Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Kafe Bintang


__ADS_3

"Apa yang pertama Kali Kita lakukan setelah tiba di Kota itu?" tanya Rico membuat Evan tersentak dari lamunannya.


"Apa Kita sudah melewati jalan itu?.


Evan tidak menjawab pertanyaan Rico justru bertanya tentang tempat kecelakaan sepuluh tahun yang lalu. Evan terlalu larut akan pikirannya ke waktu sepuluh tahun yang lalu membuat Evan tidak menikmati perjalanan itu. Dimana dirinya mengalami kecelakaan maut hingga kecelakaan itu mengubah dirinya menjadi kekasih dari Adelia.


"Sudah. Sudah banyak perubahan setelah sepuluh tahun itu. Di tepi jalan tempat kejadian itu sudah ada warung kopi. Kamu pasti tidak mengenali jalan itu seandainya kamu tadi memperhatikan," jawab Rico menjelaskan apa yang dia lihat tadi. Ketika kecelakaan di masa lalu itu dia jelas sangat sadar walau mengalami patah tulang. Saat itu, dirinya yang berteriak minta tolong kepada orang orang yang lewat. Walau Adelia sadar. Adelia juga terlihat shock hingga tidak bisa berbicara sekedar minta tolong. Setelah di rumah sakit wanita itu tersadar dari shock berat yang menimpa mereka.


"Kalau begitu Kita ke rumah sakit terlebih dahulu. Pihak rumah sakit pasti akan mempunyai data data pasien termasuk data pendonor itu."


Rico setuju dengan pendapat Evan. Dia terus membawa mobil itu hingga terlihat rambu rambu lalu lintas yang menunjuk arah rumah sakit.


Benar saja, setelah di rumah sakit. Dengan mudah nereka mendapatkan informasi tentang kecelakaan yang menimpa mereka sepuluh tahun yang lalu. Pihak rumah sakit memberikan alamat pendonor darah itu setelah Evan menunjukkan kartu tanda pengenal dan mengemukakan tentang alasan Evan untuk menjumpai pendonor itu.


Informasi tambahan yang mereka dapatkan ternyata pendonor darah yang bernama Lastri itu juga merupakan pasien rumah sakit ini dengan diagnosa kanker rahim dan sudah dijadwalkan akan operasi pengangkatan Rahim tiga hari lagi. Informasi serupa dengan yang dikatakan oleh pria asing yang datang ke rumah Evan kala mencari Adelia dua Hari yang lalu.


Evan dan Rico melangkah tegap dari rumah sakit itu. Berniat membalas kebaikan pendonor tidak menemui kesulitan apapun. Para perawat wanita menahan nafas mereka melihat dua pria tampan yang berjalan lurus tanpa menoleh kiri dan kanan.


"Kamu tahu alamatnya?" tanya Evan kepada Rico setelah mereka duduk di mobil. Rico tidak menjawab justru Rico memanggil tukang parkir yang agak jauh dari mereka.


"Pak, bapak tahu alamat ini?" tanya Rico kepada tukang parkir sambil menunjukkan kertas berisi alamat yang tertulis di dalam kertas kecil itu. Rico dan Evan terlihat serius mendengar keterangan sang tukang parkir terkait alamat itu.


"Kalau masih susah untuk menemukan alamat ini. Kalian bisa lihat pakai aplikasi gugel maps."


Evan langsung memalingkan wajahnya karena langsung malu. Kebodohan mereka berdua sangat bertolak belakang dengan wajah tampan dan penampilan mereka. Belum lagi dengan Mobil mewah yang mereka naiki saat ini.


"Oiya ya Pak. Lupa. Apa memang daerah ini sudah dijangkau gugel maps pak."


Rico ternyata bisa menutupi kebodohan mereka dengan perkataannya itu.


"Sudah. Coba saja kalau tidak percaya."


"Terima kasih atas informasinya pak," kata Evan sambil menepuk lengan Rico supaya secepatnya menghidupkan mesin mobilnya.


