Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Saran Rendra


__ADS_3

"Evan, Danny dan Anggita. Papa harap kalian belajar dari berbagai kejadian yang kita alami beberapa bulan ini. Pintar pintar melihat teman. Jangan terkecoh dengan kebaikan semu dari orang lain. Dokter Angga dan Nia adalah pelajaran berharga supaya kalian berhati hati memilih teman," kata Gunawan menasehati anak anaknya. Jelas terlihat kekecewaan hanya menyebut nama dua orang yang awalnya dinilai baik tapi mengecewakan di akhir.


"Iya pa," jawab Evan. Danny hanya menganggukkan kepalanya. Sebagai pihak yang selalu disalahkan atas pembatalan pernikahan Rendra dan Nia. Danny sebenarnya ingin berkata jujur jika dirinya dijebak oleh Nia. Tapi Danny sadar Hal itu akan menambah penilaian negarif kepada Nia.


"Jadi bagaimanapun solusi dari kehamilan Nia pa," tanya Evan. Pria itu masih ingin memperjelas walau Danny sudah mengatakan akan menurut apapun keinginan kedua orang tuanya.


"Tidak ada pernikahan. Jika janin itu adalah benih dari Danny. Maka Danny bertanggung jawab secara materi. Papa tidak bersedia mempunyai menantu seorang pengkhianat. Nia lebih parah dari Clara. Clara hanya mengkhianti cinta Danny. Sedangkan Nia tidak hanya mengkhianati Rendra tapi juga memecah persaudaraan. Aku berharap Rendra bersedia memaafkan Danny," kata Gunawan dengan mata yang menerawang. Dia bisa merasakan sakit hati dari adiknya itu.


"Menurut mama bagaimana?" tanya Evan kepada Tante Tiara. Lagi lagi Evan menuntut jawaban yang mendukung harapan untuk Danny dan Nia supaya menikah.


"Sebagai perempuan. Mama bisa merasakan kesedihan Nia mengandung di luar nikah. Tapi mama tidak menyukai perempuan yang menjadikan dirinya rendah. Jika Nia menjaga harga dirinya. Dia tidak akan membiarkan keponakan dari calon suaminya menyentuh dirinya. Mama benar benar kecewa kepada Danny. Mengapa harus Danny yang menghancurkan pernikahan omnya sendiri."


Lagi lagi Danny tidak bisa membela diri. Dia membiarkan dirinya dituduh sebagai penghancur kebahagiaan Rendra.


Evan, sebaiknya kita ke rumah nenek sekarang. Rendra pasti butuh bantuan kita," kata Gunawan. Gunawan tidak ingin Rendra sendirian ketika hancur seperti ini.


"Mama ikut pa," kata Tante Tiara cepat. Tiara menatap Danny sekilas. Tatapan marah jelas terlihat di sorot matanya.


"Baik pa. Bagaimana dengan kamu sayang. Kamu ikut ke rumah nenek ya!" kata Evan sambil menyentuh tangan Anggita lembut. Anggita terkejut dan merasa sedikit malu ketika Evan langsung menunjukkan jika mereka sudah berhubungan khusus.


Semua mata mengarah kepada dua insan itu. Mereka tentu saja terkejut mendengar panggilan sayang dari Evan untuk Anggita.


"Kalian?" tanya tante Tiara. Wajah wanita itu menyunggingkan senyum manis dan senang. Kata sayang dari mulut Evan untuk Anggita sudah sangat jelas jika mantan suami istri itu sudah berbaikan dan hendak rujuk.


"Ya mama. Kami memutuskan untuk berpacaran dulu. Doakan secepatnya bisa menikah," kata Evan. Kini tangannya menggenggam tangan Anggita dan tanpa canggung. Evan mencium punggung tangan kekasihnya. Mama Feli dan Danny menatap sepasang kekasih itu dengan mata yang tidak berkedip. Pemandangan itu terlalu indah bagi pasangan yang sudah pernah bercerai.


Perkataan Evan membuat hati Gunawan membaik. Rasa amarah yang bersemayam di hatinya karena Nia dan Danny kini lenyap berganti dengan rasa senang mengetahui Anggita bersedia membuka hati kepada putranya. Selama ini dia berharap Anggita kembali kepada Evan. Gunawan bisa melihat penyesalan Evan. Bagi Gunawan. Anggita adalah sosok wanita idaman yang layak menjadi menantunya.


