Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 154


__ADS_3

Mendapatkan kebaikan dari Evan, Danny sebenarnya sangat senang. Dia juga memaklumi jika Nia tidak ingin pulang bersama dirinya ke rumah kedua orang tuanya karena mengingat semua perbuatan Gunawan di masa lalu. Tapi untuk memutuskan secara sepihak tawaran dari Evan itu. Danny tidak berani.


Danny hanya menarik nafas panjang. Dan berharap Nia yang menjawab tawaran dari Evan tersebut. Sungguh, Danny saat ini menyadari dirinya sebagai pria yang kurang mampu. Keuangannya belum cukup untuk membeli rumah bagi keluarga kecilnya. Perusahaan yang sempat beralih nama membuat Danny tidak mempunyai penghasilan besar seperti dirinya masih suami dari Clara. Perusahaan yang sedang saat ini dia rintis belum memberikan keuntungan. Sedangkan pendapatan dari kafe bintang yang dia kelola juga harus menutupi pengeluaran di perusahaan yang baru dirintisnya saat ini.


Danny benar benar di titik rendah masalah keuangan. Untuk menutupi biaya pernikahan Hari ini saja. Gunawan yang menutupi semuanya. Danny merasa malu kepada Nia. Dirinya bersikeras untuk bertanggung jawab kepada wanita itu dan Naya. Tapi dia tidak mempunyai rumah.


"Bagaimana, kalian bersedia tinggal di sana?" tanya Evan lagi.


"Kalau aku terserah Nia saja kak. Apapun keinginannya saat ini. Aku akan ikut saja," jawab Danny pasrah. Dia tidak ingin memaksakan kehendaknya kepada Nia. Biarlah waktu yang mengobati hati Nia dan bersedia tinggal satu atap bersama dirinya.


"Bagaimana Nia?" tanya Evan.


"Maaf Pak. Aku tidak bisa. Biarlah kami untuk sementara tinggal terpisah dulu," jawab Nia. Danny tidak bereaksi mendengar jawaban Nia yang sudah dia duga akan menolak tawaran tersebut. Dan mendengar kata sementara dari mulut istrinya. Danny mempunyai harapan jika dirinya dan Nia bisa hidup berbahagia seperti Evan dan Nia nantinya.


Evan juga tidak bisa berbuat apa apa. Dari perkataan Nia, Evan hanya menyimpulkan dalam hati jika Nia menolak tawaran bukan hanya menghindar dari Gunawan ataupun nenek Rieta. Penolakan Nia berarti jika Nia memang belum ingin tinggal satu atap bersama Danny.


Hampir satu jam lebih Evan, Nia dan Danny berbicara di ruang keluarga itu. Banyak hal yang dibicarakan oleh Danny dan Evan tapi Nia tidak menanggapi apapun yang menjadi pembicaraan dua laki laki itu. Nia sebenarnya ingin beristirahat saja tapi dirinya merasa sungkan untuk masuk ke salah satu kamar yang sudah ditunjukkan oleh Anggita sebelumnya. Dia bertahan di ruang keluarga itu dengan menulikan pendengarannya karena memang pembicaraan Evan dan Danny bukan tentang mereka lagi.


"Kamu mau beristirahat sebentar atau membersihkan diri. Mbak Anggita sebentar lagi selesai memasak. Tidak mungkin kamu makan malam dengan berpakaian seperti ini kan?" tanya Danny penuh perhatian kepada Nia. Naya juga terlihat sudah bangun dari tidurnya. Sejak keluar dari hotel hingga tiba di rumah ini. Bayi itu tidur dengan nyenyak.


Nia menganggukkan kepalanya. Wanita itu tidak bisa bertahan dengan keras kepalanya Karena dirinya juga merasa badannya sudah gerah dan kebaya juga batik itu tidak membuat dirinya leluasa bergerak. Naya juga harus mandi secepatnya mengingat hari sudah sore.


Menyadari Nia tidak nyaman bersama dirinya. Danny memanggil salah satu pekerja di rumah itu untuk menunjukkan kamar kepada Nia dan Naya.


"Bersabar lah. Nia pasti bisa menerima kenyataan ini. Dan juga lupa berusaha membuat yang terbaik kepada dia supaya Nia merasa tidak salah menerima pernikahan kalian ini," kata Evan. Melihat wajah Danny yang lesu. Evan dapat melihat jika Danny ingin menjadi suami dan pernikahannya mereka seperti pernikahan pada umumnya.


