Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Adelia Dan Nia


__ADS_3

Ponsel milik Adelia sudah berada di tangan Evan. Ponsel itu otomatis terkunci sehingga Evan tidak bisa melihat video itu. Adelia terlihat lega. Tapi tidak dengan Evan. Dia sangat penasaran dengan video tersebut.


Nia sudah pasti bisa melihat perubahan di wajah Adelia. Tapi itu tidak apa apa. Dia juga tidak menginginkan Evan secepat ini mengetahui kebusukan Adelia. Nia dan Anggita ingin membuat Adelia sport jantung setiap hari dimulai dari Hari ini.


Adelia beranjak dari duduknya setelah ponsel miliknya berhasil dalam genggaman tangannya. Hanya ini yang bisa dia lakukan untuk menghindar dari Evan. Dia berjalan cepat menuju belakang kafe.


Adelia menarik nafas lega setelah berhasil menghapus video itu dari ponselnya. Dia juga memblokir nomor nomor pengirim video tersebut. Adelia hendak kembali ke tempat dimana Evan berada tapi Adelia kini terkejut. Nia berada tepat di hadapan. Wanita itu berdiri bersandar di kusen pintu.


"Kamu mengikuti aku?" tanya Adelia setelah rasa terkejut itu hilang dari hatinya.


"Seperti dugaan kamu," jawab Nia tenang.


"Tapi untuk apa kamu mengikuti aku?" tanya Adelia tidak senang. Dia tidak curiga sama sekali jika pengirim video itu adalah Nia.


"Hanya ingin tahu. Apa yang membuat dirimu ketakutan setelah melihat layar ponsel tadi."


"Itu bukan urusan kamu. Jadi berhenti untuk ikut campur."


Adelia berkata dengan ketus. Rasa kesalnya semakin menjadi jadi setelah Nia berkata seolah ingin tahu.


"Tapi aku si ratu kepo loh. Kamu jangan takut berbagi rahasia dengan aku. Jamin Aman," kata Nia sangat membuat Adelia kesal. Apalagi gaya Nia membuat gerakan tangan di bibirnya seperti gerakan mengunci. Adelia tidak bodoh. Tidak mungkin dirinya berbagi rahasia yang sangat membahayakan dirinya.


"Awas minggir. Kekasihku tidak suka menunggu," kata Adelia sambil menggerakkan tangannya untuk menyingkirkan Nia dari pintu itu. Tapi Nia dengan cepat mengibaskan tangan Adelia sehingga membuat wanita itu tersungkur.


"Punya kekasih pengecut saja bangga," kata Nia tersenyum kecut.


"Aku tidak terima kamu mendorong aku seperti ini."


"Tidak terima?. Anggita juga tidak terima dengan laporan yang pelaku kejahatannya adalah dirimu," jawab Nia tajam.


"Dia yang jahat. Aku melaporkan dia karena dia benar benar mendorong aku." Adelia masih saja mengingkari kejahatan yang dia perbuat.


"Apa video yang baru saja kamu lihat menunjukkan jika Anggita adalah pelaku kejahatan. Kamu jelas terlihat hendak mendorong Anggita."


Adelia tidak dapat menutupi wajah terkejutnya. Pikirannya sudah menebak siapa yang menjadi pengirim video itu. Adelia terdiam sejenak untuk mencari jalan keluar dari masalah ini. Dia tidak ingin Evan mengetahui kejadian yang sebenarnya waktu itu.


"Jawab wanita licik," hardik Nia. Dia sangat muak pada wanita yang sudah berdiri di depannya. Dia memang hanya sahabat bagi Anggita. Tetapi mengetahui jika Adelia sampai berbuat dengan sengaja untuk mencelakai janin milik Anggita membuat Nia merasa ikut tersakiti.


"Video Mana yang kamu maksud?" tanya Adelia pura pura tidak mengerti.


"Jangan sok tidak tahu kamu. Aku adalah orang yang mengirimkan video itu kepada kamu."


Nia tidak ingin menutupi kebenaran akan identitas pengirim video tersebut. Karena dia sudah berniat akan menjadikan dirinya sendiri sebagai teror untuk Adelia.


Adelia semakin terkejut. Jika Nia adalah pengirim video maka secepat mungkin bisa saja video itu akan sampai ke tangan Evan. Adelia tidak bisa mengelak lagi.


