
"Evan, Ada seseorang ingin menjamin kebebasan Adelia dari penjara."
Evan merasakan darahnya mendidih mendengar perkataan Rico lewat panggilan telepon. Dia kemudian mengaktifkan loudspeaker supaya Danny mendengar pembicaraannya dengan Rico.
"Pastikan Adelia tidak keluar dari penjara sebelum waktunya. Dan informasi tentang Dokter Angga. Aku harus menerimanya besok sebelum matahari terbenam."
"Ada apa sebenarnya. Bukankah dokter Angga. Orang baik yang sedang dekat dengan mantan istrimu?.
"Jangan banyak bertanya Rico. Dan satu lagi. Aku juga butuh identitas orang yang ingin membebaskan Adelia dari penjara. Secepatnya," kata Evan dengan perintah yang penuh tekanan. Wajahnya terlihat sangat marah. Dia berjanji dalam hati jika dokter Angga adalah suruhan dari Bronson maka dia tidak akan memberikan ampunan kepada Bronson.
"Iya. iya. Enak memang jadi bos. Apa apa tinggal perintah dengan mengancam."
Setelah mendengar gerutuan asistennya. Evan memutuskan panggilan itu.
"Apakah mungkin Dokter Angga dan orang yang ingin menjamin kebebasan Adelia adalah suruhan orang yang sama yaitu Bronson?. Tapi untuk apa mereka melakukan itu," tanya Danny bingung.
"Perusahaan Bronson tidak bisa bersaing dengan perusahaan Dinata Berlian Sejahtera dalam segi apapun. Perusahaan Kita jauh unggul dengan perusahaan Bronson. Mereka berusaha menghancurkan perusahaan Dinata dengan mengacaukan pikiran pimpinannya. Ini adalah dugaanku sendiri."
Evan tidak asal menduga. Bukan hanya sekali dua Kali perusahaan Bronson ingin menjatuhkan nama baik perusahaannya. Tapi selama ini semua siasat Kotor Bronson bisa dibaca oleh orang orang kepercayaan Evan. Mungkin karena kehabisan akal. Pihak Bronson berusaha menghancurkan perusahaan Dinata dengan mencampuri Kehidupan pribadi pemimpinnya yaitu Evan.
"Licik sekali. Kalau begitu bisa saja saat ini Anggita dan Cahaya dalam bahaya. Kita secepatnya harus menjemput mereka."
"Cahaya dan ibu Feli sudah di rumah ini."
"Anggita?.
"Masih di Sana."
"Keterlaluan kamu Evan. Kamu berusaha melindungi putri kamu. Tapi kamu tidak melindungi bundanya. Pria seperti apa dirimu itu?"
Danny merasa kesal kepada Evan tanpa mendengar keterangan dari kakaknya itu. Evan menarik nafas panjang. Dia hanya menatap adiknya yang selalu menyalahkan dirinya. Seandainya pun dia mengajak Anggita ikut dengannya tadi belum tentu wanita itu akan bersedia ikut ke Kota ini.
"Apakah kalau seseorang itu pernah bersalah tidak akan bisa dipercaya selamanya?" tanya Evan pelan. Perlahan dia kesal bercampur rasa sedih karena semua menyalahkan dirinya jika berkaitan dengan Anggita dan Cahaya. Jangankan mengajak Anggita. Evan sudah berkali kali menegaskan bahwa dirinya hanya bermaksud melindungi Cahaya. Tapi Anggita sudah menilai dirinya sangat egois.
Orang tua Mana yang ingin melihat anaknya terancam dalam bahaya. Sebagai pengusaha, dia mengetahui sepak terjang para lawan bisnisnya termasuk Bronson. Bronson terkenal sebagai pengusaha berotak licik untuk mengalahkan para pesaingnya. Itulah sebabnya Evan tidak ingin memberikan penjelasan apapun kepada Anggita tentang tindakannya membawa Cahaya. Evan merasa penjelasan apapun yang akan disampaikan ke Anggita. Wanita itu pasti tetap menilai dirinya dengan egois. Sama seperti Danny yang menyalahkan dirinya saat ini.
Danny terdiam mendengar pertanyaan kakaknya itu. Danny bisa melihat kesedihan Evan yang sedang menundukkan kepalanya.
"Kenyataannya memang seperti itu bro. Sering kali para penjahat tidak dipercaya meskipun sudah bertobat. Itulah sebabnya kita harus berpikir panjang sebelum melakukan tindakan."
