
Dokter Angga dan Bronson tertawa bahagia. Rencana mereka berjalan mulus. Anggita berhasil masuk perangkap mereka. Dari ruang tamu. Dua pria itu bisa melihat Anggita sudah tertidur pulas di ranjang di kamar itu. Hujan yang masih turun mendukung rencana mereka untuk melancarkan rencana tersebut. Bronson dan Dokter Angga sudah membuat rencana yang hampir berhasil. Anggita harus menikah dengan Dokter Angga dalam minggu ini bagaimana pun caranya.
Dua pria itu tidak sadar jika tidak Ada yang sempurna di dunia ini termasuk kejahatan. Mereka sudah merencanakan hal hal licik tapi mereka tidak mengetahui apa yang ada di hati Anggita saat ini.
Wanita itu hanya tertipu kebaikan palsu dan rayuan maut. Bukan berarti tidak bisa melihat kejanggalan kejanggalan setelah berada di rumah ini. Awalnya dia ingin menunggu hujan reda bersama Dokter Angga di ruang tamu. Tapi saat ini Anggita merasa jika menuruti kemauan dokter Angga untuk beristirahat di kamar membuat Anggita merasa bebas mengingat kilas balik semua yang dilakukan oleh dokter Angga kepadanya.
Anggita menyadari jika dokter Angga tidak pernah menyatakan cinta kepadanya. Dokter Angga hanya mengajak dirinya berjalan bersama menyongsong masa depan. Anggita semakin mengingat perbuatan Dokter Angga yang hanya perhatian kepada Cahaya baik baik sewaktu di dalam kandungan atau setelah lahir. Hingga rela memandikan putrinya itu.
Keanehan yang dirasakan Anggita bukan hanya tentang foto dokter Angga yang tidak ada di salah satu bingkai foto yang tergantung di tembok ruang tamu. Keanehan itu bisa dirasakan oleh Anggita juga lewat jus jeruk yang diantarkan oleh dokter Angga untuk dirinya. Sebagai pengusaha kafe yang sudah biasa membuat jus jeruk dan bahkan penikmat jus jeruk. Anggita tidak begitu selera melihat jus jeruk tersebut. Warna orange dari jeruk tersebut kurang sempurna di matanya. Mengingat kejanggalan yang dia lihat. Otaknya seakan meminta Anggita untuk lebih waspada. Apalagi melihat kamera cctv yang ada di kamar itu. Anggita merasa gerak geriknya diawasi.
Kini wanita itu berada di balik selimut pura pura tidur. Dalam hati, Anggita meminta petunjuk kepada Yang Maha Kuasa. Dia berharap secepatnya hal aneh yang dirasakannya saat ini secepatnya terjawab.
Anggita terus berpikir dan berpikir. Selain itu dia berharap hujan secepatnya reda. Tapi harapannya tinggal harapan. Kini wanita itu tertidur nyaman di bawah gulungan selimut yang lembut itu.
Dua jam kemudian Anggita terbangun. Tidak ada yang di pikirannya selain cepat keluar dari rumah itu untuk menjemput Cahaya. Dia keluar dari kamar itu tanpa merapikan rambutnya. Kamar tamu itu yang berada paling ujung membuat Anggita tidak langsung bisa cepat menuju ruang tamu. Langkahnya terhenti ketika secara samar mendengar suara dari ruang tamu yang menyebut nama mantan suaminya Evan. Merasa penasaran. Anggita berjalan perlahan dan bersembunyi di balik tembok mendengar pembicaraan yang dia duga adalah Bronson dan Dokter Angga.
"Jika rencana A tidak berhasil kamu harus menjalankan rencana B. Pastikan kalian berdua tetap bersama jika rencana A gagal. Bagaimanapun caranya. Kamu harus menikah dengan wanita itu paling lama hari Sabtu."
Anggita semakin menajamkan pendengarannya. Dari perkataan Bronson itu Anggita sudah menduga jika orang yang dikatakan oleh Bronson adalah dirinya dan dokter Angga.
"Ya pak. Aku sangat yakin jika rencana A pasti berhasil. Aku sudah menjalankan sandiwara seperti yang bapak perintahkan. Dan kini terbukti jika dia juga sudah jatuh hati kepadaku,"
Bronson tertawa terbahak bahak. Dia merasa senang karena rencananya akan berhasil sebentar lagi.
"Aku ingin melihat wajah sedih anak muda itu nantinya. Dia pasti sangat hancur. Wanita yang diharapkan dan sangat dicintainya. Bersanding dengan putra dari saingan bisnisnya. Evan, aku akan tertawa melihat kehancuran kamu. Tunggu, waktunya tidak akan lama lagi."
"Benar pak. Sebenarnya aku sendiri bisa melihat mantan suami Anggita sudah menyesal. Tapi penyesalannya kalah dengan perhatian dari aku untuk wanita itu dan putrinya."
"Kamu memang hebat nak. Tidak sia sia aku merawat kamu."
Dokter Angga tersenyum senang mendengar pujian Bronson.