Danny menganggukkan kepalanya karena dirinya juga berpikir seperti itu. Nia sudah bersedia diajak makan malam bersama dan menerima sarannya untuk beristirahat sebentar sudah membuat Danny merasa senang. Sikap Nia perlahan mencair dibandingkan mulai sejak tadi pagi hingga resepsi pernikahan mereka selesai.


Akhirnya makan malam itu tiba juga. Nia dan Naya juga sudah membersihkan tubuhnya begitu juga dengan Danny. Anggita meminjamkan pakaiannya yang baru kepada Nia supaya wanita itu mempunyai baju ganti. Sedangkan Danny memakai pakaiannya sendiri karena pria itu selalu menyediakan pakaian ganti di rumah nenek Rieta. Dua pasang suami istri itu terlihat segar dan wangi. Mereka duduk bersebelahan dengan pasangan masing masing dan dua pasang suami istri itu duduk berhadapan. Naya sudah diberikan kepada pengasuh Cahaya. Sedangkan Cahaya bersama mama Feli.


Anggita merasa senang karena bisa menghidangkan berbagai masakan hasil tangannya sendiri kepada suami, sahabat dan Danny. Yang lebih membuat wanita itu sangat bahagia. Evan menghadiahi dirinya sebuah kecupan yang mesra dan penuh cinta di atas masakan kesukaannya yang terhidang di meka itu. Rendang daging yang merupakan masakan andalan Anggita. Dia memasak Rendang daging itu karena Nia juga pernah memuji masakannya.


Danny dan Nia menatap pasangan suami istri yang sangat berbahagia itu. Mereka berdua mengetahui kisah rumah tangga Evan dan Anggita sebelumnya. Mengingat bagaimana dulu hubungan suami istri itu. Tidak pernah terbayangkan kebahagiaan mereka seperti saat ini. Evan sangat mencintai istrinya. Menghargai Anggita dan melakukan hal yang terbaik bagi keluarga kecilnya. Evan selalu menjaga hatinya untuk Anggita dan tidak memberikan peluang bagi wanita lain untuk mendekati dirinya. Evan tidak segan segan memecat para karyawan wanita di perusahaan jika mempunyai maksud lainnya kepada dirinya. Bukan hanya itu. Evan juga rela kehilangan project besar jika ada relasi kerja yang berusaha menggoda dirinya.


Tidak hanya Evan. Anggita tidak segan segan menunjukkan cintanya dan menghargai. Anggita selalu memperhatikan hal apa saja yang dibutuhkan oleh suaminya itu. Anggita juga menjadi sosok yang penurut bagi Evan. Menurut jika apa yang dikatakan oleh Evan adalah hal benar. Anggita juga berani membantah jika apa yang dikatakan atau yang dilakukan oleh Evan tidak sesuai dengan apa yang ada di hatinya. Dalam hati, Danny juga berharap dirinya dan Nia bisa menjadi keluarga yang berbahagia.


"Ayo, Kita mulai saja makan malamnya. Silahkan Nia. Danny," kata Anggita sambil mempersilahkan pengantin baru itu untuk mengambil makanan dari wadah yang terhidang di meja makan itu. Anggita juga sudah membalikkan piringnya dan terlihat sedang mengambil makanan dan meletakkan di piring suaminya.


Menyadari Nia tidak akan melayani dirinya di meja makan itu. Danny melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh Anggita. Danny mengambil makanan dan meletakkan di piring milik Nia. Wanita itu terlihat salah tingkah. Dan berusaha menghentikan apa yang dilakukan oleh suaminya itu.


"Santai saja Nia. Duduk yang tenang," kata Danny sambil menarik wadah yang berisi sayuran mendekat ke piring Nia. Nia tidak bisa menolak Danny yang melayani dirinya di meja makan itu. Nia sadar seharusnya dirinya yang melakukan hal itu kepada Danny. Tapi hatinya belum ingin melakukan hal itu.


Dua pasang suami istri itu makan sambil berbincang santai. Anggita sengaja membuat topic pembicaraan seputar perkembangan bayi supaya Nia tidak banyak diam. Dan benar saja, Nia terlihat antusias menceritakan perkembangan Naya yang sekarang sudah bisa telungkup dan sudah bisa tertawa dengan suara yang kencang.


Danny ikut tersenyum mendengar perkembangan Naya. Dia sengaja tidak menanggapi pembicaraan Nia dan Anggita supaya dua wanita itu bebas bercerita. Hal berbeda dengan Evan. Sesekali dirinya ikut berbicara melengkapi cerita istrinya tentang perkembangan pertumbuhan Cahaya.


