Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Anggita Dan Nia


__ADS_3

Anggita menjalani pemulihan pasca Caesar itu dengan tenang. Wanita itu tidak sabaran untuk sembuh total supaya bisa beraktivitas lagi. Tapi mama Feli memberikan peringatan keras. Anggita tidak boleh melakukan pekerjaan apapun sebelum empat puluh hari terhitung dirinya melahirkan Cahaya. Anggita tidak bisa membantah peringatan itu karena mama Feli berkali kali menekankan jika peringatannya untuk kebaikan Anggita di Masa mendatang.


Kini Anggita sudah terhitung satu bulan dalam proses penyembuhan itu. Di dua minggu terakhir ini, hampir dua Kali dalam satu minggu Evan datang berkunjung untuk melihat putri mereka atas ijin Anggita. Bukan hanya Evan. Dokter Angga juga masih seperti dulu. Hampir setiap hari menyempatkan datang ke rumah Anggita.


Dan sore ini, moment dimana dua pria itu datang bersamaan ke rumah Anggita. Dokter Angga yang terlebih dahulu tiba di rumah itu. Setelah setengah jam kemudian, Mobil Evan terlihat sedang memasuki pekarangan rumah itu.


Pria itu tersenyum sambil menutup pintu mobil. Di tangannya sudah banyak kantong plastik sebagai oleh oleh untuk Anggita, Cahaya dan mama Feli. Hampir setiap kedatangan ke rumah Anggita. Evan tidak pernah datang dengan tangan kosong. Walau dia tidak mengetahui apa yang menjadi makanan favorit mantan istrinya. Dia selalu membawa makanan yang paling enak menurutnya untuk Anggita dan mama Feli. Sedangkan untuk Cahaya, dia juga membawakan berbagai perlengkapan bayi itu dan juga mainan yang cocok untuk bayi di bawah usia satu tahun.


"Mana Cahaya?" tanya Evan kepada Anggita yang berjalan dari arah dapur. Evan meletakkan semua oleh oleh itu di atas meja.


"Lagi mandi."


"Mandi?. Apa putriku sudah bisa mandi sendiri?" tanya Evan sambil terkekeh. Dia sengaja bercanda karena Evan menduga jika Cahaya pasti dimandikan oleh mama Feli.


"Ada ada saja kamu mas. Jika Cahaya bisa mandi sendiri di usianya yang masih satu bulan. Bisa bisa viral di media sosial."


"Bukan hanya viral. Bisa saja putri Kita akan masuk rekor dunia sebagai bayi ajaib."


Anggita tertawa sambil menggelengkan kepalanya karena perkataan Evan yang tidak masuk akal. Evan memperhatikan wajah ceria mantan istrinya itu. Walau tubuh Anggita terlihat lebih gemuk dibandingkan dulu, tetap saja wanita itu terlihat sangat cantik. Evan juga senang karena Anggita tidak seperti pertama Kali mereka bertemu. Anggita sudah mau tersenyum dan terlihat mulai nyaman berbicara dengan dirinya.


"Hal yang tidak mungkin. Duduk mas. Aku ambil pakaian Cahaya dulu," kata Anggita sambil berjalan menuju kamarnya. Sedangkan Evan mendaratkan tubuhnya di sofa tapi pandangannya tidak lepas dari Anggita hingga wanita tidak terlihat lagi.


Evan masih tersenyum. Mengingat bagaimana Anggita memperlakukan dirinya dengan baik setiap berkunjung ke rumah ini membuat Evan sangat optimis jika hubungannya dengan Anggita hanya masalah waktu saja. Evan sangat yakin cepat atau lambat mereka akan kembali bersatu menjadi keluarga.


Evan membayangkan masa depan yang indah dengan Anggita dan Cahaya. Berbagai rencana indah tersusun di pikirannya untuk membuat dua perempuan kesayangannya bahagia nantinya.


Tapi senyum itu seketika memudar melihat dokter Angga yang berjalan dari arah dapur dengan menggendong Cahaya yang terlilit handuk. Melihat hal itu, Evan paham jika dokter Angga lah yang memandikan Cahaya di kamar mandi yang ada di dapur. Evan menatap dokter itu dengan tatapan tidak suka.


"Pak Evan. Baru datang?" tanya Dokter Angga sambil tersenyum. Evan menganggukkan kepalanya dengan wajah datar. Tangannya terulur meminta Cahaya.


