Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 118


__ADS_3

Evan bisa bernafas lega. Para pengkhianat yang berusaha mengusik bahkan menghancurkan dirinya kini telah dilaporkan ke pihak yang berwajib. Bukan asal mencurigai kemudian dilaporkan. Hari ini juga, Evan memakai jasa pihak pihak yang berkompeten untuk melakukan penyelidikan kepada semua karyawannya di kantor. Dari karyawannya yang di kantor. Dua orang ditemukan sebagai pengkhianat dan di rumah nenek Rieta. Dua orang ditemukan sebagai pengkhianat. Dan semuanya sudah diserahkan ke pihak yang berwajib.


Kini Adelia dan Indi dan juga Branson sudah digiring ke Mobil pihak yang berwajib. Bersamaan dengan itu sebuah mobil yang dikenal dengan mobil Rendra memasuki pekarangan rumah itu. Mobil itu berhenti sedikit menghalangi jalan keluar milik pihak yang berwajib. Tapi karena Evan masih berbicara dengan salah satu dari rombongan pihak tersebut, mobil Rendra yang sudah berhenti tidak mendapatkan protes dari siapapun.


Evan dan Anggita menoleh ke arah mobil Rendra ketika pintu mobil itu terbuka sedikit. Evan dan Anggita terkejut ketika melihat seseorang yang keluar mobil tersebut bukan Rendra melainkan seorang gadis cantik.


"Salsa," gumam Evan pelan sambil memperhatikan mobil seakan menunggu


Rendra keluar dari mobil tersebut.


Hingga Salsa melangkah semakin mendekati Evan dan Anggita, Rendra tidak juga keluar dari Mobil. Salsa terlihat bingung melihat mobil mobil milik pihak yang berwajib.


"Selamat siang Pak, bu," sapa Salsa sopan kemudian membungkukkan badannya di hadapan Evan dan Anggita. Sikap wanita itu sangat sopan berbanding terbalik jika berhadapan dengan Rendra.


"Selamat siang Salsa. Mengapa kamu yang membawa mobil papaku?" tanya Evan. Pertanyaan itu mewakili pertanyaan yang Ada di dalam hati Anggita. Evan kemudian membisikkan kepada Anggita bahwa wanita cantik yang ada di hadapan mereka saat ini adalah sekretaris Rendra.


"Saya hendak menjemput pak Rendra pak. Tadi malam kami lembur. Pak Rendra menyuruh aku membawa mobilnya setelah aku mengantarkan beliau ke tempat ini tadi malam," kata Salsa. Perkataan Salsa jelas membuat Anggita bingung. Tadi malam, Rendra tidak pulang bahkan ponselnya tidak dapat dihubungi.


"Jam berapa kamu mengantarkan papa?" tanya Anggita.


"Jam sebelas bu."


Anggita semakin bingung. Jam sebelas mereka masih berada di rumah tadi malam. Tapi Rendra sama sekali tidak muncul.


"Dimana papa Rendra mas?" tanya Anggita kepada Evan. Tadi pagi dia menanyakan tentang Rendra dan Gunawan tapi Danny dan Evan mengatakan dua pria itu baik baik saja.


"Aku tidak tahu."


"Bukankah tadi pagi kamu mengatakan papa Rendra baik baik saja?.


"Benar. Aku mengatakan itu karena papa membaca status papa bahwa dirinya bersama dengan wanita yang dicintainya," kata Evan sambil menunjukkan ponsel. Anggita melihat status tersebut benar adanya.


Salsa memalingkan wajahnya setelah ikut melihat status Rendra di ponsel Evan. Wanita itu kemudian menundukkan kepalanya karena hatinya tidak baik setelah membaca status dari pria yang dikejarnya.

__ADS_1


Evan dan Anggita sama sama kebingungan. Keterangan dari Salsa, status Rendra hingga pria itu tidak pulang sama sekali membuat banyak pertanyaan di benak Rendra.


"Mungkinkah papa bersama Anna saat ini?" tanya Evan.


"Aku rasa tidak mungkin mas. Mbak ini mengatakan mengantar papa sampai ke tempat ini. Rasanya tidak mungkin," kata Anggita sambil menggelengkan kepalanya. Evan juga sependapat dengan istrinya karena dia mengetahui sedikit karakter Anna.


"Silahkan," kata Evan kepada salah satu petugas yang hendak pergi membawa para pengkhianat itu. Evan dan petugas itu berjabat tangan.


