
Rendra menatap pergelangan tangannya berkali kali. Sesuai dengan perkataan Evan tadi pagi. Akan ada beberapa wanita yang datang ke ruangannya sepanjang hari ini. Jarum jam sudah menunjukkan angka tiga. Tapi wanita yang disebutkan Evan tidak ada yang datang ke ruangannya.
Rendra memang terkesan terburu buru untuk menemukan pasangan jiwa. Usia seakan mengejar dirinya untuk segera memulai hidup baru dengan seorang wanita yang akan berstatus istrinya kelak.
Rendra mendengus kesal ketika dia hendak komplain kepada Evan tapi panggilannya tidak di jawab. Rendra meletakkan ponselnya dengan kesal akibat janji palsu putranya itu. Rendra mengalihkan perhatiannya ke arah pintu yang sedang diketuk dari luar.
"Masuk," perintah Rendra. Pintu ruangan itu terbuka dan seorang wanita berpakaian khas kantor sedang berjalan mendekati meja kerja Rendra.
Rendra menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Dia mengamati penampilan wanita itu. Setelah wanita itu berdiri di depan meja kerjanya. Rendra ternyata mengenali wanita itu. Wanita itu adalah karyawannya sendiri yang bekerja di divisi keuangan sebagai wakil menager keuangan.
Rendra menggerakkan tangannya dengan lesu mempersilahkan wanita itu untuk duduk. Sebelum wanita mendekat ke meja kerjanya, Rendra sudah berpikir jika wanita itu adalah salah satu wanita yang disuruh Evan ternyata dugaannya salah. Rendra menatap wanita itu sekilas. Dalam hati dia merasakan kekesalan kepada Evan karena putranya itu setiap pintu ruangannya ada yang mengetuk, Rendra selalu berharap jika yang orang itu adalah wanita suruhan Evan. Satu hari ini entah sudah berapa kali Rendra menelan kekecewaan.
"Saya hanya mengantarkan berkas ini pak. Ini laporan yang bapak minta tadi pagi. Pak manager tidak bisa memberikan langsung kepada bapak karena beliau ada urusan keluarga yang sedang mendesak," kata wanita itu sambil meletakkan berkas yang dia maksud di hadapan Rendra.
"Says tidak mendengar apa yang kamu katakan. Buka masker kamu," kata Rendra dingin. Wanita itu terdiam. Bukannya melepaskan maskernya, dia justru memperbaiki letak masker itu.
"Apa kamu tidak mendengar?" tanya Rendra. Wanita itu terlihat salah tingkah tapi juga belum melepaskan maskernya.
"Maaf pak, Saya sedang batuk pilek. Jika saya melepaskan masker ini. Saya takut bapak tertular," jawab wanita itu. Dia menundukkan kepalanya takut jika jawabannya itu membuat Rendra marah.
"Buka, kalau hanya batuk pilek itu tidak masalah. Obatnya sudah banyak dijual di pasaran."
Wanita itu perlahan membuka maskernya. Setelah masker itu sudah tidak menutup mulutnya. Dia semakin menundukkan kepalanya.
"Ulangi apa yang kamu katakan tadi," perintah Rendra. Wanita itu semakin menundukkan kepalanya.
"Saya hanya mengantarkan berkas ini pak. Ini laporan yang bapak minta tadi pagi. Pak manager tidak bisa memberikan langsung kepada bapak karena beliau ada urusan keluarga yang sedang mendesak," kata wanita itu mengulangi perkataan tadi. Tapi seakan senang mengerjai wanita itu. Rendra tersenyum melihat tingkah wanita tersebut.
"Angkat kepala kamu jika berbicara. Ulangi," perintah Rendra. Wanita itu terlihat mengangkat kepalanya tapi tidak menatap Rendra. Dia juga mengulangi perkataannya tadi.
"Urusan keluarga mendesak apa membuat si manager itu tidak bisa hanya mengantarkan berkas ini kepadaku?" tanya Rendra. Dia menatap wanita yang sangat berpakaian sopan itu. Dia melihat ada luka kecil di sudut bibirnya membuat Rendra sangat yakin jika hal itulah alasan wanita itu memakai masker. Rendra tidak ingin menanyakan tentang luka itu karena Rendra tidak ingin mencampuri urusan orang lain.
