Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 152


__ADS_3

Desakan dan nasehat dari Jessi dan Anna tidak membuat Nia langsung menjawab. Ada banyak hal yang harus dia pikirankan sebelum memutuskan setuju atau tidak setuju dengan saran Pamannya. Saat ini, memang dirinya butuh seorang pengantin laki laki untuk menggantikan Alex bersandinh dengan dirinya di pelaminan. Tapi jika pria itu adalah Danny. Nia harus memikirkan matang matang untuk itu. Dari segi apapun, orang lain pasti akan menyarankan Nia menerima pria itu. Tapi adakah yang memikirkan perasaan Nia terhadap Danny saat ini. Paman dan Jessi hanya sibuk memikirkan cara bagaimana menghilangkan rasa malu itu tanpa memikirkannya apa yang dipikirkan oleh Nia saat ini.


Mengingat masa lalu. Sebenarnya Nia tidak ingin berhadapan dengan Danny. Tapi jika dirinya menikah dengan pria itu. Bukankah Nia harus menjalankan peran sebagai istri yang baik?. Bisakah dirinya tidur di atap dan bahkan di ranjang yang sama sementara dirinya sudah tidak mempunyai perasaan atap kepada pria itu. Bisakah dirinya bersikap baik kepada Gunawan yang sudah sangat menghina dirinya dulu?"


Pemikiran itu terus berputar putar di otaknya. Sebagai manusia biasa, Nia tidak mudah melupakan semua itu. Tapi jika dirinya menolak. Nia memikirkan kedua adiknya. Dirinya sudah merasa kebal menerima cobaan itu tapi kedua adiknya sampai meminta pindah rumah Karena tidak tahan mendengar hinaan para tetangga. Akankah Nia kembali mendatangkan situasi yang sama pada adik adiknya?.


"Ternyata kamu hanya memikirkan diri kamu sendiri mbak," kata Jessi penuh kecewa ketika Nia belum memberikan keputusan akan saran dari sang paman. Nia yang berbuat tapi mereka bertiga harus mendapatkan penilaian negatif dari para tetangga. Membayangkan menerima perlakuan itu kembali kepada mereka. Jessi sangat sedih.


"Bukan seperti itu dek. Memutuskan menikahi dengan orang yang berkaitan dengan masa lalu kita tidak segampang membalikkan tangan," jawab Nia berusaha memberikan pengertian kepada adiknya jika dirinya tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.


"Apa yang kamu pikirkan mbak, Waktu sudah terdesak. Kamu masih butuh waktu untuk berpikir. Jika kamu menikah dengan pak Danny. Naya bukan mendapatkan ayah tiri melainkan ayah kandung. Lagi pula pak Danny melakukan ini bukan karena terpaksa tapi karena pertanggungjawaban kepada kamu dan Naya." Jessi semakin menunjukkan kekecewaannya.


"Benar kata Jessi nak," kata Sang paman dan didukung tantenya dengan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Pak, tante Anna. Dan semuanya. Sepertinya aku perlu berbicara berdua dengan Nia," kata Danny. Paman melihat jam tangannya kemudian menganggukkan kepalanya dan mengajak yang lain keluar dari ruangan itu. Danny menunggu pintu ruangan tertutup terlebih dahulu sebelum berbicara dengan Nia. Danny melakukan hal ini karena perkataan Nia kepada Jessi sebelumnya jelas menunjukkan keraguan kepada dirinya.


Nia memalingkan wajahnya ketika sudah menyadari jika hanya mereka berdua di ruangan itu. Danny melangkah mendekati Nia dan berdiri tepat di hadapan. Nia yang duduk di bangku dan kini menundukkan kepalanya dapat melihat bagian kaki pria itu. Tapi beberapa detik berikutnya. Nia dikejutkan dengan aksi Danny yang berjongkok di hadapannya dan memiringkan wajahnya supaya bisa melihat wajah Nia secara keseluruhan.


"Nia, aku tahu kamu pasti belum bisa melupakan pengalaman pahit akibat diriku yang kurang bijaksana. Aku mohon, tolong lupakan hal hal buruk di masa lalu demi kebaikan dan kebahagiaan kamu di masa depan. Aku tahu saat ini, hatimu sedang kacau balau. Tapi jangan biarkan hatimu tersesat semakin dalam sehingga kamu lupa jalan untuk memaafkan."


