu. Dia tersenyum mengingat bagaimana dia merasakan tendangan janin Anggita.
"Sudah berapa kali Sisil bertemu mama Ita?" tanya tante Tiara. Tapi sepertinya Sisil tidak bisa menangkap pertanyaan itu dengan jelas.
"Rumahnya jauh?"
Akhirnya Tante Tiara mengganti pertanyaan supaya Sisil mengerti. Entah mengapa Hari ini dia sangat tertarik membahas tentang mama Ita. Ternyata pertanyaan itu juga tidak bisa dimengerti Sisil dengan jelas. Karena perjalanan ketika dirinya ikut ke rumah Anggita. Dia tertidur di perjalanan.
"Naik Mobil."
Hanya itu jawaban Sisil yang membuat tante Tiara tidak puas dengan jawaban itu.
Tante Tiara masih ingin bertanya tapi ponselnya berdering. Tante Tiara terlebih dahulu melepaskan Sisil dari pelukan kemudian berjalan ke arah meja rias kecil milik Sisil.
Tante Tiara mengambil ponsel itu kemudian menjawabnya.
"Halo ma," sapa Tante Tiara. Lawan bicaranya saat ini adalah nenek Rieta.
"Baik ma, aku segera jalan sekarang," kata Tante Tiara kemudian mengakhiri pembicaraan itu. Dia melihat Sisil sebentar.
"Sisil ikut nenek ya!" kata Tante Tiara. Nenek Rieta meminta dirinya untuk segera ke rumahnya. Tante Tiara tidak tega meninggalkan Sisil bersama para pelayan di rumah ini mengingat anak itu tadi rewel.
"Yeah. Ikut." Ternyata Sisil sangat senang. Tante Tiara tersenyum. Dia berharap dengan kasih sayangnya kepada Sisil, anak kecil itu bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Niatnya bukan untuk menggantikan peran Clara mantan menantunya. Tante Tiara justru senang jika Clara dan Sisil bisa berkomunikasi dengan baik.
"Mau kemana ma?" tanya Danny. Dia baru saja menutup pintu mobilnya ketika tante Tiara dan Sisil menginjakkan kaki di halaman rumah.
"Ke rumah nenek. Apa kamu bisa mengantar kami?.
"Maaf ma, mama sama sopir saja ya. Aku lelah," jawab Danny. Perjalanan tiga jam itu walau tidak terasa hanya membayangkan Masa depan dengan Anggita tapi tidak dengan tubuhnya. Danny merasakan pegal juga Dan ingin tidur terlentang untuk menghilangkan rasa lelah itu.
"Daaa, papa." Hanya itu yang diucapkan Sisil kepada papanya itu. Danny membalas lambaian tangan putrinya sambil tersenyum. Dia masih berdiri di tempat itu sampai Mobil tante Tiara keluar dari gerbang.
Tidak sampai setengah jam. Akhirnya Tante Tiara dan Sisil akhirnya tiba di rumah nenek Rieta. Rumah besar Dan mewah itu terlihat sepi. Tante Tiara menghentikan mobilnya tepat di samping Mobil Anita.
"Anita juga disini," kata Tante Tiara dalam hati. Dia bertanya tanya dalam hati untuk apa dirinya disuruh ke rumah ini.
"Ayo turun sayang," kata Tante Tiara sambil melepaskan sabuk pengaman yang dikenakan Sisil.
"Nenek, tunggu," kata Sisil sambil menahan tangan neneknya supaya tidak terus melangkah. Mereka kini berada di ruang tamu. Tante Tiara menghentikan langkahnya. Sebenarnya mereka langsung ke ruang keluarga karena nenek Rieta sudah pasti menunggu mereka di ruangan itu.
"Ada apa sayang?" tanya tante Tiara lembut. Dia mengikuti pergerakan mata Sisil yang melihat foto foto besar yang tergantung di tembok ruang tamu itu.
"Itu mama Ita," kata Sisil sambil menunjuk foto pernikahan Evan dan Anggita yang masih tergantung di tembok itu. Seketika itu juga tante Tiara terkejut Dan jantungnya berdetak tak karuan.
"Yang Mana?" tanya tante Tiara untuk memperjelas sambil mengamati tangan Sisil yang sudah bergerak menunjuk foto Anggita.
"Itu tante Anggita sayang bukan mama Ita," kata Tante Tiara. Dia berpikir jika Sisil hanya terbawa pikiran karena merindukan mama kandungnya dan mama Ita.
"No. Itu mama Ita," jawab anak itu.
Tante Tiara berpikir sebentar menghubungkan informasi tentang mama Ita dengan Anggita.
"Tidak mungkin. Mungkin hanya mirip saja," gumam tante Tiara. Dia masih mengingat dengan jelas jika Anggita keguguran. Dan mama Ita yang dikatakan oleh Sisil sedang mengandung.
"Ayo sayang, Kita ke ruang keluarga. Nenek Rieta pasti sudah menunggu Kita," kata Tante Tiara. Sisil memang memanggil nenek Rieta dengan panggilan nenek sama seperti papanya. Terkadang dia juga memanggil nenek Rieta dengan mama meniru tante Tiara dan Gunawan. Nenek Rieta tidak keberatan bagaimana cicitnya itu memanggil dirinya. Justru dia terhibur dengan panggilan yang selalu berbeda dari cicitnya itu.
__ADS_1
"Mama."
"Mama."
Bersamaan tante Tiara dan Sisil memanggil nenek tua itu. Di hadapannya, Anita duduk sambil tersenyum paksa melihat interaksi Tiara, nenek Rieta dan Sisil.
Sebelum duduk, Tiara terlebih dahulu memeluk nenek Rieta. Diikuti oleh Sisil yang kini betah duduk di pangkuan nenek tua itu.