"Doa mama selalu menyertai hubungan kalian berdua. Anggita, terima kasih nak," kata Tante Tiara. Wanita itu menitikkan air Mata karena terharu akan kebesaran hati Anggita memaafkan bahkan menerima Evan kembali walau masih tahap pacaran.


"Dan kamu Evan. Jadilah pria yang penyayang, pengertian dan bertanggung jawab," kata Tante Tiara lagi. Evan menganggukkan kepalanya.


"Bu, mohon restu ibu untuk kami berdua. Aku berjanji akan membahagiakan Anggita dan Cahaya."


Evan menunjukkan keseriusan meminta maaf kepada mama Feli. Pria itu bahkan sudah bersujud di hadapan mama Feli.


"Duduklah nak. Ibu merestui kalian. Tapi jangan pernah mengulang kesalahan untuk kedua kalinya," kata mama Feli sambil membantu Evan untuk duduk kembali.


"Iya bu. Terima kasih," kata Evan sungguh sungguh.

__ADS_1


Gunawan menatap Evan dengan bangga. Dia berharap setelah Masa lalu yang rumit. Evan menemukan kebahagiaannya bersama Anggita.


"Papa bangga kepada kalian berdua. Yang bersedia menurunkan ego masing masing demi kebahagian Cahaya. Papa sangat yakin jika kalian akan berbahagia nantinya," kata Gunawan terharu. Hatinya benar benar membaik mengetahui hubungan antara Evan dan Anggita.


"Terima kasih pa," jawab Evan tanpa melepaskan tautan tangannya dari tangan Anggita. Sedangkan Anggita hanya tersenyum menanggapi rasa senang yang ditunjukkan oleh kedua mantan mertuanya itu.


"Selamat untuk kalian berdua," kata Danny dengan tulus. Walau saat ini dirinya terpojok, Danny juga senang melihat kebahagiaan yang jelas terlukis di wajah kakaknya.


Setelah saling menunjukkan kebahagiaan karena hubungan Anggita dan Evan. Kini keluarga besar Gunawan berada di kediaman nenek Rieta. Anggita dan mama Feli juga diikutkan dalam pertemuan keluarga itu.


"Rendra, aku benar benar minta maaf atas kelakuan Danny," kata Gunawan dengan wajah sedih. Danny hanya menundukkan kepalanya. Dia tidak berani melihat om nya itu.


Rendra menarik nafas panjang. Tidak bisa dipungkiri jika saat ini dirinya masih pusing memikirkan kegagalan rencana pernikahan itu. Persiapan sudah sembilan puluh persen dengan biaya besar yang dia keluarkan untuk pernikahan tersebut.


"Kita keluarga. Sebagai seorang adik aku pasti memaafkan kelakuan putra kedua mu itu. Aku juga merasa lega karena sifat asli Nia ketahuan sebelum pernikahan. Yang membuat aku tidak tenang adalah wanita itu akan tetap menjadi bagian keluarga kita," jawab Rendra sambil menatap tajam kepada Danny. Tapi ekor matanya juga bisa melihat kedekatan Anggita dan Evan yang duduk berdekatan. Pemandangan yang sangat jarang dia lihat selama Anggita menjadi bagian keluarga kakek Martin.


"Aku tidak merestui mereka. Tidak ada pernikahan antara Danny dan Nia," kata Gunawan tegas.


"Baguslah kalau begitu. Aku mendukung keputusan kamu. Entah dimana otak kamu Danny ketika melakukan dosa itu dengan calon dari om kamu sendiri," kata Nenek Rieta. Nenek Rieta sangat membenci Nia setelah mengetahui yang sebenarnya. Entah bagaimana lagi kebencian keluarga itu jika mengetahui jika Nia yang menjebak Danny. Keluarga menyalahkan Danny karena berpikir jika perbuatan dosa itu dilakukan karena suka saling suka.


"Biarkan mereka menikah. Aku pikir dengan mereka yang menikah lusa. Bisa menyelamatkan Kita dari rasa malu. Bagaimanapun undangan sudah disebar," kata Rendra pelan. Pria itu sudah memikirkan matang matang atas apa yang dikatakannya saat ini.


Rendra adalah pihak yang paling tersakiti dalam masalah ini. Mungkin karena tidak mempunyai anak, Rendra tidak tega dengan janin yang ada di kandungan Nia.