"Ketampananmu berkurang setelah mengatakan pertanyaan bodoh itu," kata Evan setelah mobil bergerak keluar dari pekarangan rumah sakit.


"Sama. Aku juga melihat hal yang sama tentang ketampananmu. Bahkan aku melihat kamu tidak ada hal yang menarik dalam dirimu."


Rico membalas perkataan Evan yang mengejekkan karena melupakan tentang gugel maps.


"Berani sekali kamu berkata seperti itu. Kalau Karena tidak membutuhkan bantuanmu. Aku pasti sudah menyuruh kamu keluar dari mobil ini."


"Sama. Kalau karena mengingat persahabatan kita, aku juga tidak bersedia kamu ajak ke tempat ini."


"Rico, jangan menjawab terus kamu," bentak Evan keras sejalan dengan mobil yang bergerak kencang.


Rico Sama sekali tidak terpengaruh dengan bentakan sahabatnya itu. Dia justru tertawa terbahak bahak melihat Evan yang kesal hanya karena jawaban jawaban konyol dari dirinya. Melihat Evan seperti itu membuat Rico tertawa.


"Konsentrasi melihat jalan Rico. Jangan sampai ada kecelakaan kedua yang terjadi di Kota ini kepada Kita," kata Evan sedikit melunak. Rico tidak menjawab. justru pria itu tidak mengurangi kecepatan mobil.


"Rico. Kurangi kecepatan," teriak Evan. Rico kembali tertawa membuat Evan sedikit ketakutan. Kecepatan mobil itu tidak juga dikurangi.


"Awas kamu ya," ancam Evan. Rico masih saja tertawa tetapi kecepatan sudah dikurangi.


"Kafe bintang." Evan membaca nama kafe bintang yang tertulis di plang yang terletak di pinggir jalan ketika melewati jalan itu. Kafe itu terlihat sepi karena memang masih jam sepuluh.


"Nanti pulangnya kita singgah di kafe itu. Sepertinya kafe yang bagus," kata Rico.


"Iya setuju. Dari luar sudah terlihat menarik. Jadi penasaran bagaimana di dalamnya," jawab Evan setuju. Melihat kafe bintang itu dia langsung teringat dengan kafe pelangi.


"Namanya unik ya. Walau kata bintang terdengar biasa tapi setelah dijadikan nama kafe. Sepertinya jadi unik."


"Iya, sama seperti pelangi. Awalnya aku mendengar kata kafe pelangi biasa saja. Tapi setelah mengetahui hal semua tentang Anggita. Entah mengapa kata pelangi terdengar indah di telingaku. Aku berharap setelah badai rumah tangga ini. Akan ada pelangi yang menghiasi hidupku. Penuh warna dan manis seperti menu yang ada di kafe pelangi."


"Dan kamu berharap pelangi itu adalah Adelia."


"Eh dasar sahabat kurang ajar kamu ya. Tidak ada rasa empatinya sedikitpun kepada sahabatnya sendiri. Apa aku ada menyebut nama Adelia tadi?" tanya Evan sewot. Hatinya sudah melow tapi Rico membuat hatinya kesal. Dia berharap Rico menyebut nama Anggita untuk membuat dirinya semangat justru Rico menyebut nama Adelia yang membuat hatinya murka.


"Kan, aku hanya menebak. Jadi dimana letak kesalahan Saya?" tanya Rico tanpa merasa bersalah. Tapi dihatinya sudah ingin tertawa karena sudah berhasil mengerjai sahabatnya itu. Jika ditanya apakah dirinya setuju Evan dengan Adelia. Sangat jelas Rico tidak setuju. Dia hanya berniat untuk membuat sahabatnya itu kesal seperti dirinya yang terkadang kesal karena Evan sesuka hati menyuruhnya dalam hal pribadi termasuk mencari keberadaan Anggita.


"Kesalahan kamu karena tidak bisa menggunakan mulut dengan benar."

__ADS_1


"Benarkah. Kalau begitu ajari aku menggunakan mulut dengan benar."


"Jangan pernah menyebut nama wanita itu di hadapan aku. Apalagi menyebut dirinya yang akan menjadi pelangi dalam hidupku."


