Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 149


__ADS_3

Danny merasakan kelelahan yang luar biasa. Baru saja dirinya melakukan perjalanan jauh berjam jam. Pria itu menemukan fakta yang membuat dirinya sangat terkejut. Dia hampir tidak mempercayai kenyataan yang baru dia ketahui saat itu. Danny langsung menghubungi Gunawan. Gunawan bahkan mengirimkan video singkat tentang pertemuan mereka dengan Naya, Nia dan Alex di rumah nenek Rieta.


Danny sampai menonton video itu berulang ulang. Hingga akhirnya hatinya percaya. Ada rasa kesal mengapa Nia menyembunyikan putrinya itu tapi mengingat Naya lahir prematur dan saat ini terlihat sangat sehat dan terawat membuat Danny tidak ingin menperpanjang masalah itu. Danny juga mengerti, mengapa hatinya menginginkan bahkan rela memohon kepada Nia untuk menerima pertanggungjawaban dari dirinya ternyata ada kontak batin antara dirinya dan Naya.


Danny menyadari kebodohannya hingga rela juga memprovokasi Alex untuk menyerahkan Nia kepada dirinya. Dan saat ini setelah mengetahui adanya Naya diantara dirinya dan Nia. Danny merasa jika apa yang dia lakukan adalah hal tepat. Jika nantinya dirinya dan Nia tidak berjodoh. Setidaknya ada yang akan dia ceritakan kelak kepada Naya jika dirinya sudah pernah berjuang.


Tidak ada yang dirasakan Danny saat ini selain ingin bertemu dengan putrinya itu. Andaikan ada penerbangan sekarang juga untuk mengantarkan dirinya pulang. Danny akan memilih pulang untuk bertemu putrinya terlebih dahulu daripada menjumpai orang kepercayaannya untuk membahas tentang pengalihan nama Pemilik Perusahaan yang kini sudah berganti menjadi atas namanya.


Tapi keinginan Danny itu harus tertunda. Penerbangan tidak ada saat ini. Ternyata Danny harus menyelesaikan masalah yang menjadi tujuan dirinya datang ke negara itu. Penerbangan yang diinginkan saat ini tidak ada. Danny harus puas bisa pulang esok hari. Danny berjanji dalam hati tujuannya terselesaikan atau tidak terselesaikan. Dirinya harus kembali besok. Keinginannya untuk bertemu dengan Naya sungguh tidak tertahan.


Saat itu juga, Danny menuju tempat pertemuan dirinya dengan orang kepercayaannya. Dalam perjalanan itu, Danny merenungkan perjalanan hidupnya. Dia tidak menyangka jika kehancuran rumah tangganya bersama Clara bersamaan dengan kehancuran dirinya yang sudah tertipu dengan sang asisten. Tapi dibalik itu, Danny menyadari jika dengan kehancuran rumah tangganya. Banyak pelajaran dan pengalaman yang dia dapat. Bahkan kehancuran itu juga menyebabkan dirinya kini menjadi ayah dari dua orang putri dari dua wanita yang berbeda.


Danny menghela nafas panjang. Saat ini, dirinya hanya ingin berserah dan pasrah. Setelah berusaha berjuang. Danny sangat yakin jika ada hal indah yang menanti dirinya di Masa depan walau itu bukan bersama dengan Nia.


Pertemuan dengan orang kepercayaannya akhirnya tiba juga. Danny berusaha menyelesaikan masalah itu secepat mungkin. Tapi kenyataannya tidak secepat itu. Banyak yang harus diurus yang tidak mungkin selesai dalam satu hari. Penyelesaian itu butuh waktu dalam hitungan minggu atau bahkan dalam hitungan bulan. Tapi Danny memilih memberikan surat kuasa kepada orang kepercayaannya daripada tinggal lama di negara itu. Keinginannya untuk bertemu dengan Naya melebihi apapun. Perusahaan itu sudah dimiliki oleh Clara selama satu tahun lebih dan Danny memilih mengikhlaskan. Jika saat ini, perusahaan itu kembali kepada dirinya. Danny berpikir jika itu adalah bonus dalam hidupnya. Danny tidak terlalu mengutamakan urusan perusahaan itu. Dirinya justru mendahulukan keinginannya bertemu dengan Naya.


Kini, keinginan Danny itu terwujud. Dirinya kini sudah kembali dari luar negeri. Bersama Rendra dan Anna. Danny kini dalam perjalanan menuju rumah Nia. Untuk menghindari ada kesalahan pahaman. Rendra juga menghubungi Alex untuk datang ke rumah Nia. Pertemuan Naya dan Danny pasti melibatkan Nia. Rendra tidak ingin ada sesuatu yang tidak diharapkan dari pertemuan itu mengingat pernikahan Nia dan Alex akan diadakan besok. Danny merasakan perjalanan dua jam itu seperti perjalanan lima jam.