Danny berhenti berbicara sebentar. Pria itu menggerakkan tangannya ke dagu Nia supaya wanita itu menatap dirinya. Nia menatap wajah Danny sebentar kemudian kembali menundukkan kepalanya.


"Nia, aku ingin menikahi kamu bukan karena mempunyai maksud tersembunyi atau pun hanya sekedar bertanggung jawab. Aku berniat menikahi kamu untuk membangun rumah tangga impian. Rumah tangga yang saling menghargai, saling setia dan kalau bisa saling mencintai. Menikah lah dengan ku Nia," kata Danny serius dan menatap Nia yang masih menunjukkan kepalanya.


"Kamu meragukan aku Nia?. Seperti yang kamu tahu aku adalah duda yang ditinggal sang mantan istri selingkuh. Sebagai pria yang pernah gagal berumah tangga, aku akan berusaha menjaga rumah tangga Kita dari yang namanya perselingkuhan. Dan satu lagi Nia, jika kamu setuju menikah dengan aku. Aku tidak akan memaksa kamu kita langsung satu rumah. Selesai pernikahan ini, kamu boleh kembali ke rumah kamu," kata Danny untuk menyakinkan Nia bahwa dirinya tidak akan mengikat Nia dengan tanggung jawab seorang istri. Danny akan memberikan waktu kepada Nia untuk bisa menerima dirinya sebagai suami.


Mendengar perkataan Danny. Nia meluruskan pandangannya ke arah Danny. Nia ingin memastikan jika perkataan pria itu tidak main main. Jika Alex yang menjadi pengantin saat ini, Nia tidak masalah kemana Alex membawa dirinya pergi.

__ADS_1


"Bagaimana, kamu bersedia menikah dengan aku?" tanya Danny. Akhirnya Nia menganggukkan kepalanya. Perkataan Danny sebelumnya membuat Nia bersedia menerima lamaran Danny. Menikah dengan Danny hari ini akan menghindarkan mereka dari rasa malu tapi dia tidak berada di situasi yang tidak dia inginkan nantinya. Dia bisa kembali pulang ke rumahnya. Itu artinya Nia mempunyai waktu untuk membuka hati menjadikan Danny sebagai suaminya sebelum mereka tinggal satu atap nantinya.


Danny tersenyum senang melihat anggukan kepala Nia. Tidak apa apa mereka masih hidup terpisah setelah menikah yang penting Nia sudah menjadi istrinya. Danny memberikan waktu kepada Nia untuk menyembuhkan luka hatinya dan Danny sudah berjanji dalam hati untuk membantu Nia menyembuhkan luka tersebut dengan sikap dan perbuatannya.


Danny mengulurkan tangannya kepada Nia supaya mereka berjabat tangan. Nia menyambut uluran tangan itu tanpa ada senyum manis di wajahnya.


Setelah mereka selesai berjabat tangan. Danny berjalan ke arah pintu dan membuka pintu tersebut. Di luar pintu paman, tante dan Anna juga Jessi sedang menunggu keputusan Nia. Ketika pintu itu terbuka. Danny tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda jika Nia bersedia menikah dengan dirinya. Melihat hal itu, paman dan Jessi mengucapkan kata syukur karena mereka akan terselamatkan dari rasa malu itu. Sedangkan Anna langsung menghubungi keluarga dari pihak Danny supaya datang ke gedung itu.


Tidak banyak waktu lagi bagi mereka. Danny terpaksa memakai stelan pengantin yang seharusnya milik Alex. Bentuk tubuh yang berbeda, membuat setelan itu kurang pas di tubuh Danny. Tubuh Danny lebih tinggi dan jangkung berbeda dengan tubuh Alex.


"Apakah aku terlihat seperti penyanyi dangdut?" tanya Danny kepada Anna dan Nia yang ada di ruangan itu. Sementara yang lainnya sudah keluar dari kamar itu.


Anna dan Nia terdengar tertawa kecil melihat penampilan Danny. Celananya terlihat pendek di atas mata kaki begitu juga dengan atasannya.

__ADS_1


"Tidak, malah keren loh Danny. Jarang jarang pengantin memakai setelan seperti ini," kata Anna. Setelah diperhatikan penampilan Danny ternyata oke juga.


__ADS_2