"Mereka akan bercerai," kata Nenek Rieta langsung ke inti pembicaraan. Nenek Rieta terlebih dahulu memberikan ponsel kepada Sisil dan memutar lagu anak anak supaya pembicaraan mereka tidak begitu diperhatikan anak kecil itu.
"Maksud mama Anita dan Rendra?" tanya tante Tiara terkejut. Nenek Rieta menganggukkan kepalanya dan Anita terlihat menundukkan kepalanya.
"Kalau bisa kamu dan Gunawan menasehati Rendra, Tiara. Mama tidak ingin ikut dengan campur rumah tangga mereka berdua," kata Nenek Rieta lagi.
"Ada masalah apa dengan kalian berdua?. Bukankah kalian saling mencintai?" tanya tante Tiara heran. Dia mengetahui bagaimana Rendra sangat mencintai Anita. Bagaimana Rendra selalu membela Anita di hadapan nenek Rieta dan kakek Martin. Bagaimana Rendra menerima kekurangan Anita yang tidak bisa memberikan keturunan kepada Rendra.
Tiara juga mengetahui bagaimana Rendra menolak ketika kakek Martin dan nenek Rieta meminta Rendra untuk menceraikan Anita. Menolak usul kakek Martin untuk berpoligami supaya dia mendapatkan keturunan sendiri. Rendra dengan tegas mengatakan jika Evan dan Anita adalah kebahagiaannya.
"Aku juga tidak tahu mbak. Tiba tiba saja Rendra menggugat aku," jawab Anita sedih. Dia berharap kedatangannya ke rumah ini bisa memperbaiki rumah tangga sebelum sidang mediasi yang sudah dijadwalkan tiga hari lagi. Dia juga tidak ingin mengatakan yang sejujurnya.
"Tidak mungkin kamu tidak mengetahui sebab Rendra menceraikan kamu. Pasti kebusukan kamu sudah diketahui olehnya," kata Nenek Rieta sinis.
"Mama," kata Tiara. Dia tidak ingin mama mertuanya itu bersikap sinis seperti ini disaat Anita terpuruk.
Anita menundukkan kepalanya. Dia baru sadar jika dirinya datang ke tempat yang salah. Bukan solusi yang dia dapatkan melainkan sakit hati.
"Kedatangan Anita ke rumah ini untuk meminta kita menasehati Rendra supaya mencabut gugatan itu," kata Nenek Rieta memperjelas kedatangan Anita di rumah itu.
Tiara hanya bisa menarik nafas panjang. Dia juga sedikit mengetahui sifat Anita yang membuat Nenek Rieta kurang menyukai wanita itu.
"Sebaiknya mama yang menasehati. Rendra itu kalau sudah keinginannya sulit untuk dinasehati. Aku takut jika terlalu ikut campur, Rendra akan mengejek aku dan Gunawan karena kami juga termasuk orang tua yang gagal karena pernikahan Evan dan Danny juga gagal," kata Tante Tiara. Bukan tidak ingin membantu Anita. Tapi Tiara sangat yakin jika Rendra mempunyai alasan yang kuat menceraikan Anita.
"Sebaiknya, aku pergi," kata Anita tiba tiba. Dia tidak ingin mendengar perkataan Nenek Rieta yang pasti sangat menyakitkan. Mertuanya itu kalau tidak menyukai seseorang pasti akan menunjukkan rasa tidak suka. Dan jika menyukai seseorang, apa yang ada pada dirinya tidak segan segan untuk memberikannya.
Nenek Rieta hanya menatap datar kepada Anita yang sudah beranjak dari duduknya. Wanita itu melangkah pergi dari ruangan keluarga itu tanpa menoleh lagi.
"Hubungi Rendra Tiara, suruh dia kemari sekarang juga," kata Nenek Rieta tegas. Dia ingin mendengar alasan Rendra menceraikan Anita. Jika karena alasan keturunan, nenek Rieta akan meminta Rendra meminta restu kepada Anita untuk menikahi lagi tanpa menceraikannya. Bagaimana pun nenek Rieta juga ingin mempunyai cucu dari putranya itu. Dia memang kurang menyukai Anita. Tapi itu tidak membuat Nenek Rieta main setuju saja ketika Rendra menceraikan Anita.
"Rendra akan datang ma," kata Tante Tiara setelah melihat pesan balasan di ponselnya.
"Menurut kamu. Apa yang membuat mereka bercerai. Mungkinkah karena orang ketiga?" tanya Nenek Rieta.
Baru saja Tante Tiara ingin menjawab pertanyaan nenek Rieta. Mereka berdua terkejut dengan perkataan Sisil.
"Ini mama Ita," kata Sisil sambil menunjuk layar ponsel dimana wallpaper layar itu adalah Lima perempuan cantik berbeda usia. Nenek Rieta, tante Tiara, Mama Anita, Anggita dan Sisil. Sisil ingin mencari lagu kesukaan dan menyentuh asal layar ponsel itu sehingga kembali ke tampilan awal.
"Mana?" tanya tante Tiara semakin penasaran.
"Ini nek," kata Sisil sambil menunjuk foto Anggita. Tante Tiara melihat baik baik jari telunjuk Sisil yang menunjuk foto itu.
"Tidak salah lagi," gumam tante Tiara. Kini dia sangat yakin jika mama Ita yang dimaksudkan Sisil adalah Anggita.
Nenek Rieta tidak berkomentar apapun karena dia tidak mengetahui tentang mama Ita yang dimaksudkan Sisil. Wanita tua itu hanya tersenyum sambil merindukan mantan cucu menantu kesayangannya.
"Semoga petunjuk ini bisa menemukan keberadaan kamu Anggita," gumam tante Tiara lagi.
__ADS_1