"Istri dari pak manager tadi menghubungi beliau pak. Istrinya harus masuk rumah sakit hari ini karena akan melahirkan anak ketiga mereka," jawab wanita itu. Dia semakin nyaman walau masker tidak dipakai lagi.
Rendra menganggukkan kepalanya pertanda mengerti. Satu minggu yang, manager keuangan sudah minta ijin kepadanya secara langsung untuk minta ijin tiga hari karena istrinya akan melahirkan dalam minggu ini. Rendra melupakan itu karena terlalu sibuk dengan persiapan pernikahan yang akhirnya untuk pernikahan Evan dan Anggita.
"Iya. Saya sudah ingat. Tiga hari ini, si manager akan cuti. Aku harap kamu bisa menghandle semua pekerjaan tentang keuangan selama tiga hari ini ya. Jika ada kendala. Kamu bisa bertanya langsung kepada Saya."
"Baik pak," jawab wanita itu singkat. Sikapnya sangat sopan dan tidak pernah mantap wajah pimpinannya.
"Kamu boleh kembali ke ruangan kamu."
Wanita itu pamit keluar. Wanita itu bahkan membungkukkan tubuhnya sopan ketika hendak berlalu dari ruangan itu.
Rendra kembali menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Dia memejamkan matanya. Mengingat istri dari managernya akan melahirkan. Timbul kerinduan di hatinya untuk merasakan moment seperti itu.
Beberapa menit kemudian. Pintu ruangannya kembali diketuk dari luar. Sama seperti sebelumnya. Rendra berharap jika seseorang yang berada di luar pintu itu adalah wanita yang dimaksudkan oleh Evan.
Rendra kembali menelan kekecewaan ketika orang yang kini berjalan mendekati dirinya adalah karyawannya sendiri. Kali ini adalah manager pemasaran.
"Selamat siang pak," sapa wanita itu dengan tersenyum manis. Penampilannya jauh mempesona dibandingkan si wakil manager keuangan. Tubuhnya yang tinggi dibalut pakaian yanb serba di tubuhnya.
"Selamat siang. Duduk!" perintah Rendra lesu. Wanita duduk dengan gaya yang sangat anggun.
"Ada masalah?" tanya Rendra.
"Tidak pak. Ini bukan masalah. Target penjualan sampai hari ini sangat aman dan sudah tercapai target satu bulan. Bulan ini. Bisa Saya pastikan penjualan produk Kita akan naik lima persen dari penjualan bulan lalu," kata wanita itu dengan bangga.
"Bagus. Pertahankan pencapaian ini," puji Rendra senang.
"Baik Pak. Saya akan memotivasi team untuk lebih semangat lagi pak." Rendra mengangguk senang dan menatap wanita cantik itu dengan kagum.
"Saya akan mengapresiasi para karyawan yang berprestasi. Jadi tetap lah berbuat yang terbaik untuk perusahaan ini. Apa kedatangan kamu ke ruangan saya hanya mengatakan hal ini?" tanya Rendra.
"Bukan Pak. Tujuan kedatangan saya untuk membicarakan masalah gaji team pemasaran terutama yang di lapangan. Saya rasa mereka juga berhak mendapatkan apresiasi atas target yang terus tercapai dalam satu tahun ini."
"Seharusnya kamu membicarakan hal itu dengan manager keuangan."
"Saya tahu pak. Tapi dari informasi yang saya dapat. Beliau akan cuti tiga Hari ini. Team pemasaran harus mendapatkan kepastian akan gaji mereka pak."
"Jadi inti dari kedatangan kamu apa?"
"Saya ingin mengusulkan jika team lapangan yang mencapai target bulanan diberikan gaji pokok Pak," kata wanita itu. Dia menjelaskan sedetail mungkin atas usulannya itu. Rendra terlihat berpikir sejenak.
"Saya mohon Pak. Saya pernah mengalami seperti mereka di lapangan pak. Saya rasa mereka berhak mendapatkan gaji pokok bukab hanya insentif semata," kata wanita itu lagi. Rendra menatap kagum akan wanita itu yang memikirkan kesejahteraan teamnya.