Anggita menutup mulutnya supaya tidak bersuara. Kakinya bergetar mendengar pembicaraan demi pembicaraan dua pria itu. Kini dia paham jika kebaikan Dokter Angga hanyalah sebuah sandiwara. Saat itu juga Anggita mengutuk Dokter Angga dalam hati. Dia merapatkan giginya karena menahan marah atas tipuan pria itu.
"Kalau tujuan bapak sudah tercapai. Bagaimana dengan diriku nantinya. Tidak mungkin aku meneruskan pernikahan itu. Aku tidak mencintai wanita itu adalah harus menerima putrinya."
__ADS_1
"Tentu saja kita membuang wanita itu dan putrinya. Lebih tepatnya Kita kembalikan ke pemilik aslinya setelah kamu puas menikmati tubuhnya nanti."
"Aku jadi tidak sabar menunggu waktu itu tiba pak. Walau sudah pernah melahirkan, tubuhnya masih menggiurkan."
"Tahan selera kamu nak. Wanita itu hanya alat untuk menghancurkan mantan suaminya."
Anggita merasakan hatinya lebih hancur saat ini dibandingkan perbuatan perbuatan Evan di Masa lalu. Ternyata disakiti oleh orang yang berpura pura baik lebih sadis dibandingkan disakiti oleh orang yang membenci dirinya. Anggita lebih memilih disakiti oleh orang yang jelas menunjukkan kebencian kepada dirinya daripada orang yang memberikan kesan manis tapi menikamnya dengan sadis.
Anggita memundurkan langkahnya menuju kamar kembali. Kakinya bergetar karena ketakutan. Tidak ada air Mata yang keluar dari matanya. Yang ada hanya wajah pucat dengan tubuh yang bergetar. Di tengah kenyataan yang dia ketahui. Anggita masih bisa berpikir jernih. Keadaan dirinya saat ini sungguh memprihatinkan. Dan dia tidak ingin dua pria jahat itu mengetahui jika dirinya sudah menguping pembicaraannya.
Anggita sengaja berdiri di bawah kamera cctv yang diletakkan berada di atas pintu kamar itu. Anggita melangkah menuju ranjang setelah berhasil mengusai rasa marah, kecewa dan takut yang bercampur di pikirannya. Dia tidak ingin cctv itu merekam ketakutannya.
Anggita melupakan sakit hatinya sesaat. Dia fokus mencari jalan keluar supaya bisa kabur dari rumah itu. Dari depan rumah rasanya tidak mungkin. Tembok yang mengelilingi rumah itu sangat tinggi dan ada gulungan kawat duri di atasnya.
Anggita terus berpikir supaya bisa kabur dari rumah itu. Rencana A dan rencana B yang disebutkan oleh Bronson membuat Anggita sadar jika dirinya terancam dan tidak ada pilihan lain. Anggita merasakan ketakutan yang luar biasa. Dia takut jika Bronson dan Dokter Angga akan mengurung dirinya di rumah ini dan bahkan melakukan hal yang lebih sadis.
Anggita baru saja menemukan ide untuk kabur dari rumah itu. Dia ingin mencari jalan kabur dari belakang rumah tapi pintu kamar itu seketika terbuka. Dokter Angga berdiri di pintu itu dengan senyuman yang sangat manis.
"Bisa tidur tadi?" tanya dokter itu. Anggita hanya tersenyum dan mengangguk. Dia pura pura merapikan selimut supaya Dokter Angga tidak bisa melihat wajahnya yang masih ketakutan.
"Hujan sudah reda. Kita sebaiknya menjemput Cahaya sekarang."
"Aku rasa juga seperti itu Dokter," jawab Anggita pelan. Dia berusaha supaya suaranya tidak bergetar karena ketakutan.
"Anggita, aku mohon. Kali ini saja. Tolong kabulkan harapan papaku. Aku bersedia melakukan apapun untuk kamu asalkan permintaan Papaku terkabul. Aku ingin kita menikah secepatnya demi menyenangkan hati papaku."
Anggita kembali melihat sandiwara sempurna Dokter Angga. Andaikan dirinya tidak berada di rumah ini. Anggita pasti meludah tepat di wajah pria itu. Tapi Anggita menahan diri.
"Baik dokter. Aku bersedia menikah dengan kamu dalam minggu ini. Tapi bisakah pestanya tidak terlalu mewah."
"Tidak bisa Anggita. Aku akan membuat pesta pernikahan yang sangat berkesan dan untuk istriku. Kamu tenang saja. Persiapannya papa yang atur."
"Terserah kamu saja dokter. Sebenarnya mendapatkan pria baik seperti kamu jauh lebih beruntung daripada membuat pesta pernikahan yang mewah."
Anggita mengikuti sandiwara yang dimainkan oleh dokter Angga. Anggita bahkan tersenyum manis supaya dokter Angga percaya akan sandiwaranya.
__ADS_1
"Ayo Kita sampaikan kabar bahagia ini kepada papa."
Anggita mengikuti langkah dokter Angga. Dia menatap benci punggung pria itu.
