Cinta, Berpihaklah Kepadaku

Cinta, Berpihaklah Kepadaku
Hancur


__ADS_3

"Sial," kata dokter Angga sambil meringis. Dia memperhatikan punggung tangannya yang berdarah. Empat luka sebesar gigi orang dewasa tercetak sempurna di punggung tangannya.


"Arghhh."


Dokter Angga memukul setir mobilnya karena kesal. Dia gagal membalas kebaikan Bronson. Mata hatinya benar benar tertutup menuruti kemauan Bronson yang benar benar jahat. Dari dalam Mobil itu, dokter Angga bisa melihat Anggita berlari melewati mobil demi mobil.


Dokter Angga ingin mengejar Anggita. Tapi situasinya tidak memungkinkan. Tidak mungkin dirinya meninggalkan mobilnya. Dan jikapun ditinggalkan akan mengganggu pengendara lain nantinya jika lampu merah berganti lampu hijau.


Tapi mengingat Bronson adalah sosok yang tidak bisa dibantah dan tidak bisa menerima kegagalan anak buahnya. Dokter Angga akhirnya nekad ingin mengejar Anggita. Dokter Angga tidak ingin Bronson murka karena kegagalan dirinya. Dokter Angga membuka pintu mobil tapi seketika menutupnya kembali. Dokter Angga bisa mendengar seseorang memanggil nama Anggita. Itu artinya ada salah satu pengendara dari sekian banyak Mobil itu yang mengenal Anggita. Dokter Angga tidak ingin mengambil resiko. Dia kembali duduk menunggu giliran lampu hijau menyala sekaligus mencari cari untuk meyakinkan Anggita akan rencana pernikahan itu.


"Anggita."


Anggita mendengar suara teriakan yang memanggil dirinya. Dia hampir sampai di tepi jalan. Matanya liar memandang ke arah mana dia akan berlari. Rasa takut itu membuat langkahnya terasa berat. Anggita berhasil menginjakkan kakinya di tepi jalan.


Berhasil keluar dari mobil dokter Angga tidak membuat Anggita merasa aman. Kini wanita itu merasa bingung melangkah hendak kemana. Untuk masuk ke salah satu toko yang berjejer di tepi jalan itu rasanya tidak mungkin. Dokter Angga akan gampang menemukan dirinya. Anggita mengikuti kata hatinya. Ketika lampu merah berganti lampu hijau. Anggita berlari berlawanan arah dengan mobil mobil yang sudah bergerak itu. Orang orang melihatnya heran tapi Anggita tidak perduli.


"Anggita. Tunggu."


Anggita terus berlari. Tapi ternyata orang yang memanggil dirinya lebih kencang berlari dibandingkan dirinya.


"Anggita."


Anggita menutup matanya kala dia bisa merasakan saat tangan kanannya ditarik. Tubuhnya semakin gemetar karena ketakutan.


"Le..pas..kan. Biarkan aku pergi. A..pa salahku pa..da..mu," kata Anggita terbata bata karena ketakutan.


"Mengapa kamu terlihat ketakutan seperti ini. Buka Mata kamu Anggita. Ini aku Riko."


Anggita membuka matanya. Lampu jalan yang tidak terlalu terang membuat Anggita harus menatap pria itu beberapa detik untuk memastikan jika pria itu benar benar Rico asisten mantan suaminya.


"Pak Rico."


Hanya itu yang terdengar dari mulut Anggita. Dia sedikit lega karena bisa bertemu dengan asisten Rico.


"Sebenarnya kamu mau kemana. Mari aku antar."


Anggita menurut. Dia hanya memikirkan keselamatan dirinya saat ini. Dia takut Bronson sudah mengetahui dirinya kabur dari Mobil dokter Angga dan mengerahkan para anggotanya untuk mencari dirinya.

__ADS_1


"Anggita, apa dokter Angga sangat sibuk sehingga membiarkan kamu sendirian malam malam seperti ini?" kata Rico sambil sibuk memainkan ponselnya. Diam diam dia merekam pertanyaannya itu dan mengirimkan rekaman itu sebagai pesan suara kepada Evan.


Rico yang tidak mengetahui apa yang terjadi pada Anggita sebelumnya. Pria itu hanya berpikir jika saat ini Anggita adalah kekasih dokter Angga dan Anggita belum mengetahui siapa sebenarnya dokter Angga.


Anggita menundukkan kepalanya. Dia berjalan sambil waspada. Untuk menjawab pertanyaan Rico Anggita tidak berminat. Jika boleh, dia jangan dulu mendengar nama pria yang sangat jahat itu. Pria yang menambah deretan pria yang menyakiti hatinya.


"Anggita, sebenarnya banyak misteri yang belum kamu ketahui tentang dokter Angga."


"Misteri apa Pak," tanya Anggita. Mereka kini sudah duduk di dalam mobil. Rico menceritakan informasi yang dia dapat tentang Dokter Angga. Rico mendahului menceritakan informasi itu kepada Anggita Karena Rico mengetahui jika Anggita krisis kepercayaan kepada Evan sahabatnya.