Petugas itu masuk ke dalam mobil. Ketika mobil iti hendak jalan mereka sadar jika mobil Rendra menghalangi jalan mereka. Supir meminta kepada Salsa untuk memindahkan mobil Rendra sedangkan petugas yang baru masuk itu bercerita tentang hal yang dialami Rendra.


"Pak, bolehkah kaca dibuka sebentar. Aku ingin mengatakan hal penting kepada Evan dan Anggita," kata Adelia setelah mendengar cerita sang petugas. Beruntung, petugas itu mengijinkan keinginan Adelia itu.


"Evan, Anggita," panggil Adelia. Evan dan Anggita sama sama langsung menatap Adelia.


"Pak Rendra. Bersama Tante Anita saat ini di rumahnya," kata Adelia. Dia tidak hanya menyesali kejahatannya tapi juga membantu Evan dan Anggita akan keberadaan Rendra.


"Tante Anita merencanakan sesuatu?" tanya Evan. Adelia menganggukkan kepalanya kemudian mobil bergerak keluar dari halaman rumah itu.


Evan dan Anggita juga langsung bergegas masuk ke dalam mobil. Dia mengajak salsa untuk ikut dengan dirinya dan Anggita menuju rumah mama Anita. Sambil menyetir, Pikiran Evan sangat kacau. Dari sejak tadi, dia tidak terpikir sama sekali akan mama Anita. Ternyata wanita itu mempunyai rencana tersendiri dari rencana jahat yang gagal dijalankan oleh Indi.


"Tante Anita. Apa yang kamu lakukan terhadap papaku?" tanya Evan tajam melihat mama Anita yang sedang memegang ponsel dan mengarahkan jari jari Rendra di layar ponsel tersebut. Di meja dekat Rendra terikat. Evan dan Anggita bisa melihat beberapa tumpukan kertas. Sepertinya kertas itu adalah berkas yang sudah ditandatangani oleh Rendra karena tekanan mama Anita.


Mama Anita terkejut. Keinginannya hampir tercapai tapi kedatangan Evan dan rombongan mengacaukan semuanya.


"Ternyata kamu ya nenek tua. Bukannya minder sama mantan suami yang bisa mendapatkan cewek cantik seperti aku malah menculiknya," kata Salsa yang baru tiba di tempat itu. Bukan seperti Evan dan Anggita yang tindakan terkesan lambat. Salsa justru berjalan tegap menghampiri mama Anita.


"Awas," kata Salsa sambil mendorong tubuh mama Anita hingga terjungkal ke lantai. Salsa tidak memperdulikan itu. Wanita cantik itu justru bergerak cepat melepaskan ikatan tali dari tubuh Rendra.


"Terima kasih Salsa," kata Rendra lemah. Pria itu bukan hanya diikat tapi sepertinya diberikan obat sehingga pria itu terlihat tidak fokus dan lemah.


"Kamu memaksa papaku menandatangtangani berkas berkas ini?" tanya Evan tajam setelah membaca berkas itu.


"Tante berpikir jika rencana kamu berhasil saat ini karena Adelia dan Indi sudah menjalankan bagiannya. Kamu salah besar. Rencana jahat mereka tidak berhasil begitu juga dengan rencana jahat kamu Hari ini, "kata Anggita kemudian merampas ponsel milik Rendra dari tangan mama Anita.

__ADS_1


Anggita meminta Rendra untuk membuka layar ponsel tersebut. Anggita menelusuri apa saja yang dilakukan oleh mama Anita di ponsel Rendra. Dia melihat beberapa transaksi pengiriman uang dari rekening Rendra ke rekening mama Anita.


"Tante sudah tua. Apa lagi yang masih dikejar. Hingga menjerumuskan diri sendiri seperti ini demi harta," kata Anggita sambil menatap mama Anita dengan sedih. Evan langsung merobek berkas berkas itu. Berkas berkas pengalihan nama atas harta Rendra yang lainnya menjadi atas nama mama Anita.


Mungkin karena tertangkap tangan. Mama Anita tidak menjawab perkataan Evan dan Anggita. Wanita itu justru terlihat ketakutan dan gemetar.


"Minum pak," kata Salsa sambil menyodorkan air mineral yang baru saja diambil dari mobil. Salsa mendekatkan botol air mineral itu ke mulut Rendra.


"Awas Evan, Anggita," kata Rendra lemah. Evan dan Anggita mendengar itu dan spontan bergerak sehingga pukulan yang diarahkan kepada dirinya mengenai Anggita. Ternyata mama Anita tidak sendiri. Dia mempunyai seorang teman untuk menjalankan rencananya yang entah dimana ketika Evan, Anggita dan Salsa tiba di rumah itu.