"Apakah aku seorang penjahat?" tanya Evan.
"Penjahat perasaan. Perbuatan kamu membuat Anggita terluka. Apa kamu merasa benar dengan segala perbuatan mu kepada Anggita?.
Evan berdiri dari tepi ranjang tempatnya sedari tadi duduk. Dia tidak ingin mendengar Danny yang mengungkit kesalahannya. Evan menuju kamar tamu tempat Cahaya berada. Baru saja Evan menutup pintu, ponselnya berdering. Melihat nama Anggita yang memanggil, Evan merasa bersalah tidak langsung menghubungi wanita itu setelah tiba di rumah Gunawan. Dalam situasi seperti ini, Evan masih berusaha supaya Anggita tidak berprasangka buruk kepadanya.
__ADS_1
"Halo Anggita. Kami sudah di rumah papa Gunawan. Ini Cahaya sedang tidur." Evan mengarahkan kamera belakang untuk memperlihatkan Cahaya kepada Anggita. Tapi ternyata hal itu tidak membuat Anggita merasa lega. Wanita itu justru masih marah.
"Kembalikan putriku bajingan. Apa kamu tidak puas membuat aku menderita selama ini. Jika kamu pria yang waras. Kamu seharusnya tidak melakukan hal ini kepadaku. Dasar pria egois. Kamu ingin enaknya saja tanpa memikirkan bagaimana sakitnya aku melahirkan Cahaya."
Anggita tidak bisa lagi menahan amarahnya. Evan hanya menatap layar ponsel itu dengan sendu. Melihat kedua mata Anggita yang membengkak, demi apapun Evan benar benar merasa bersalah.
"Cahaya akan kembali kepadamu. Tapi berikan aku waktu untuk memastikan segala sesuatunya aman." Evan menjawab perkataan mantan istrinya itu dengan lembut.
Anggita mendecih sinis mendengar perkataan lembut mantan suaminya. Anggita muak. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Evan. Dia hanya berpikir jika Evan melakukan hal itu supaya keinginannya terwujud.
"Sejak Cahaya di dalam kandungan. Dia jauh dari kamu. Semuanya Aman Aman saja. Mengapa sekarang kamu jadi sok pahlawan. Aku memberikan yang terbaik untuk Cahaya. Harusnya kamu mengingat apa saja yang kamu lakukan kepada putriku. Jelas tidak sebanding dengan apa yang aku lakukan. Jadi jangan sok jadi pahlawan."
Evan memejamkan matanya mendengar perkataan Anggita. Andaikan Cahaya adalah sesuatu benda sekalipun itu benda keramat. Evan akan langsung memberikannya kepada Anggita saat ini juga. Tapi Cahaya adalah darah dagingnya yang tidak mungkin dibiarkan dalam bahaya.
"Anggita begini saja. Aku memang salah membawa Cahaya tanpa penjelasan kepada kamu. Bagaimana dalam satu bulan ini Cahaya di rumah papa kamu juga ikut menemaninya disini. Tentang kafe milikmu. Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan menugaskan salah satu karyawan terbaikku untuk mengawasi di Sana."
"Tidak akan. Aku tidak menerima bantuan apapun dari kamu selain putriku kembali kepadaku."
Anggita berkata penuh dengan kebencian. Evan memijit pelipisnya mendengar penolakan Anggita. Dia tadi berpikir akan menyelidiki Bronson secepat mungkin dan menyelesaikannya. Untuk mengembalikan Cahaya dengan situasi yang mencurigakan seperti ini tidak mungkin. Evan tidak akan membiarkan putrinya dalam bahaya. Biarlah, Anggita membenci dirinya dengan segala prasangka buruk yang penting Cahaya dalam situasi yang aman.
"Anggita sebenarnya alasanku membawa Cahaya karena aku mencurigai ada seseorang yang ingin menghancurkan aku lewat Cahaya."
Evan akhirnya menceritakan apa yang Ada di dalam pikirannya saat ini. Berharap Anggita mengerti.
"Banyak alasan kamu. Pria seperti kamu tidak bisa dipercaya. Jika kamu ingin memiliki anak yang dibawah pengawasanmu selama dua puluh empat jam. Bukan Cahaya orangnya. Mengapa kamu tidak menikahi wanita pujaan kamu itu. Dia akan melahirkan banyak anak untuk kamu. Bukankah aku mengorbankan anakku sendiri untuk kebahagiaan kamu. Mengapa kamu tidak menggunakan pengorbananku itu dengan baik dan justru ikut campur dengan kehidupan aku dan Cahaya. Seharusnya kamu melupakan kami. Menganggap kami tidak pernah ada."