"Lebih aman ditinggalkan di box bayi daripada di ranjang. Sisil sewaktu berumur delapan bulan pernah terjatuh dari ranjang. Apa Naya tidak mempunyai box bayi?" kata Danny. Akhirnya pria itu tidak tahan untuk tidak berbicara karena mendengar Naya pernah hampir terjatuh dari ranjang. Dia tidak ingin Naya sampai terjatuh dari ranjang seperti Sisil dulu.


"Punya," kata Nia menganggukkan kepalanya. Naya memang mempunyai box bayi tapi Nia tidak tega membiarkan putrinya tidur di box bayi sendirian sementara ranjang masih cukup luas untuk mereka berdua.


"Aku rasa lebih baik Naya dibiasakan tidur di box bayi. Karena semakin bertambah umur, otaknya akan semakin berkembang. Bayi akan suka melakukan hal apa saja yang baru diketahui tanpa memikirkan bahaya," kata Danny lagi. Danny bahkan memberikan informasi bahaya jika seorang bayi terjatuh dan mengenai kepala belakangnya.


Nia terlihat menganggukkan kepalanya setuju karena apa yang dikatakan oleh Danny adalah benar. Terkadang ketika dirinya terbangun di pagi Hari. Naya sudah berada di pinggir tempat tidur.


Di hadapan Nia dan Danny. Evan dan Anggita mengulum senyum. Di bawah meja, kaki Evan menyentuh kaki Anggita. Anggita berhasil membuat Nia dan Danny berbicara tanpa adanya sikap dingin yang ditunjukkan oleh Nia. Evan dan Anggita berharap. Semoga berawal dari makan malam ini, hubungan Nia dan Danny semakin membaik.

__ADS_1


Akhirnya makan malam itu berakhir. Nia tidak bisa berlama lama lagi di rumah itu karena jarak rumahnya yang lumayan jauh. Wanita itj bahkan sudah bersedia pulang diantar oleh Danny. Lewat sorot matanya. Danny berterima kasih kepada Anggita. Karena makan malam ini. Dirinya bisa mengantarkan istri dan putrinya pulang. Walau hanya sekedar mengantar. Danny sangat senang melakukan tanggung jawabnya kepada Nia dan Naya.


Nia dan Anggita berpelukan sebelum berpisah. Sebelum pelukan itu terlepas. Anggita menegaskan jika dirinya dan Nia sama sama menantu di rumah itu. Mereka tidak lagi hanya sekedar sahabat tapi juga sudah menjadi saudara. Anggita sengaja menegaskan itu supaya Nia belajar membuka hati menerima Danny.


"Jangan lama lama hidup terpisah dengan suami kamu," bisik Anggita. Nia melepaskan pelukan itu dan menatap Anggita sebentar. Kemudian Nia berjalan keluar dari rumah diikuti oleh Danny yang menggendong Naya.


"Sebentar," kata Danny setelah duduk di depan setir. Ponselnya berdering dan pria itu langsung menjawab panggilan video itu.


"Mana Sisil?" tanya Danny setelah wajah pemanggil terlihat di layar ponselnya. Yang menghubungi Danny saat ini adalah pengasuh dari Sisil. Sang pengasuh mengganti kamera depan menjadi kamera belakang dan mengarahkan kamera tersebut ke arah Sisil yang terbaring lemah di ranjang.


"Sisil sakit?" tanya Danny gelisah. Satu harian ini dirinya sangat sibuk dengan pernikahan mereka sehingga pria itu lupa menanyakan keadaan putrinya itu. Seketika itu juga Danny merasa bersalah dalam hati dan rasa bersalah itu terlihat dari wajahnya yang lesu.


"Iya tuan. Sisil demam. Dan Sisil juga tidak mau makan obat."


Danny menarik nafas panjang. Dia tidak terkejut mendengar perkataan sang pengasuh karena dirinya juga mengenali putrinya dengan baik. Makan saja susah apalagi makan obat. Dalam situasi sakit seperti ini, hanya dirinya yang harus membujuk Nia supaya bersedia memakan obat.


Danny semakin lesu dan bimbang. Dia sudah terlanjur menawarkan diri untuk mengantarkan Nia dan Naya. Dan memang harus diantarkan oleh dirinya. Tapi mengingat Sisil juga yang butuh dirinya saat ini membuat Danny terdiam berpikir sebentar. Jika dirinya mengantarkan Nia terlebih dahulu itu artinya Sisil makan obat kurang lebih empat jam lagi. Perjalanan ke rumah Nia pulang pergi membutuhkan waktu empat jam. Jika dirinya terlebih dahulu pulang ke rumah memberikan Sisil obat. Danny khawatir, setelah itu Sisil tidak akan memberi dirinya untuk keluar lagi. Lagi pula dirinya juga tidak yakin jika Nia bersedia singgah sebentar ke rumah orang tuanya.


