Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Bab 116


__ADS_3

Evan dan Anggita bisa merasa lega karena rencana jahat itu tidak sampai membahayakan putri mereka.


Evan memerintahkan Danny dan Rico untuk menyelidiki para pekerja lainnya. Evan tidak ingin salah mengambil keputusan akan pekerja pekerja itu. Evan akan bertindak tegas kepada para pekerja yang sudah mengkhianati dirinya. Dan akan memberikan penghargaan kepada para pekerja yang setia kepada dirinya.


Danny dan Rico melaksanakan perintah itu. Bahkan Danny menghubungi salah satu rekannya yang sangat ahli dalam penyelidikan dan yang bisa membaca ekspresi wajah. Danny bergerak cepat. Danny meminta rekannya itu untuk datang sekarang juga ke rumah nenek Rieta. Karena Danny ingin mengetahui secepatnya wajah wajah para pengkhianat itu. Sebelum rekannya tiba di rumah itu. Danny dan Rico membawa para pekerja itu ke sebuah ruangan.


Evan menjadi sosok yang sangat hati hati. Melihat jumlah pekerja itu yang berjumlah lebih banyak dari Danny dan Rico. Evan meminta orang yang berjaga di luar masuk ke dalam rumah.


"Apa tidak sebaiknya kita bertanya atas dasar motif apa Indi melakukan ini semua?" bisik Anggita kepada Evan.


"Aku tidak perlu mengetahui motifnya. Mencelakai Cahaya putriku adalah kesalahan fatal para pengkhianat ini. Mereka berani bermain main dengan Evan Dinata. Maka bersiaplah menerima konsekuensinya," kata Evan marah. Membayangkan putrinya dalam bahaya karena perbuatan jahat itu membuat Evan tidak akan memberikan ampun kepada orang orang jahat itu.


Indi yang duduk di lantai dengan tangan dan kaki terikat mendengar perkataan Evan. Dan wanita itu tidak menunjukkan wajah ketakutan. Wajahnya biasa saja. Seakan dirinya tidak bersalah. Wanita itu berpikir jika dirinya pasti terbebas karena Adelia menjanjikan jaminan jika mereka tertangkap dalam . menjalankan rencana ini.


"Aku tidak habis pikir, mengapa dirimu tega melakukan ini Indi. Cahaya masih kecil. Tidak sepantasnya dia jadi korban jika dirimu mempunyai dendam dengan kami," kata Anggita.


Indi tidak menjawab. Wanita itu hanya menatap Anggita dan Evan sekilas kemudian menundukkan kepalanya. Kata maaf tidak keluar dari mulutnya sejak dirinya diseret masuk ke dalam rumah.


Melihat sikap Indi. Evan semakin marah. Indi terlihat tidak merasa bersalah seakan akan perbuatannya itu adalah hal biasa. Evan beranjak dari duduknya kemudian mendekati Indi. Bersamaan dengan itu, Danny juga mendekati Indi.


"Katakan, apa jenis serbuk berbahaya yang kamu taburkan ke Teether itu?" tanya Danny tajam. Danny menodongkan benda berbahaya itu ke kaki Indi.


"Aku tidak main main Indi. Benda ini sekali dor saja ke tulang kaki kamu. Aku pastikan kamu akan lumpuh selamanya," ancam Danny melihat Indi tidak berniat menjawab pertanyaan Danny.

__ADS_1


"Dia tidak bersedia menjawab. Keadaan dirinya yang terikat seperti ini. Bagaimana kalau kita masuk teether itu ke mulutnya. Istilahnya senjata makan tuan bos," kata Oci membuat Danny menganggukkan kepalanya. Evan mundur dan kembali duduk di sofa. Sedangkan Oci berjalan ke ruangan dimana teether itu berada.


"Mana kamu pilih. Memberitahukan jenis serbuk ini atau benda ini ke mulut kamu?" tanya Oci. Sebenarnya bisa saja, benda beracun itu diselidiki oleh ahlinya. Tapi Danny ingin mengetahui jenis serbuk itu sekarang juga dan bagaimana reaksinya jika sudah terlanjur masuk ke dalam tubuh. Meminta ahli menyelidiki serbuk itu akan memakan waktu lumayan lama. Dia ingin mendengar dari mulut Indi.


Indi akhirnya menyebutkan nama serbuk beracun itu karena tidak ingin merasakan reaksi serbuk itu jika masuk ke dalam tubuhnya.


Danny cepat cepat membuka ponselnya. Dia mengetikkan nama serbuk tersebut di internet. Badannya melemas ketika membaca tentang serbuk tersebut. Hampir tidak ada manfaat positive dari serbuk itu bagi manusia. Serbuk yang tidak diperjual beli kan secara bebas itu mempunyai reaksi dalam hitungan jam dengan efek yang melumpuhkan otak dan organ tubuh lainnya.


Danny tidak bisa marah hanya lewat kata dan tatapan tajam saja. Dia menarik tangan Indi supaya berdiri kemudian menampar wanita itu berkali kali.


"Indi. Kamu yang sudah sejahat ini saja. Kami pasti tidak tega memasukkan teether itu ke dalam mulut kamu. Dimana hati nurani kamu mencelakai Cahaya sekeji ini. Berapa bayaran yang kamu terima hah?.


Danny menunjuk wajah Indi ketika berbicara marah kepada wanita itu. Seperti orang tuli. Wanita itu lagi lagi tidak menjawab. Dia hanya meringis kesakitan.