"Dia belum berpakaian pak."


"Sini. Aku juga bisa mengurus putriku kalau hanya sekedar memandikan dan memakaikan pakaiannya," kata Evan sinis. Dia menunjukkan rasa tidak suka karena dokter Angga yang memandikan Cahaya.


Dokter Angga mengalah dan memberikan Cahaya kepada Evan. Melihat wajah Evan kurang bersahabat membuat dokter Angga sebenarnya tidak nyaman berada di rumah itu.


"Sini pakaiannya l Anggita, Biar aku saja yang memakaikan ke Cahaya," kata Evan kepada Anggita yang kini sedang berdiri di ruang tamu dengan pakaian Cahaya di tangannya. Anggita menyodorkan pakaian itu kepada Evan. Dia sudah mendengar perkataan pria itu kepada dokter Angga. Anggita ingin melihat pria itu membuktikan perkataannya.


Evan memegang pakaian yang kini sudah Ada di tangannya kemudian dia menatap bayinya. Sebagai pria yang tidak pernah berurusan dengan bayi tentu saja dirinya bingung memakaikan pakaian itu ke tubuh Cahaya.


"Anggita, sepertinya aku harus kembali ke rumah sakit. Ada panggilan darurat ini," kata dokter Angga sambil menatap layar ponselnya.


"Oke Dokter. Terima kasih karena membantu aku tadi. Mari aku antar."


"Sama sama Anggita. Yang pasti jangan pernah sungkan meminta apapun kepadaku.


Dokter Angga berjalan melewati tubuh Anggita sambil tersenyum. Anggita membalas senyum manis sang dokter. Kini dua orang itu sedang berjalan menuju pintu. Senyum yang tersungging di wajah dua orang itu tidak luput dari penglihatan Evan. Ketika dokter Angga dan Anggita sudah mendekati mobil, Evan bisa melihat dokter Angga menyentuh pundak Anggita sambil mengatakan sesuatu. Tapi Evan tidak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh dokter tersebut.

__ADS_1


Evan menahan nafasnya karena cemburu. Dari rumah dengan sangat jelas Evan bisa melihat Anggita melambaikan tangan ke arah dokter yang sudah memundurkan mobilnya. Ketika Anggita berbalik. Senyum di wajahnya juga belum hilang.


"Apa mereka sudah berpacaran?" tanya Evan dalam hati. Evan mendadak gelisah sambil menatap wajah putrinya. Seketika itu juga dia kembali bingung. Karena memperhatikan gerak gerik Anggita dan dokter Angga, Evan lupa memikirkan bagaimana cara memakaikan pakaian itu ke tubuh Cahaya.


"Ya ampun mas, Cahaya belum juga berpakaian?" tanya Anggita panik. Wanita itu takut putrinya kedinginan dan masuk angin. Anggita langsung cepat mengambil Cahaya dari tangan Evan kemudian meletakkan bayi itu sofa panjang. Dengan cekatan, Anggita memakaikan pakaian Cahaya setelah terlebih dahulu mengoleskan minyak kayu putih di tubuh putrinya.


"Cahaya sudah wangi mas. Cahaya sama ayah dulu ya," kata Anggita sambil memberikan Cahaya kepada Evan. Anggita sangat mengerti waktu terbatas yang dimiliki Evan untuk mengunjungi Cahaya. Itulah sebabnya Anggita selalu memberikan waktu kepada Evan untuk menggendong putrinya selama Evan berada di rumah itu.


"Putri ayah sudah cantik." Evan menciumi wajah cantik putrinya yang sangat wangi.


"Lain kali jangan sok tahu mas, berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara supaya hal tadi tidak terulang." Anggita sebenarnya sangat kesal kepada Evan. Karena rasa tidak suka yang dimiliki Evan kepada Dokter Angga membuat putrinya hampir menjadi korban.


"Iya maaf. Lain kali tidak terulang lagi." Evan menatap Anggita. Cara Anggita menegur dirinya tidak membuat Evan tersinggung justru pria itu sangat senang. Dia menganggap teguran Anggita sebagai perhatian untuk dirinya supaya lebih baik lagi.


"Biasanya bayi, umur berapa bisa berbicara?" tanya Evan sambil memandangi wajah Cahaya.


"Tidak tahu mas. Coba ajak bicara Cahaya sekarang. Kali saja langsung bisa berbicara menyebut ayah." Anggita berkata asal menjawab pertanyaan Evan.


