Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Janji Manis


__ADS_3

"Kemungkinan besar, dokter Angga mendekati Anggita karena tujuan tertentu," kata Rico lagi.


Danny merapatkan giginya karena marah. Dari informasi yang mereka dapat dari Rico. Danny menyimpulkan sendiri bahwa dokter Angga tidak sebaik yang dia kira. Dia pernah merasa tenang membiarkan Anggita dekat dengan Dokter Angga. Tapi kini. Pria itu merasakan sangat gelisah mengingat Anggita yang hidup di Kota kecil itu dengan sendirian. Andaikan Danny mengetahui niat busuk dokter itu. Danny rela merasakan kelelahan tiap minggu untuk mengunjungi Anggita dan Cahaya yang masih di dalam kandungan saat itu.


Sama seperti Danny, Evan juga merasakan amarah yang luar biasa di hatinya. Jika Danny marah kepada dokter Angga. Evan lebih marah kepada Bronson. Matanya memerah hanya mengingat nama Bronson. Evan berjanji dalam hati akan memberikan pelajaran kepada pengusaha licik itu.


Malam berganti pagi. Sesuai kesepakatan Evan, Danny dan Rico tadi malam. Danny yang akan berusaha menjelaskan siapa sebenarnya Dokter Angga kepada Anggita.


Danny berencana pagi ini akan berangkat ke kota kecil itu. Danny membawa Nia bersama dirinya. Bukti tentang dokter Angga tidak begitu kuat. Danny berpikir jika dia butuh teman yang harus bisa meyakinkan Anggita akan hal itu.


"Ada apa kak?" tanya Nia. Kini mereka berada di halaman rumah sederhana milik Nia. Sejak mengundurkan diri dari kafe pelangi. Nia hanya di rumah mengurus dua adiknya yang masih duduk di bangku pendidikan.


"Calon tante. Bisa minta tolong?. Nia mengerucutkan bibirnya mendengar Danny memanggil dirinya dengan calon tante. Danny tidak sembarangan memanggil wanita muda itu dengan sebutan itu. Rendra dan Nia berencana akan menikah satu bulan lagi.


"Tidak," jawab Nia ketus.


"Ini berkaitan dengan keselamatan sahabat kamu loh."


Nia langsung menatap Danny dengan serius. Wanita itu langsung bisa mengerti sahabat yang mana yang dimaksudkan Danny. Dia hanya memiliki satu sahabat kental yaitu Anggita.


"Ada apa dengan Anggita?" tanya Nia khawatir. Danny sengaja memalingkan wajahnya supaya Nia tidak bisa melihat senyum kemenangan yang terlukis di bibirnya.


"Jangan banyak bertanya calon tante. Sebaiknya kita langsung ke Sana sekarang. Anggita sedang sa...."


Danny belum menyelesaikan perkataannya. Nia sudah berlari ke dalam rumah untuk berganti pakaian karena menduga Anggita sedang sakit. Danny tersenyum. Melihat kepolosan Nia seakan hiburan gratis bagi dirinya.


"Ayo kak. Cepat masuk ke dalam mobil," kata Nia setelah berdiri di hadapan Danny kembali. Dia tidak lebih dari sepuluh menit di rumah untuk berganti pakaian dan memastikan rumah dalam keadaan aman untuk ditinggalkan. Khawatir akan Anggita membuat Nia tidak mengoleskan apapun ke wajahnya. Wajahnya benar benar polos tanpa riasan.


"Calon tante. Apa yang membuat kamu bersedia menikah dengan om Rendra."


Pertanyaan itu meluncur dari mulut Danny setelah mereka hampir satu jam dalam perjalanan. Danny masih sangat penasaran. Apa yang membuat Nia tertarik kepada pria tua seperti Rendra. Danny tidak ingin salah menilai walau status keluarga mereka dengan Nia bagaikan langit dan bumi.


"Aku juga tidak tahu kak," jawab Nia singkat. Tapi Danny tidak langsung percaya.


"Jangan berusaha menjalani sesuatu yang tidak kamu ketahui apalagi akan menjalani pernikahan. Lebih baik batalkan daripada kamu menyesal nantinya. Bergurulah dari pengalaman Anggita," kata Danny. Tidak ada maksud tersembunyi dari perkataannya itu. Danny hanya tidak ingin Nia akan menyesal nantinya karena tidak bahagia menjalani pernikahan dengan pria tua seperti Rendra.