"Baiklah, Saya setuju. Tapi untuk berapa besar yang menjadi gaji pokok team lapangan. Kita akan mengadakan rapat untuk itu."
"Terima kasih pak. Saya sangat yakin team Saya akan pasti lebih lagi," kata wanita itu senang. Dia berdiri dengan cara yang anggun kemudian pamit kepada Rendra.
Rendra menatap punggung wanita itu hingga wanita itu membuka pintu. Ketika hendak menutup pintu. Rendra bisa melihat wanita itu tersenyum kepadanya.
__ADS_1
Tidak ingin kecewa lagi. Kini Rendra tidak mengharapkan wanita yang dimaksudkan Evan untuk datang ke ruangannya. Rendra juga tidak berniat menghubungi Evan untuk menagih janji putranya itu. Rendra membuka laptopnya dan kini sudah fokus memandangi layar laptop tersebut. Ketika dirinya benar benar fokus terbersit di pikiran untuk menjenguk istri si manager keuangan yang mungkin sudah melahirkan di rumak sakit.
Konsentrasi Rendra seketika buyar dengan pintu yang terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu.
"Sibuk pa?" tanya Evan yang tersenyum lebar mendekati meja sang papa.
"Hmmm."
Rendra menunjukkan kekesalan akan putranya itu. Seperti tidak menginginkan Evan berada di ruangannya. Pria itu kembali fokus menatap layar laptop.
Evan bersikap seenaknya di ruangan papanya itu. Pria itu berjalan mendekati lemari pendingin dan mengambil beberapa botol minuman dari lemari pendingin tersebut. Dia duduk di sofa dengan kaki yang terangkat dan bertumpu ke meja. Menikmati minuman dingin itu tanpa merasa bersalah. Lewat ekor matanya. Rendra melihat kelakuan putranya itu.
"Mana wanita wanita yang kamu janjikan itu?" tanya Rendra kesal. Evan seketika menjauhkan botol minuman dari bibirnya kemudian menekan minuman itu. Evan tertawa terbahak bahak menyadari kekesalan papanya.
"Dasar manusia bermulut besar," umpat Rendra. Evan tidak berhenti tertawa.
"Ternyata papa tidak sabaran juga rupanya," jawab Evan mengejek papanya. Rendra semakin menatap papanya kesal.
"Sini pa. Duduk sini," ajak Evan sambil menepuk sofa di sebelahnya. Rendra tidak perduli dan tidak mengalihkan matanya dari layar laptop.
Menyadari kekesalan papanya. Evan bangkit dari duduknya. Dia mendekati meja kerja papanya. Kemudian menjauhkan tangan Rendra dari keyboard laptop dan akhirnya menutup laptop tersebut.
"Lebih enak duduk di sini membicarakan Masa depan papa terbaikku," kata Evan sambil membantu papanya untuk duduk di sofa itu. Setelah Rendra duduk, Evan memberikan satu botol minuman dingin kepada papanya itu.
"Tinggal teguk saja," kata Evan. Dia sudah membuka tutup botol minuman itu.
"Bagaimana pa?. Apa tidak ada yang cocok dengan wanita wanita yang aku utus ke ruangan papa?" tanya Evan membuat Rendra semakin kesal.
"Jangan bercanda dengan papa Evan. Tidak lucu, tahu nggak?"
"Bercanda?. Aku tidak bercanda pa. Aku serius," jawab Evan.
"Maksud kamu?" tanya Rendra bingung. Otaknya langsung mengulang kejadian kejadian yang dialami sejak tadi pagi. Dari tadi pagi hingga beberapa menit yang lalu. Dirinya sangat sibuk menerima kedatangan para karyawannya yang membahas pekerjaan secara langsung kepada dirinya. Harusnya tidak seperti itu.
"Aku mengutus para karyawan papa yang berstatus lajang. Ada yang janda dan ada yang belum menikah sama sekali. Sekarang papa hanya menjiwai mereka tanpa mengikat dalam satu hubungan. Papa bisa menilai mereka Mana yang baik, tulus atau tidak. Jika sudah ada yang cocok. Segera bungkus pa. Bawa ke pelaminan," kata Evan membuat Rendra menatap wajah putranya itu dengan tatapan yang tidak bisa ditebak.