Usianya tidak lagi muda. Sebagai manusia biasa tentu saja dirinya ingin berbahagia dengan keluarga yang lengkap. Dia memilih wanita muda seperti Nia karena Rendra sadar akan usianya yang sudah kepala Lima. Dia butuh wanita muda supaya anaknya kelak masih bisa menerima kasih sayang dari salah satu orang tua jika dirinya tidak ada lagi. Benar benar cara berhitung manusia biasa menyangkut usia. Kalau tentang materi tentu saja tidak akan kekurangan.


Bukan hanya karena itu dia memilih Nia. Rendra berpikir jika Nia adalah wanita yang baik dan penyayang. Tapi apa yang dipikirkan oleh Rendra tentang Nia terbantahkan dengan kehamilan wanita itu saat ini.


"Tidak. Lebih baik kita menanggung malu daripada memasukkan orang licik ke dalam keluarga Kita," kata Nenek Rieta dengan tegas. Wanita tua itu paling anti dengan wanita yang menghalalkan segala cara demi mencapai keinginannya.


Yang lainnya tidak berani mengeluarkan pendapat tentang masalah itu termasuk Evan yang awalnya mendukung Danny harus menikahi Nia. Kesalahan Nia terlalu fatal untuk dimaklumi. Danny juga hanya pendengar budiman dalam pembicaraan yang didominasi oleh Rendra, nenek Rieta dan Gunawan.


"Jadi bagaimana dengan hari H?" tanya Rendra frustasi. Rendra bergerak gelisah hanya membayangkan rasa malu yang akan ditanggungnya nanti. Dibandingkan dengan kehancuran hatinya. Rendra lebih memikirkan rasa malu atas kegagalan pernikahan tersebut. Beberapa kolega bisnis dari luar Kota sudah ada beberapa yang tiba di kota itu. Bagaimanapun kegagalan pernikahan ini akan berpengaruh kepada reputasinya sebagai pengusaha.


Semua terdiam. Tidak ada yang memberikan pendapat karena memang di pikiran mereka tidak ada ide sama sekali. Yang ada di pikiran mereka jika pesta pernikahan untuk lusa tidak ada sama sekali.


"Hanya itu yang menyelamatkan aku dari rasa malu. Danny, kamu puas membuat kekacauan ini. Hanya karena keinginan sesaat kamu berhasil menpermalukan keluarga kita. Atau jangan jangan Clara pergi dari kamu karena kamu penganut hubungan bebas." Akhirnya Rendra tidak bisa menahan kekecewaan kepada Danny.


"Om, jangan sembarangan berbicara. Aku tidak serendah yang om tuduhkan," kata Danny marah. Terus disudutkan dan dituduh sebagai penganut hubungan bebas membuat Danny tidak bisa lagi diam. Dia bukan pria seperti yang dituduhkan itu. Danny adalah tipe pria setia hanya saja belum beruntung menemukan wanita yang setia. Dia bercerai dengan Clara karena mengetahui perselingkuhan mantan istrinya itu. Danny tidak hanya mendengar gosip. Dia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Clara melayani kebutuhan ranjang asistennya sendiri.

__ADS_1


"Lalu apa namanya dengan melakukan hubungan suami istri di luar nikah. Sampai dua kali dan langsung hamil pula," ejek Rendra sinis. Danny semakin marah. Benar dirinya melakukan dosa itu sampai dua Kali. Tapi dengan Nia. Dirinya tidak sadar melakukan itu karena pengaruh obat yang diberikan Nia ke dalam minumannya.


"Aku dan Clara memang melakukan hal itu dengan sadar dan dilandasi cinta saat itu. Tapi dengan Nia. Aku tidak pernah berniat menghancurkan rencana pernikahan kalian. Nia sendiri yang tidak ingin melanjutkan pernikahan itu. Dia menjebak aku. Dia memberikan obat terkutuk itu di minumanku."


Danny akhirnya menceritakan kronologis dirinya dan Nia melakukan hubungan dosa itu. Dia lelah jika dipojokkan terus menerus. Semua terkejut termasuk Anggita. Penilaian negarif semakin tertancap kuat dalam diri Nia. Rendra yang mendengar cerita itu. Tidak lagi menginginkan Nia dan Danny untuk menikah.


Anggita merenung sebentar memikirkan hal yang baru dikatakan oleh Danny. Nia memang sudah mengatakan jika dirinya sendiri yang menjebak Danny. Awalnya Anggita berpikir sendiri jika jebakan yang dimaksudkan Nia adalah dengan merayu Danny. Tidak terpikir olehnya jika Nia bisa melakukan penjebakan sampai sejauh itu.


"Bagaimana kalau Evan dan Anggita yang menikah lusa. Aku lihat kalian sepertinya sudah saling dekat."