Evan memutuskan panggilan itu karena tidak ingin mendengar lebih banyak lagi kemarahan mantan istrinya. Ponsel itu berdering dengan nama Anggita sebagai pemanggil. Evan benar benar tidak menghiraukannya lagi. Dia mendekat ke Cahaya dan memandangi putri kecilnya itu. Dia sudah merasa lelah karena terus dipojokkan.
"Aku memang pria bajingan nak. Pria yang gagal sebagai suami. Pria yang pernah memperlakukan bunda kamu dengan buruk. Tapi ayah akan berusaha menjadi ayah yang sempurna bagi kamu. Ayah akan melindungi kamu walau dengan mengorban nyawa ayah," bisik Evan tepat di telinga putrinya. Entah karena merasa geli oleh hembusan nafas ayahnya. Cahaya bergerak Dan akhirnya terbangun.
"Putri cantik ayah. Maaf jika saat ini kamu terpisah dari bunda kamu. Ayah pastikan ini hanya sementara," kata Evan kepada Cahaya. Bayi itu hanya menatap Evan tanpa berkedip. Evan merasa terhibur dengan adanya Cahaya bersama dirinya malam ini. Evan dengan sabar menunggu bayi itu untuk kembali tidur.
Tepat tengah malam. Evan dikejutkan dengan panggilan dari Rico.
"Kamu dimana?" tanya Rico dari seberang telepon.
"Di rumah papa Gunawan."
"Baiklah. Aku kesana. Jangan ngorok dulu ya!. Ada informasi penting yang harus kamu tahu sekarang juga."
"Oke."
Evan memutuskan panggilan itu. Kemudian keluar dari kamar dengan menutup pintu pelan. Dia takut putri itu terbangun. Evan membangunkan Danny. Dia yakin jika informasi yang dikatakan oleh Rico pasti berkaitan dengan Dokter Angga. Kini dua pria itu sudah duduk di ruang tamu menunggu kedatangan Rico.
"Kamu sudah makan tadi?.
__ADS_1
Rico disambut dengan pertanyaan yang menyejukkan hati dari Evan. Evan memang semakin perhatian kepada asistennya itu. Selama dirinya sibuk mengejar Anggita. Rico dengan baik menjalankan perusahaan. Tidak ada kendala serius selama Rico yang bertanggung jawab terhadap perusahaan. Rico benar benar asisten yang bisa diandalkan.
"Sudah. Makan angin," jawab Rico. Tanpa dipersilahkan duduk pria itu langsung duduk di sofa. Evan memperhatikan wajah lelah sahabatnya itu. Semakin lama, Evan dapat merasakan kesetiaan Rico kepada dirinya dan perusahaan. Evan kadang bisa merasakan jika Rico bukan sekedar sahabat baginya. Tapi lebih ke rasa persaudaraan. Walau perintah darinya terkadang membuat Rico menggerutu. Tapi hasilnya kerja Rico selalu memuaskan.
"Tunggu sebentar. Aku akan suruh Bibi membuatkan makanan untuk kamu," kata Evan sambil berdiri. Tapi kemudian Rico menggerakkan tangannya menyuruh Evan untuk duduk.
"Cara kamu menyuruh aku duduk. Seperti kamu saja yang bos," kata Evan sambil menatap kesal kepada asistennya yang sedang tersenyum jahil. Rico tertawa melihat atasannya itu yang patuh akan gerakan tangannya.
"Kalau siang kamu yang jadi bosnya. Dan kalau malam aku yang jadi bosnya," jawab Rico tenang. Dia tidak perduli dengan tatapan tajam Evan. Danny yang melihat tingkah Evan dan Rico tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Senyum itu memudar mengingat bagaimana hubungannya dengan asistennya yang dulu sangat kaku. Sang asisten yang kaku kepadanya tapi sangat akrab kepada mantan istrinya. Karena terlalu akrabnya hingga asistennya dan Clara bisa tidur dalam satu ranjang. Dan kini asisten dan mantan istrinya tidak hanya sebagai patrner di ranjang juga patner di perusahaan yang kini bukan miliknya lagi.
