Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Kedatangan Bronson dan Dokter Angga.


__ADS_3

Hari yang indah yang seharusnya hari kebahagiaan untuk Rendra akhirnya tiba juga. Hari yang dia pilih untuk mengikrarkan janji pernikahan dengan wanita pilihannya. Tapi hari ini adalah hari dimana Rendra harus berusaha ihklas dan bisa menerima jika apa yang dia rencanakan tidak bisa berjalan dengan semestinya.


Sama seperti Rendra. Keluarga besar kakek Martin juga ikut merasakan kesedihan pria setengah baya itu. Nia sudah memberikan harapan palsu kepada dirinya sehingga Rendra harus mengubur impian memiliki keluarga dengan kehadiran anak dalam pernikahan impiannya. Sedangkan Danny masih larut dalam rasa bersalahnya tapi tetap menghadiri pesta tersebut. Rasa bersalah karena sudah menghancurkan dua orang sekaligus. Di tengah rasa bersalahnya, Danny bersyukur karena Anggita bersedia kembali menikah dengan Evan. Kebesaran hati Anggita menerima pernikahan ini menjauhkan keluarga kakek Martin terutama Rendra dari rasa malu.


Jam sebelas siang, Evan dan Anggita sudah mengikrarkarn janji suci pernikahan. Kalau di pernikahan pertama mereka mengikrarkan janji pernikahan tanpa ada rasa. Kali ini, Evan mengikrarkan janji pernikahan itu dengan hati yang tulus dan penuh harapan. Evan bersorak dalam hati. Takdir sudah berpihak kepadanya.


Evan dan Anggita terlihat serius mendengar ceramah pernikahan dari sang penceramah. Penceramah menekankan jika kunci kebahagiaan dalam pernikahan ada pada suami istri. Suami istri harus sama sama berjuang untuk membuat pernikahan itu bahagia. Evan terlihat menganggukkan kepalanya mendengar ceramah itu. Dia sadar di pernikahannya sebelumnya hanya Anggita yang berjuang mempertahankan pernikahan mereka.


Rendra menatap pasangan itu dengan rasa haru. Walau bukan dirinya yang sekarang mengikrarkan janji pernikahan. Ada perasaan lega yang menyusup ke relung hatinya. Melihat Evan penuh kebahagiaan, hatinya ikut bahagia. Selama ini, dia berharap Anggita yang menemani Evan kini sudah menjadi kenyataan. Dan selama ini, Rendra juga bisa melihat penyesalan Evan. Penyesalan Evan tidak berakhir sia sia. Kini dia kembali mendapatkan wanita pilihan sang kakek untuk menemani dirinya dalam suka dan duka.


Rendra membisikkan kata kata nasehat bijak untuk putranya itu dan Anggita.


"Tidak ada lagi perceraian setelah ini. Harus saling memberikan yang terbaik kepada pasangan dan jangan membiarkan kejahatan, kelicikan dan juga keserakahan mengusai hati kalian. Saling menerima kekurangan pasangan. Dan yang paling penting selalu bersyukur dalam keadaan apapun dan dekatkan diri kepada sang Pemilik kehidupan. Dan berusahalah menjadi pria yang sempurna untuk Anggita," kata Rendra ketika dirinya mengucapkan selamat berbahagia kepada putra dan menantunya itu.


"Terima kasih pa," kata Evan dengan mata yang berkaca kaca. Rendra memang papa angkatnya sekaligus paman kandungnya. Tapi Evan bisa merasakan kasih sayang pria itu melebihi kasih sayang dari Gunawan papa kandungnya. Evan menerima pelukan sang papa dengan rasa terima kasih yang dalam atas kebaikan pria itu kepada dirinya selama ini.


"Anggita, terima kasih karena hari ini adalah hari berbahagia bagi keluarga kakek Martin berkat dirimu. Andaikan kakek masih hidup. Mungkin dia yang paling berbahagia hari ini. Aku bangga memiliki menantu seperti kamu. Kamu bukan hanya wanita yang baik tapi kamu adalah wanita yang tidak pendendam. Terima kasih karena sudah memberikan kesempatan kedua bagi putraku."


Mendengar nama kakek Martin, Anggita merasakan matanya memanas. Tapi usapan lembut di lengannya dari Evan membuat Anggita bisa mengusai diri supaya tidak menangis.


