
Evan tidak dapat menahan amarah ketika nama mama Anita disebut ikut bekerja sama untuk menghancurkan dirinya. Wanita yang menjaga dan melindungi dirinya sejak kecil. Wanita yang mengulurkan tangannya bagai malaikat kala dirinya membutuhkan sosok ibu. Ternyata wanita itu adalah wanita yang ikut berpartisipasi untuk menghancurkan dirinya. Yang membuat Evan semakin hancur adalah incaran dari wanita itu bukan dirinya melainkan putri kandung kesayangannya.
Evan terduduk lemas di sofa setelah menyuruh Rico Dan dokter Angga keluar dari ruangannya. Di hadapan dua laki laki itu. Evan bisa bersikap biasa tapi setelah mereka tidak Ada. Evan merasakan kemarahan yang luar biasa.
"Tante Anita, siapa kamu sebenarnya. Mengapa kamu melakukan ini kepada ku?," tanya Evan dalam hati dengan tangan terkepal.
Perlakuan mama Anita sejak dirinya kecil hingga dewasa terlintas di pikirannya. Tidak ada yang ganjil dalam perlakuan itu. Semua dirasa bagaikan kasih sayang seorang ibu kandung. Bahkan ketika mama Anita tidak merestui pernikahan pertamanya dengan Anggita. Evan menilai itu sebagai kasih ibu yang ingin mempunyai menantu yang sempurna. Tapi baik dirinya dan tante Anita sama sama salah menduga. Anggita ternyata wanita terbaik untuk menjadi pendamping dirinya.
Evan beranjak dari duduknya. Pria itu menyambar ponsel dan kunci mobil dari meja kerjanya. Tubuhnya bergerak cepat dan terburu buru. Saat ini juga, Evan ingin menuntut alasan atas apa yang dilakukan oleh mama Anita kepada dirinya.
Evan mengendarai mobilnya sendiri menuju kediaman mama Anita. Perjalanan tiga puluh menit akhirnya membawa Evan di halaman rumah masa kecilnya. Evan keluar dari mobilnya dan menutup pintu mobil dengan kasar.
Evan mendongak ke atas menatap rumah lantai dua itu. Rumah tempat dirinya bertumbuh penuh kasih sayang dari suami istri yang bukan orang tua kandungnya.
Evan menitikkan air matanya. Kasih sayang yang dirasa tulus itu harus berakhir dengan perceraian. Evan tentu saja tidak bisa mencegah karena Rendra mempunyai alasan kuat untuk keputusan itu.
Evan melangkah tegap ke dalam rumah itu. Rumah mewah yang menjadi harta gono gini dalam perceraian Rendra dan mama Anita.
"Tante, tante Anita," panggil Evan kencang di tengah tengah ruang tamu itu. Dia berdiri dengan Mata berkeliling mencari keberadaan mama Anita. Matanya menangkap sosok yang dicari keluar dari salah satu kamar. Evan mengerutkan keningnya melihat penampilan tante Anita yang tidak sesuai dengan usianya. Tanktop merah menyala dengan celana hotpant. Evan memalingkan wajahnya melihat penampilan wanita itu.
"Ada apa Evan?" tanya mama Anita sinis. Dia terkejut melihat pria itu berada di rumahnya tetapi cepat mengusai diri supaya Evan tidak melihat keterkejutan itu.
"Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan Tante. Bisakah tante mengganti pakaian dulu?" kata Evan. Dia tidak menatap wanita itu sama sekali karena merasa malu. Bagaimanapun hubungan mereka saat ini. Evan masih mempunyai rasa sayang kepada wanita yang membesarkan dirinya itu.
Tanpa menjawab perkataan Evan, mama Anita berlalu dari ruang tamu itu. Dia masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya.
"Ada apa. Bukankah hubungan diantara kita sudah putus. Mengapa kamu masih menemui aku."
__ADS_1
Mama Anita berkata sambil memalingkan wajahnya. Sedangkan Evan menatap mama Anita.
"Tante, apa salahku. Sehingga tante tega bersengkongkol untuk menghancurkan aku," kata Evan sedih. Evan sebenarnya sangat marah. Tapi dia berusaha untuk menahan rasa amarah itu mengingat dirinya diurus sejak kecil oleh mama Anita.
Mama Anita menggerakkan kepalanya cepat menatap Evan. Wanita itu terkejut karena mendengar kata bersengkongkol yang benar adanya. Mama Anita merasa khawatir jika bersengkongkol yang dimaksudkan oleh evan adalah persengkolan antara dirinya dan Adelia yang melibatkan Bronson.
"Aku tidak pernah menghancurkan dirimu. Kamu sendiri yang menghancurkan dirimu sendiri."
"Jangan mengelak tante, seseorang sudah membocorkan persengkolan kalian yang melibatkan salah satu pelayan di rumah nenek. Namanya sudah aku kantongi. Saat ini, aku hanya meminta alasan mengapa tante?melakukan itu kepadaku. Aku berterima jika aku sendiri yang tante sakiti. Tapi jika berkaitan dengan putriku Cahaya. Aku tidak akan tinggal diam."
Mama Anita tertawa terbahak bahak. Mendengar dirinya sudah ketahuan bersengkongkol tidak membuat wanita itu ketakutan. Justru dirinya merasa senang karena melihat kekhawatiran dan kemarahan Evan. Ini adalah bagian dari persengkolan itu. Membuat Evan khawatir dan marah adalah langkah pertama yang disusun oleh Adelia dan Bronson.
