Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bertemu


__ADS_3

"Apa aku salah makan?" tanya Evan sambil memegang perutnya. Dia bahkan duduk di bangku belakang supaya leluasa bergerak. Evan tidak bisa menggambarkan sakit perut itu sakitnya seperti apa. Rasanya tidak sama dengan sakit perut biasa.


"Sepertinya tidak, kita sama sama makan jenis makanan yang sama. Aku tidak ada merasakan sakit perut sama sekali. Apa kita langsung pulang ke Kota atau ke rumah sakit terdekat?.


"Ah, rasanya sakit sekali Rico. Tolong, bawa mobil lebih kencang lagi. Kita ke rumah sakit terdekat. Rasanya semakin sakit." Evan terus merintih. Wajahnya semakin memucat dengan keringat yang terus mengucur dari pelipisnya.


Rico tidak menuruti perintah atasannya itu. Dia lebih memilih mempertimbangkan keselamatan mereka daripada perintah Evan. Tidak mungkin dia membawa mobil itu dengan kencang sementara jalanan penuh dengan kendaraan roda enam.


Rico akhirnya bisa menarik nafas lega. Evan tidak terlihat sakit perut lagi. Keadaannya yang sedikit tenang tidak membuat Rico harus berpikir keras untuk menyalip beberapa mobil yang Ada di depannya. Karena itu terlalu berisiko karena keadaan jalan itu sedikit macet.


"Apa perut kamu sudah membaik?. Rico bertanya sambil melihat keadaan Evan lewat kaca spion. Evan tidak merintih lagi. Tapi masih terlihat seperti menahan sakit.


"Masih ada terasa sakit sedikit. Sekarang, sepertinya jantungku yang bermasalah."


Evan memegang dadanya. Entah mengapa dia merasakan jantungnya sangat berdetak kencang.


"Kamu masih muda, tapi tubuhmu sudah menjadi sarang penyakit."


Rico sebenarnya merasa heran dengan apa yang dialami oleh sahabatnya itu. Beberapa bulan ini, Evan sering mengeluh sakit perut. Sudah diperiksakan ke dokter. Tapi di perut sahabatnya itu tidak ada penyakit apapun.


"Tidak apa apa. Daripada kamu. Sudah tua tapi belum pernah menikah."


"Lebih bagus belum menikah dulu tapi daripada menikah berujung perceraian."


"Rico, aku tidak Ada waktu mendengar ocehan kamu itu. Cepat bawa aku ke rumah sakit. Perutku sakit kembali." Evan kembali memegang perutnya dan terdengar rintihan dari mulutnya.


Rico menuruti perkataan bosnya itu. Jalanan tidak begitu ramai lagi membuat Rico bisa melajukan Mobil itu dengan kencang.


Evan turun dari Mobil dengan memegang dadanya. Jantungnya itu masih berdetak kencang. Dan perutnya juga kembali sakit.


"Tunggu disini, aku akan mengambil kursi roda untuk kamu."


Rico keluar dari mobil dan menutup pintu mobil dengan cepat. Dia bisa melihat jika Evan terlihat kesakitan dengan keringat yang kembali mengucur dari rumah sakit ini adalah dari pelipisnya.


"Tidak perlu Rico, aku masih bisa berjalan sendiri."


Evan dan Rico berjalan bersama menuju gedung rumah sakit. Rico sengaja berjalan dengan jarak yang dekat dengan sahabatnya itu. Dia takut jika sewaktu waktu sahabatnya itu terjatuh. Setelah dua pria tampan itu menginjak kaki di gedung rumah sakit. Evan bisa berdiri tegak tanpa rasa sakit di perutnya.


"Rico, daftarkan aku sebagai pasien penyakit jantung. Perutku sudah tidak sakit lagi."


"Baik tunggu disini." Evan duduk di bangku tunggu yang ada di sediakan pihak rumah sakit di lobby itu.


Ketika Evan mengangkat kepalanya hendak melihat ke arah mana Rico berjalan. Matanya tidak sengaja melihat dua orang yang dikenalnya. Hatinya diliputi banyak pertanyaan melihat dua orang yang dikenalnya berada di rumah sakit ini.


"Danny. Ibu Feli."