Danny merasakan jantungnya berdetak kencang setelah turun dari mobil. Pria itu ingin secepatnya bertemu dengan Naya tapi tidak berani melangkah terlebih dahulu masuk ke rumah. Dirinya sadar bukan siapa siapanya sang Pemilik rumah.


Dengan wajah yang tertunduk, Danny mengikuti langkah Rendra dan Anna masuk ke dalam rumah. Bahkan Danny tidak mengucapkan salam seperti yang dilakukan oleh Rendra dan Anna. Mendengar jawaban dari dalam rumah. Danny sudah dapat menyimpulkan jika Alex sudah ada di dalam rumah.


Danny duduk setelah dipersilahkan duduk. Pria itu juga tidak berani langsung menghampiri Naya yang sedang berada di tangan Nia. Bukan karena tidak ingin memeluk Naya secepatnya, tapi Danny menjaga sikapnya. Andaikan Nia bukan calon istri Alex, Danny mungkin langsung menghampiri Nia dan Naya. Danny benar benar menjaga sikapnya. Dia tidak ingin karena rasa senangnya bertemu dengan Naya. Sikapnya melebihi batas dan akhirnya menimbulkan kesalahanpaham. Danny sudah di tahap mengikhlaskan Nia bahagia dengan Alex. Danny mewujudkan rasa ihklas itu dengan menahan diri.


Pria itu duduk menunduk bagaikan orang asing yang belum pernah mengenal Nia dan Alex sebelumnya. Tidak hanya canggung. Danny bahkan orang seperti tidak dianggap di rumah itu. Rendra, Anna, Nia dan Alex membicarakan tentang persiapan pernikahan Nia dan Alex esok hari. Danny tidak ingin ikut dalam pembicaraan itu karena hal itu bukan urusannya. Danny hanya berharap secepatnya memeluk Naya. Tapi sepertinya Danny harus belajar bersabar. Naya masih minum susu yang diberikan oleh Nia pakai dot bayi. Pria itu terus menundukkan kepalanya.


Danny tersentak ketika Alex berdiri di hadapannya.


"Danny," kata Alex. Pria itu mengulurkan tangannya memberikan Naya ke tangan Danny. Danny menerima putrinya itu dengan mata yang berkaca kaca. Bahkan dalam situasi seperti ini pun, Nia tidak ingin berdekatan untuk memberikan Naya kepada dirinya. Tapi bukan itu yang membuat Danny bersedih. Danny sedih mengingat semua perlakuannya yang membuat Naya dan bayi laki lakinya menjadi korban. Andaikan dirinya dulu bersikap baik dan bijaksana menghadapi kehamilan Nia. Mungkin sejak lahir, dirinya bisa melihat dan memberikan kasih sayang kepada Naya.


Danny menatap wajah putrinya itu. Danny memeluk Naya dengan erat kemudian menciumi wajah Naya. Ada perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata kata yang dirasakan oleh Danny saat itu. Bahagia pasti tapi sedih juga pasti.


Masih hitungan menit, Naya di tangannya. Bayi itu sudah menangis. Sepertinya Naya sudah bisa mengenali mana orang yang sering bersama dirinya dan orang yang pertama kali bertemu dengannya. Sangat berbeda dengan pertemuannya dengan nenek Rieta dan yang lainnya.


Dari tempat duduknya, Nia berusaha menenangkan bayinya dengan memanggil Naya. Benar saja, bayi itu menoleh ke Nia dan terdiam. Tapi itu hanya sebentar. Naya kembali menangis bahkan lebih kencang dari sebelumnya.


Melihat putrinya menangis. Danny juga berusaha menenangkan. Tapi arah pandangan Naya ke arah Nia, itu berarti Naya menginginkan dirinya berada di tangan bundanya. Danny tidak ingin putrinya menangis. Dan seketika itu juga Danny bingung. Dia ingin memberikan Naya ke tangan Nia tapi hatinya ragu.


"Alex," panggil Danny sambil mengisyaratkan pria itu mengambil Naya dari tangannya. Alex berdiri dan mengambil Naya dari tangan Danny. Dan seketika itu juga Naya terdiam dari tangisnya.


Danny merasakan hatinya seperti diremas melihat pemandangan itu. Dia adalah ayah dari Naya tapi Alex yang merasakan layaknya seperti ayah bagi bayi itu.

__ADS_1


Tidak ingin kesedihan dilihat yang lainnya. Danny pamit sebentar keluar. Di teras rumah itu, Danny mendaratkan tubuhnya di kursi plastik. Danny kembali menundukkan kepalanya. Dia menggelengkan kepalanya menyadari takdir begitu kejam menghajar dirinya.