"Ooo begitu. Baiklah. Aku hanya akan menyebut Anggita menjadi pelangi dalam hidupmu."


"Nah itu baru benar."


"Anggita, pelangi hidup Evan."


"Bagus."


"Anggita, pelangi hidup Evan."


"Sekali lagi."


"Anggita, pelangi hidup Evan."


Evan tersenyum sendiri mendengar tiga kali perkataan Rico yang membuat dirinya bersemangat.


"Van, tiga kali tadi kan?. Evan menganggukkan kepalanya.


"Tiga kali satu juta, berapa?.


"Tiga juta."


"Pintar. Perkataan aku tadi tidak gratis ya. Sekali perkataan satu juta. Jadi kamu punya utang kepadaku tiga juta."


"Apa. Kepala kau itu utang. Tidak Ada," jawab Evan cepat Dan tidak terima punya utang hanya karena perkataan itu.


"Kalau begitu. Aku tidak akan mempergunakan mulut ini dengan benar. Adel...."


"Baiklah. Jangan sebut nama itu lagi. Entah sejak kapan kamu mata duitan seperti ini," potong Evan cepat. Dia mengambil ponselnya dan mengirimkan tiga juta ke rekening Rico melalui sms banking.


"Sejak mengetahui kelemahan mu," jawab Rico dalam hati. Rico bersenandung senang karena mendapatkan tiga juta itu dengan mudah.


"Ternyata cinta terkadang membuat seseorang itu menjadi bodoh ya," kata Rico lagi. Dia sengaja menyentil Evan supaya kembali kesal.


Mendengar kata cinta dia mengingat Anggita Dan entah mengapa Evan merasakan jantungnya berdebar.


"Aku sudah jatuh cinta kepada mu Anggita. Hanya mengingat namamu saja. Hatiku menghangat."


Evan berkata dalam hati. Dia benar benar terlihat seperti remaja yang sedang di mabuk cinta. Walau tidak melihat wujud Anggita. Tapi dia bisa merasakan cinta itu nyata untuk mantan istrinya itu.


"Cinta, berpihaklah kepadaku. Cinta, Berpihaklah kepadaku. Cinta, berpihaklah kepadaku."


Evan menyanyikan sebuah lagu dengan mengganti kata kata lagu itu. Walau kata kata nya sudah diganti tidak mengurangi keindahan lagu tersebut. Rico justru mendengar lagu itu dengan penghayatan penuh. Cara Evan menyanyikan menggambarkan sebuah harapan akan kembalinya mantan istrinya yang kabur dari dirinya.


"Lagu baru bro. Baru Kali ini aku dengar," kata Rico.


"Lagu baru kesukaan aku," jawab Evan sambil terkekeh. Hampir setiap malam dia menyanyikan lagu itu setelah menyadari perasaannya kepada Anggita.


Evan kembali menyanyikan lagu baru kesukaannya itu. Lagu dan syair yang sangat cocok dengan perjalanan melewati jalan sunyi penuh pepohonan. Tapi setelah semakin lama, bukan nyanyian yang terdengar oleh Rico melainkan isak tangis yang keluar dari mulut Evan. Rico seketika menghentikan mobil itu di tepi jalan.


"Evan, kamu menangis?" tanya Rico tidak percaya melihat sifat cengeng sahabatnya itu. Sungguh, dia tidak menyangka jika sikap dingin yang biasa ditampilkan oleh Evan ternyata pria itu mempunyai sisi lemah seperti ini.


"Tidak. Aku tidak menangis," bantah Evan sambil mengusap wajahnya. Pria itu tidak mau mengakui kelemahannya yang bisa dimanfaatkan oleh Rico nantinya untuk mengolok olok dirinya.


"Lemah kamu bro. Menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Yakinkan dirimu akan berjodoh dengan Anggita kembali jika kamu merasa sudah mencintainya. Dan jangan mengandalkan diri sendiri Dan kekuasaan. Tapi andalkan Dia yang menjadi pemilik Hidup."