"Perbedaaan umur kalian terlalu jauh. Om Rendra mungkin akan senang bisa menikah dengan daun muda kuncup seperti kamu. Tapi coba tanyakan pada diri kamu sendiri. Apa kamu siap jika ada orang lain atau teman kamu yang berpikir jika kamu bersedia menikah dengan om Rendra karena motif tertentu. Selain itu, masih banyak masalah lain memiliki pasangan yang jauh lebih tua. Misalnya masalah hormon."


Nia mendengarkan baik baik perkataan Danny. Selama ini, semua perkataan Danny itulah hal yang mengganjal di hatinya. Tapi Nia selalu menyakinkan hatinya jika kedepan nya akan baik baik saja.


"Jadi menurut kakak. Apa yang harus aku lakukan?.


"Jangan tanya diriku. Tanya dirimu sendiri. Apa keputusan yang kamu ambil ini adalah hal benar. Karena pernikahan itu bukan ajang coba coba. Pernikahan yang ternoda akan membuat sakit yang sulit disembuhkan. Menjadi bahan gosip. Pernikahan itu tidak hanya tinggal satu atap dan tidur di ranjang yang sama. Pernikahan tidak cukup dibangun berdasarkan komitmen dan cinta. Tapi ada hal yang lebih penting selain itu."


"Apa itu?" tanya Nia penasaran.


"Mau tahu?. Nia menganggukkan kepalanya.


"Aku juga tidak tahu. Kalau aku mengetahui kan tidak mungkin pernikahan aku kandas."


Nia menatap Danny dengan kesal. Pria itu kini tertawa terbahak bahak karena bisa kembali membuat Nia kesal. Danny memang tidak mengetahui dimana letak kesalahannya sehingga Clara mantan istrinya itu bisa berpaling dari dirinya. Selama beberapa tahun pernikahan mereka. Danny berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilnya. Bukan hanya materi dan perhatian. Danny selalu meluangkan waktu untuk keluarga. Tapi yang dia dapat dari pernikahannya bukan kebahagiaan tapi luka hati karena perselingkuhan dan persekongkolan.


"Terkadang seseorang tidak perlu mengumbar alasan hanya untuk membenarkan keputusannya," kata Nia setelah Danny berhenti tertawa.


"Iya kamu benar. Aku percaya kepada kamu. Bahwa niat kamu menikah dengan om Rendra karena niat tulus dan semoga saja karena cinta," kata Danny. Dia menoleh ke samping memperhatikan raut wajah calon Tantenya itu.


Nia menundukkan kepalanya mendengar kalimat panjang dari Danny. Dia juga sadar jika keputusan yang dia ambil untuk menikah dengan pria yang terpaut usia sangat jauh adalah keputusan yang sangat berani.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan itu, Nia memikirkan semua perkataan Danny. Semakin dia memikirkan semakin timbul keraguan di hatinya. Apalagi setelah membaca artikel di ponselnya tentang risiko berat menikah dengan pasangan yang jauh lebih tua. Selisih umur mereka tidak main main. Bukan sepuluh atau lima belas tahun melainkan lebih dari itu.


"Nia, jangan terlalu banyak melamun. Kita sudah sampai. Turunlah," kata Danny sambil membuka sabuk pengamannya. Pria itu turun terlebih dahulu dan langsung masuk ke dalam Kafe.


"Anggita mana?" tanya Nia bingung kepada kasir dan Danny yang berdiri dekat meja kasir tersebut. Suasana kafe itu seperti biasa. Jelas menunjukkan jika yang pemiliknya dalam keadaan baik. Sedangkan Danny masih terlihat memijit kepalanya.


"Mbak Anggita sedang keluar dengan dokter Angga mbak," kata kasir itu sopan. Jawaban yang sama ketika Danny langsung bertanya tadi. Dan jawaban itu yang membuat Nia semakin bingung.


"Sudah lama?. Danny bertanya dengan lesu.


"Masih beberapa menit yang lalu pak."


Evan menarik nafas panjang. Mendengar Anggita pergi dengan dokter Angga tentu saja membuat Danny semakin khawatir. Danny menyuruh Nia untuk langsung menghubungi Anggita.


"Tidak aktif," jawab Nia sambil mengulang panggilan itu.


"Kemana sebenarnya mereka?" tanya Danny sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Sikapnya benar benar mengkhawatirkan Anggita.