"Silahkan percaya atau tidak. Tapi itulah kenyataan. Sebagai mantan karyawan Dinata Berlian Sejahtera. Kamu tahu siapa sebenarnya Bronson."


Anggita sebenarnya ingin menangis saja saat ini. Andaikan tidak mengalami hal buruk tadi di rumah Bronson. Mungkin saat ini dia tidak percaya akan informasi yang baru saja dideritakan oleh Rico.


Anggita tiba tiba tidak dapat menahan diri untuk tidak menangis lagi. Dia menundukkan kepalanya supaya Rico tidak bisa melihat dirinya yang menangis. Dia kembali hancur karena laki laki. Tapi rasanya lebih sakit daripada apa apa saja yang membuat dirinya selama ini terluka. Dia tidak dapat membayangkan jika Cahaya tidak dibawa pergi oleh Evan. Bisa saja kebusukan Dokter Angga tidak terbuka. Bodohnya dia percaya begitu saja akan kebaikan palsu pria itu.


"Pak Rico. Bisa kamu mengantarkan aku ke rumah om Gunawan," tanya Anggita sopan. Dia sudah berhenti menangis. Anggita merasa jika dirinya butuh perlindungan saat ini. Dan itu adalah keluarga kakek Martin. Rico semakin bertanya tanya melihat wanita itu muncul di kota ini.


Rico tidak banyak bertanya lagi. Selain tidak ingin terlalu juah ikut campur. Rico juga melihat Anggita tidak dalam keadaan baik baik. Rico dapat melihat getaran tubuh dan wajah pucat Anggita. Dia membawa Anggita ke rumah Gunawan.


Anggita terlihat ragu turun dari mobil. Dia memandangi rumah Gunawan itu dengan malu. Malu jika dirinya bertemu dengan Evan nantinya di rumah itu. Dia masih mengingat dengan jelas mengatakan pria itu seorang bajingan hanya karena membawa Cahaya yang ternyata tujuannya sebenarnya baik.


Seketika keraguan itu lenyap hanya melihat putrinya itu. Satu hari satu malam terpisah dari Cahaya membuat Anggita ingin mendekap putrinya itu.


"Bunda. Itu bunda," kata Evan kepada Cahaya sambil menunjuk Anggita. Ketika jarak Mereka sudah berdekatan Evan memberikan Cahaya kepada Anggita.


Anggita mendekap tubuh putrinya. Dia menciumi wajah Cahaya.


"Kok belum tidur nak. Ini sudah malam loh," kata Anggita lagi. Dia menempelkan pipinya ke pipi Cahaya.


"Masuklah dulu Anggita," ajak Evan dengan sedikit kaku. Evan berusaha menjaga sikap supaya Anggita tidak berprasangka lagi apa yang akan diperbuatnya sebagai usaha untuk membuat Anggita kembali kepadanya.


"Iya mas."


"Silahkan duduk Anggita." Lagi lagi Evan bersikap memperlakukan Anggita sangat formal. Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya dan memilih duduk dekat mama Feli yang juga sudah duduk di ruang tamu itu menunggu kedatangannya. Tante Tiara dan juga Gunawan juga sudah ada di tempat itu.


Tante Tiara seperti biasanya memperlakukan Anggita dengan sangat baik. Dia bahkan menyuruh Anggita untuk makan terlebih dahulu sebelum membicarakan hal penting yang akan mereka sampaikan kepada wanita itu. Tapi Anggita menolak karena memang tidak selera makan sama sekali. Suasana hatinya sangat buruk.

__ADS_1


Tanpa basa basi, akhirnya Gunawan menceritakan sosok dokter Angga seperti yang dia dengar dari Rico tadi ketika di Mobil. Tapi Kali ini, Anggita menahan dirinya untuk tidak menunjukkan kesedihannya di hadapan keluarga sang mantan. Dia terlalu sakit hati dan malu. Pernah berpikir akan menemukan pengganti Evan yang jauh lebih baik, yang menghargai dan mencintai dirinya dengan tulus tapi kenyataannya Anggita mendapatkan pria yang jauh lebih buruk dari mantan suaminya.


"Anggita, kami ingin yang terbaik untuk kamu dan Cahaya. Walau kamu bukan lagi menantu kami tapi kami berkewajiban melindungi kamu. Tinggallah di rumah ini untuk sementara. Kami sangat yakin jika dokter Angga pasti akan melakukan sandiwara sebagus mungkin supaya kamu terbuai. Jika Evan bukan jodoh kamu. Kami ingin kamu menemukan pria yang baik yang membahagiakan kamu kelak."


Anggita memang belum menceritakan apa yang dialaminya hari ini kepada keluarga itu. Rasa malu membuat Anggita menyimpan kejadian itu.


"Bagaimana nak?" tanya tante Tiara lembut.


"Dia setuju atau tidak setuju. Aku dan Cahaya akan tetap tinggal sementara waktu di sini. Jika Anggita tetap memilih Dokter Angga. Silahkan saja. Tapi jika itu terjadi. Anggap saja kamu tidak memiliki mama lagi Anggita," kata mama Feli. Dia merasa geram melihat Anggita hanya diam saja tanpa memberikan respon setelah mendengar motif dokter Angga mendekat dirinya. Mama Feli tidak tahu jika Anggita merasa jiwanya terguncang hanya mendengar nama dokter Angga dan Bronson.