Rico tidak menyangka jika dirinya bisa menasehati Evan seperti itu. Tapi dia bisa berbangga karena ternyata Evan membenarkan ucapannya itu.


"Kamu benar bro. Mungkin aku kurang mendekatkan diri kepada pemilik Hidup sehingga aku diberi cobaan seperti ini."


"Bukan hanya karena kurang mendekatkan diri kepada pemilik Kehidupan. Tapi kamu juga harus belajar menghargai sesama manusia yang levelnya jauh di bawah kamu."


Rico sengaja mengatakan itu. Selama ini Evan terkenal dengan pimpinan yang kejam dan dingin kepada semua bawahannya di kantor.


"Haruskah seperti itu?" tanya Evan.


"Harus Evan. Kebaikan yang kamu lakukan kepada orang lain akan mendatangkan kebaikan kepada dirimu sendiri. Dan kejahatan yang kamu lakukan juga akan mendatangkan karma kepadamu sendiri. Bentuknya kita tidak tahu. Tapi percayalah. Jika Kita melakukan kejahatan kepada orang lain, suatu saat kejahatan itu akan berbalik kepada Kita bisa saja dari orang yang berbeda."

__ADS_1


Rico menjelma menjadi guru agama untuk sahabatnya itu. Evan tidak membantah sama sekali apa yang dia katakan oleh Rico. Pria itu justru berusaha mengingat kejahatan apa yang pernah dia lakukan sehingga mengalami cobaan hidup yang rumit.


"Aku akan menuruti semua perkataan kamu," jawab Evan akhirnya. Ceramah singkat yang diberikan Rico sangat masuk akal baginya.


"Cakep. Ceramah singkat ini tidak gratis."


"Iya. Tenang saja. Saldo rekeningmu pasti akan bertambah." Rico tidak hanya menjelma menjadi guru agama tapi juga menjadi pria matre.


Percakapan dua sahabat itu membuat perjalanan mereka tidak terasa. Tidak terasa bagi Evan. Tapi lumayan terasa untuk Rico. Pria itu sudah mulai merasakan pegal di pinggang dan tangannya karena hanya dirinya yang menjadi supir sejak dari Kota.


"Itu rumahnya," tunjuk Rico sambil menghentikan mobilnya tidak jauh dari rumah yang dia tunjuk.


Rico dan Evan bisa melihat seseorang yang keluar dari rumah itu tapi bukan pria yang datang ke rumahnya dua Hari yang lalu. Seketika, Evan dan Rico menjadi bingung. Mereka ingin bertanya tapi mereka lupa nama orang yang sedang mereka Cari.


"Dek, numpang tanya. Dimana rumah ibu yang menderita sakit kanker rahim di daerah ini?" tanya Rico kepada perempuan muda yang keluar tadi dari rumah itu.


"Oo itu ibu aku Pak. Tapi ada apa ya?"


"Kami dari yayasan kanker rahim, ingin bertemu dengan ibu Lastri." Rico tiba tiba mengingat nama ibu itu.


"Benar, ibuku bernama Lastri. Mari masuk ke rumah Pak," ajak perempuan muda itu. Evan dan Rico melangkah mengikuti langkah wanita itu.


Evan dan Rico menatap sedih wanita yang sedang sakit itu. Walau badannya terlihat gemuk tapi wajahnya yang pucat pasi menunjukkan jika wanita itu memang benar benar sakit.


"Ibu, aku Evan. Orang yang ibu bantu sepuluh tahun yang lalu."


Evan tidak ragu memperkenalkan dirinya. Dari catatan medis rumah sakit sudah jelas menyebutkan jika wanita itulah yang mendonorkan darahnya kepada Evan.


"Evan?. tanya wanita itu sambil mengulurkan tangannya. Entah karena sudah lupa akan wajah Evan. Wanita itu terlihat mengamati wajah Evan dengan seksama.


"Iya ibu. Berkat darah yang ibu donorkan. Aku bisa sembuh. Terima kasih ibu."


"Oiya. Aku sudah ingat."