"Nia."


Nia menoleh ke arah Danny. Dia sudah mendengar pembicaraan Danny dengan sang pengasuh itu. Tapi wanita itu belum memberikan tanggapan apapun.


"Sisil demam. Dan biasanya jika Sisil demam seperti ini. Tidak ada yang berhasil membujuk Sisil makan obat selain aku sendiri. Bisakah kita singgah sebentar di rumah papa?. Setelah Sisil makan obat. Aku janji akan mengantarkan kalian berdua pulang," kata Danny. Pria itu harap harap cemas menunggu jawaban dari Nia.


"Baiklah kak. Kasihan Sisil," jawab Nia. Wanita itu tidak dapat menolak karena menurut dirinya apa yang dikatakan oleh Danny adalah solusi terbaik untuk situasi saat ini. Lagi pula, Nia juga tidak mau memaksakan kehendaknya karena wanita itu merasa kasihan kepada Sisil yang terbaring sakit.


"Terima kasih atas pengertiannya," jawab Danny. Kemudian pria itu menghidupkan mesin mobil dan membawa mobil itu menjauh dari halaman rumah nenek Rieta.


Danny membawa mobilnya dalam diam. Pikirannya tertuju kepada Sisil. Pria itu selalu ketakutan jika mengetahui Sisil sakit. Di usia dua tahun. Sisil pernah demam tinggi dan kejang kejang. Setiap Sisil demam. Danny pasti merasakan khawatir yang luar biasa Dan takut kejang kejang itu kembali menyerang tubuh putrinya.


Tiba di lantai dua. Danny membuka pintu kamarnya dengan cepat. Dia mendekati ranjang dimana putrinya terbaring lemas. Benar saja, Sisil demam. Ketika melihat Danny, Sisil memeluk papanya itu dengan erat.


"Makan obat ya sayang," kata Danny setelah menciumi wajah dan kepala putrinya. Sisil menggelengkan kepalanya dengan lemah.


"Dia sudah minum susu bi?" tanya Danny kepada sang pengasuh. Bibi itu menjawab jika Sisil belum makan malam bahkan tidak mau minum susu. Danny pun menyuruh Bibi itu ke bawah mengambil makanan untuk Sisil. Biasanya, Danny akan selalu memberikan obat penurun demam kepada Sisil jika Putrinya itu makan terlebih dahulu. Bagaimana pun caranya Danny akan memaksa putrinya makan. Karena pria itu tidak akan membiarkan obat masuk ke dalam tubuh Sisil dalam keadaan perut kosong.


Danny menunggu sang pengasuh sambil mengajari Sisil bercerita. Tapi putrinya itu sama sekali tidak berminat mendengar cerita papanya karena dirinya yang kurang enak badan.


Danny fokus memghibur putrinya supaya tidak terlihat lemah sehingga tidak menyadari pintu kamar telah terbuka dan seseorang masuk ke dalam kamar itu.


"Sisil."


Sisil dan Danny sama sama menoleh ke arah sumber suara. Sisil terlihat terkejut begitu juga dengan Danny melihat Nia berdiri di ujung ranjang dengan baki berisi makanan dan minimum di tangannya. Nia merasakan hatinya tergerak untuk melihat kondisi Sisil karena melihat sang pengasuh membawa makanan ke atas. Melihat itu, Nia yakin jika Sisil belum makan. Nia menawarkan diri ke sang pengasuh untuk membawa makanan itu ke atas.


"Tante Nia," jawab Sisil lemah. Sisil senang melihat Nia berada di kamar itu tapi tidak bisa mengekspresikan rasa senang itu karena kondisinya.


"Mana Naya?" tanya Danny. Nia menjawab jika Naya bersama sang pengasuh Nia di lantai bawah.


"Sisil belum makan?" tanya Nia. Sisil menggelengkan kepalanya.


"Tante suap ya," kata Nia lagi. Sisil terlihat terdiam.


"Mau kan," tanya Nia lagi.


"Mau tapi tidak mau makan obat."

__ADS_1


"Yang bilang makan obat siapa?. Tante kan mau menyuapi kamu," kata Nia lagi. Sisil terlihat membuka mulutnya ketika sendok berisi makanan berada di depan mulutnya.


Satu sendok, dua sendok hingga setengah dari makanan itu berpindah ke perut Sisil Dan anak itu menyerah dan tidak mau makan lagi. Danny memberikan air putih hangat kepada putrinya itu dengan perasaan lega karena perut Sisil sudah berisi.


"Sekarang makan obat ya sayang. Biar demamnya sembuh."