"Mungkin mereka ke rumah sakit kak. Bukankah Anggita sakit. Bagaimana kalau Kita susul ke rumah sakit?" kata Nia. Wanita itu masih menduga jika Anggita sedang sakit.


Danny menganggukkan kepalanya setuju atas usul Nia. Walau hatinya tidak yakin jika Anggita dan Danny ke rumah sakit. Setidaknya mereka nanti mendapatkan informasi tentang dokter Angga.


Sesampai di rumah sakit. Danny langsung bertanya ke bagian informasi rumah sakit tersebut.


Danny merasa lemas mendengar jawaban bagian informasi tersebut. Bahwa hari ini Dokter Angga ternyata cuti.


"Kak, sebenarnya apa yang terjadi dengan Anggita?" tanya Nia bingung. Dia bisa mendengar, Danny tidak menyebut nama Anggita sama sekali melainkan justru bertanya banyak tentang dokter Angga termasuk menanyakan alasan dokter itu mengambil cuti hari ini.


"Apa kamu bisa menjaga rahasia?. Nia menganggukkan kepalanya. Danny menarik tangan Nia lembut mengajak wanita itu untuk keluar dari rumah sakit.


"Kedip, kedip," kata Danny setelah selesai berbicara. Danny tentu saja bisa melihat bagaimana Nia menatapnya. Tapi Danny mengartikan itu bentuk keseriusan wanita itu mendengarkan dirinya.


"Ah iya kak. Sudah selesai ceritanya?" tanya Nia. Dia bisa menutupi perasaan asing yang tiba tiba hinggap di hatinya.


"Masih bersambung, kita tunggu apa yang terjadi pada Anggita hari ini," jawab Danny.


"Semoga Anggita bisa melihat kebusukan Dokter Angga secepatnya," kata Nia. Wanita itu juga khawatir setelah mendengar penjelasan Danny.


"Semoga saja Nia. Coba hubungi Anggita sekali lagi. Kali saja bisa nyambung," suruh Danny. Nia kembali menghubungi Anggita. Nia menunjukkan layar ponselnya kepada Danny supaya pria itu tahu bahwa ponsel Anggita masih tidak aktif.


"Kemana sebenarnya mereka?" tanya Danny sambil memukul setir mobilnya.


Di jam yang sama, di dalam mobil. Anggita menarik nafas lega. Dokter Angga akhirnya bersedia menemani dirinya untuk menyusul Cahaya ke Kota.


"Kok lewat jalan ini?" tanya Anggita heran. Anggita sadar jika jalan yang mereka lalui bukan jalan ke Kota.


"Ada yang mau aku ambil ke rumah sebentar." Dokter Angga tersenyum. Dia kemudian mengelus punggung tangan Anggita. Anggita membalas senyuman dokter itu. Cara Dokter Angga memperlakukan dirinya membuat Anggita terkadang terbuai. Perlakuan yang tidak pernah di dapat dari Evan selama pernikahan mereka.


"Kamu ikut turun. Sebenarnya aku hanya sebentar," kata dokter Angga setelah menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah minimalis tapi tampak mewah.


"Tidak. Aku menunggu di Mobil saja."


Anggita tidak tertarik sama sekali untuk singgah sebentar di rumah kekasihnya itu. Dia hanya ingin cepat cepat menyusul Cahaya supaya bisa bertemu dengan putri kesayangannya itu.


Tidak lama kemudian dokter Angga sudah terlihat keluar dari rumah.


"Apakah aku lama?" tanya dokter itu lagi. Sikapnya yang lembut membuat Anggita hanya membalas pertanyaan itu dengan senyuman dan gelengan kepala.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu risau. Cahaya akan kembali kepada kita."


Anggita hanya tersenyum. Tapi perkataan dokter itu seakan aneh di telinganya. Anggita merasa jika Dokter Angga terlalu percaya diri berkata seakan akan dirinya juga sudah berhak akan Cahaya.


Sepanjang perjalanan tiga jam itu mereka lalui dengan berbicara tentang masa depan mereka. Anggita tidak henti hentinya tersenyum mendengar rencana yang disusun dokter Angga untuk masa depan mereka kelak. Rencana itu sangat terdengar indah di telinganya. Anggita merasa jika Dokter Angga sudah cukup mapan dalam hal materi dan pemikiran untuk menjalani sebuah pernikahan.