Di dalam rumah, Alex dan yang lainnya juga terdiam. Mungkin karena mereka mengetahui kesedihan Danny atau memang tidak ada topik pembicaraan. Naya juga sudah diam dan kini berada di tangan Naya.


Beberapa menit kemudian. Danny kembali masuk ke dalam rumah setelah bisa mengusai dirinya dari kesedihan itu. Kali ini, pria itu duduk tidak menundukkan kepalanya lagi. Danny masuk kembali ke dalam rumah itu untuk membicarakan pola asuh dirinya dan Nia terhadap Naya.


"Nia, Alex. Jujur, aku sangat terkejut dengan kenyataan ini. Tapi bukan rasa terkejut itu yang terpenting. Yang terpenting adalah tentang pola asuh Naya. Bagaimana pola asuh Naya yang terbaik menurut kalian berdua?" tanya Danny. Danny kini menatap Nia dan Alex secara bergantian. Danny dapat melihat Alex menyentuh tangan Nia supaya wanita itu yang berbicara terlebih dahulu. Tapi Nia mengabaikan isyarat itu. Wanita itu masih diam.


"Sebenarnya hal ini sudah dibicarakan di rumah nenek Rieta sebelumnya. Nia tidak membatasi Naya bertemu dengan kalian selaku keluarga kandungnya. Hanya saja Nia mengatakan jika Naya akan diantar oleh Jessi jika kalian ingin bertemu dengan Naya."


Alex mengatakan apa yang dikatakan oleh Nia sebelumnya.


"Baiklah. Aku setuju. Tapi tentang semua kebutuhan Nia biarkan aku yang bertanggung jawab semuanya. Aku bisa mentransfer lewat rekening Jessi nantinya," kata Danny. Bagi Danny tidak ada gunanya berdebat tentang pola asuh yang diinginkan oleh Nia.


Mendengar sendiri perkataan Alex. Danny menyimpulkan jika Nia benar benar tidak ingin berurusan dengan dirinya dan keluarganya. Danny bisa memahami sikap Nia. Nia akan menjadi istri Alex nantinya. Dan sudah sewajarnya lah Nia bersikap seperti itu. Danny juga seperti itu. Dia tidak ingin berurusan lagi dengan Nia karena wanita itu yang menginginkan.


"Bagaimana Nia?" tanya Rendra kepada Nia.


"Aku rasa tidak perlu pak. Kalau untuk biaya kebutuhan Naya. Aku masih sanggup untuk itu," jawab Nia.


Danny tertawa kecil mendengar perkataan Nia. Dia tertawa bukan karena meremehkan kemampuan Nia untuk memenuhi kebutuhan Naya. Danny menertawakan dirinya sendiri. Ternyata Naya bukan hanya disembunyikan tapi dirinya juga tidak bisa memberikan tanggung jawab sebagai ayah bagi putrinya itu.


"Ternyata kamu benar benar ingin menjadikan aku ayah yang buruk bagi Naya, Nia. Apa di dunia ini hanya aku pria yang jahat sehingga aku harus mendapatkan hukuman berat ini?" kata Danny kesal. Sungguh dirinya tidak bisa menahan kekesalan itu.


"Baiklah, terserah kamu Nia. Aku tidak memaksakan apapun kepada kamu termasuk tentang Naya. Sebagai ibu, kamu pasti mengetahui apa yang terbaik bagi Naya. Dan kamu Alex. Untuk pernikahan kalian besok. Aku mendahului dengan mengucapkan selamat berbahagia kepada kalian berdua. Semoga rumah tangga kalian menjadi rumah tangga seumur hidup dan penuh berkah. Aku titip Naya," kata Danny.


Danny beranjak dari duduknya. Dia mendekati Nia dan Alex yang duduk bersebelahan. Mengulurkan tangannya kepada Alex dan disambut pria itu. Kemudian Danny mengulurkan tangannya ke Nia tapi wanita itu pura pura sibuk dengan Naya. Merasa diabaikan Danny mengusap kepala putrinya.


"Om, tante. Kalau kalian masih disini. Silahkan. Aku bisa pulang sendiri," kata Danny pelan. Rendra dan Anna menganggukkan kepalanya bersamaan. Bukan karena tidak ingin pulang bersama tapi suami istri itu bisa melihat jika Danny butuh waktu sendiri untuk bisa menerima semua kenyataan ini.


Danny keluar dari rumah itu dengan kekalahan di hatinya. Untuk kedua kalinya. Dia kalah berjuang. Kalah mendapatkan Nia dan kalah juga memperjuangkan haknya akan Naya.


Setelah Danny keluar dari rumah itu. Tidak berapa lama lagi. Rendra dan Anna juga pamit pulang. Begitu juga dengan Alex. Pria itu pulang karena seharusnya menjelang pernikahan seperti ini dirinya harus berada di rumah.