"Ayo Cahaya, sebut ayah, ayah." Evan ternyata menuruti saran mantan istrinya.


"Bunda, bunda, bunda." Anggita berkata dengan menirukan suara anak kecil. Evan tertawa keras mendengar suara Anggita. Sungguh dia merasakan kebahagiaan karena kebersamaan mereka bertiga sore ini.


"Aku sangat berharap jika Cahaya bisa berbicara nantinya. Maka kata bunda yang pertama keluar dari mulutnya daripada kata ayah," kata Evan setelah berhenti tertawa.


"Kenapa harus bunda?.


Evan menundukkan kepalanya setelah mengatakan hal itu. Perkataannya bukan untuk mencari simpati dari Anggita tapi itulah yang disadari Evan setelah dirinya sadar bagaimana Anggita berusaha mempertahankan rumah tangga mereka dahulu dan juga harus menjaga Cahaya semasa di kandungan. Saat itu sangat jelas jika masalah rumah tangga mereka yang tentunya sangat menguras emosi.


Evan ingin menyakinkan Anggita akan keinginannya yang untuk rujuk tapi suara dari luar yang memanggil Anggita dengan kencang dan membuat Evan mengurungkan niatnya itu.


"Anggita, mana ponakan aku yang cantik itu?" teriak Nia yang baru tiba di rumah itu. Saat ini adalah pertama Kali Nia mengunjungi Anggita setelah menikah. Karena rasa rindunya kepada sang sahabat. Nia tidak memperhatikan keadaan rumah itu. Dia menghambur ke pelukan Anggita yang sudah berdiri menyambut kedatangan Nia setelah mendengar suara wanita itu dari luar.


"Itu Sama ayahnya," kata Anggita sambil menunjuk ke arah Evan.


"Pak," sapa Nia sopan sambil menundukkan kepalanya. Nia seketika mendadak sopan dan salah tingkah menyadari Evan berada di rumah itu. Nia tidak menyangka jika bertemu dengan Evan di rumah ini. Anggita terlihat menuntun wanita itu untuk duduk di sofa.


"iiih cantiknya," puji Nia tulus. Dia tidak berani untuk mengambil Cahaya dari tangan Evan. Nia juga tidak terkejut melihat Evan berada di rumah Anggita. Dia mendengar sedikit tentang perjuangan Evan untuk mendapatkan Anggita dari Rendra. Selain itu, Anggita juga bercerita tentang pertemuannya dengan Evan kepada Nia lewat chat.


"Cantik donk. Siapa dulu ayahnya. Cahaya mau sama oma Nia?" kata Evan sambil mengulurkan tangannya memberikan Cahaya kepada Nia. Evan seakan mengerti keinginan Nia yang terpendam. Nia mengulurkan tangannya sedikit gugup menerima Cahaya.


"Oma Nia?. Panggil Tante donk. Nia terlalu muda dipanggil oma oleh Cahaya." Anggita yang tidak mengerti akan arti perkataan Evan berusaha meluruskan panggilan putrinya kepada sahabatnya.


"Nia, sebagai sahabat. Seharusnya kamu sedikit terbuka dengan Anggita. Bukankah Anggita sangat percaya kepada kamu?. Tidak adil bagi Anggita jika hanya dia yang berbagi rahasia dengan kamu."


Evan sebenarnya menyindir Nia. Dia masih ingat dengan jelas bagaimana Nia bisa bersandiwara pura pura tidak mengetahui keberadaan Anggita.


Nia menundukkan kepalanya karena tidak ingin menanggapi perkataan Evan. Dan Anggita juga tidak ingin menanyakan tentang perkataan Evan kepada sahabatnya itu. Tapi kedatangan Rendra di ruang tamu itu membuat Anggita seketika bingung dan bertanya tanya akan kedatangan Nia yang tidak berselang lama dengan kedatangan Rendra.

__ADS_1


"Cucu opa baru siap Mandi ya," kata Rendra yang sudah duduk di sebelah Nia. Jarak mereka yang sangat berdekatan membuat Anggita bertanya tanya di dalam hati. Apalagi Nia yang sedikit gugup membuat Anggita menyimpulkan sesuatu di dalam hatinya.


"Iya pa. Cahaya baru saja siap mandi." Evan yang menjawab pertanyaan Rendra kepada Cahaya.