"Kamu pikir aku perduli dengan kamu, atau siapapun yang berkaitan dengan kamu?. Hubungan antara ibu Dan anak diantara kita sudah putus. Apapun yang terjadi dengan dirimu. Aku tidak perduli. Termasuk berkaitan dengan putri kamu itu. Jika mati pun. Aku tidak perduli. Aku akan mengirim karangan bunga yang paling bagus jika itu terjadi."
Brakk.
"Tante Anita. Jaga ucapan kamu. Atau tangan ini yang harus melayang supaya mulut mu bisa berkata dengan benar?.
"Diam Evan. Sekali lagi aku bilang. Kamu bukan siapa siapa lagi bagiku. Jika kedatangan kamu untuk merusak barang barangku. Aku akan melaporkan kamu ke polisi?"
Perkataan mama Anita bukan sekedar ancaman. Dia sudah berencana akan melaporkan Evan kepada polisi atas kerusakan meja itu.
"Kamu melaporkan aku ke polisi karena meja ini. Kamu lupa siapa yang membeli perabotan yang ada di rumah ini?. Lalu bagaimana dengan kehidupan aku yang kamu rusak. Apa aku harus membuat kamu berhadapan dengan polisi atau langsung saja berhadapan dengan Sang Pencipta?" jawab Evan marah. Perkataan mama Anita semakin membuat dirinya terpancing amarah.
"Tidak perlu siapa yang membelinya. Yang terpenting sekarang. Semua yang ada di rumah ini adalah milikku," kata mama Anita penuh kemenangan. Dia masih mengingat jika lima tahun yang lalu semua perabotan rumah itu diganti tanpa terkecuali oleh Evan. Evan mengganti semua perabotan rumah serba mewah itu karena keinginan mama Anita di usianya yang ke Empat puluh tiga sebagai kado ulang tahun untuk dirinya. Jika semua perabotan itu diuangkan tentu saja nilainya sangat fantastis.
Mama Anita jelas mengingat siapa yang membeli semua perabotan itu. Tapi dia tidak mau kalah. Mama Anita merasa berhak atas semua itu.
__ADS_1
"Benar yang Tante bilang. Semua ini adalah milik kamu. Tapi bisa aku pastikan hanya sementara. Melihat bagaimana dirimu sangat jahat dan sombong. Aku tidak rela jika jerih payah dari om Rendra jatuh ke tangan wanita licik bertopeng seperti kamu."
Mama Anita terdiam. Sepertinya dirinya melupakan sesuatu. Rumah itu memang harta gono gini dari Rendra. Tapi sampai sekarang dirinya belum memegang sertifikat rumah itu. Setiap dia meminta itu kepada Rendra. Rendra akan sinis menanggapi dirinya tapi sampai detik ini tidak terdengar Rendra mengusir dirinya.
"Apa maksud kamu Evan?" tanya mama Anita menurunkan volume suaranya. Mendengar perkataan Evan. Wanita itu ketakutan jika Evan mempengaruhi Rendra untuk menahan atau tidak memberikan sertifikat rumah itu kepada dirinya.
"Jelas apa maksudku. Aku tidak rela. Rumah ini ke tangan Tante. Aku akan mempengaruhi papa Rendra untuk tidak memberikan rumah ini kepada kamu. Lebih baik diberikan kepada calon istrinya dari pada kepada Tante."
"Calon istri?. Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan Rendra mempunyai istri baru. Dia tidak boleh menikah. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi," jawab mama Anita berapi api. Mendengar Rendra akan memiliki calon istri lagi. Jujur, hatinya sangat sakit. Dia masih mencintai pria itu tapi pria itu tidak menginginkan dirinya lagi.
Evan mengerutkan keningnya mendengar kemudian mencerna perkataan mama Anita baik baik. Ada sesuatu yang janggal di telinganya ketika mendengar perkataan itu.
"Kamu terlalu percaya diri tante. Memang om Rendra dan Nia batal menikah. Tapi mereka sudah merencanakan pernikahan kembali bulan depan. Itulah sebabnya, papa Rendra tidak memberikan rumah ini kepada Tante. Karena rumah impian Nia adalah rumah ini."
"Kamu bohong Evan. Mereka tidak mungkin menikah karena Nia sedang mengandung benih pria lain."
Evan jelas terkejut mendengar perkataan mama Anita. Yang dia tahu, mama Anita dan Nia tidak saling kenal. Tapi mengapa wanita itu mengetahui penyebab kegagalan pernikahan itu.
"Mengandung benih pria lain. Benih siapa itu?. Kami tidak mengetahuinya dan Nia tidak mengatakan apapun tentang rencana pernikahan mereka bulan depan. Siapa pria itu."
Evan pura pura tidak mengetahui tentang kehamilan Nia. Evan sengaja memancing mama Anita untuk mengatakan sejauh Mana dirinya mengetahui tentang kehamilan Nia.
"Aku juga tidak tahu. Yang pasti bukan Rendra," kata mama Anita. Dia tidak akan membiarkan Rendra menikah dengan siapapun dan berharap melihat Masa tua Rendra sendirian dan kesepian.
Dalam hati, Evan merasa lega. Dia sangat yakin jika mama Anita tidak mengetahui siapa sebenarnya penanam benih di rahim Nia.
"Apapun yang terjadi pada papa Rendra. Rumah ini tidak akan pernah jatuh ke tangan mu Tante. Ingat itu. Sebelum aku atau papa yang mengusir tante. Sebaiknya tante tahu diri untuk keluar dari rumah ini secepatnya," kata Evan. Setelah mengucapkan itu. Evan keluar dari rumahnya.
__ADS_1
Evan juga menghubungi beberapa orang orang kepercayaannya untuk menghancurkan rumah Adelia. Evan bertekad tidak memberikan ampun lagi kepada Adelia.