Hal yang sama dilakukan oleh Gunawan dan tante Tiara. Gunawan memeluk Evan menyalurkan rasa bahagia karena bisa melihat putranya itu menikah kembali dengan wanita yang tepat.


"Semoga cinta kalian abadi nak. Papa akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian bertiga. Jangan pernah melepaskan Berlian yang sudah dalam genggaman kamu," bisik Gunawan kepada Evan. Evan menganggukkan kepalanya.


"Anggita, selamat datang kembali di keluarga kakek Martin. Papa sangat yakin jika kamu adalah wanita terbaik untuk Evan. Jadilah istri dan mama yang baik untuk keluarga kecil kalian ya nak," kata Gunawan kepada Anggita. Gunawan tidak bisa mengarang kata kata yang indah untuk menggambarkan rasa bahagianya saat ini.


Sedangkan Tante Tiara memeluk Evan dan Anggita bersamaan. Rasa bahagianya tidak dapat dilukiskan dengan kata kata. Tante Tiara hanya bisa mengekspresikan kebahagiaan itu dengan bahasa tubuh. Hampir sepanjang acara itu, tante Tiara menyunggingkan senyum manis.


"Banyak banyaklah memberikan cucu untuk Gunawan dan Rendra," bisik Nenek Rieta kepada Evan. Evan langsung memeluk wanita tua itu dengan erat. Anggita tidak mau kalah. Dia juga memeluk wanita tua itu. Mereka bertiga berpelukan erat dengan waktu yang lumayan lama.


Lantunan lagu From this moment mengiringi langkah Evan dan Anggita menuju pelaminan. Di tangannya terdapat bunga pengantin yang sangat indah membuat Anggita semakin anggun dalam balutan gaun ala Princess berwarna putih bersih.


Evan berjalan tegak dan gagah dan Anggita berjalan Anggun. Evan tersenyum bangga menggandeng pengantinnya yang sangat cantik. Dia bisa mendengar para undangan berdecak kagum memuji kecantikan Anggita yang tidak kalah kecantikannya dengan artis.


Tapi sesaat kemudian, ungkapan kagum itu berganti dengan suara suara sumbang tentang pengantin yang sebenarnya.


"Yang jadi pengantin siapa sebenarnya?.

__ADS_1


"Bukankah di undangan yang tertulis jika pengantin prianya adalah Rendra dan pengantin wanita adalah Nia. Mengapa jadi putranya yang jadi pengantin?.


"Ya benar. Di undangan tertulis pengantinnya bernama Rendra dan Nia."


"Mungkin ada masalah. Mereka menikahkan putranya itu untuk menutup rasa malu.


Para tamu undangan yang sebagian besar relasi Rendra, tentu penuh tanda tanya melihat pengantin yang ternyata bukan Rendra. Evan dan Anggita tidak mengundang siapapun dalam pernikahan ini.


Di sudut ruangan, ada tiga orang yang terkejut setelah melihat siapa sebenarnya bukan Rendra yang menjadi pengantin hari ini.


Suara suara sumbang itu sampai ke telinga Evan dan Anggita. Tapi mereka memilih mengabaikan karena memang suara sumbang itu benar adanya. Mereka terus melangkahkan kaki menuju pelaminan.


Evan dan Anggita duduk tenang di pelaminan. Mereka menikmati diperlakukan seperti raja dan ratu untuk kedua kalinya. Jika di pernikahan yang dulu mereka duduk dengan canggung. Kini mereka duduk hampir tidak berjarak dan tangan yang saling bertautan. Dan para tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati jamuan mewah.


Ketenangan itu hanya beberapa menit. Diantara tamu undangan. Evan bisa melihat jika seseorang yang tidak dia inginkan hadir dalam pernikahan itu terlihat sedang bercengkrama dengan tamu undangan lainnya. Ketika Evan menajamkan penglihatan ternyata bukan hanya Bronson yang tidak dia inginkan di tempat itu. Di meja yang sama, dokter Angga dan Adelia juga duduk menyamping membelakangi pelaminan.


"Meraka ada disini," bisik Evan kepada Anggita. Anggita menatap Evan bingung. Evan melambaikan tangannya kepada Rico yang tidak jauh berdiri dari pelaminan.


"Ada apa?" tanya Rico.