"Atau jangan jangan sebenarnya papa sudah mulai terpesona dengan salah satu kecantikan wanita wanita tadi."
Rendra tersenyum kikuk mendengar perkataan Evan. Dia sendiri tidak mengetahui status semua para wanita yang sudah masuk ke ruangannya sepanjang hari ini.
"Pilih yang mana?. Gadis atau janda?" tanya Evan lagi menggoda papanya itu.
"Kita lihat saja nanti," kata Rendra dengan tersenyum. Evan menatap papanya. Evan semakin sadar jika keinginan papanya untuk memiliki pasangan hidup bukan hanya karena ingin memiliki anak. Evan bisa melihat jika papanya itu sedang di tahap puber entah puber yang keberapa.
Benar saja, setelah Evan pergi. Rendra kini sudah berkeliling dari ruangan demi ruangan. Dia singgah di setiap ruangan wanita karyawannya yang Rendra yakini kedatangan mereka karena suruhan Evan.
Rendra mendapatkan senyuman manis ketika dirinya singgah di ruangan divisi pemasaran. Wanita yang menjadi pimpinan di ruangan itu menyambut Rendra dengan hangat. Wanita menawarkan minuman tapi ditolak halus oleh Rendra karena baru saja minum minuman dingin. Rendra menatap wanita itu. Mencari ketulusan di setiap perkataannya.
Kemudian Rendra berkeliling menuju ruangan lain. Sama seperti di ruangan divisi pemasaran, dirinya juga disambut hangat oleh karyawan divisi produksi.
Rendra melanjutkan acara berkeliling itu. Ketika dirinya sudah di divisi keuangan. Wanita yang menjadi penanggung jawab di ruangan itu tidak terlihat.
"Mana Anna?" tanya Rendra.
"Tadi masih di sini pak. Mungkin ke kamar mandi," jawab salah satu karyawan. Baru saja dirinya ditanya. Anna sudah muncul di depan pintu.
"Pak," kata wanita itu. Kemudian dengan membungkukkan tubuhnya sebentar. Wanita itu langsung menuju mejanya. Tanpa basa basi atau melemparkan senyum manis karena wanita itu masih memakai masker. Anna langsung fokus dengan pekerjaannya.
Rendra keluar dari ruangan itu. Menyapa semua karyawannya sebelum masuk ke dalam ruangan kembali.
"Pak, ada hal yang ingin saya sampaikan pak," kata Salsa sang sekretaris ketika Rendra sudah bersiap membuka pintu. Wanita ini termasuk wanita suruhan Evan juga. Rendra menggerakkan kepalanya untuk menyuruh wanita untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Pak, jadwal bapak ke luar kota sepertinya harus dimajukan dua Hari dari tanggal yang ditentukan pak," kata salsa setelah mereka duduk berhadapan di sofa dengan meja sebagai penghalang. Salsa mendorong selembar kertas berisi jadwal meeting dan jadwal ke luar kota yang harus dilakukan oleh Rendra minggu ini dan bulan depan.
"Jadwal ke luar Kota yang mana yang kamu maksudkan," tanya Rendra. Untuk bulan depan. Dia mempunyai jadwal keluar Kota selama dua kali.
"Ini pak," tunjuk Salsa. Dadanya membusung ke depan sehingga belahan gunung kembar itu terlihat. Tapi sayang, Rendra tidak melihat itu karena matanya fokus ke jari Salsa yang menunjukkan tanggal yang dia tanyakan.
"Yang Mana?" tanya Rendra. Jari telunjuk salsa menunjuk jadwal minggu ini yang jelas tidak ada perjalanan ke luar kota.
Salsa berdiri. Dia berjalan gemulai dengan rok yang di atas lutut. Kini wanita itu sudah duduk di sebelah Rendra.
"Yang ini Pak," kata wanita itu pelan. Dia sudah menunjuk tanggal dengan benar. Tubuhnya yang menyamping membuat hembusan nafasnya tercium oleh Rendra.