Anggita terkejut. Dia menatap kikuk kepada semua orang yang ada di dalam ruangan keluarga itu. Evan tidak kalah terkejut. Tapi hatinya juga was was. Dia takut jika saran Rendra akan membuat Anggita tidak nyaman dan justru menjadi menjauh dari dirinya.


Yang lainnya tidak berani bersuara akan saran Rendra itu. Walau Gunawan dan tante Tiara menginginkan seperti saran Rendra tapi sepasang suami istri itu memilih diam.


"Aku mohon Anggita. Jangan buat papa malu," kata Rendra lagi. Anggita melihat tatapan memohon dari sorot mata Rendra tapi untuk menyetujui saran itu sama sekali belum terpikirkan oleh dirinya. Anggita juga kasihan melihat Rendra yang pasti akan malu jika pernikahan itu batal.


"Rendra, jangan korban kan perasaan Anggita hanya untuk menyelamatkan reputasi kamu. Aku tidak ingin Anggita menderita lagi karena pernikahan terpaksa. Dia cukup menderita selama ini. Dia berhak bahagia dengan pria yang diinginkan dirinya," kata Nenek Rieta. Dia tidak setuju dengan saran Rendra karena nenek Rieta juga belum mengetahui jika Anggita dan Evan sudah berpacaran. Rasa sayang yang dimiliki wanita tua itu terhadap Anggita sangat besar. Dia ingin melihat Anggita bahagia walaupun bukan bersama dengan cucunya Evan.


"Anggita, Evan. Kalian sudah memutuskan membuka diri dengan memulai hubungan baru. Papa mohon, tolong kalian pertimbangkan saran dari Rendra," kata Gunawan. Setelah berpikir. Gunawan setuju dengan saran dari Rendra. Selain untuk menyelamatkan reputasi keluarga kakek Martin juga mematahkan rencana Bronson untuk menghancurkan Evan.


"Memulai hubungan baru. Apa maksudnya?" tanya nenek Rieta. Dia sudah bisa menangkap samar akan perkataan Gunawan. Tapi wanita itu ingin mendengar lebih jelas arti dari hubungan baru itu.


"Mereka sudah berpacaran mama," jawab tante Tiara dengan tersenyum. Jawaban itu membuat Anggita menundukkan kepalanya. Kata berpacaran untuk usia matang seperti dirinya dan Evan terdengar geli di telinganya.


"Anggita, cucu kesayanganku," kata Nenek Rieta senang. Wanita tua itu berdiri dan membentangkan tangannya dan mendekati Anggita. Dua wanita berbeda generasi itu saling berpelukan erat. Nenek Rieta sungguh tidak dapat menyembunyikan rasa bahagia itu hanya mengetahui Evan dan Anggita berpacaran. Evan menatap neneknya juga dengan tersenyum. Ketika nenek Rieta melihat Evan. Wanita tua itu mengedipkan sebelah matanya sambil tertawa.


Melihat kasih sayang keluarga kakek Martin kepada Anggita membuat Mama Feli merasa bangga mempunyai anak seperti Anggita. Anggita disayangi dengan tulus walau masih berstatus sebagai mantan istri dari Evan.


Setelah mengetahui Evan dan Anggita berpacaran. Kini wanita tua itu juga setuju jika mereka menikah secepatnya. Kalau bisa lusa.


"Berpacaran untuk kalian yang sudah pernah merasakan enaknya ehem ehem. Harus pandai mengontrol diri. Jika tidak mau kebablasan yang akan membuat berdosa. Sebaiknya menikah saja secepatnya."


Nenek Rieta kini mempengaruhi sepasang kekasih itu. Dia tidak sadar jika perkataannya itu membuat Anggita, tante Tiara dan mama Feli menunduk malu.


"Bagaimana Evan, Anggita?" desak Rendra dan Gunawan hampir bersamaan.


Evan menatap Anggita yang terlihat menundukkan kepalanya.


"Aku serahkan keputusannya kepada Anggita pa," jawab Evan. Bukan Evan tidak bersedia menikahi Anggita secepatnya. Tapi dia tidak ingin terkesan terburu buru.

__ADS_1


"Bagaimana sayang?" tanya Evan lembut. Panggilan sayang itu membuat Nenek Rieta tersenyum senang.


Anggita bergerak gelisah. Sungguh dirinya tidak nyaman dengan desakan pernikahan itu walau alasan alasan yang sudah dia dengarkan sebelumnya.


__ADS_2