"Berapa aku membayar kamu supaya video itu bisa terhapus dari ponsel kamu," kata Adelia angkuh. Melihat pekerjaan Nia yang hanya karyawan biasa, Adelia menduga bisa menyuap Nia.


Nia tertawa. Tawaran Adelia adalah hal yang tidak mereka rencanakan sebelumnya. Rencana awal hanya ingin membuat Adelia sport jantung setiap hari.


"Berapa kamu sanggup untuk membayar aku?" tanya Nia dengan senyum mengembang di bibirnya.


Adelia bersorak dalam hati. Pertanyaan Nia adalah sebagai jalan keluar yang baik untuk dirinya.


"Sebutkan angkanya. Aku akan mentransfer ke rekening kamu sekarang juga."

__ADS_1


"Seratus juta."


"Oke aku transfer, kirim kan nomor rekening kamu."


Adelia terlihat sibuk dengan ponselnya. Seratus juta untuk video yang membahayakan dirinya harus dia kirimkan sekarang demi keamanan dirinya. Sebenarnya, Adelia berat hati melepas uang sebesar itu tapi demi bersama Evan, tidak mengapa dia harus kehilangan uang itu. Toh, setelah menikah dengan Evan. Adelia merasa pasti akan mendapatkan uang bulanan yang banyak.


"Mana nomor rekening kamu?" tanya Adelia tidak sabaran. Dari tadi Nia hanya terlihat tersenyum menatap dirinya.


"Tunggu sebentar."


"Sudah aku kirim ya. Deal. Jadi kamu boleh hapus video itu dari ponsel kamu."


"Baiklah, supaya kamu percaya. Sebaiknya kamu yang menghapus sendiri," kata Nia sambil menyodorkan ponselnya kepada Adelia. Adelia tersenyum senang. Dia menghapus video itu.


"Terima kasih. Siapa tadi nama kamu?.


"Nia."


"Terima kasih Nia. Aku harap kamu bisa menjadi teman bagiku."


"Jangan senang dulu. Seratus juta untuk satu video. Untuk video kejadian di rumah sakit. Lain lagi," kata Nia tenang.


"Maksud kamu apa?" tanya Adelia marah. Dia merasa dipermainkan oleh wanita ini.


"Kamu lupa?. Kamu mendorong Anggita di rumah sakit hingga keguguran. Coba bayangkan jika calon suami kamu itu mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Apa kamu masih bisa bersandar manja di lengannya?.


"Jangan main main kamu ya!. Adelia akhirnya kembali tersulut emosi tapi dia tidak bisa berbuat apa apa. Dia menyadari jika wanita di depannya ini adalah wanita yang licik.


"Sayang sekali. Aku justru ingin bermain main dengan kamu," kata Nia sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Adelia.


"Ternyata kamu tidak tahu aku siapa ya."


"Diam," kata Adelia menghardik Nia. Dia sudah tidak tahan berhadapan dengan Nia.


"Dengar ya pelayan sialan. Aku tidak terima kamu mencurangi aku seperti ini. Kamu harus mengembalikan uangku secepat mungkin. Kalau tidak aku akan melaporkan kami ke polisi."


"Tidak akan. Aku peringatkan beberapa hal pada kamu. Jika Hari ini kamu kehilangan uang seratus juta. Maka besok atau lusa atau kapan pun itu kamu harus kehilangan calon suami kamu. Ingat. Jika Anggita tidak bisa memiliki Evan. Maka kamu juga tidak bisa memiliki pria itu," kata Nia sambil menunjuk wajah Adelia. Inilah sebenarnya rencana Anggita dan Nia. Menghancurkan dua manusia itu dengan cara tidak bisa saling memiliki.


"Coba saja, kalau berani. Aku dan Evan saling mencintai," kata Adelia berani. Wajahnya terlihat berani tapi tidak dengan hatinya yang berdetak kencang karena ketakutan. Karena jika kejahatannya terbongkar bisa dipastikan dirinya akan membusuk di penjara.


Setelah mengucapkan kata kata itu Adelia berjalan melewati Nia. Dia menyenggol bahu Nia untuk melampiaskan kemarahannya. Nia hanya tertawa mendapatkan perlakuan seperti itu. Dia juga mengikuti langkah Adelia yang bisa dipastikan akan ke tempat dimana Evan berada.