"Pa, Anggita setuju menikah dengan aku secepatnya," kata dokter Angga setelah menginjakkan kaki di ruang tamu tersebut. Pria itu belum duduk di sofa. Caranya memberitahukan informasi itu seolah olah dirinya sangat bahagia akan keputusan Anggita yang bersedia menikah secepatnya.
"Benarkah itu Anggita?" tanya Bronson dengan Mata berbinar. Di hatinya sudah bersorak gembira karena tujuannya akan tercapai.
Anggita menganggukkan kepalanya. Kemudian menundukkan kepalanya. Anggita sengaja bertingkah malu malu supaya sandiwaranya juga terlihat sempurna.
"Terima kasih nak. Aku akan mempersiapkan pesta romantis untuk kalian. Kamu minta mahar apa. Rumah, mobil atau perhiasan?" tanya Bronson senang. Dia berpikir jika Anggita akan bersorak bahagia akan tawaran itu.
"Sama sama pak. Tapi sebelum pernikahan itu digelar. Aku dan dokter Angga harus meminta restu terlebih dahulu kepada mama aku. Bapak tidak perlu khawatir. Mama aku sudah mengenal Dokter Angga. Mama pasti setuju dengan Dokter Angga. Mama bisa melihat bagaimana Dokter Angga sangat baik kepada Kami bertiga. Dia selalu ada buat kami bertiga. Aku bersyukur karena dokter Angga mencintai dan bersedia menerima aku dan putriku. Terima kasih dokter, terima kasih pak."
Anggita bisa menarik nafas lega. Kata kata itu membuat Bronson tersenyum. Ketika Anggita pamit untuk menjemput Cahaya. Bronson mempersilahkan dokter Angga dan Anggita tanpa curiga sedikitpun akan sandiwara yang dimainkan Anggita.
Kini Anggita dan Dokter Angga sudah berada di dalam Mobil. Hari sudah gelap ketika mereka keluar dari rumah Branson. Tujuan mereka tentu saja rumah Gunawan untuk menjemput Cahaya dan meminta restu dari mama Feli akan pernikahan tersebut.
Anggita merasa perjalanan itu sangat lama. Dia menyembunyikan kegelisahan hatinya yang ingin cepat cepat terlepas dari dokter Angga.
"Oh my God," kata Anggita dalam hati. Kini mereka berada di lampu merah. Ini kedua kalinya mereka harus berada di lampu merah setelah keluar dari rumah Bronson. Anggita merasa semakin gelisah ditambah dengan detak jantungnya yang tidak beraturan karena takut. Anggita terus memikirkan bagaimana caranya dirinya lepas dari dokter Angga. Dia juga sudah menduga jika hilangnya ponsel miliknya karena ulah dokter Angga.
Entah karena apa. Anggita tiba tiba tersentak mendengar dering ponsel dokter Angga. Dokter Angga sampai mengerutkan keningnya melihat Anggita karena dokter Angga jelas melihat Anggita tersentak.
"Ada apa?" tanya dokter Angga sambil mengambil ponselnya dari saku celana.
"Ti..tidak ada Dokter. Aku tersentak karena melamun membayangkan Cahaya. Aku sangat merindukan putriku," jawab Anggita beralasan.
Anggita menjawab dengan gugup. Tangannya kirinya meraba pintu mobil itu yang tidak terkunci. Dia ingin kabur saat ini juga tapi tangan dokter Angga menggenggam tangannya setiap Kali berhenti di lampu merah atau saat jalanan macet. Perlakuan Dokter Angga benar benar sempurna. Dokter Angga memainkan sandiwaranya dan hal itu membuat Anggita kurang fokus.
"Putar balik Angga. Wanita itu mendengar semua pembicaraan Kita. Ini baru saja aku memeriksa rekaman cctv."
Anggita jelas mendengar perkataan Bronson yang panik lewat telepon itu. Dokter Angga terlihat terkejut dan Langsung menoleh kepada Anggita. Tanpa pikir panjang. Anggita membuka pintu mobil. Walau tidak bisa terbuka sempurna karena terhalang mobil lainnya setidaknya Anggita bisa keluar dari mobil tersebut.
Menyadari perbuatan Anggita. Dokter Angga langsung menguatkan genggaman tangannya di tangan Anggita. Tanpa meronta atau berusaha melepaskan dirinya. Anggita langsung menggigit tangan dokter itu tanpa ampun. Dia berharap orang lain memperhatikan tingkah mereka dan keluar dari Mobil untuk melepaskan dirinya dari Mobil tersebut.
__ADS_1
Tapi sayang, tidak ada yang memperhatikan tingkah sepasang kekasih itu. Tidak ingin terperangkap lagi. Anggita terus menggigit tangan Danny hingga pria itu meminta tolong karena kesakitan.
Hal itu dimanfaatkan Anggita keluar dari dalam Mobil. Anggita berlari setelah berhasil keluar dalam mobil. Dia melewati mobil demi mobil supaya tidak terjangkau mata dokter Angga melihat dirinya.