"Ya sudah kalau tidak berbenturan dengan jadwal lain. Majukan saja dan konfirmasi ke klien Kita."
"Baik Pak. Akan konfirmasi secepatnya."
Salsa berbicara dengan lembut. Dia menarik selembar kertas itu dan sengaja membuat lengannya bersentuhan dengan lengan Rendra.
"Aduh maaf Pak," kata Salsa. Kertas itu terjatuh ke lantai dekat kaki Rendra. Salsa membungkukkan tubuhnya untuk mengambil kertas tersebut. Tangannya sudah mendapatkan kertas kemudian dengan sengaja Salsa meletakkan tangannya di paha Rendra. Wanita itu berpura pura jika tangannya itu bukan unsur kesengajaan.
__ADS_1
Rendra tersenyum menatap wanita berusia dua puluh lima itu. Senyum itu seakan mengijinkan Salsa untuk berbuat lebih jauh lagi. Dan benar saja, Salsa semakin menggerakkan tangannya mengelus paha sang bos.
"Pak," kata Salsa membusung dadanya dan sedikit mendongak menatap Rendra. Salsa jelas memancing Rendra untuk mendaratkan ciuman di bibirnya. Tangannya juga sudah semakin berani.
"Salsa, ini bukan waktu dan tempat yang tepat untuk berbuat hal seperti itu. Kembali ke meja kamu," kata Rendra. Salsa spontan menghentikan tangannya. Rendra juga bergeser sehingga ada jarak di antara mereka.
"Baik pak. Jika tempat ini bukan tempat yang tepat. Aku siap jika bapak membawa aku ke tempat yang tepat sesuai dengan keinginan bapak," kata Salsa dengan mengedipkan sebelah matanya. Bagi Salsa tidak Ada salahnya menggoda sang bos yang berstatus sebagai duda.
"Tidak akan. Wanita seperti kamu tidak akan cocok sebagai wanitaku sekalipun hanya sebagai pelampiasan," kata Rendra dalam hati. Dia tidak menyukai wanita agresif seperti Salsa. Dia bangkit dari sofa supaya Salsa secepatnya pergi dari ruangannya itu.
Sore hari di saat jam pulang. Rendra juga bersiap pulang. Sore ini dia berencana langsung ke rumah sakit menjenguk istri dari manager keuangannya.
Rendra terlebih dahulu singgah ke ruangan divisi keuangan untuk bertanya di rumah sakit mana istri manager keuangan melahirkan.
"Apa salah satu dari kalian mengetahui di rumah sakit mana istri manager melahirkan?" tanya Rendra kepada salah satu karyawan yang bersiap hendak pulang.
"Maaf Pak, saya tidak mengetahui. Mungkin ibu Anna yang mengetahui."
"Mana Anna?"
"Dia baru saja keluar pak. Mungkin masih di parkiran."
Rendra berjalan cepat menuju parkiran. Benar saja wanita yang bernama Anna itu masih berada di parkiran. Tapi dia tidak sendiri. Anna terlihat berdebat dengan seseorang.
Rendra menghampiri dua orang itu. Dia butuh informasi tentang rumah sakit itu. Tapi ketika langkahnya semakin dekat dia mendengar sesuatu yang menandakan jika Anna tidak dalam keadaan baik.
"Cepat Naik ke Mobil ku, Anna. Jangan membuat aku marah."
"Aku tidak mau mas. Aku bisa pulang sendiri. Lagipula untuk apa kamu menjemput aku. Kita tidak ada hubungan lagi. Kita sudah resmi berpisah."
"Sampai kapanpun aku tidak menceraikan kamu. Ayo, pulang ke rumah kita. Aku masih mencintai kamu seperti dulu.
"Cinta kamu bilang?, kalau cinta kamu tidak membohongi aku bertahun tahun. Kamu mempunyai istri dan anak selama ini tanpa sepengetahuan aku. Itu yang kamu bilang dengan cinta. Dan lihat bibir ini. Apa orang yang mencintai bisa melukai sampai seperti ini."