Mama Feli bisa menarik nafas lega. Dokter Angga memang terlihat sangat baik. Tapi entah mengapa kebaikan Dokter Angga itu terlalu berlebihan menurutnya. Dan ternyata dugaan mama Feli benar. Dokter Angga bersikap baik karena mempunyai tujuan tertentu.


"Jangan berkata seperti itu bu. Anggita butuh waktu untuk memutuskan tawaran itu," kata Tante Tiara.


"Jika menyangkut keselamatan tidak ada waktu berpikir. Jika kamu menghargai aku, tolong tinggal di rumah ini Anggita," pinta Gunanya. Anggita masih betah menutup mulutnya.


Pembicaraan itu berakhir tanpa mendengar jawaban Anggita tentang keinginan Gunawan dan tante Tiara. Wanita itu hanya terdiam. Tapi setelah dia berada di kamar yang ditempati oleh mama Feli. Anggita tidak dapat untuk tidak menangis. Anggita melampiaskan kesedihan itu dengan berurai air mata. Semua perkataan Bronson dan dokter Angga masih jelas terekam di otaknya.


"Ada apa nak?" tanya mama Feli melihat tingkah Anggita yang tidak biasa itu. Mama Feli memeluk tubuh putrinya itu yang terlihat sangat hancur. Dengan sesunggukan Anggita menceritakan apa yang dialaminya satu hari ini.


"Dokter Angga ternyata sangat jahat ma. Aku menyesal mengenal dirinya," kata Anggita di akhir cerita.


"Sudah, jangan menangis lagi. Yang terpenting sekarang kamu sudah mengerti siapa sebenarnya dokter Angga dan kamu sudah lepas dari sandiwara dan permainan mereka."


Sebagai seorang ibu, mama Feli ikut hancur melihat nasib percintaan putrinya itu yang tidak pernah berjalan mulus.


"Aku bodoh ma. Mengapa nasib ku seperti ini. Apa aku terlahir hanya untuk disakiti?" tanya Anggita putus asa. Air Mata tidak berhenti dari kedua pelupuk matanya.


"Iya kamu memang bodoh nak. Kamu bodoh karena terlalu sibuk memikirkan Masa depan kamu sendiri. Kamu lupa jika Masa depan kamu yang sebenarnya adalah Cahaya. Seharusnya kamu mengenal laki laki itu tidak terlalu terburu buru. Tapi yang mama lihat kamu sendiri yang memberikan kesempatan kepada dokter Angga untuk memasuki kehidupan kamu. Semuanya sudah terlanjur. Dan seharusnya kamu bersyukur karena mengetahui kejahatan pria itu sebelum melangkah jauh. Andaikan kamu mengetahui yang sebenarnya setelah menikah mungkin bukan air Mata yang keluar dari mata kamu. Melainkan darah. Jadi mama mohon. Fokuslah untuk Cahaya mulai saat ini."


Mama Feli sengaja berkata seperti itu supaya Anggita bangkit dari keterpurukannya dan lebih hati hati memilih laki laki nantinya. Mama Feli tidak ingin Anggita seperti dirinya yang salah memilih suami sekaligus papa sambung untuk Anggita.


Anggita mendengar semua perkataan mama Feli. Tapi hal itu tidak membuat air Mata berhenti dari kedua matanya. Anggita semakin menangis menyadari kebodohannya. Harus dirinya belajar dari pengalaman tentang sang papa tiri Indra. Hal yang sama yang terjadi di balik pintu. Evan juga menitikkan air Mata melihat kehancuran di Mata mantan istrinya itu. Niatnya ingin mengantarkan susu untuk Cahaya. Tapi kini dia menemukan hal baru sejauh mana Bronson Dan dokte Angga ingin menghancurkan dirinya. Evan mendengar semua apa yang dideritakan oleh Anggita kepada mama Feli.


Evan melangkah lesu dari depan kamar itu. Melihat Anggita seperti orang yang putus ada membuat Evan merasa sangat kasihan kepada wanita itu. Walau Anggita hancur saat ini karena cinta palsu dokter Angga. Evan merasa jika dirinya lah yang memberikan peluang itu kepada Bronson dan dokter Angga. Andaikan dirinya menjaga dan mempertahankan pernikahannya dulu mungkin Anggita tidak mengalami hal ini.


Evan akhirnya memberikan susu yang dia pegang kepada seorang asisten rumah tangga. Dia menyuruh asisten tersebut yang memberikan susu tersebut kepada Cahaya. Sedangkan Evan masuk ke dalam kamar. Malam ini dirinya kembali tidur di rumah Gunawan.

__ADS_1


Evan membaringkan tubuhnya di ranjang. Pikirannya terus tertuju kepada Anggita. Ternyata kehancuran rumah tangga mereka tidak hanya membuat dirinya menderita tapi yang lebih menderita adalah Anggita.


__ADS_2