Ternyata Evan masih mengenali mantan mertuanya walau dari jarak yang jauh. Danny dan mama Feli sedang berjalan ke arah pintu utama sambil berbicara. Evan sangat yakin jika dua orang yang dikenalnya itu pasti akan melewati dirinya nanti.


Evan menundukkan kepalanya supaya Danny Dan mama Feli tidak mengenali dirinya tapi ekor matanya masih waspada melihat Danny dan mama Feli. Di pikirannya sudah banyak pertanyaan seiring dengan detak jantung yang semakin tidak beraturan berdetak. Evan sudah pasti berprasangka keberadaan Danny di tempat itu sangat berkaitan erat dengan Anggita. Evan masih jelas mengingat perkataan Indra papa tiri Anggita bahwa mama Feli dan Anggita melarikan diri karena dirinya. Itu artinya jika mama Feli berada di Kota ini maka Anggita juga pasti berada di Kota ini. Begitulah pemikiran Evan saat ini.


Evan tidak ingin lagi gagal untuk mengetahui keberadaan Anggita saat ini. Dalam keadaan jantung yang berdetak dengan kencang. Evan bisa berpikir jernih untuk mengelola hatinya supaya tidak terbawa amarah mengetahui Danny ternyata dekat dengan mama Feli seperti ini. Dia tidak ingin mengulang perdebatan yang sengit seperti perdebatan yang mengantarkan kakek Martin menghembuskan nafas terakhir.


"Danny, ibu Feli." Suara Evan terdengar serak. Ternyata detak jantung yang belum normal berdetak membuat Evan sedikit gugup.


Evan langsung berdiri setelah menyadari jarak dirinya dengan Danny dan mama Feli hanya tinggal sekitar tiga meter. Pria itu langsung menyebut nama dua orang itu.

__ADS_1


"Evan."


Jelas terlihat Danny sangat terkejut melihat siapa yang menyebut namanya. Otaknya berpikir cepat mencari alasan keberadaan Evan di rumah sakit ini. Sedangkan mama Feli langsung membuang pandangannya ke arah berlawanan dari Evan berdiri. Melihat Evan di tempat itu. Mama Feli langsung mengingat cerita Anggita bagaimana Evan memperlakukan Anggita sebagai istrinya. Terkejut, itu sudah pasti. Selain itu, Mama Feli juga merasakan ketakutan yang luar biasa dengan keberadaan Evan di tempat itu.


Evan adalah sosok yang berkuasa. Dia mempunyai perusahaan yang dia kelola sendiri yang sudah diperhitungkan di kalangan para pengusaha. Mama Feli sungguh merasa ketakutan jika Evan mengetahui jika Anggita tidak pernah keguguran. Dia takut, Evan akan menggunakan uang dan kekuasaannya untuk mengambil anak itu dari Anggita nantinya.


"Ibu Feli. Apa kabar?. Evan bersikap sopan menanyakan kabar mantan mertuanya. Pria itu mengulurkan tangannya. Setelah sekian lama. Dia baru bertemu dengan mama Feli untuk ketiga kalinya dengan status yang berbeda.. Pertemuan pertama ketika lamaran status masih calon menantu. Pertemuan kedua ketika menikah, statusnya menjadi menantu. Dan pertemuan ketiga, statusnya menjadi mantan menantu.


Evan menyadari dengan jelas hubungannya dengan mantan mertuanya tidak begitu baik. Bertemu seperti saat ini, Evan merasa tidak enak hati dengan sikapnya yang tidak mau tahu tentang mama Feli. Evan sadar jika dirinya bukan hanya suami yang buruk tapi juga menantu yang buruk.


"Kabar baik." Hanya itu jawaban mama Feli dan tidak menerima uluran tangan Evan. Mama Feli menunjukkan sikap tidak senang akan keberadaan Evan di tempat itu. Kemudian wanita itu menepuk lengan Danny supaya cepat berlalu dari hadapan mantan menantunya itu. Danny pun seketika berpura pura bodoh. Dia mengerti akan arti tepukan itu. Bagai orang yang tidak mengenal Evan. Danny memalingkan wajahnya.


"Sebentar Danny," kata Evan cepat ketika Danny hendak melangkahkan kakinya. Danny berhenti.


"Apa yang kamu lakukan di rumah sakit ini. Di kota ini?.