"Maaf aku khilaf. Tapi kamu jelas mengetahui. Aku butuh penerus dan kamu tidak bisa memberikan anak kepadaku."
"Sudah mas. Pergilah. Berbahagialah dengan keluarga baru kamu. Sampai kapanpun aku tidak bersedia dimadu."
Rendra mendengar pembicaraan mantan suami istri itu. Dia ingin mundur dan tidak ingin mencampuri urusan mereka tapi ketika dia melihat si mantan suami menarik paksa Anna. Rendra tidak bisa diam.
"Lepaskan," bentak Rendra. Anna berbalik menatap Rendra. Si mantan suaminya juga menatap Rendra.
"Siapa kamu. Jangan ikut campur urusan kami."
"Tidak Ada niat untuk mencampuri urusan kalian. Tapi aku ada kepentingam dengan Anna."
Anna memisahkan diri dari mantan suaminya. Mengambil jarak aman karena takut pria itu berbuat kasar.
"Di rumah sakit mana istri manager melahirkan?" tanya Rendra tanpa perduli masalah mantan suami istri itu sebelumnya. Anna menyebutkan nama rumah sakit itu dengan suara yang bergetar.
"Terima kasih," jawab Rendra singkat. Dia berbalik hendak meninggalkan mantan suami istri itu.
"Pak, boleh saya ikut. Kebetulan ada berkas yang harus secepatnya ditandatangani oleh pak Manager."
Rendra berhenti dan berbalik menatap Anna kemudian menatap mantan suaminya yang terlihat sangat kesal.
"Silahkan. Tapi pamit dulu kepada pria itu."
"Mas, aku mau ke rumah sakit. Tolong, jangan ganggu aku lagi," kata Anna pelan. Pria itu terlihat meninju pintu mobilnya sedangkan Anna berjalan cepat mensejajarkan langkahnya dengan Rendra.
"Duduk di belakang saja," kata Rendra melihat Anna yang terlihat bingung hendak duduk dimana. Supir pribadi sudah siap sedia mengantarkan Rendra kemana saja pria itu inginkan.
"Anna berapa umur kamu?" tanya Rendra setelah mereka duduk tenang di bangku belakang.
"Tiga puluh dua Pak," jawab Anna pelan. Rendra mengangguk kepalanya dan kemudian terdiam.
"Pak, Saya turun di depan saja," kata Anna setelah beberapa saat mereka terdiam. Dia minta ikut kepada Rendra hanya untuk terhindar dari mantan suaminya.
" Siapa kamu sehingga sesuka hati minta ikut dengan aku kemudian minta turun seenak hati. Kita ke rumah sakit sama sama," jawab Rendra dingin. Anna menelan ludahnya kasar menyadari kelancangannya minta ikut dengan sang pimpinan perusahaan.
Rendra tersenyum dalam hati. Lewat ekor matanya. Rendra bisa melihat perubahan wajah Anna.
"Evan, sepertinya wanita ini yang cocok menjadi ibu tirimu," kata Rendra dalam hati. Dia menoleh kepada wanita yang duduk di sebelahnya.
Rendra tersenyum menyadari wanita itu duduk merapat dengan pintu mobil. Wanita itu benar benar menjaga jarak dari Rendra.
"Turun."
"Iya Pak," jawab Anna sambil menganggukkan kepalanya ketika Rendra mempersilahkan dirinya untuk turun. Mereka sudah tiba di parkiran rumah sakit.
Tidak sulit bagi mereka menemukan kamar istri dari manager itu.
__ADS_1
"Terima kasih atas kunjungannya pak, bu Anna," kata manager itu sangat sopan dan juga merasa tersanjung.
"Selamat ya," kata Rendra. Pria itu menatap istri dari manager yang sedang memegang bayi itu. Rendra dapat melihat kebahagiaan suami istri akan kelahiran putra ketiga mereka. Rendra terdiam. Dia juga ingin merasakan seperti kebahagiaan karyawannya itu. Sama seperti Rendra. Anna juga melihat istri dari rekan kerjanya itu dengan penuh kerinduan akan menggendong bayi sendiri. Dia membayangkan dirinya yang duduk di bed itu dengan seorang bayi di tangannya.