Setelah di ruangan dimana Evan berada. Nia dapat melihat jika Evan sudah selesai memeriksa laporan itu. Nia, duduk di hadapan Evan dan Adelia. Caranya bersikap seakan tidak terjadi apa apa di belakang kafe tadi. Tapi tidak dengan Adelia. Sorot mata itu jelas terlihat ada kemarahan yang butuh pelampiasan.


"Kinerja kamu sangat bagus Nia. Tolong dipertahankan ya. Dan satu lagi. Tolong kembangkan kafe ini demi sahabat kamu Anggita."


"Terima kasih Pak. Saya akan berusaha melakukan yang terbaik."


"Saya akan mengapresiasi kinerja kamu ini Nia. Asisten Saya akan mengirimkan bonus ssbesar gaji satu bulan ke rekening kamu hari ini juga."


Terima kasih Pak. Terima kasih," jawab Nia senang. Hari ini sepertinya hari keberuntungan untuk Nia. Dia sudah mendapatkan uang yang lumayan banyak dari Adelia kini dirinya mendapatkan rejeki nomplok dari Evan.


Adelia semakin membenci Nia. Dia tidak mengetahui sebelumnya jika Nia adalah sahabat dari saingannya Anggita.


"Sayang, sebaiknya kita pulang," kata Adelia manja.

__ADS_1


"Aku masih Ada kerjaan Adel. Kamu pulang sendiri saja."


"Baiklah kalau begitu," kata Adelia. Dia tidak mungkin memaksa untuk pulang sama dengan Evan. Dia sudah tidak betah di tempat ini karena video dan kehilangan uang seratus juta. Dia sudah punya rencana untuk membalas kelicikan Nia suatu hari nanti.


Baru saja Adelia meletakkan tasnya di bahu. Ponselnya kembali berdering. Adelia berdiri hendak berlalu dari tempat itu secepat mungkin. Dia takut jika notifikasi pesan yang baru terdengar dari ponselnya adalah hal yang bisa membuat jantung hampir copot. Tapi apa yang ada di pikirannya tidak bisa sesuai dengan kenyataan yang ada. Evan sudah memegang tangannya kuat dan menarik tangan itu sehingga Adelia kembali terduduk.


"Jawab dulu panggilan itu baru keluar," kata Evan lembut.


"Ini bukan panggilan. Ini hanya pesan. Mungkin ini pesan dari taksi online yang aku pesan tadi."


"Justru itu aku ingin lihat. Aku harus mengetahui nomor plat mobil yang kamu pesan," kata Evan perhatian. Adelia terlihat ragu mengambil ponsel dari tas. Dia membuka pesan itu dengan menjauhkan ponsel dari Evan. Seketika Evan merampas ponsel itu dengan cepat. Evan membuka video itu dengan cepat.


"Apa ini Adel. Ternyata benar kata Anggita. Dia tidak menarik kamu tapi kamu yang mencoba mendorong dia," kata Evan marah dan terkejut. Evan mengirimkan video itu ke nomor ponselnya. Evan melemparkan ponsel itu ke pangkuan Adelia.


"Kamu jahat Adelia. Kamu jahat," kata Evan sambil menggerakkan tangannya hendak menampar wanita itu tapi kemudian menurunkan tangan. Sebagai gantinya Evan meninju meja kaca hingga kaca itu retak.


Evan terlihat frustasi mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Beberapa bulan bercerai dari Anggita. Evan sudah mencoba menata hidupnya dan hampir berhasil. Tapi kenyataan itu kembali memukul hatinya hingga Evan kembali dihinggapi rasa bersalah yang lebih dahsyat. Hanya satu yang membuat Evan sedikit lega. Setidaknya dia telah mengeluarkan Anggita dari penjara saat itu.


Nia hanya melihat dua manusia yang sedang memanen karmanya saat ini. Walau sebenarnya dia tidak menginginkan Evan mengetahui sekarang tapi dia sedikit puas melihat wajah ketakutan Adelia dan wajah Evan yang marah. Dan selanjutnya, bisa dipastikan jika Adelia akan memamen karma yang lebih dahsyat dari ini.


Evan masih melamun mengingat kejadian empat bulan lalu. Kini Adelia menoleh ke Nia. Dia menduga jika Nia adalah pengirim video yang terakhir itu. Tidak terima dibohongi. Adelia berdiri dan langsung mengambil ponsel Nia dari tangannya. Kemarahan yang memuncak membuat Adelia melemparkan ponsel itu dengan sangat kuat ke tembok hingga ponsel itu hancur tidak berbentuk lagi. Dia berpikir, menghancurkan ponsel itu maka video video tentang kejahatannya Alan ikut hilang juga.