"Tapi terkadang aku takut dengan status ku Dokter. Aku sudah janda mempunyai seorang putri. Apa aku pantas untuk dokter yang masih lajang. Dokter mungkin bisa menerima aku dan Cahaya. Tapi bagaimana dengan keluarga besar Dokter?"


"Aku sudah bilang kepada kamu sebelumnya, keluarga itu bukan orang yang melihat seseorang dari statusnya. Kami melihat orang dari kebaikan dan ketulusan. Andaikan kamu mempunyai anak lebih dari satupun. Jika aku sudah memilih kamu. Mereka tidak bisa menolak. Karena mereka tahu bahwa aku tidak asal pilih," kata dokter Angga menyakinkan Anggita.


"Kamu suka bunga?" tanya Dokter Angga setelah terdiam beberapa saat. Dokter Angga sengaja mengalihkan pembicaraan supaya Anggita tidak merasa terbebani dengan statusnya.


"Suka. Tapi aku hanya menyukai bunga anggrek. Lainnya tidak terlalu suka."


" Selera yang sangat bagus dan berkelas. Tenang saja, Aku akan membuat taman anggrek untuk kamu nantinya. Pokoknya kamu tidak akan rugi menikah nantinya dengan aku."


"Masa?" tanya Anggita sambil tersenyum.


"Gak percaya. Buktikan saja nanti."


Sepanjang perjalanan itu Anggita diliputi kebahagiaan. Janji janji manis Dokter Angga sangat membuat Anggita terbuai.


"Satu lagi Anggita. Sebagai kado pernikahan Kita nantinya aku akan memberikan kamu Mobil." Dokter Angga terus memberikan janji manis kepada Anggita.


"Tidak perlu mobil Dokter. Selain aku tidak bisa menyetir. Aku hanya ingin dicintai dengan tulus dan bisa menerima Cahaya. Itu sudah cukup bagiku."


"Kado pernikahan tidak boleh ditolak Anggita. Kamu tidak bisa menyetir aku akan siap menjadi supir kamu nantinya."


"Terserah Dokter saja. Yang penting bukan aku yang meminta." Anggita pasrah akan rencana rencana calon suaminya itu.


"Rasanya ingin menikahi kamu sekarang juga Anggita," kata dokter Angga sambil meraih tangan kanan Anggita. Dokter Angga mencium punggung tangan itu dengan lembut tapi matanya menatap lurus ke jalanan.


Anggita menarik tangannya. Ketika dokter Angga mencium punggung tangannya. Anggita seketika mengingat perjuangan Evan yang meminta dirinya untuk kembali.


"Aku akan membahagiakan kamu dan Cahaya. Seandainya orang tuaku meminta Kita menikah secepatnya. Apa kamu bersedia."


"Dokter, sebaiknya kita tidak membicarakan pernikahan sekarang. Pikiranku masih penuh tentang Cahaya. Kita membicarakan pernikahan setelah Cahaya kembali kepadaku ya!.


Pembicaraan itu berhenti setelah anggukan kepala dokter Angga yang setuju dengan permintaan Anggita.


Sampai Mobil itu meluncur di jalanan Kota. Anggita dan dokter Angga betah tidak berbicara.


"Dokter, Kita dari jalan sebelah kanan saja ya," kata Anggita untuk mengarahkan dokter Angga menuju rumah Gunawan.


"Iya, tapi Kita ke rumah orang tuaku dulu ya. Ada yang ingin aku berikan." Anggita belum mengiyakan perkataannya, dokter Angga sudah membelokkkan mobilnya ke Kiri.


"Ayo turun. Aku akan memperkenalkan kamu kepada kedua orang tuaku."


"Dokter." Anggita terlihat ragu untuk turun.


"Ayolah. Nanti tidak berkesan bagus jika orangtuaku mengetahui kamu yang tidak mau singgah ke rumah."


Merasa benar dengan perkataan dokter Angga akhirnya wanita itu juga turun dari mobilnya.


Anggita menoleh ke belakang. Melihat pagar yang menjulang tingga itu sedikit membuat dirinya ngilu.


Baru saja Anggita menginjakkan kakinya di rumah mewah itu. Anggita sudah terkejut. Dari tempatnya berdiri Anggita bisa melihat foto Bronson. Sebagai mantan karyawan dari perusahaan Dinata Berlian Sejahtera. Anggita mengetahui dengan jelas jika Bronson adalah pengusaha yang menjadi saingan bisnis dari mantan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2