Alex membawa mobilnya dengan pikiran bercabang. Pertemuan dirinya dengan keluarga Danny sebelumnya dan pertemuan hari ini dengan Danny sungguh mengganggu pikirannya. Alex sudah mengetahui kisah Nia selama hamil. Dia tidak menyangka jika Danny berjuang mendapatkan Nia. Perjuangan dan keihklasan hati Danny sebenarnya membuat hatinya tersentuh. Dia juga merasa kasihan akan Sisil yang merindukan sosok ibu. Dan apa yang dialami oleh Sisil akan dialami oleh Naya nantinya. Alex berpikir sampai kearah itu. Tapi cintanya kepada Nia membuat Alex ingin tetap maju terus menikahi Nia.


"Apa aku egois?" tanya Alex dalam hati. Alex memikirkan jika dirinya akan tetap menikahi Nia banyak hal yang harus mereka hadapi nantinya. Bukan hanya memikirkan kebahagiaan tapi juga banyak hal yang tentunya termasuk tentang Naya. Jika mengikuti rasa kasihan akan Sisil dan Naya. Alex sebenarnya bisa saja membatalkan pernikahan itu. Tapi keinginan berbahagia dan hidup bersama dengan Nia seakan tidak terbendung lagi.


"Bukankah untuk bahagia itu harus egois?"


Alex membenarkan dalam hati keputusannya untuk tetap menikahi Nia. Dia merasa benar karena dirinya bukan orang ketiga atau yang merebut Nia dari Danny. Tapi Alex berpikir jika Nia memang berjodoh dengan dirinya. Dan apa yang dialami oleh Danny hanyalah takdir.

__ADS_1


Berbeda dengan Alex, Danny memikirkan hal lain. Setelah pulang dari rumah Nia. Pria itu langsung ke rumah orang tuanya. Bertemu dengan Sisil sepertinya bisa meringankan beban pikirannya. Danny juga berencana akan memberitahukan kepada Sisil bahwa wanita itu tidak akan pernah menjadi ibu bagi Sisil. Danny tidak ingin putrinya larut dalam penantian itu. Danny sudah mendengar cerita pertemuan Sisil dengan Nia sebelumnya.


"Sisil," panggil Danny sambil membuka pintu kamar putrinya. Sisil bermain di kamar itu ditemani seorang pengasuh. Melihat Danny di depan pintu, sang pengasuh pamit keluar.


"Papa, sini," jawab Sisil sambil melambaikan tangannya.


"Main apa sayang?" tanya Danny sambil duduk di lantai seperti putrinya itu.


"Belum main," jawab anak itu. Sebelum Danny datang. Sisil menonton edukasi anak sesuai dengan usianya dari ponsel.


"Mau main?" tanya Danny. Sisil menggelengkan kepalanya.


"Jadi mau apa donk?" tanya Danny sambil mengusap rambut putrinya.


"Mau es krim," jawab Sisil. Danny tertawa. Sisil akan selalu meminta es kirim kepada dirinya. Mama Tiara tidak memperbolehkan Sisil makan es krim.


"Boleh. Tapi ada syaratnya?" tanya Danny. Danny akan memanfaatkan permintaan Sisil untuk melupakan Nia.


"Syarat apa pa?"


"Papa akan beli es krim. Tapi jangan...."


"Jangan apa pa?"


"Sisil masih ingat tante Nia?" tanya Danny. Sisil menganggukkan kepalanya senang.


"Tante Nia akan pergi ke jauh dari kita. Jadi sepertinya tante Nia tidak jadi mama untuk Sisil."


"Kenapa begitu pa?.


Danny mengusap wajahnya. Ternyata memberikan pengertian kepada anak kecil itu tidak semudah yang dia bayangkan.


"Tante Nia akan menikah dengan orang lain bukan papa," jawab Danny terus terang apa adanya. Lebih baik berkata jujur sekarang daripada Sisil terus dibayang bayangi oleh harapannya sendiri.


"Menikahi?" tanya Sisil bingung. Dia masih kecil tentu saja dia tidak paham dengan arti kata menikah.


"Iya menikah. Tante Nia akan menikah dengan orang lainnya seperti kakek Rendra dan ibu Anna. Kamu ingat kakek dan ibu pakai pakaian pesta?" Sisil menganggukkan kepalanya.


"Tante Nia akan seperti itu dengan orang lain. Bukan dengan papa. Mengerti kan?"


Lagi lagi Sisil menganggukkan kepalanya dengan sedih. Danny bisa melihat kesedihan putrinya itu. Danny memeluk Sisil.

__ADS_1


"Aku ingin tante Nia dan papa yang memakai pakaian pesta bersama," kata Sisil dalam hati. Walau sudah mengerti bahwa Nia akan menikah dengan orang lain. Sisil masih berharap.


__ADS_2