Sisil langsung bersembunyi ke dalam selimut ketika dirinya hendak minum obat.


"Tidak mau. Tidak mau obat. Pahit," kata Sisil. Padahal di botol obat itu sudah tertulis rasa strawberry.


Danny berkali kali membujuk Sisil tapi putrinya itu tidak mau minum obat. Melihat hal itu Nia mencoba membujuk Sisil. Wanita itu duduk di sisi ranjang dimana Sisil sudah bergulung dengan selimut dan membelakangi dirinya.


"Besok, Sisil ke sekolah?" tanya Nia. Sisil menganggukkan kepalanya tanpa membuka selimut itu dari tubuhnya.


"Sisil senang belajar. Bertemu dengan teman teman?. Sisil kembali menganggukkan kepalanya.


"Tapi sayang kamu demam ya Sil. Kalau tidak makan obat sekarang. Besok demamnya masih ada. Dan tidak bisa ke sekolah dong."


Sisil melepaskan selimut itu dari tubuhnya dan menatap Nia.


"Adik Naya juga di bawah loh. Kalau kamu sakit. Adiknya tidak bisa ketemu dengan Sisil. Takut nular ke adiknya," kata Nia lagi. Danny tersenyum mendengar perkataan Nia.


"Adik Naya?" tanya Sisil.


"Iya. Adik Naya. Adik yang kemarin ketemu dengan kamu di rumah nenek Rieta. Kamu mau ketemu adik tidak. Kalau mau, makan obat sekarang ya," bujuk Nia. Ternyata perkataan Nia itu berhasil. Sisil akhirnya menganggukkan kepalanya. Sisil membuka mulutnya, dan Danny dengan cepat memasukkan obat itu ke dalam mulut putrinya.


Nia bertepuk tangan senang melihat Sisil yang sudah makan obat. Begitu juga dengan Danny. Pria itu merasa lega. Kali ini, Sisil makan obat tanpa muntah untuk pertama kalinya.


Danny dan Nia sama sama di kamar itu menunggu Sisil tertidur. Tapi sampai satu jam, Sisil belum tidur juga. Nia berkali kali melihat pergelangan tangannya sudah mendekati jam sembilan. Wanita itu sudah mulai gelisah tapi tidak menampakan kegelisahan itu kepada Sisil. Perjalanan ke rumah butuh dua jam itu artinya. Dirinya dan Naya akan sampai di sana tengah malam nanti. Nia juga memikirkan Danny. Pria itu juga akan tiba di rumah ini dini hari nanti.


"Tidur lah sayangku," kata Danny membujuk Sisil untuk segera tidur.


"Aku tidak mau tidur."


"Kenapa?" tanya Danny.


"Nanti kalau aku tidur. Tante Nia pergi. Dan lama baru ketemu," jawab Sisil sedih. Mendengar itu tidak bisa dipungkiri jika hati Nia juga sedih dan tersentuh. Wanita itu juga khawatir jika Sisil terlambat tidur akan mempengaruhi kesembuhan anak itu.


"Tidur lah. Tante di sini," kata Nia.


"Benar tante. Besok aku bangun. Tante masih disini?" tanya Sisil senang. Dan Nia tersenyum sangat manis menanggapi pertanyaan anak itu. Sisil pun memejamkan matanya karena anak kecil itu percaya bahwa senyuman Nia adalah jawaban setuju dari pertanyaannya.


Tidak lama kemudian. Sisil benar benar tidur. Danny pun menarik nafas lega.


"Sisil sudah tidur. Ayo, aku antar kalian pulang," kata Danny yang sudah bersiap mengantarkan Nia dan Naya. Nia tidak langsung beranjak bahkan wanita itu duduk tenang di sisi ranjang.


"Nia, bisakah kamu mengabulkan permintaan Sisil?.


Melihat Nia duduk tenang di sisi ranjang itu akhirnya Danny pun secara tidak langsung menahan Nia di rumah itu.


"Apa kami muat berempat tidur di kamar ini?" tanya Nia. Danny tersenyum dalam hati. Pertanyaan Nia berarti bersedia tidur di rumah itu.


"Biasanya Nia tidur sendiri tanpa pengasuh. Aku bisa tidur sama Naya di kamar sebelah. Tidur lah bersama Sisil di kamar ini," jawab Danny senang.


"Naya di sini saja. Takutnya anak itu menangis jika tidak melihat aku."

__ADS_1


Danny menganggukkan kepalanya cepat. Dia bisa menarik kasur busa ke kamar Sisil supaya tiga wanita itu tidak berdesakan tidur di ranjang.


__ADS_2