"Berani sekali kamu. Eh, dasar asisten kurang asam," gerutu Evan. Rico memang sering mengerjai dirinya. Rico hanya menempatkan dirinya sebagai asisten bagi Evan di hadapan karyawan dan relasi bisnis. Jika berada di luar area pekerjaan. Rico memposisikan dirinya sebagai sahabat yang kadang kadang menjengkelkan.
"Bos dan asisten sama saja. Bukan kurang asam tapi kurang perhatian," kata Danny ikut masuk ke dalam pembicaraan bos dan asisten itu. Danny bahkan tertawa melihat ekspresi dua pria itu yang memang benar benar kurang perhatian. Dia tidak sadar jika statusnya sama dengan dua pria itu. Jomblo.
"Pas bro. Terlalu sibuk mengurusi kakak kamu membuat aku lupa dengan diriku sendiri. Lupa cari pasangan sehingga kurang perhatian seperti yang kamu katakan," kata Rico. Danny tertawa sedangkan Evan melihat Rico dan Danny yang membicarakan dirinya.
"Tidak apa apa lupa cari pasangan. Yang penting kamu tidak lupa bernafas," kata Evan. Danny semakin tertawa terbahak bahak. Kini Rico yang menatap Evan dengan kesal. Merasa berhasil membalas Rico, Evan pura pura tidak melihatnya.
"Rico, cepat beritahu informasi yang kamu maksud. Aku sangat mengantuk. Rasanya ingin tidur saja sekarang," kata Evan lagi. Rico terlihat menatap jam dinding.
Evan memang benar benar mengantuk. Perjalanan pulang balik selama enam jam perjalanan hari ini sungguh melelahkan. Ditambah dari tadi dia tidak bisa tidur karena harus membuat susu untuk putrinya. Sebenarnya mama Feli meminta Cahaya untuk tidur bersama dirinya. Tapi Evan tidak memberi. Bukan karena tidak yakin dengan kemampuan mantan ibu mertuanya. Tapi karena tidak ingin wanita tua itu merasa kelelahan. Selain itu, Evan tidak ingin menyiayiakan waktu ini. Malam ini adalah malam pertama dirinya bisa mengurus Cahaya dan tidur dengan putrinya itu.
"Kalau kamu lelah. Tidur Sana. Aku juga sepertinya harus tidur di sini malam ini. Aku merasa sangat lelah." Mendengar Rico ingin tidur di rumah ini. Evan bangkit dari duduknya. Tentang informasi yang ingin disampaikan oleh Rico bisa besok mereka bicarakan.
"Informasi apa dulu yang ingin kamu sampaikan. Jangan membuat penasaran," kata Danny tidak terima.
Danny tidak terima jika pembicaraan itu ditunda. Dia sudah sampai terganggu dari tidurnya hanya karena informasi itu.
"Informasi yang aku dapat. Dokter Angga adalah anak yatim piatu. Bisa menempuh pendidikan kedokteran karena mendapatkan beasiswa dari perusahaan Bronson."
Evan dan Danny sama sama mengepalkan tangannya mendengar informasi itu. Evan semakin yakin jika dokter Angga adalah suruhan dari Bronson. Evan juga mengingat bagaimana Dokter Angga dengan bangga mengatakan makanan yang dia bawa adalah masakan mamanya sewaktu Anggita di rumah sakit.
"Rico, cari informasi lebih detail tentang Dokter Angga," perintah Evan lagi.
"Itu pasti Evan. Orang orang suruhan kita sudah bergerak mencari informasi tentang Dokter Angga Dan Bronson," jawab Rico membuat Evan sedikit puas.
"Dan kamu tahu apa yang harus kamu lakukan dengan Bronson kan?"
Rico menganggukkan kepalanya. Tanpa Evan mengatakan apa yang harus dia lakukan untuk Bronson. Rico sudah membentuk Tim untuk mencari informasi yang berkaitan dengan Bronson. Tidak hanya kehidupan pribadi Bronson juga dengan seluk beluk perusahaannya.
"Bagaimana?. Apa ada hal yang mencurigakan?" tanya Evan berbicara di telepon.
"Oke. Bagus. Tetap awasi tempat itu. Jika ada hal yang mencurigakan. Secepatnya hubungi aku," kata Evan lagi. Dia menutup panggilan itu dan meletakkan ponselnya di atas meja.
"Siapa bro?" tanya Rico.
__ADS_1
"Rio, putranya ibu Lastri. Aku menyuruh dia mengawasi rumah Anggita," jawab Evan. Danny menarik nafas lega. Danny merasa tenang karena ada yang menjaga Anggita di Kota kecil itu.