Melihat ponselnya hancur. Nia tidak bereaksi. Dia tenang tidak merasa rugi karena dia akan bisa mengganti ponsel itu dengan bonus yang dijanjikan oleh Evan. Sedangkan uang seratus juta dari Adelia, dia harus mendiskusikan uang itu terlebih dahulu dengan Anggita.


Justru Evan yang terlihat bingung dengan tindakan Adelia yang tidak seharusnya menurut Evan.


"Adelia, apa kamu gila?. Mengapa kamu melemparkan ponsel Nia?" tanya Evan marah. Dia semakin tidak mengerti tentang sifat wanita itu.


"Dia ini penipu. Aku sudah mentransfer uang yang banyak untuk dia supaya menghapus video itu. Tapi dia justru mengirimkan kembali kepadaku." Adelia membuka kejahatannya sendiri karena marah akan Nia.


"Bukan aku pengirimnya. Bukankah kamu sendiri yang menghapus di ponselku?. Nia membantah jika dirinya yang mengirimkan video itu. Karena memang benar jika dirinya tidak mengingkari persetujuan yang mereka buat tadi.


"Jadi kamu menyuap dia Adel?. Jika dia tidak mengirimkan video itu maka selamanya aku tidak mengetahui kebenaran itu. Kamu harus tanggung jawab Adel," kata Evan.


Wajah Adelia memucat mendengar ancaman Evan. Dia cepat mengambil tasnya dan berlari dari ruangan itu ketika Evan lengah. Evan yang menyadari jika Adelia kabur tidak berniat untuk mengejarnya karena Evan tidak ingin menpermalukan dirinya sendiri di hadapan para karyawan dan para pengunjung. Dia sudah memikirkan hukuman apa yang akan diterima oleh Adelia nantinya.


"Kamu, tetap disini," perintah Evan kepada Nia ketika wanita itu bergerak hendak meninggalkan ruangan itu juga.


Nia menurut dan berusaha tenang. Dia sudah memikirkan jawaban jawaban atas pertanyaan Evan yang mungkin akan segera dia dengar.


"Jawab dengan jujur. Dari Mana kamu mendapatkan video itu," tanya Evan. Pertanyaan yang sudah ditebak Nia dalam hati.


"Anggita mengirimkan video itu ketika di rumah sakit pak."


"Jawab dengan jujur Nia," kata Evan lebih tegas.


"Benar Pak."


"Tolong bantu aku Nia. Kamu mendapatkan video itu setelah Anggita pergi kan." Adelia menggelengkan kepalanya. Karena memang sebenarnya video itu dia dapatkan sewaktu merawat Anggita di rumah sakit.


Evan terdiam sebentar untuk mencari pertanyaan yang tepat supaya Nia membongkar keberadaan Anggita saat ini.


"Dari hati yang paling dalam aku merasa bersalah kepada Anggita. Aku bahkan rela bersujud di kakinya demi mendapatkan maaf. Aku sangat sadar bahwa ini semua adalah kesalahanku. Nia, bantu aku untuk mendapatkan maaf dari Anggita supaya hidupku tenang," kata Evan sedih.


Nia mengejek Evan dalam hatinya. Sampai kapan pun, dia tidak akan bersedia membuka mulut tentang keberadaan Anggita saat ini kecuali Anggita sendiri yang mengijinkan.

__ADS_1


"Sebenarnya, apa yang saat ini bapak alami bisa dikatakan sebagai karma Pak. Selama Anggita menikah dengan bapak. Dia tidak pernah bahagia. Dia memendam sendiri semua penderitaan yang bapak lakukan. Anggita sudah pergi. Sekarang tiba saatnya bapak menjemput kebahagiaan sendiri. Melihat bapak, Anggita akan kembali ke Masa suram yang bapak ciptakan sendiri. Bapak sendiri telah membuat Anggita merasakan neraka tanpa berada di neraka. Anggita sengaja tidak memberikan bukti itu kepada bapak karena dia ingin berkorban demi kebahagiaan bapak sendiri.


Evan semakin merasakan hatinya berdenyut nyeri. Sakit tapi tidak berdarah. Ternyata penyesalan tanpa mendapatkan maaf sangat menyakitkan dan membuat dirinya hampir gila. Evan mengacak rambutnya karena beban dihatinya semakin bertambah.


__ADS_2