"Jangan lepaskan pandangan kamu dari putriku. Bronson, Dokter Angga dan Adelia ada di tempat ini. Ternyata dugaan kita benar. Bronson yang menjamin kebebasan Adelia dari penjara," kata Evan. Rico langsung mengedarkan pandangannya dan bisa melihat tiga orang yang disebutkan oleh Evan.


Melihat kekhawatiran di wajah istrinya. Evan meminta kepada Bibi Ani, Cahaya dan Rico untuk duduk tidak jauh dari pelaminan. Tak lama kemudian dua orang laki laki juga berdiri di samping Bibi Ani yang ditugaskan oleh Rico.


Anggita mengatur nafasnya ketika terlihat Bronson berjalan ke arah meraka. Sepertinya Bronson sudah mengatur rencana yang matang untuk menghadiri pernikahan ini. Hal itu terbukti. Dokter Angga dan Adelia masih duduk di tempatnya.


"Evan, Anggita. Selamat," kata Bronson sambil mengulurkan tangannya. Kata selamat yang keluar dari mulut Bronson tentu saja tidak tulus. Evan menyambut uluran tangan itu dan menggenggam erat telapak tangan Bronson hingga pria itu terlihat kesakitan.


"Tamu yang tidak diundang," kata Evan sinis. Kemudian Evan memeluk pinggang istrinya dengan erat.


Bronson tertawa. Sikapnya sangat sempurna seakan dirinya tulus mengucapkan kata selamat kepada Evan dan Anggita.


"Kamu takut dengan kedatangan ku?" tanya pria itu tenang tapi menantang Evan. Evan menggelengkan kepalanya.


"Tidak, justru kedatangan kamu di pesta ini akan menjadi alasan bagi ku untuk membalas semua kejahatanmu. Bronson yang tidak terhormat. Sepertinya rencana kamu berantakan ya," kata Evan. Perkataan pria itu sontak membuat Bronson mengerutkan keningnya. Benar kata Evan, jika rencana yang dia susun sebelumnya berantakan setelah melihat pengantin yang sesungguhnya.


"Tidak perlu berlagak bodoh karena kamu benar benar bodoh. Lihat dia, kamu menjamin dari penjara. Kamu mengirim dokter Angga untuk mendekati istriku. Tapi lihat. Rencana kamu membawa istriku kembali kepada pria yang sangat mencintainya yaitu diriku sendiri. Apapun rencana kamu selanjutnya aku jamin tidak berhasil," kata Evan pelan tapi penuh penekanan. Untung saja tidak Ada yang antri di belakang Bronson untuk mengucapkan selamat kepada mereka. Karena siapapun yang mendengar pembicaraan antara Bronson dan Evan bisa menilai jika pembicaraan itu bukan berkaitan dengan pesta pernikahan ini.

__ADS_1


Lagi lagi Bronson tertawa. Dia ingin memancing Evan supaya terpancing amarah. Bronson berniat membuat Evan mempermalukan dirinya sendiri dengan melampiaskan amarah itu kepada dirinya. Melihat Evan sudah mulai terpancing amarahz Bronson bersorak dalam hati.


"Hanya wanita bodoh yang bersedia kembali ke pria yang telah membuangnya," kata Bronson dengan tersenyum mengejek. Dia menunggu Evan meluapkan amarah itu Dan Bronson sudah menyiapkan tubuhnya untuk sasaran kemarahan itu.


Evan merasakan darahnya mendidih mendengar perkataan Bronson yang jelas terdengar memprovokasi. Evan takut jika perkataan pria itu akan mempengaruhi Anggita dan berdampak pada pernikahan yang baru saja mereka bangun.


"Jangan terpancing amarah sayang. Ingat ini Hari kebahagiaan kita. Dia sengaja mengatakan itu supaya kamu atau aku marah," bisik Anggita. Perkataan Anggita itub sanggup membuat Evan meredam amarahnya yang sudah hampir lepas kendali. Apalagi dengan kata sayang yang diucapkan oleh Anggita membuat Evan semakin jatuh cinta kepada istrinya itu.