Pertanyaan Evan penuh selidik penuh penekanan kepada adiknya. Danny juga menghentikan langkahnya. Dia sudah tertangkap dengan mama Feli. Danny juga berpikir jika Evan pasti akan mencurigai dirinya mengetahui banyak tentang Anggita.


"Pemilik rumah sakit ini adalah relasi bisnisku. Kami baru saja membicarakan sesuatu," jawab Danny setelah terdiam sebentar. Otaknya berusaha keras untuk mencari jawaban yang masuk akal.


"Lalu, mengapa kamu bersama ibu Feli." Mama Feli terlihat tidak nyaman dengan pertanyaan itu dan Evan bisa melihatnya.


"Kebetulan kami tadi bertemu."


Danny berbohong. Tapi jauh di lubuk hatinya. Danny ingin Evan pintar sedikit. Danny sendiri ingin Evan dan Anggita bertemu tanpa dirinya melanggar janji kepada Anggita. Danny berharap, Evan berpikir kritis untuk mengartikan kebersamaannya dengan mama Feli saat ini.


"Jangan berbohong kamu Danny. Ibu Feli, aku minta maaf atas semua kesalahanku pada Anggita. Bu, Tolong beritahu aku dimana Anggita saat ini."


Evan berkata dengan wajah memelas. Setelah mengatakan itu, Evan menundukkan kepalanya. Jelas terlihat penyesalan di wajahnya.


"Jangan mencari yang sudah kamu buang Evan. Kalian sudah sah bercerai. Apapun yang terjadi dengan Anggita itu bukan lagi urusan kamu. Begitu sebaliknya. Lagi pula ketika dia masih istri kamu. Kamu tidak perduli tentang apapun yang berkaitan dengan Anggita. Mengapa kamu sekarang sok perduli kepadanya?.


"Maafkan aku ibu. Aku sudah menyadari kesalahanku. Berikan aku restumu untuk memperbaiki kesalahan aku." Evan semakin menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap wajah mantan mertuanya itu.


"Segampang itu kamu minta maaf. Setelah penderitaan yang kamu berikan kepada putriku?. Pergilah dari hadapanku. Jangan kamu berpikir jika Anggita berada di Kota ini."


"Bu, aku benar benar menyesal. Tolong beritahu aku dimana dia."


"Nak Danny. Aku bisa pulang sendiri. Kamu tidak perlu mengantar aku pulang," kata mama Feli tanpa menghiraukan permintaan maaf dari Evan.


"Tidak ibu. Aku akan tetap mengantar ibu." Danny bersikeras mengantarkan mama Feli. Danny bahkan menarik tangan mama Feli lembut supaya secepatnya meninggalkan tempat itu.


"Aku akan ikut bersama kalian," kata Evan cepat. Dia tidak menyadari jika Anggita ternyata di rumah sakit itu.


"Terserah," jawab mama Feli. Evan langsung mengambil ponselnya dari saku celananya. Dengan cepat dia menghubungi Rico.


"Bodoh kamu Evan. Ayo, pakai otak pintar kamu untuk berpikir. Anggita sudah melahirkan putrimu di rumah sakit ini,"kata Danny dalam hati. Andaikan tidak terikat janji kepada Anggita. Danny sudah pasti memberitahukan kelahiran bayi itu kepada Evan.


"Ada apa Evan?" tanya Rico yang baru saja tiba di lobby rumah sakit itu.


"Cepat, Mana kunci mobil. Danny ada di Kota ini. Di rumah sakit ini bersama ibu Feli. Kita harus mengikuti mereka."


"Siapa ibu Feli?. Rico menyerahkan kunci mobil itu kepada Evan.


"Ibu mertuaku." Evan terus mengikuti pergerakan langkah Danny dan mama Feli yang sudah berada di luar gedung rumah sakit.

__ADS_1


"Oh mantan ibu mertua."


Evan setengah berlari keluar dari rumah sakit. Dia tidak ingin kehilangan jejak mama Feli saat ini. Di belakangnya Rico juga setengah berlari mengejar langkah Evan.


"Evan, biar aku yang membawa mobil. Jantung mu masih bermasalah kan."


"Tidak lagi. Sudah sembuh," jawab Evan cepat sambil membuka pintu mobil. Detak jantungnya memang sudah berdetak normal.