Melihat Anggita terjatuh di lantai dan mengaduh kesakitan. Evan tidak bisa menahan amarahnya untuk membalas pria bertato itu. Akhirnya duel antara Evan dan pria itu tidak dapat terelakkan. Evan berkali kali berhasil menghindar dari pukulan hingga tendangan pria itu. Tapi duel itu belum bisa melumpuhkan siapapun.


Anggita tidak tinggal diam melihat suaminya berduel seperti itu. Walau lengan kirinya masih terasa sakit. Anggita membantu Evan dengan melemparkan apa saja ke arah pria bertato itu.


"Awas bu," kata Salsa kepada Anggita. Mama Anita sedang melemparkan vas bunga kepada Anggita. Anggita tidak sempat menghindar. Vas bunga itu bergerak cepat mengenai kepala Anggita.


Tingkat kesabaran Anggita akhirnya habis juga. Selama ini dirinya diam akan penindasan mama Anita tanpa membalas perbuatan wanita itu. Tapi merasakan sakit di tubuhnya akibat perbuatan mama Anita dan rekannya membuat amarahnya butuh pelampiasan. Anggita bangkit dari duduknya. Bagaikan anak panah. Anggita melesat cepat menghampiri mama Anita yang berjarak sepuluh meter dari dirinya. Anggita tidak berpikir panjang mendaratkan pukulan pukulan di wajah mama Anita.


"Selama ini aku diam. Bukan berarti aku tidak bisa melawan kamu," kata Anggita setelah mama Anita tersungkur tidak berdaya setelah Anggita mendaratkan dua tendangannya di kedua paha wanita tersebut. Tidak jauh dari mereka. Evan berusaha melumpuhkan pria bertato itu.


"Ayo pak Evan. Semangat. Buat pria simpanan nenek peot itu tidak berdaya," kata Salsa menyemangati Evan yang sedang mendaratkan pukulan berkali kali di tubuh pria bertato itu.


"Ampun bang. Ampun," kata pria bertato itu mengaku kalah. Ketika Evan menyeka keringat yang kini membanjiri tubuhnya. Pria bertato itu berhasil melarikan diri. Evan tidak berusaha mengejar karena urusan utamanya adalah dengan mama Anita.


"Tante Anita. Sebentar lagi kamu akan bergabung dengan Bronson dan Adelia di penjara," kata Evan membuat wajah mama Anita pucat bagaikan kapas.


"Selain masuk penjara. Semoga nenek peot ini mengalami stroke di penjara," kata Salsa penuh kebencian kepada mama Anita. Entah mengapa Salsa terlihat sangat membenci mama Anita.


"Diam kamu wanita gatal. Kamu sengaja mengobral tubuhmu kepada Rendra hanya demi hartanya kan?" kata mama Anita. Wanita itu sengaja mengatakan itu supaya Salsa terkesan buruk bagi siapa saja yang mendengarnya.


"Hei, nenek peot. Apa kamu tidak sadar bahwa tindakan kotor kamu ini lah yang demi harta. Sudah jelas jelas kamu yang bertindak kotor demi harta tapi kamu masih bisa berkata seperti itu. Bukan hanya ini tindakan kotor kamu. Kamu juga mengancam ibu Anna supaya tidak dekat dengan pak Rendra kan?" kata Salsa sengaja membongkar perbuatan mama Anita yang mengancam Anna dan juga dirinya.


"Aku hanya menginginkan hak yang tidak diberikan oleh Rendra kepadaku setelah bercerai. Sedangkan kamu. Kamu berusaha mendapatkan harta dengan mengobral tubuh murahan kamu itu."

__ADS_1


"Jangan asal bicara ya nek. Kalau sudah dibuang harus koreksi diri bukannya bertindak jahat seperti ini. Berbicara dengan kamu hanya membuang waktu berharga saja. Aku tidak ingin berurusan dengan narapidana seperti kamu. Tapi satu hal yang harus kamu ingat. Walaupun kamu di penjara kamu akan tersiksa mendengar kebahagiaan aku dan pak Rendra nantinya. Kami akan mempunyai anak yang banyak. Sedangkan kamu, berbagi keringat dengan pria bertato tadi tidak bisa lagi. Yang ada kamu akan kesepian di penjara," kata Salsa sambil merangkul kepala Rendra yang masih terduduk lemas di bangku kayu itu.


Mama Anita tidak dapat menyembunyikan kekesalannya akan tingkah Salsa. Apalagi melihat tangan Rendra yang membalas pelukan Salsa dengan lemah.


__ADS_2