Evan tertawa. Dalam hati dia bersyukur mempunyai istri seperti Anggita. Ternyata benar kata kakek Martin dahulu jika ternyata Anggita itu pintar dan bijak sana. Wanita yang layak menjadi pendampingnya. Hal itu terbukti dengan caranya menghadapi kelicikan Bronson. Evan tidak dapat membayangkan jika Anggita bereaksi marah mendengar perkataan Bronson itu. Bisa dipastikan jika dirinya pasti juga akan marah atau bahkan akan memukuli pria itu.


"Lihatlah Bronson yang tidak terhormat. Wanita bodoh yang kamu sebut itu adalah wanita pintar dan bijak sana bagiku. Dia mengendalikan suaminya dengan bijak dan lembut supaya aku tidak marah. Dan satu hal yang perlu kamu ingat. Anggita kembali bersama aku karena aku benar benar menyesali semua kesalahanku. Lalu lihat diri kamu. Setan sudah sangat betah bersemayam di hati kamu sehingga kamu bisa melupakan seseorang yang membantu kamu hingga sukses seperti ini. Lihat ke Sana. Apa kamu mengingatnya?" tanya Evan sambil menunjuk Bibi Ani yang terlihat sedang memberikan susu kepada Cahaya.


Bronson terkejut. Jelas terlihat perubahan di wajahnya.


"Jangan mencoba mengganggu beliau. Semua Cctv dan orang orang kepercayaanku mengawasi kamu. Jika kamu nekat hanya menghampiri beliau saja. Bisa aku pastikan jika besok kamu tidak mempunyai apa apa lagi," ancam Evan membuat Bronson tidak bisa berkata kata lagi.


"Pergi dari hadapanku sekarang juga. Bawa Dokter Angga si pedofil itu dan Adelia si penipu ulung itu keluar dari tempat ini," kata Evan lagi. Bagai orang bodoh. Bronson pergi dari hadapan Evan dan Anggita.


"Apa maksud kamu, si dokter itu pedofil mas?" tanya Anggita.


"Nanti aku jelaskan," jawab Evan. Para tamu undangan terlihat maju ke pelaminan untuk memberikan ucapan selamat kepada mereka.


Ternyata dokter Angga lumayan punya nyali juga. Kini pria itu berdiri di hadapan Evan dan Anggita. Dia menatap Evan dan Anggita bergantian.


"Anggita, jika dia mencampakkan kamu kembali. Aku siap menerima kamu kembali," kata dokter Angga. Tapi Kali ini, Evan terlihat tenang menghadapi dokter Angga. Selain karena sudah mengetahui maksud dokter Angga. Evan sudah melihat beberapa tamu undangan beranjak dari duduknya dan menuju pelaminan.


"Apa penyakit pedofil kamu sudah sembuh sehingga mengharapkan Istriku kembali kepada kamu. Sampai kapanpun perkataan kamu tidak pernah terjadi."


"Jangan sembarangan kamu Evan."


"Lalu apa namanya seorang pria dewasa mempunyai mainan seorang perempuan yang masih berumur enam belas tahun," kata Evan sinis. Dia tidak asal bicara. Temuan para orang orang suruhan Evan menemukan fakta tersebut. Tapi sayangnya, mereka tidak mempunyai bukti kuat untuk menpermalukan dokter Angga.


Anggita terkejut. Sikap dewasa dan lembut yang ditunjukkan oleh dokter Angga berbanding terbalik dengan perilakunya.


"Awas,. pergi dari hadapanku," kata Evan sambil menggeser tubuh dokter Angga. Dokter itu berlalu tanpa kata kata. Dia mengusap wajahnya kasar. Kedatangan mereka bertiga ke tempat ini untuk menghancurkan Evan tapi ternyata mereka yang setengah hancur. Bronson dan dokter Angga tidak mengetahui jika Tim Evan sudah menyelidiki mereka satu persatu tinggal menunggu jam tayang mereka di hancurkan.


Acara pesta pernikahan itu berjalan sesuai dengan konsep yang sudah disusun sebelumnya. Tiga tim Bronson juga masih betah duduk di tempatnya sambil menikmati lagu lagu terbaru yang sedang hits. Rendra memang mengundang beberapa artis lokal untuk memeriahkan pesta tersebut.

__ADS_1


Hingga hari menjelang sore. Evan merasakan kelelahan yang luar biasa. Mungkin karena memikirkan perkataan Bronson dan dokter Angga yang menjadi beban pikirannya.


__ADS_2