Evan mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Sangat wajar mereka menagih janji Adelia di saat terjepit seperti ini. Keadaan rumah yang sederhana dengan perabotan yang ala kadarnya. Bisa ditebak jika keluarga ini adalah keluarga yang pas pasan.


"Ibu, sebenarnya baru aku tahu. Bahwa ibu yang mendonorkan darah kepadaku. Adelia mengatakan dirinya lah yang menjadi pendonor darah saat kecelakaan itu. Maaf, karena baru kali ini bisa menemui ibu."


Evan tidak mau dicap sebagai orang yang tidak membalas kebaikan. Bukan berniat ingin menjelekkan Adelia tapi karena itulah kenyataan.


"Tidak apa apa Evan. Kami juga karena mengalami jalan buntu makanya menagih janji Adelia. Saat itu, aku benar benar ikhlas menolong kamu."


Setelah berbincang bincang sebentar. Evan bisa melihat jika wanita itu adalah orang yang benar benar tulus. Evan ingin membalas kebaikan wanita itu tidak hanya sekedar membantu biaya operasi. Evan justru menawarkan wanita yang bernama Lastri itu sebaiknya dioperasi di rumah sakit di Kota.


Wanita itu setuju. Dan juga kedua anaknya yang bernama Rio dan Luna juga setuju. Hari itu juga Evan membawa tiga orang itu bersama mobilnya ke kota.


Perjalanan kembali di mulai. Evan terus bersenandung setelah mobil bergerak. Ternyata Evan merasakan hatinya tentram karena bisa menemukan dan membantu yang menjadi dewi penolong yang sesungguhnya.


"Apa tindakan kamu kepada wanita yang mengaku sebagai dewi penolong kamu itu?" tanya Rico membuat Evan menghentikan senandungnya.


"Biarkan dia menjalani hukuman atas perbuatannya sendiri," jawab Evan. Mendengar bagaimana Adelia meminta tolong kepada Lastri untuk mendonorkan darahnya tidak mengubah keputusan Evan untuk tetap membiarkan Adelia tetap di penjara.


Evan justru Semakin muak setelah mengetahui cerita yang sesungguhnya. Evan merasa jika Adelia sengaja berbohong demi mendapatkan dirinya. Pura pura perduli kepadanya dan mengabaikan keluarga Rudi yang sedang berduka saat itu.


Evan kembali menyanyikan lagu kesukaannya. Sesekali dia tersenyum ke bangku belakang melihat tiga orang itu.


"Lagu baru kesukaan dia," kata Rico sambil menoleh sebentar ke belakang. Dia sengaja memberitahukan supaya Evan tidak terlihat aneh karena sudah berulang ulang menyanyikan lagu kesukaan.


"Evan, kafe bintang," kata Rico sambil memelankan laju mobilnya.


"Kafe itu biasanya ramai di jam sepertinya ini," kata Rio dari belakang. Kafe bintang sudah terkenal di Kota itu.


"Oya. Kita singgah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan," kata Evan antusias. Keinginan untuk mencoba menu di kafe itu tidak terbendung.


"Sebentar bang. Biar aku cek dulu. Apa masih Ada meja yang kosong untuk kalian," kata Rio.


"Bukan hanya untuk kami berdua. Tapi untuk Kita berlima," jawab Evan. Dia membuka kaca mobilnya untuk melihat kearah kafe bintang. Evan bisa melihat jika pekarangan kafe itu juga sudah penuh dengan Mobil dan motor.


Baru saja Rio hendak turun, Tukang parkir datang menghampiri mereka.


"Untuk dua jam ke depan. Meja tidak ada pak. Seseorang menyewa kafe ini untuk perayaan ulang tahun anaknya yang masih Tk."

__ADS_1


Evan terlihat kecewa. Dia mencari kebenaran kata kata tukang parkir itu dengan mengamati keadaan kafe. Ketika terdengar nyanyian Happy birthday baru Evan percaya. Evan menyuruh Rico untuk menjalankan mobilnya tapi kepalanya masih menoleh ke belakang.


__ADS_2