"Sudah lama kamu?" tanya Rendra kepada Evan.


"Baru tiba sekitar satu jam yang lalu."


"Nia, katakan maksud kedatangan kamu ke sini. Kita tidak banyak waktu. Lain kali kamu bisa berlama lama di sini," kata Rendra sambil mengambil Cahaya dari tangan Nia.


"Anggita, sebenarnya maksud kedatanganku ke mari. Selain ingin melihat kamu dan Cahaya. Aku juga ingin memberikan laporan kafe pelangi kepada kamu." Nia mengambil berkas dari dalam tasnya kemudian memberikan berkas tersebut kepada Anggita.


"Mengapa kamu tidak mengirim lewat email saja Nia. Tapi tidak apa apa. Nanti aku lihat." Anggita meletakkan berkas di atas meja.


"Satu lagi Anggita, mulai bulan depan aku tidak bisa bekerja di kafe pelangi lagi."


"Kenapa?" tanya Anggita terkejut. Nia adalah orang yang diandalkan oleh Anggita mengelola kafe tersebut. Andaikan kafe itu tidak kembali kepadanya. Anggita tidak perlu bersusah payah memikirkan pengunduran diri Nia. Tapi karena kafe itu kembali kepada dirinya. Anggita sangat sadar jika semua yang ada di kafe pelangi termasuk para karyawan adalah tanggung jawabnya.


"Mungkin dia akan menikah," kata Evan sambil tersenyum. Dia merasa lucu melihat pasangan yang ada di depannya. Nia dan Rendra terpaut usia yang sangat banyak. Evan memperkirakan selisih umur Rendra dan Nia terpaut dua puluh tujuh tahun.


"Benarkah itu Nia?" tanya Anggita terkejut. Wanita itu hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Anggita hingga Nia pulang dari rumah itu.


"Mereka akan menikah," kata Evan setelah Nia dan Rendra pulang dari rumah itu.


"Om Rendra dan Nia?" tanya Anggita seakan tidak percaya mendengar informasi ini. Evan menganggukkan kepalanya. Mendengar Anggita sudah mengganti sebutannya kepada Rendra membuat Evan takut. Takut Anggita tidak pernah kembali lagi kepadanya.


Sementara di dalam Mobil. Nia terlihat sedikit canggung berduaan dengan Rendra di dalam Mobil itu.


"Nia, tolong ambil ponselku," kata Rendra. Ponselnya yang dia letakkan di saku kantong sedang berdering. Nia mengambil ponsel itu.


"Siapa?.


"Ini Pak. Lihat sendiri." Nia memberikan ponsel itu kepada Rendra. Rendra mendengus kesal setelah melihat siapa nama yang menghubungi dirinya. Rendra memegang ponsel itu dengan tangan kirinya sambil memegang setir. Rendra mengabaikan panggilan itu tapi kemudian berdering kembali.


"Ada apa?" tanya Rendra ketus.


"Tolong jangan ganggu aku. Aku sedang bersama calon istriku."


"Kamu tidak percaya. Aku akan mengirimkan buktinya kepada kamu."


Nia memalingkan wajahnya mendengar semua perkataan Rendra dengan lawan bicaranya. Nia kemudian menatap Rendra bingung karena Mobil sudah berhenti di pinggir jalan.


"Nia, aku mohon kerja samamu," kata Rendra sambil terlihat melakukan panggilan video kepada nomor yang memanggil tadi.


"Kerja sama apa Pak?.


"Kerja sama yang begini." Rendra mendekatkan wajahnya kepada Nia. Rendra sengaja membuat posisi dirinya dengan Nia terlihat di panggilan video itu seakan berciuman tanpa menampakan wajah mereka berdua. Dan benar saja, setelah panggilan tersambung, Anita yang berada di seberang berteriak histeris kemudian memutuskan panggilan itu.

__ADS_1


Panggilan itu sudah tidak terhubung lagi. Tapi wajah Nia dan Rendra masih berdekatan. Rendra bisa mendengar detak jantung Nia yang berdetak kencang dengan wajah yang memerah karena gugup. Rendra memberanikan diri membuat bibirnya hingga bersentuhan dengan bibir Nia. Nia ingin menjauhkan wajahnya tapi kepalanya sudah mentok ke sandaran kursi. Pergerakan Nia ternyata membuat bibir keduanya menempel sempurna dengan bibir Nia yang terbuka sedikit.


__ADS_2