"Aku tidak perduli seberapa lama di penjara. Yang aku ingin, penerus dari keluarga Martin punah dari muka bumi ini," kata wanita itu berani. Dia bahkan menatap Evan dan Danny penuh kebencian.


Selain bertambah marah. Evan, Danny dan Anggita terkejut mendengar perkataan wanita itu. Perkataan itu memberikan petunjuk jika apa yang dilakukan wanita ini adalah balas dendam.


"Apa maksud kamu?" tanya Danny tajam. Tapi tidak seperti tadi wanita itu kembali terdiam. Dia tidak memperjelas maksud dari perkataannya itu.


"Apa maksud kamu," ulang Danny berteriak bertanya pada Indi. Penerus keluarga Kakek Martin yang disebutkan oleh wanita itu. Itu artinya bukan hanya Cahaya dalam bahaya.


"Kalian pantas menderita. Kalian pantas merasakan kehilangan orang yang kalian cintai," kata wanita itu dengan tatapan penuh kebencian. Mendengar hal itu Anggita berinisiatif mendekati wanita itu. Wanita itu memang terlihat marah tapi sorot matanya juga memancarkan kesedihan.

__ADS_1


"Kamu bukan Pemilik Hidup yang bisa mengatur hidup keluarga kami. Kenyataannya lihatlah sekarang. Kami berhasil mengetahui pengkhianatan dan rencana jahat kamu. Jika kamu mempunyai dendam terhadap keluarga kami. Tidak seharusnya kamu membalaskannya kepada anak bayi. Tanya hati nurani kamu. Apa benar yang kamu lakukan ini?. Mungkin kamu sudah membayangkan penderitaan kami jika rencana jahat kamu berhasil. Yang terjadi saat ini. Kamu yang terikat menunggu penderitaan selanjutnya. Karena aku tidak terima atas rencana jahat kamu ini," kata Anggita tepat di wajah wanita itu.


"Mengapa kamu tidak bertanya mengapa aku melakukan ini?" tanya Indi.


"Karena aku tidak ingin tahu. Apapun yang terjadi di Masa lalu yang membuat kamu seperti ini. Aku tidak perduli. Satu hal yang pasti. Kamu adalah penjahat. Apapun motif kamu. Aku tidak perduli dan pengkhianatan kamu itu tidak dibenarkan," jawab Anggita.


Baru saja Anggita selesai berbicara. Tiga orang tiba di rumah itu. Indi tidak dapat menyembunyikan keterkejutan di wajahnya ketika melihat orang orang itu. Satu diantara dari tiga orang itu adalah Adelia. Tidak lama kemudian, seorang pengawal juga mendorong tubuh seorang laki laki masuk ke dalam rumah. Laki laki itu adalah teman Indi yang sedang bekerja sama menjalankan rencana jahat itu.


"Kerja yang bagus," kata Evan kepada dua orang yang membawa Adelia masuk ke dalam rumah itu. Evan bertepuk tangan melihat kondisi Adelia yang tidak seperti biasanya. Wanita itu persis seperti orang yang kurang waras. Wajah lebam dan bibir bengkak juga rambut yang tidak rapi membuat Adelia seperti orang gila.


Adelia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah. Melihat Indi yang terikat, dia sudah menduga jika rencana jahat itu tidak berhasil. Seperti perkataan Bronson. Tidak mengapa jika mereka ketahuan yang penting rencana itu berhasil dan Cahaya dalam bahaya. Pria itu sudah menjanjikan banyak hal kepada Adelia dan Adelia meneruskan apa yang dijanjikan Bronson kepada Indi. Adelia menduga, rencana jahat itu ketahuan karena Cahaya sudah menggigit teether tersebut dan kini dalam bahaya.


"Bagaimana Adelia. Masih bisa merencanakan sesuatu yang jahat terhadap keluargaku?" tanya Evan setelah Adelia duduk bersebelahan dengan Indi dan dengan kondisi yang sama.


"Maafkan aku Evan. Aku benar benar menyesal," kata Adelia pelan. Indi langsung menoleh ke Adelia. Dia tidak menyangka Sikap Adelia berbanding terbalik dengan sikapnya yang menggebu gebu untuk melihat Evan dan Anggita menderita. Sikap menyesal yang ditunjukkan oleh Adelia sangat jauh berbeda dengan waktu sebelumnya ketika Adelia mengajak Indi bekerja sama. Saat itu, Adelia terlihat sebagai korban yang ingin membalas dendam.


"Bagus kalau kamu menyesal. Sebentar lagi bos kalian akan datang bernegoisasi untuk membebaskan kalian berdua," kata Evan lagi. Adelia dan Indi saling berpandangan dan ada senyum kecil terlukis di bibir mereka. Mereka sangat yakin jika Bronson akan membebaskan mereka dari situasi itu.


"Adelia. Asal kamu tahu. Rencana jahat kalian tidak berhasil," kata Danny. Adelia langsung menatap Indi dengan tajam. Indi menundukkan kepalanya.


Adelia berusaha membantah jika dirinya terlibat dalam rencana jahat itu. Dia mengatakan tidak mengetahui hal apapun terkait dengan rencana jawab wanita yang disebelahnya. Wanita itu berusaha meyakinkan jika rencana itu tanpa sepengetahuanya. Indi tentu saja kesal mendengar bantahan Adelia.


"Adelia, Indi. Lihat itu bos kalian datang," kata Evan sambil menunjuk ke pintu Utama. Dimana dua orang laki laki berpakaian preman sedang memapah Bronson mendekati sofa.

__ADS_1


__ADS_2