"Evan, tunggu dulu. Danny di rumah sakit ini tadi kan?. Evan menganggukkan kepalanya cepat. Sebenarnya dia malas menjawab pertanyaan itu. Otaknya berpikir hanya mengikuti mama Feli dan Danny.


"Untuk apa Danny di rumah sakit ini. Siapa yang sakit?.


"Pemilik rumah sakit ini adalah relasi bisnisnya. Mereka bertemu tadi di sini. Jangan banyak tanya kamu. Kita harus fokus mengikuti mereka. Jangan sampai kehilangan jejak."


"Lalu kamu percaya?.


"Danny dan mantan ibu mertua kamu ke rumah sakit ini pasti karena ada yang sakit. Jika Danny bersama mantan ibu mertua kamu. Bisa saja Danny menemani ibu mertua kamu periksa kesehatan. Daripada kita main kejar kejaran dengan mobil Danny lebih baik Kita bertanya ke pihak rumah sakit alamat mantan ibu mertua kamu," kata Rico. Evan terdiam sebentar.


"Apa sebaiknya seperti itu?.


"Iya. Ayo, Kita turun. Kejar kejaran di jalan raya sangat membahayakan nyawa. Lebih baik Kita bermain cantik bro. Itulah gunanya otak pintar."


Evan menurut bagai orang bodoh. Mereka turun dari mobil itu dan langsung masuk ke dalam rumah sakit. Rico berinisiatif langsung bertanya ke bagian informasi tentang pasien yang bernama Feli.


"Evan, tidak Ada pasien yang bernama Feli," kata Rico setelah menerima informasi itu dari petugas.


"Ternyata saran kamu tidak berguna sama sekali. Menyesal aku ikut saran kamu. Kalau begini, aku bisa kehilangan jejak mereka. Katanya pakai otak pintar," jawab Evan kesal. Rico terdiam. Dia juga merasa bersalah karena memberikan saran yang ternyata tidak memudahkan mereka untuk mendapatkan alamat mama Feli.


"Coba tanya pasien atas nama Anggita," kata Evan setelah berpikir sebentar.


"Mbak, kalau pasien yang bernama Anggita. Ada?.


"Dia suaminya," kata Rico lagi. Petugas itu terlihat ragu. Evan maju dan menunjukkan foto pernikahannya dengan Anggita yang ada di dalam ponselnya. Foto pernikahan yang menjadi wallpaper ponsel tersebut.


Evan bergerak gelisah menunggu wanita itu bekerja.


"Ada Pak," kata wanita itu membuat Evan kembali merasakan jantungnya berdetak kencang. Evan seperti mendapatkan rejeki besar hanya mendengar informasi itu.


"Di kamar apa?" tanya Evan cepat.


"Di kamar mawar lantai tiga."


"Terima kasih."


Evan dan Rico bergerak cepat mencari lift. Mereka tidak sabaran untuk secepatnya menju kamar Anggita.


Setelah di lantai tiga. Evan dan Rico memperhatikan pintu demi pintu untuk mencari ruangan mawar. Hingga beberapa ruangan yang mereka lihat tidak ada yang bertuliskan ruangan mawar.


"Suster, ruangan mawar di Mana?" tanya Evan kepada salah satu perawat yang baru saja keluar dari ruangan salah satu pasien.


"Ruangan mawar di sebelah Sana Pak. Ruangan khusus untuk ibu dan anak." Evan dan Rico melihat ke arah Mana jari telunjuk suster itu menunjuk. Kemudian mereka berjalan cepat menuju ruangan itu.


"Apa ini ruangannya?" tanya Evan sedikit ragu. Di pintu ruangan itu ada gambar ibu yang menyusui. Sama seperti Evan. Rico juga terlihat ragu.


"Coba saja buka. Kali saja benar. Mungkin karena pasien banyak tidak ada ruangan sehingga Anggita ditempatkan di ruangan ibu menyusui seperti ini."

__ADS_1


Evan merasakan perasaannya tidak karuan. Pikirannya sudah kemana mana. Tapi dia mencoba membuka pintu itu dengan perlahan.


"Anggita," kata Evan pelan. Jantungnya hampir melompat dari tubuhnya karena melihat jika wanita yang berbaring di tempat tidur itu adalah Anggita. Dia melangkah masuk dan melihat Anggita masih tertidur.


__ADS_2